PT Lion Metal Works Tbk (LION) menggelar Public Expose Insidentil pada Jumat (13/2/2026) guna menjawab pertanyaan publik terkait volatilitas tajam harga saham perseroan dalam beberapa pekan terakhir.
Langkah ini diambil menyusul keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham LION pada 10 Februari 2026 lalu.
Dalam paparan virtual tersebut, Direktur LION, Lawer Supendi, menegaskan bahwa lonjakan harga saham murni merupakan dinamika pasar dan bukan dipicu oleh aksi korporasi yang belum terungkap.
Berdasarkan laporan keuangan Kuartal III-2025, perseroan menghadapi tantangan cukup berat. Pendapatan LION tercatat Rp243,61 miliar, menyusut 16,93% dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp293,25 miliar.
Penurunan top line ini berdampak langsung pada profitabilitas. LION membukukan rugi bersih Rp26,10 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan posisi September 2024 yang masih mencatatkan laba bersih Rp2,28 miliar.
Menghadapi situasi tersebut, LION menyiapkan peta jalan transformasi operasional untuk tahun buku 2026. Fokus utama perseroan adalah modernisasi lini produksi guna memangkas biaya dan meningkatkan presisi produk.
Beberapa langkah strategis yang tengah berjalan meliputi:
• Modernisasi Teknologi: Pengadaan mesin laser cutting dan implementasi sistem pengelasan robotik.
• Monetisasi Lahan: Melalui anak usaha PT Singa Purwakarta Jaya, perseroan mengoptimalkan aset properti di kawasan industri Purwakarta untuk memperkuat arus kas (cash flow).
"Perseroan berkomitmen penuh pada efisiensi operasional guna memulihkan performa keuangan di tahun ini," tutupnya.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto











ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق