Diskusi Asosiasi Media Siber Indonesia di Jakarta, Jumat (20/2/2026), menyoroti strategi redaksi menghadapi Artificial Intelligence (AI) tanpa mengorbankan kualitas jurnalistik.
Forum yang didukung BBC Media Action ini mengangkat satu pertanyaan mendasar: bagaimana ruang redaksi beradaptasi dengan kecerdasan buatan (AI) sekaligus menjaga integritas berita dan model bisnis media.
Dalam sesi diskusi, Luviana Ariyanti menegaskan bahwa teknologi tidak netral. Ia bisa menjadi alat pemberdayaan, tetapi juga berpotensi memperkuat bias lama jika ruang digital tetap didominasi perspektif maskulin.
Pemimpin redaksi Konde.co itu menyoroti realitas di kawasan timur Indonesia. Di sejumlah daerah, perempuan yang bersuara soal ketidakadilan justru kerap diserang hoaks atau narasi yang merendahkan martabat mereka.
Fenomena tersebut, menurut dia, berkaitan dengan kekerasan berbasis gender online yang berkelindan (berkaitan erat-Red) dengan disinformasi. Tantangannya bukan hanya soal literasi digital, melainkan juga soal keberanian membangun narasi tandingan berbasis fakta.
Kolaborasi Lokal Jadi Kunci
Ia menekankan redaksi di pusat tidak bisa memahami kompleksitas daerah tanpa jaringan lokal. Karena itu, pelatihan bersama mitra seperti Kabar Makassar melibatkan jurnalis daerah agar liputan berangkat dari konteks lapangan, bukan asumsi kota besar.
Dalam praktiknya, bentuk disinformasi berbeda tiap wilayah. Di Nusa Tenggara Timur misalnya, isu palsu sering berkaitan dengan klaim pekerjaan luar negeri yang berujung tindak pidana perdagangan orang. Sementara di Papua, serangan lebih banyak berupa stigma politik terhadap aktivis perempuan.
Program fellowship yang melibatkan puluhan jurnalis lokal disebut memberi perspektif baru bagi redaksi nasional. Mereka bukan sekadar kontributor, melainkan sumber pengetahuan kontekstual yang menentukan arah liputan.
Luviana juga menyoroti kesenjangan perhatian publik. Isu internasional sering cepat memantik empati, sementara persoalan kemanusiaan domestik—terutama di wilayah timur—kerap luput dari sorotan arus utama.
Menurut dia, ruang digital idealnya menjadi ruang aman. Namun realitasnya, platform masih memantulkan struktur sosial lama. Karena itu, proyek microsite “Perempuan Timur” dibuat sebagai ruang dokumentasi perspektif perempuan yang selama ini jarang tercatat.
Diskusi menutup dengan satu benang merah: AI hanyalah alat. Tanpa kerangka etika, perspektif inklusif, dan kolaborasi lokal, teknologi justru berisiko memperlebar ketimpangan informasi.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto




























