PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) mencatat kinerja 2025 tumbuh solid. Dalam Public Expose di Jakarta, Rabu (22/04/2026), pendapatan naik 11,8% menjadi Rp2,36 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang ekspansi proyek tambang nikel dan penguatan aset. Laba komprehensif mencapai Rp200,83 miliar, mencerminkan aktivitas operasional yang semakin intens sepanjang tahun.
Ekspansi Proyek Dorong Kinerja 2025
Direktur Utama PT Sinar Terang Mandiri Tbk, Ivo Wangarry, menilai capaian ini bukan kebetulan. Perusahaan, kata dia, konsisten menjaga momentum di tengah tekanan industri tambang.
“Kami bersyukur Perseroan terus menjaga pertumbuhan pendapatan dan memperkuat struktur aset di tengah berbagai tantangan operasional,” ujar Ivo.
Aset perusahaan naik 28,6% menjadi Rp2,07 triliun. Lonjakan terutama berasal dari aset tidak lancar yang tumbuh 48,5%, seiring investasi alat berat dan infrastruktur tambang.
Mitra Strategis dan Diversifikasi Jadi Penopang
Kontributor utama pendapatan MINE berasal dari jasa penambangan sebesar Rp2,18 triliun. Sementara jasa konstruksi menyumbang Rp180,10 miliar, melonjak lebih dari 12 kali lipat.
Pendapatan terbesar datang dari PT Weda Bay Nickel, diikuti PT Hengjaya Mineralindo dan PT Sulawesi Cahaya Mineral. Ketergantungan pada mitra besar masih terlihat, tapi mulai diimbangi diversifikasi.
Ivo menegaskan, penguatan kemitraan dan ekspansi klien menjadi strategi utama. “Kami optimistis prospek industri nikel nasional masih sangat menjanjikan,” ujarnya.
Langkah ini masuk akal. Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi nikel global diperkirakan naik menjadi 3,824 juta ton pada 2026, didorong kebutuhan stainless steel.
Strategi Produktivitas dan Ketahanan Bisnis
MINE menempatkan produktivitas sebagai inti strategi. Setiap aspek operasional, termasuk downtime, dipantau ketat untuk menjaga efisiensi.
Di sisi lain, perusahaan mulai mendorong diversifikasi proyek lintas komoditas. Tujuannya jelas: mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola ini terlihat di banyak perusahaan tambang. Yang bertahan bukan yang terbesar, tapi yang paling adaptif terhadap perubahan pasar.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto





























