Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id

Strategi Blok Politik NasDem di Era Prabowo, Arah Baru Koalisi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, konfigurasi politik nasional bergerak cair. Di tengah dinamika itu, Partai NasDem mulai memainkan strategi baru lewat pendekatan “blok politik” yang lebih fleksibel.

Langkah ini terlihat dari upaya NasDem membuka komunikasi lintas partai, termasuk dengan Partai Gerindra, sebagai bagian dari membaca arah kekuasaan sekaligus menjaga relevansi politiknya.

Strategi Blok Politik NasDem di Era Prabowo

Dalam beberapa bulan terakhir, manuver NasDem kerap ditafsirkan sebagai upaya merger atau fusi politik. Namun, narasi itu langsung dibantah kader internal partai.

Istilah yang lebih tepat, menurut mereka, adalah “blok politik”—sebuah pendekatan yang tidak kaku seperti koalisi formal, tetapi juga bukan oposisi murni.

Blok politik ini bekerja di ruang abu-abu: komunikasi cair, kepentingan bersama, dan kesamaan visi dalam isu strategis.

Dalam praktiknya, pendekatan ini memberi ruang bagi NasDem untuk tetap terlibat dalam orbit kekuasaan tanpa kehilangan identitas politiknya.

Saya pernah mendengar seorang politisi senior menyebut, “politik itu bukan soal siapa kawan atau lawan, tapi siapa yang bisa diajak bicara.” Pola ini terasa relevan dengan langkah NasDem hari ini.

NasDem tampaknya sadar, polarisasi tajam hanya menguras energi. Karena itu, mereka memilih jalur tengah—tidak sepenuhnya oposisi, tapi juga tidak larut dalam kekuasaan.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Tarik Ulur Kekuasaan

Langkah membuka komunikasi dengan Partai Gerindra menjadi sinyal penting. Ini bukan sekadar manuver jangka pendek, melainkan bagian dari strategi menjaga posisi tawar.

Dengan masuk dalam orbit dialog kekuasaan, NasDem punya peluang memengaruhi arah kebijakan, terutama dalam isu pembangunan dan ekonomi.

Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Terlalu dekat dengan kekuasaan bisa mengaburkan diferensiasi politik. Sebaliknya, terlalu jauh justru membuat pengaruh mengecil.

Di sinilah tantangan utama NasDem: menjaga keseimbangan antara akses kekuasaan dan independensi politik.

Dalam beberapa diskusi politik yang saya ikuti, pola seperti ini sering disebut sebagai “politik adaptif”—bertahan bukan dengan konfrontasi, tapi dengan kelincahan membaca momentum.

NasDem tampaknya sedang memainkan peran itu. Mereka tidak lagi terjebak dalam dikotomi lama: koalisi versus oposisi.

Sebaliknya, partai ini mencoba membangun ekosistem politik yang lebih cair, dengan menempatkan kolaborasi sebagai alat, bukan tujuan akhir.

Arah Politik NasDem ke Depan

Ke depan, arah politik NasDem diperkirakan tetap moderat dan terukur. Partai ini cenderung menghindari konflik terbuka yang berpotensi merusak stabilitas.

Fokusnya bergeser ke isu-isu strategis seperti reformasi birokrasi, ekonomi inklusif, dan penguatan demokrasi.

Namun, ujian sesungguhnya justru ada pada konsistensi. Apakah fleksibilitas ini bisa tetap menjaga garis ideologis, atau justru melebur dalam pragmatisme?

Jika berhasil, NasDem berpotensi menjadi penyeimbang penting dalam lanskap politik nasional. Jika tidak, mereka bisa kehilangan identitas yang selama ini dibangun.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Djamari Chaniago Tinjau Sekolah Rakyat Pontianak, Dorong Pendidikan Gratis Berkualitas


Duta Nusantara Merdeka | Pontianak 
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (purn.) Djamari Chaniago meninjau Sekolah Rakyat Terpadu 53 dan Dapur SPPG Yayasan Lian Asa Borneo di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis, 16 April 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari evaluasi langsung program prioritas Presiden di sektor pendidikan dan pemenuhan gizi.

Dalam tinjauan tersebut, Djamari menekankan pentingnya akses pendidikan setara bagi anak-anak, terutama dari kelompok yang selama ini sulit menjangkau sekolah formal berkualitas.

Djamari Chaniago Tinjau Sekolah Rakyat Pontianak

Di Sekolah Rakyat Terpadu 53, Djamari melihat langsung fasilitas asrama, ruang belajar, hingga dukungan kebutuhan dasar siswa. Model sekolah ini dirancang sebagai sistem terpadu: belajar, tinggal, dan makan dalam satu ekosistem.

Ia menilai pendekatan itu memberi peluang lebih adil bagi anak-anak dari keluarga terbatas. “Mereka punya kesempatan yang sama dengan murid yang lain,” ujar Djamari Chaniago saat peninjauan.

Menurut dia, dukungan seragam, asrama, dan konsumsi harian bukan sekadar bantuan sosial. Itu adalah fondasi agar siswa bisa fokus belajar tanpa terganggu kebutuhan dasar.

Pengalaman di lapangan menunjukkan, hambatan pendidikan sering bukan soal kemampuan, melainkan akses. Saya pernah berbincang dengan seorang siswa program serupa di Jawa—bukan tidak pintar, tapi hampir putus sekolah karena ongkos harian. Pola seperti ini yang coba diputus lewat model Sekolah Rakyat.

Djamari juga menyebut program ini bagian dari strategi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, dengan menyiapkan calon pemimpin dari berbagai latar belakang.

Dapur SPPG dan Standar Layanan Gizi Anak

Usai dari sekolah, Djamari melanjutkan peninjauan ke Dapur SPPG Yayasan Lian Asa Borneo. Ia memeriksa alur produksi makanan, kebersihan ruang cuci, kualitas air, hingga pengelolaan limbah.

Peninjauan ini menunjukkan bahwa program tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga menyasar kualitas gizi siswa. “Ini untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan investor, bukan,” tegasnya.

Ia meminta seluruh pengelola meningkatkan standar layanan. Menurutnya, kualitas gizi akan langsung berdampak pada kemampuan belajar anak dalam jangka panjang.

Dalam banyak kasus, program makan gratis sering berhenti di angka distribusi. Namun, yang jarang disorot adalah kualitas dan konsistensinya. Di titik ini, pengawasan justru jadi faktor penentu.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, serta jajaran Kemenko Polkam dan kementerian terkait.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Baru Dilantik, Hery Susanto Terseret Kasus Nikel dan Harta Disorot


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto ditangkap Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi tata kelola tambang nikel di Sulawesi Utara. Di tengah proses hukum itu, laporan harta kekayaannya senilai Rp4,17 miliar ikut terseret ke ruang publik.

Data tersebut tercatat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan ke KPK pada 17 Maret 2026, saat Hery masih menjabat Wakil Pimpinan Ombudsman.

Rincian Harta Hery Susanto di LHKPN

Total kekayaan Hery tercatat Rp4.170.588.649. Angka ini relatif stabil, bahkan sedikit turun dibanding laporan Februari 2025 yang mencapai Rp4,27 miliar.

Penurunan sekitar Rp101 juta dalam setahun memang tidak signifikan. Namun, dalam praktik pelacakan aset pejabat, perubahan kecil justru sering menjadi titik awal penelusuran lebih jauh.

Aset terbesar berasal dari tanah dan bangunan senilai Rp2,35 miliar. Properti itu berada di Jakarta Timur dan Cirebon, seluruhnya diklaim hasil sendiri.

Selain itu, Hery melaporkan kendaraan senilai Rp595 juta, terdiri dari motor Vespa LX IGET 125 tahun 2022 dan mobil Chery Micro/Minibus tahun 2025.

Ia juga memiliki harta bergerak lain Rp685,9 juta serta kas dan setara kas Rp539,6 juta.

Kaitan Harta dan Kasus Nikel

Kasus yang menjerat Hery bukan perkara kecil. Dugaan korupsi tata kelola tambang nikel di Sulawesi Utara menyangkut sektor strategis bernilai besar.

Di titik ini, profil kekayaan menjadi relevan. Publik mulai membandingkan: apakah struktur aset tersebut sejalan dengan rekam jejak kariernya?

Hingga kini, belum ada indikasi langsung bahwa harta yang dilaporkan berkaitan dengan perkara. Namun, transparansi LHKPN biasanya menjadi pintu awal bagi aparat penegak hukum menelusuri aliran dana.

Situasi ini menempatkan Hery dalam sorotan ganda: sebagai tersangka dan sebagai pejabat publik yang baru dilantik.

Baru Dilantik, Langsung Diuji

Hery baru saja dilantik sebagai Ketua Ombudsman RI periode 2026–2031 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 April 2026.

Pengangkatan itu berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2026. Namun, belum genap sepekan, kasus hukum langsung membayangi.

Kariernya sebelumnya cukup panjang. Ia pernah menjadi Tenaga Ahli DPR RI Komisi IX, Direktur Eksekutif Komunal, hingga Ketua Koordinator Nasional Masyarakat Peduli BPJS.

Transisi dari puncak karier ke pusaran kasus seperti ini bukan hal baru dalam lanskap birokrasi Indonesia. Tapi tetap saja, selalu menyisakan pertanyaan besar soal integritas sistem.

Dampak ke Ombudsman dan Kepercayaan Publik

Kasus ini tidak berhenti pada individu. Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik ikut terdampak secara reputasi.

Publik kini menunggu dua hal: proses hukum yang transparan dan sikap institusi dalam menjaga integritas internal.

Jika tidak ditangani terbuka, kepercayaan bisa terkikis. Bukan hanya pada figur Hery, tetapi juga pada lembaga yang seharusnya menjadi penjaga akuntabilitas negara.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Mitos Metabolisme Lambat Bikin Gemuk, Ini Faktanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Anggapan “metabolisme lambat bikin gampang gemuk” kembali jadi perbincangan. Banyak orang usia 30 tahun ke atas merasa berat badan naik karena metabolisme menurun. Padahal, faktanya tak sesederhana itu.

Penurunan metabolisme memang terjadi seiring usia, tapi skalanya kecil. Rata-rata hanya turun sekitar 2–5 persen per dekade, bukan perubahan drastis yang langsung bikin berat melonjak.

Metabolisme Lambat vs Perubahan Gaya Hidup

Masalah utama sering bukan di metabolisme, tapi di pola hidup yang berubah pelan-pelan. Aktivitas fisik menurun tanpa disadari.

Dulu lebih banyak bergerak—jalan kaki, naik tangga, atau sekadar aktif di luar rumah. Sekarang, banyak waktu habis di depan layar, duduk berjam-jam tanpa jeda.

Penurunan aktivitas kecil ini dikenal sebagai NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis). Dampaknya signifikan terhadap pembakaran kalori harian.

Saya pernah mengalami sendiri fase ini. Saat pekerjaan makin padat di depan laptop, langkah harian turun drastis. Tanpa sadar, berat badan ikut naik, padahal pola makan terasa “biasa saja”.

Selain itu, massa otot juga perlahan berkurang jika tidak dilatih. Padahal otot berperan penting dalam membakar kalori, bahkan saat tubuh sedang istirahat.

Kombinasi Faktor: Gerak Turun, Asupan Naik

Masalah jadi makin kompleks ketika asupan kalori meningkat. Banyak orang makan lebih banyak karena stres, kurang tidur, atau kebiasaan ngemil.

Akhirnya, terjadi kombinasi yang sulit dihindari: aktivitas menurun, otot berkurang, dan kalori masuk bertambah. Dalam kondisi ini, metabolisme sering dijadikan kambing hitam.

Padahal, metabolisme bersifat adaptif. Ia mengikuti kebiasaan tubuh, bukan tiba-tiba “rusak” tanpa sebab.

Saya pernah melihat teman yang rutin latihan beban dan menjaga asupan protein. Dalam beberapa bulan, komposisi tubuhnya berubah—lebih lean, lebih bertenaga, tanpa diet ekstrem.

Metabolisme Bisa Ditingkatkan, Bukan Disalahkan

Ada cara realistis untuk “mengaktifkan” kembali metabolisme. Latihan beban membantu membangun massa otot, sementara aktivitas harian meningkatkan pembakaran kalori.

Asupan protein juga berperan menjaga jaringan otot tetap aktif. Kombinasi ini membuat tubuh lebih efisien menggunakan energi.

Kesimpulannya sederhana: metabolisme bukan musuh. Ia hanya mencerminkan gaya hidup sehari-hari.

Alih-alih menyalahkannya, evaluasi kebiasaan justru memberi hasil lebih nyata. Di situ biasanya jawaban sebenarnya ditemukan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Djamari Chaniago Tekankan Pencegahan Karhutla 2026


Duta Nusantara Merdeka | Pontianak 
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026. 

Penekanan itu disampaikan dalam Apel Kesiapsiagaan Nasional di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Pontianak, Rabu (16/4/2026).

Dalam forum tersebut, pemerintah menargetkan pencegahan sebagai strategi utama, bukan sekadar pemadaman. Langkah ini dianggap krusial mengingat pola karhutla yang berulang setiap musim kemarau.

Pencegahan Jadi Kunci Hadapi Karhutla 2026

Djamari Chaniago menegaskan apel kesiapsiagaan bukan seremoni. “Apel ini wujud kesungguhan kita menyatukan langkah dan meningkatkan kewaspadaan bersama,” ujarnya.

Ia meminta kepala daerah memastikan kesiapan personel, peralatan, logistik, hingga sistem komando lapangan. Tanpa kesiapan itu, respons cepat di lapangan sering kali tersendat.

Instruksi juga diberikan kepada TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga relawan untuk memperkuat patroli terpadu. Titik panas harus diverifikasi cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.

Saya pernah menyaksikan langsung di Sumatera, api kecil yang dibiarkan beberapa jam berubah jadi bencana lintas desa. Pola itu berulang—terlambat satu langkah, biaya membengkak berkali lipat.

Tantangan Lahan Gambut dan Respons Cepat

Karakter lahan gambut di Kalimantan Barat menjadi tantangan utama. Api bisa merambat di bawah permukaan dan sulit dipadamkan secara tuntas.

Faktor lain seperti angin kencang dan keterbatasan sumber air memperumit situasi. “Pencegahan harus jadi prioritas, karena memadamkan api besar jauh lebih sulit dan mahal,” kata Djamari.

Pemerintah juga menekankan perlindungan wilayah strategis: permukiman, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga akses transportasi. Gangguan karhutla bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ekonomi.

Di lapangan, warga sering jadi pihak paling terdampak. Asap tebal bukan cuma mengganggu napas, tapi juga menghentikan aktivitas harian—sekolah tutup, usaha kecil lumpuh.

Dukungan Anggaran dan Penegakan Hukum

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan dukungan anggaran terbuka bagi daerah yang menetapkan status siaga. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan anggaran karhutla tidak terdampak efisiensi.

Pesan Presiden Prabowo Subianto jelas: capaian pengendalian karhutla harus dijaga dan ditingkatkan. Target jangka panjang diarahkan menuju zero karhutla.

Di sisi lain, penegakan hukum menjadi elemen penting. Pembakaran lahan harus ditindak tegas karena dampaknya meluas, dari kesehatan hingga investasi.

“Semangatnya bertindak sebelum api membesar,” kata Djamari. Kalimat itu sederhana, tapi jadi garis batas antara pencegahan efektif dan bencana berulang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Konflik Agraria Riau Mengemuka di Forum BAM DPR


Duta Nusantara Merdeka | Pekanbaru 
Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI menggelar pertemuan dengan warga Kabupaten Kampar dan Indragiri Hulu di Gedung Daerah Balai Serindit, Pekanbaru, Kamis (16/4/2026). Forum ini membahas konflik agraria dan tata kelola lahan yang tak kunjung tuntas di Riau.

Pertemuan dipimpin Wakil Ketua BAM DPR RI, Adian Napitupulu, dan dihadiri Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto. Sejumlah unsur TNI, pemerintah daerah, masyarakat, hingga pihak perusahaan turut hadir dalam forum tersebut.

Aspirasi Warga: Dari Tumpang Tindih Hingga Ketidakpastian Hukum

Forum ini menjadi ruang bagi warga menyampaikan keluhan lama: tumpang tindih kepemilikan lahan dan legalitas yang tak jelas. Banyak lahan yang sudah dikelola turun-temurun, tapi status hukumnya masih kabur.

Adian Napitupulu menegaskan persoalan agraria di Riau bukan sekadar administrasi. “Konflik ini menyentuh aspek sosial, ekonomi, bahkan rasa keadilan masyarakat,” ujarnya dalam forum tersebut.

Situasi ini bukan hal baru. Seorang warga sempat bercerita, lahan yang digarap keluarganya sejak puluhan tahun tiba-tiba masuk konsesi perusahaan. Cerita seperti ini, kata dia, bukan satu dua kasus.

Pemerintah Dorong Penyelesaian Bertahap

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, melihat pertemuan ini sebagai momentum penting menyamakan persepsi antar pihak. Ia menekankan penyelesaian konflik harus dilakukan bertahap, mulai dari kabupaten hingga provinsi.

Pendekatan berjenjang dinilai lebih realistis, mengingat kompleksitas konflik yang melibatkan banyak pihak. Tanpa koordinasi yang rapi, penyelesaian sering kali berhenti di tengah jalan.

Di sisi lain, kehadiran TNI melalui Irdam XIX/Tuanku Tambusai Brigjen TNI Totok Sutrisno menjadi sinyal kuat dukungan terhadap stabilitas daerah. TNI diharapkan membantu menjaga situasi tetap kondusif.

Menjaga Keseimbangan: Investasi dan Keadilan Sosial

Konflik agraria di Riau tak bisa dilihat hitam-putih. Di satu sisi ada kebutuhan investasi dan pembangunan, di sisi lain ada hak masyarakat yang harus dilindungi.

Pendekatan humanis dan berkeadilan menjadi kunci. Tanpa itu, konflik berpotensi berlarut dan memicu ketegangan sosial.

Pertemuan ini diharapkan tak berhenti sebagai forum seremonial. Warga menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Ombudsman RI Disorot, Kasus Hery Susanto Uji Kepercayaan Publik


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kasus hukum yang menyeret Ketua Ombudsman RI, Hery Susanto, akhirnya direspons resmi oleh pimpinan Ombudsman RI periode 2026–2031. Perkara ini disebut terkait rentang waktu 2021–2026 dan kini tengah diproses aparat penegak hukum.

Dalam keterangan tertulis, Kamis (16/04), Ombudsman RI menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kegaduhan yang muncul. Lembaga ini menegaskan sikap kooperatif dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada otoritas berwenang.

Ujian Terbuka untuk Kepercayaan Publik

Sorotan terhadap kasus Hery Susanto tak bisa dihindari. Ombudsman RI, yang selama ini berdiri sebagai penjaga standar pelayanan publik, kini justru berada di bawah lampu terang.

“... kami menyesalkan peristiwa ini dan berkomitmen menjaga kepercayaan publik ...,” ujar Pimpinan Ombudsman RI.

Pernyataan itu penting, tapi belum cukup. Dalam dinamika kepercayaan publik, respons cepat hanya pembuka. Konsistensi justru penentu.

Beberapa tahun lalu, saya sempat berbincang dengan seorang pelapor layanan publik di Jakarta. Ia tidak peduli siapa pejabatnya, katanya, yang penting laporan ditindak. Kalimat sederhana itu terasa relevan hari ini.

Transparansi Diuji, Bukan Sekadar Dinyatakan

Ombudsman RI menegaskan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Di saat yang sama, mereka juga berjanji menjaga transparansi dan akuntabilitas selama proses berjalan.

Di titik ini, publik biasanya membaca lebih dalam: apakah transparansi itu akan benar-benar dibuka, atau berhenti di level pernyataan.

Pengalaman menunjukkan, krisis seperti ini sering menjadi pembatas tipis antara institusi yang adaptif dan yang defensif.

Operasional Tetap Jalan, Tapi Sorotan Tak Surut

Untuk meredam kekhawatiran, Ombudsman memastikan fungsi pengawasan pelayanan publik tetap berjalan normal. Langkah internal disebut telah disiapkan sesuai mekanisme kelembagaan.

Ini langkah standar, tapi krusial. Sebab, gangguan di pucuk pimpinan kerap merembet ke bawah jika tidak diantisipasi cepat.

Namun realitasnya, publik tidak hanya menilai apakah layanan tetap berjalan. Mereka juga menilai bagaimana lembaga ini menjaga integritas saat diuji.

Pada akhirnya, kasus Hery Susanto bukan sekadar perkara hukum personal. Ia berubah menjadi cermin: seberapa kuat fondasi Ombudsman RI berdiri tanpa bergantung pada satu figur.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 


Share:

FPII Protes Pernyataan JK, Soroti Narasi Agama dan Konflik


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ketua Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) Muhammad Fathur Rozaq menyatakan keberatan atas pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut ajaran Islam dan Kristen dapat membenarkan aksi saling membunuh musuh. Pernyataan itu dinilai berisiko memicu disinformasi dan ketegangan sosial.

Dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026), Fathur menegaskan narasi tersebut tidak mencerminkan ajaran agama yang sebenarnya dan berpotensi mereduksi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.

FPII NILAI TERJADI DISTORSI MAKNA AJARAN AGAMA

Fathur Rozaq menyatakan Islam tidak pernah membenarkan tindakan membunuh tanpa dasar yang sah. Ia menekankan bahwa prinsip utama ajaran Islam adalah menjaga kehidupan dan menjunjung tinggi perdamaian.

“Islam membawa misi Rahmatan lil ‘Alamin, menjadi rahmat bagi semesta alam, bukan ancaman bagi kehidupan,” ujar Fathur.

Ia menjelaskan, konteks “membunuh” dalam teks keagamaan hanya berlaku dalam situasi konflik bersenjata yang sangat spesifik dan bersifat defensif. Bukan legitimasi untuk kekerasan dalam kondisi damai.

Dalam praktik sosial, kesalahan memahami konteks ini sering terjadi. Saya pernah mendengar perdebatan serupa di forum diskusi kampus; sebagian peserta mengambil potongan ayat tanpa konteks, lalu menarik kesimpulan yang jauh dari maksud awalnya.

Fathur menilai pernyataan tokoh publik seperti Jusuf Kalla seharusnya lebih berhati-hati, terutama karena memiliki pengaruh luas di ruang publik.

LANGKAH HUKUM DAN RISIKO SOSIAL YANG LEBIH LUAS

FPII menyatakan akan menempuh jalur hukum sebagai langkah klarifikasi resmi. Tujuannya, menurut Fathur, untuk mencegah penyebaran narasi yang dianggap menyesatkan dan menjaga ruang publik tetap sehat.

Ia juga mengingatkan bahwa penyederhanaan ajaran agama tanpa konteks bisa memicu sentimen negatif dan memperlemah kohesi sosial.

Mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 32, Fathur menegaskan bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar diibaratkan membunuh seluruh manusia. Ia juga merujuk Hadits Riwayat Bukhari tentang larangan membunuh non-muslim dalam perjanjian damai.

Dalam konteks Indonesia, isu ini sensitif. Seorang rekan jurnalis pernah bercerita bagaimana narasi agama yang dipelintir di media sosial bisa cepat menyebar dan memicu kesalahpahaman di tingkat akar rumput.

“Langkah hukum ini bukan permusuhan, tetapi upaya edukasi agar publik mendapat pemahaman yang utuh,” kata Fathur.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi dan tetap mengedepankan dialog sehat. “Perbedaan penafsiran tidak boleh menggerus persaudaraan,” ujarnya.

Di tengah ruang publik yang makin riuh, pernyataan tokoh memiliki dampak berlapis. Ketika tafsir agama disederhanakan tanpa konteks, risikonya bukan sekadar debat - melainkan potensi retak dalam kehidupan sosial.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

AI Melaju, Kelas Menengah Menyusut - Ekonomi Terancam


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
IDE Katadata Future Forum 2026 menyoroti ironi ekonomi Indonesia: di saat kecerdasan buatan (AI) melaju pesat, kelas menengah—penopang utama konsumsi—justru menyusut dalam lima tahun terakhir.

Forum yang digelar di Djakarta Theatre, Rabu (15/4/2026), mempertemukan pelaku industri dan pembuat kebijakan untuk membaca arah masa depan, dari disrupsi teknologi hingga tekanan sosial-ekonomi yang makin terasa.

AI MELAJU, BISNIS BELUM SEPENUHNYA UNTUNG

Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra, menyebut AI sebagai kekuatan baru yang membentuk masa depan. Dampaknya tidak hanya di bisnis, tapi juga geopolitik.

Ia mencontohkan konflik di Timur Tengah. Iran memanfaatkan AI untuk serangan drone massal berbiaya rendah namun presisi tinggi—sesuatu yang sebelumnya membutuhkan investasi besar.

Di level korporasi, antusiasme terhadap AI juga tinggi. Data World Economic Forum 2024 menunjukkan 86% pelaku usaha melihat AI sebagai teknologi paling berpengaruh dalam transformasi bisnis.

Namun, realitasnya belum sepenuhnya sejalan. Survei McKinsey terhadap 1.993 responden menunjukkan 61% perusahaan belum merasakan dampak signifikan AI terhadap EBIT.

“Pada akhirnya semuanya soal kapan perusahaan bisa benar-benar menangkap nilai dari AI,” ujar Associate Partner McKinsey & Company, Antonius Santoso.

Di lapangan, ceritanya mirip. Seorang pelaku startup yang saya temui awal tahun ini sudah memakai AI untuk efisiensi operasional. Biaya turun, tapi margin belum banyak berubah. “Masih fase belajar,” katanya.

KELAS MENENGAH MENYUSUT, SINYAL BAHAYA EKONOMI

Di saat teknologi melesat, fondasi konsumsi domestik justru melemah. Riset Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) mencatat penurunan kelas menengah dari 21,5% pada 2019 menjadi 16,9% di 2024.

Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah naik hingga 48,8%. Artinya, lebih banyak orang berada di zona rentan—mudah naik, tapi juga mudah jatuh.

Padahal, peran kelas menengah sangat dominan. Pada 2024, mereka menyumbang 81,5% konsumsi rumah tangga, sementara konsumsi menjadi kontributor utama PDB sebesar 58,8%.

“Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society,” kata Metta.

Saya jadi teringat obrolan dengan seorang teman di sektor kreatif. Pendapatannya stagnan, tapi biaya hidup terus naik. Ia mulai menunda rencana investasi dan pendidikan anak—keputusan kecil yang, jika terjadi masif, bisa berdampak besar ke ekonomi.

TEKNOLOGI BUKAN OBAT MUJARAB

Forum ini juga menegaskan bahwa AI bukan solusi instan. Tanpa adaptasi keterampilan dan kebijakan yang tepat, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan.

Riset KIMCI menyarankan kelas menengah mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, belajar keterampilan baru, dan memperluas peluang kerja profesional.

Namun pertanyaannya lebih dalam: apakah semua punya akses yang sama?

IDE Katadata Future Forum 2026 menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Prof. Stella Christie, Sandiaga Uno, Catherine Lian, dan Tami Bhaumik, untuk membahas arah kebijakan dan strategi menghadapi perubahan ini.

Jika tren ini berlanjut, Indonesia menghadapi paradoks: teknologi maju, tapi daya beli melemah. Dalam jangka panjang, ini bisa menggerus peluang menuju Indonesia Emas 2045.

AI mungkin membuka masa depan baru. Tapi tanpa kelas menengah yang kuat, pertumbuhan bisa kehilangan pijakan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Katadata Future Forum 2026: AI dan Nasib Kelas Menengah


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ajang IDE Katadata Future Forum 2026 resmi digelar di Djakarta Theatre, Rabu (15/4/2026), menyoroti dua isu krusial: percepatan kecerdasan buatan (AI) dan menyusutnya kelas menengah yang dinilai menentukan arah Indonesia menuju 2045.

Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra, menegaskan forum ini dirancang untuk membaca masa depan, bukan sekadar merespons dinamika jangka pendek, dengan fokus pada dampak teknologi dan perubahan sosial-ekonomi.

AI MELAJU, DAMPAKNYA BELUM MERATA

Metta menyebut AI sebagai teknologi yang “mengejutkan” sekaligus membentuk lanskap baru global. Ia mencontohkan konflik di Timur Tengah, di mana Iran memanfaatkan AI untuk serangan drone presisi dengan biaya rendah.

Fenomena itu menunjukkan efisiensi baru dalam perang modern, sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi bisa menggeser keseimbangan kekuatan secara drastis.

Data World Economic Forum 2024 menguatkan tren ini. Sebanyak 86% pelaku usaha menilai AI sebagai teknologi paling berpengaruh, jauh di atas robotika dan energi.

Namun di level bisnis, realitasnya belum sepenuhnya sejalan. Survei McKinsey terhadap 1.993 responden menunjukkan 61% perusahaan belum merasakan dampak signifikan AI terhadap EBIT.

“Pada akhirnya ini soal timing—kapan perusahaan benar-benar bisa menangkap nilai dari AI,” ujar Associate Partner McKinsey & Company, Antonius Santoso.

Ia teringat obrolan dengan seorang founder startup di Jakarta awal tahun ini. Ia sudah mengadopsi AI untuk operasional, tapi mengaku masih “hemat-hemat ekspektasi”—efisiensi ada, profit belum terasa.

KELAS MENENGAH MENYUSUT, RISIKO MAKIN NYATA

Di sisi lain, forum ini membuka hasil riset Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) terbaru bertajuk Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan.

Data Susenas menunjukkan tren yang tidak nyaman: proporsi kelas menengah turun dari 21,5% pada 2019 menjadi 16,9% di 2024. Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah naik hingga 48,8%.

Padahal, Bappenas pernah memproyeksikan Indonesia bisa menjadi negara maju jika kelas menengah mencapai 70% populasi.

Perannya tidak kecil. Pada 2024, kelas menengah menyumbang 81,5% konsumsi rumah tangga—sementara konsumsi sendiri menjadi tulang punggung PDB sebesar 58,8%.

“Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society,” kata Metta.

Dalam keseharian, tekanan ini terasa nyata. Seorang teman lama yang bekerja di sektor kreatif bercerita, pendapatannya stagnan, sementara biaya hidup naik. Ia masih bertahan, tapi mulai menunda rencana investasi dan pendidikan anak.

Riset KIMCI menawarkan beberapa jalan keluar: memanfaatkan AI untuk produktivitas, belajar keterampilan baru, hingga memperluas peluang kerja profesional.

Forum yang digelar sejak 2019 ini juga menghadirkan pembicara lintas sektor, termasuk Prof. Stella Christie, Sandiaga Uno, Catherine Lian, dan Tami Bhaumik.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Film Kupilih Jalur Langit Resmi Meluncur di Jakarta


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Gala premiere film Kupilih Jalur Langit digelar di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu, 15 April 2026. MD Pictures bersama Manara Films menghadirkan jajaran pemain dan kru, sekaligus menandai ekspansi promosi setelah sukses di Malang dan Surabaya.

Acara ini dihadiri produser Manoj Punjabi, sutradara Archie Hekagery, serta pemain utama seperti Zee Asadel dan Emir Mahira. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.

Kupilih Jalur Langit dan Taruhan Cerita Nikah Muda

Manoj Punjabi menegaskan proyek ini bukan sekadar drama religi biasa. Ia menyebut cerita karya Elizasifaa punya daya tarik karena terasa jujur dan dekat dengan realitas generasi muda.

“Kami ingin memberi perspektif baru tentang pernikahan muda. Ada fase ketika akad sudah sah, tapi urusan batin belum selesai,” ujar Manoj dalam konferensi pers.

Narasi ini terasa relevan. Beberapa tahun terakhir, tema nikah muda memang sering muncul di layar, tapi jarang dibedah dari sisi konflik psikologis yang dalam. Film ini mencoba masuk ke ruang itu.

Relasi Dingin dan Luka Masa Lalu

Cerita berpusat pada Amira, diperankan Zee Asadel, yang menikah dengan Furqon, karakter Emir Mahira. Harapan manis di awal pernikahan berubah jadi jarak emosional yang sulit dijelaskan.

Zee menggambarkan perannya cukup menguras emosi. “Ekspektasi nikah muda itu manis, tapi di sini justru harus menghadapi suami yang dingin,” katanya.

Emir menambahkan, karakter Furqon bukan tanpa alasan bersikap demikian. “Dia masih terjebak masa lalu,” ujarnya.

Konflik itu diperkuat kehadiran sosok Dara, yang menjadi bayang-bayang dalam rumah tangga mereka. Di titik ini, film tidak sekadar bicara cinta, tapi juga tentang beban yang belum selesai.

Saya jadi teringat obrolan dengan seorang teman lama, yang menikah muda dan mengaku justru kaget dengan realitas setelah akad. Film ini seperti memotret pengalaman itu—tanpa banyak polesan.

Drama Religi dengan Sentuhan Realisme

Film ini juga memadukan drama dengan elemen religi. Amira digambarkan memilih pendekatan spiritual saat menghadapi masalah, bukan konfrontasi langsung.

Pendekatan ini terasa menarik, karena memberi alternatif cara pandang dalam menyelesaikan konflik rumah tangga. Bukan hanya emosional, tapi juga reflektif.

Didukung aktor senior seperti Surya Saputra, Putri Ayudia, Dina Lorenza, dan Irgi Fahrezi, film ini mencoba menjaga keseimbangan antara drama keluarga dan romansa.

Dengan latar cerita yang dekat dengan keseharian, Kupilih Jalur Langit berpotensi menjangkau penonton muda yang sedang atau akan menghadapi fase hidup serupa.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

PN Surakarta Putus Gugatan Ijazah Jokowi Tidak Dapat Diterima


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Pengadilan Negeri Surakarta menolak gugatan ijazah terhadap Presiden ke-7 Joko Widodo dengan putusan tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard/NO), Selasa (14/4/2026). Putusan ini menghentikan perkara di tahap awal tanpa menguji pokok sengketa.

Gugatan bernomor 211/Pdt.G/2025/PN Skt itu diajukan oleh Top Taufan Hakim dan Bangun Sutoto terhadap Joko Widodo, Ova Emilia, Wening Udasmoro, serta Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai turut tergugat.

Gugatan Ijazah Jokowi Gugur di Tahap Awal

Majelis hakim mengabulkan eksepsi yang diajukan para tergugat. Dengan diterimanya eksepsi tersebut, gugatan dinyatakan tidak memenuhi syarat formil untuk dilanjutkan.

“Dalam eksepsi, menerima eksepsi Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III, dan Turut Tergugat,” demikian dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Surakarta.

Putusan ini menegaskan bahwa perkara berhenti pada aspek prosedural. Substansi gugatan—termasuk pokok tudingan—tidak diperiksa lebih lanjut di persidangan.

Dalam praktik perdata, putusan NO biasanya mengindikasikan persoalan mendasar pada konstruksi gugatan. Bisa terkait kewenangan absolut, kedudukan hukum, atau cacat formil lain.

Putusan Belum Final, Jalur Banding Masih Terbuka

Selain menyatakan gugatan tidak dapat diterima, majelis hakim juga membebankan biaya perkara sebesar Rp537.000 kepada para penggugat.

Namun, putusan ini belum berkekuatan hukum tetap. Para pihak masih memiliki hak mengajukan banding sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Langkah banding akan menentukan apakah perkara ini bisa diperiksa ulang, termasuk kemungkinan memperbaiki aspek formil yang menjadi titik lemah gugatan sebelumnya.

Di sisi lain, putusan ini memberi sinyal awal bahwa perkara menghadapi hambatan serius di tahap prosedural. Tanpa pembenahan, upaya hukum lanjutan berisiko bernasib sama.

Kasus ini sempat menyedot perhatian publik karena menyangkut figur Presiden ke-7 Joko Widodo. Namun pada akhirnya, proses hukum tetap bergerak di rel teknis yang ketat dan terukur.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Integrasi Pembayaran Pajak Digital Luar Negeri Dikebut, Ini Dampaknya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengumpulkan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Jalin Pembayaran Nusantara untuk membahas integrasi pembayaran pajak digital luar negeri, pekan ini.

Fokusnya tegas: menyatukan sistem pembayaran pajak atas transaksi digital lintas negara agar lebih cepat, transparan, dan bisa diproses real-time. Ini menjadi langkah kunci merapikan penerimaan negara di era ekonomi digital.

Integrasi Pembayaran Pajak Digital Luar Negeri Mulai Dipercepat

Di balik rapat ini, ada problem lama yang ingin diputus: sistem yang terfragmentasi. Selama ini, alur pembayaran pajak digital lintas platform sering tersendat di proses sinkronisasi dan validasi data.

Integrasi jadi jawaban. Dengan sistem yang saling terhubung, proses pembayaran dan pencatatan pajak bisa berjalan otomatis, tanpa jeda panjang dan tanpa tumpang tindih data.

“Integrasi sistem pembayaran pajak digital luar negeri merupakan langkah penting untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan penerimaan negara,” ujar Dony Oskaria dalam keterangan resminya.

Pendekatan ini juga mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang makin adaptif terhadap lonjakan transaksi digital global.

Saya sempat berbincang dengan pelaku bisnis digital kecil beberapa waktu lalu. Keluhannya sederhana: proses pajak terasa seperti “lompat sistem”, dari satu platform ke platform lain. Integrasi ini, jika konsisten, berpotensi menghapus kerumitan itu.

Dampak Langsung: Real-time, Minim Hambatan, Lebih Transparan

Begitu sistem terintegrasi, efeknya langsung terasa di dua sisi: negara dan wajib pajak. Proses menjadi lebih cepat, sekaligus mengurangi risiko kesalahan administrasi.

Validasi data yang sebelumnya manual akan bergeser ke sistem otomatis. Artinya, potensi mismatch data bisa ditekan signifikan.

Di sisi negara, transparansi meningkat. Arus penerimaan dari transaksi digital luar negeri bisa dipantau lebih presisi—hal yang krusial di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang makin agresif.

BP BUMN juga menegaskan komitmennya mendukung penugasan pemerintah kepada PT Jalin Pembayaran Nusantara, sesuai Perpres Nomor 68 Tahun 2025 tentang Sistem Pemungutan Pajak atas Transaksi Digital Luar Negeri.

Kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama. Tanpa sinergi antara pemerintah, BUMN, dan industri, integrasi hanya akan berhenti sebagai konsep teknis.

Arah Baru Ekosistem Pajak Digital Nasional

Langkah ini bukan sekadar integrasi sistem, melainkan fondasi baru bagi ekosistem keuangan digital nasional. Targetnya jelas: layanan publik yang lebih responsif, andal, dan mudah diakses.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perubahan ini berarti satu hal: proses lebih sederhana. Tidak lagi berlapis, tidak lagi membingungkan.

Di level makro, ini adalah upaya menutup celah penerimaan negara dari transaksi digital global yang selama ini belum tergarap optimal.

Jika konsisten dijalankan, integrasi pembayaran pajak digital luar negeri bisa menjadi salah satu reformasi paling konkret di sektor fiskal dalam beberapa tahun terakhir.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 





Share:

OJK Rilis Roadmap Derivatif & ESG, Ubah Arah Investasi


Duta Nusantara Merdeka |  Jakarta 
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi merilis dua roadmap besar 2026–2030 untuk pasar derivatif dan pasar modal berkelanjutan. Langkah ini bukan sekadar pembaruan kebijakan, tapi upaya membenahi dua titik lemah pasar keuangan Indonesia: likuiditas yang tipis dan adopsi ESG yang belum matang.

Dalam dokumen tersebut, OJK menargetkan pasar yang lebih dalam, investor lebih terlindungi, dan arus investasi hijau yang lebih agresif—di tengah tekanan global menuju ekonomi rendah karbon.

Pasar Derivatif: Ambisi Besar di Tengah Realita Sepi

Secara konsep, pasar derivatif adalah “alat lindung nilai”. Tapi di Indonesia, ia belum benar-benar hidup. Transaksi terbatas, pelaku pasar masih itu-itu saja, dan likuiditas cenderung dangkal.

OJK mencoba memecah kebuntuan ini lewat empat pilar: perlindungan investor, pembenahan intermediari, pengembangan produk, dan efisiensi infrastruktur.

Salah satu yang cukup mencolok adalah pembatasan leverage untuk investor ritel dan penerapan negative balance protection. Ini sinyal kuat bahwa OJK ingin menekan risiko spekulatif yang selama ini bikin pasar derivatif kurang dipercaya.

Namun persoalannya lebih dalam dari sekadar aturan.

Saya masih ingat obrolan dengan seorang trader di Jakarta beberapa tahun lalu. Ia bilang, “Instrumennya ada, tapi lawannya siapa?” Maksudnya sederhana—tanpa likuiditas, transaksi sulit terjadi.

Di sinilah tantangan utama roadmap ini: bukan hanya membangun sistem, tapi menghidupkan pasar.

ESG: Antara Peluang Besar dan Skeptisisme Pasar

Di sisi lain, OJK mendorong pasar modal berbasis ESG sebagai mesin baru pendanaan. Secara global, tren ini sudah jadi arus utama. Tapi di Indonesia, adopsinya masih bertahap.

Data OJK menunjukkan, hingga Desember 2025, penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan mencapai Rp74,14 triliun. Angka ini terlihat besar, tapi masih kecil dibanding kebutuhan pembiayaan transisi energi.

Produk reksa dana ESG juga tumbuh dengan dana kelolaan Rp9,98 triliun. Namun, sebagian besar masih didominasi investor institusi.

Masalah utamanya ada di persepsi. Banyak pelaku pasar melihat ESG sebagai “label tambahan”, bukan strategi investasi utama.

Seorang manajer investasi bahkan pernah mengatakan, “Kalau return-nya sama, orang baru lihat ESG. Kalau tidak, ya ditinggal.”

Artinya, tanpa insentif dan edukasi, ESG sulit jadi pilihan utama.

Strategi OJK: Mendorong, Tapi Belum Menjamin

OJK menyusun roadmap ini dengan empat pendekatan: regulasi, peningkatan aktivitas pasar, dorongan partisipasi, dan kolaborasi global, termasuk dengan Asian Development Bank.

Targetnya cukup agresif. Obligasi berkelanjutan diproyeksikan tumbuh lebih dari 50 persen per tahun. Sementara pasar derivatif diharapkan mulai menarik lebih banyak investor institusi.

Namun pengalaman sebelumnya menunjukkan, roadmap sering kali kuat di desain, lemah di eksekusi.

Tanpa insentif nyata—seperti kemudahan pajak, peningkatan literasi, atau likuiditas awal—pasar cenderung bergerak lambat.

Ujian Sebenarnya: Eksekusi, Bukan Dokumen

Dua roadmap ini pada akhirnya adalah peta. Tapi pasar tidak bergerak hanya karena peta dibuat.

Yang menentukan adalah: seberapa cepat investor masuk, seberapa besar kepercayaan tumbuh, dan seberapa konsisten regulator mengawal


Jika berhasil, Indonesia bisa punya pasar keuangan yang lebih dalam dan relevan secara global. Jika tidak, roadmap ini berisiko jadi dokumen ambisius yang tak pernah benar-benar dijalankan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
Share:

Rini Widyantini Klaim WFH ASN Berjalan Lancar Pekan Pertama


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Rini Widyantini menyatakan kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada pekan pertama berjalan lancar dan menunjukkan hasil menggembirakan. Evaluasi awal dilakukan di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Pemerintah menilai skema fleksibilitas tempat bekerja ini tidak mengganggu kinerja maupun pelayanan publik. Justru, pola kerja baru disebut mulai membentuk ritme birokrasi yang lebih adaptif.

Evaluasi Awal WFH ASN: Adaptasi Cepat, Kinerja Terjaga

Rini menyebut mayoritas instansi pemerintah pusat mampu beradaptasi cepat dengan sistem kerja berbasis output. “Implementasi berjalan kondusif dan mampu mempertahankan kinerja,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi modal penting. Pola kerja jarak jauh bukan hal baru, hanya kini diformalkan dalam kebijakan yang lebih terstruktur.

Saya sempat berbincang dengan seorang ASN di kementerian teknis beberapa waktu lalu. Ia mengaku ritme kerja justru lebih fokus saat WFH, meski tantangannya ada di koordinasi lintas tim.

Rini menegaskan, kebijakan ini bukan soal mengurangi jam kerja. “Target kinerja ASN tidak berubah, yang berubah adalah bagaimana mereka bekerja,” katanya.

Layanan Publik dan Tantangan Infrastruktur

Pemerintah memastikan layanan publik tetap menjadi prioritas utama. Berdasarkan survei kepuasan masyarakat dan kanal pengaduan, layanan esensial tetap berjalan normal.

“Pelayanan publik tidak bisa ditawar. Layanan yang berdampak langsung ke masyarakat tetap berjalan,” ujar Rini.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Pemerintah mencatat ketimpangan infrastruktur digital antar instansi masih menjadi kendala. Beberapa lembaga masih menyesuaikan pembagian kerja antara sistem daring dan tatap muka.

Hal ini mengingatkan pada situasi awal pandemi, ketika banyak instansi gagap teknologi. Bedanya, sekarang ekspektasi publik jauh lebih tinggi—tidak ada ruang untuk layanan yang tersendat.

Koordinasi dengan pemerintah daerah juga terus dilakukan melalui Kementerian Dalam Negeri, mengingat penerapan WFH di daerah memiliki karakteristik berbeda.

Evaluasi Berkala dan Arah Kebijakan

Rini menegaskan evaluasi satu pekan belum cukup untuk menarik kesimpulan menyeluruh. Pemerintah akan melakukan evaluasi berkala setiap dua bulan, dengan penilaian pertama dijadwalkan Juni 2026.

Setiap instansi diminta melaporkan capaian kinerja, efisiensi energi, hingga kualitas layanan publik. Data ini akan menjadi dasar penyesuaian kebijakan ke depan.

“Transformasi budaya kerja birokrasi adalah proses, bukan peristiwa sekali jadi,” kata Rini.

Optimisme ada, tapi pemerintah tetap berhati-hati. Jika dikelola konsisten, WFH ASN berpotensi menjadi fondasi baru birokrasi yang lebih efisien dan responsif.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

IPSI Gelar Munas, Prabowo Tegaskan Pencak Silat Warisan Bangsa


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Prabowo Subianto membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVI PB IPSI di Jakarta, Sabtu (11/4/2026), dengan penegasan target besar: pencak silat harus menembus Olimpiade. Dalam forum itu, ia didampingi Agus Subiyanto dan sejumlah pejabat negara.

Acara berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), menghadirkan pemangku kepentingan olahraga nasional. Fokusnya jelas: mempercepat pembinaan dan diplomasi olahraga agar pencak silat diakui secara global.

Pencak Silat, Antara Warisan dan Ambisi Global

Prabowo menekankan pencak silat bukan sekadar cabang olahraga, melainkan identitas budaya. “Pencak silat adalah bagian dari budaya, bagian dari ilmu kesatria,” ujarnya dalam sambutan.

Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Dalam beberapa tahun terakhir, pencak silat memang konsisten menyumbang medali di berbagai ajang internasional. Namun, jalan menuju Olimpiade masih panjang dan penuh lobi politik olahraga.

Di sela acara, saya teringat obrolan dengan seorang pelatih daerah beberapa tahun lalu. Ia bilang, talenta muda Indonesia melimpah, tapi sering kalah di sistem pembinaan. Masalah klasik—yang tampaknya masih relevan hingga hari ini.

Target Olimpiade: Ambisi yang Belum Tuntas

Prabowo secara terbuka mengakui target membawa pencak silat ke Olimpiade belum tercapai selama masa kepemimpinannya di IPSI. “Saya minta maaf belum berhasil membawa pencak silat ke Olimpiade,” katanya.

Namun ia menegaskan dukungan tidak akan berhenti, meski nantinya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum IPSI. Pernyataan ini memberi sinyal kesinambungan dukungan politik terhadap cabang olahraga tersebut.

Di sisi lain, Panglima TNI Agus Subiyanto bersama Menpora, Kapolri, dan Direktur Utama PT Pertamina menerima plakat penghargaan dari PB IPSI. Ini mencerminkan keterlibatan lintas sektor dalam pembinaan pencak silat.

Komitmen TNI sendiri ditegaskan: pembinaan generasi muda lewat olahraga akan terus diperkuat. Ini penting, karena tanpa basis atlet yang kuat, ambisi Olimpiade hanya akan jadi slogan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Kemendikdasmen Perkuat Rumah Pendidikan di Tengah Pembatasan Medsos


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kebijakan pembatasan media sosial pelajar melalui PP TUNAS mulai berlaku Maret 2026. Pemerintah mendorong penggunaan Super Aplikasi Rumah Pendidikan sebagai alternatif ruang digital edukatif.

Langkah ini dijalankan bersamaan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusdatin sejak 2025, sebagai respons atas risiko konten negatif yang mengancam perkembangan anak.

Pembatasan Media Sosial dan Alternatif Digital Pendidikan

Guru Biologi SMAN 8 Raja Ampat, Winanto Tri Hapsoro, menilai kebijakan ini relevan dengan kondisi pelajar yang masih rentan terhadap pengaruh digital.

“Pembatasan media sosial oleh pemerintah sangat relevan, karena pelajar masih berada pada fase perkembangan yang rentan pengaruh konten negatif,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Ia menyebut kehadiran Super Aplikasi Rumah Pendidikan menjadi pembeda. Platform ini tidak hanya membatasi, tetapi juga memberi alternatif ruang belajar yang lebih aman.

Di lapangan, perubahan ini terasa nyata. Saya pernah berbincang dengan guru di wilayah timur Indonesia yang mengeluhkan distraksi media sosial lebih dominan daripada bahan ajar. Kini, arah itu mulai bergeser.

Winanto mencontohkan fitur Ruang Murid dan Lab Maya yang memungkinkan siswa di Papua Barat Daya mengakses pengalaman belajar setara dengan sekolah di kota besar.

“Konten seperti Lab Maya sangat membantu siswa kami memahami materi secara lebih mendalam,” katanya.

Efektivitas, Tantangan, dan Adaptasi Generasi Digital

Meski demikian, implementasi kebijakan belum sepenuhnya efektif. Muhammad Najmi HR, siswa kelas VI di Sarijadi, Bandung, mengaku masih bisa mengakses platform seperti TikTok dan YouTube.

Celah ini menunjukkan perlunya pengawasan dan integrasi sistem yang lebih kuat agar kebijakan tidak berhenti di level regulasi.

Dari sisi orang tua, dukungan cukup kuat. Siti Samiatun, warga Cimahi, menilai pembatasan ini membantu mengontrol aktivitas digital anak.

“Saya setuju dengan pembatasan media sosial. Anak jadi tidak terlalu larut dan lupa waktu,” ujarnya.

Namun tantangan berikutnya adalah relevansi konten. Winanto menekankan pentingnya pengembangan fitur mobile dan format video pendek agar sesuai dengan kebiasaan generasi muda.

Saya sendiri melihat pola konsumsi konten pelajar kini sangat cepat. Tanpa adaptasi format, platform edukasi berisiko ditinggalkan meski niatnya baik.

Integrasi Sistem dan Masa Depan Pembelajaran Digital

Kepala Pusdatin, Wibowo Mukti, menjelaskan Super Aplikasi Rumah Pendidikan dirancang sebagai ekosistem terpadu dengan delapan menu utama, termasuk Ruang Murid dan Ruang Guru.

Sebelumnya, layanan pendidikan digital tersebar di hampir 300 aplikasi berbeda. Kondisi ini menyulitkan lebih dari 4 juta guru dan 40 juta siswa di seluruh Indonesia.

Melalui integrasi ini, pemerintah menargetkan pembelajaran yang lebih inklusif, efisien, dan merata, terutama di wilayah terpencil.

Jika konsisten dijalankan, kombinasi pembatasan media sosial pelajar dan penguatan platform edukasi bisa menjadi titik balik pengelolaan ruang digital anak di Indonesia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto




Share:

Bea Cukai Riau Musnahkan Barang Ilegal Rp44,8 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Pekanbaru 
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Riau memusnahkan barang hasil penindakan kepabeanan dan cukai senilai Rp44,82 miliar, Selasa (14/4/2026). Kegiatan berlangsung di Pekanbaru dan Dumai, melibatkan aparat lintas instansi.

Pemusnahan mencakup barang ilegal periode 2024–2025 yang telah berstatus Barang Menjadi Milik Negara (BMMN). Langkah ini disebut sebagai upaya menekan peredaran barang ilegal sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Barang Ilegal Didominasi Rokok Tanpa Cukai

Barang yang dimusnahkan didominasi produk kena cukai ilegal. Totalnya mencapai 28,8 juta batang rokok tanpa pita cukai, 1.214 liter minuman beralkohol, serta ratusan koli barang lain.

Selain itu, terdapat pakaian bekas, alas kaki, barang konsumsi, hingga elektronik ilegal. Seluruh barang merupakan hasil penindakan di wilayah Riau dan Sumatera Barat dalam dua tahun terakhir.

Metode pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar, dihancurkan, dan dipotong. Proses ini dilakukan terbuka sebagai bentuk transparansi kepada publik.

Sinergi Aparat Jadi Kunci Penegakan Hukum

Kepala Kanwil DJBC Riau, Dwijo Muryono, menegaskan pemusnahan ini bukan sekadar seremoni. “Ini bentuk nyata komitmen melindungi masyarakat dan pelaku usaha dari barang ilegal,” ujarnya.

Kegiatan ini juga melibatkan TNI AD. Asisten Operasi Kasdam XIX/Tuanku Tambusai, Kolonel Inf Rendra Dwi Ardhani, hadir mewakili Pangdam.

Menurutnya, sinergi antarinstansi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan ekonomi. “Kami siap terus mendukung penegakan hukum di wilayah,” katanya.

Kehadiran aparat gabungan—mulai dari Bea Cukai, TNI, Kepolisian, hingga Kejaksaan—menunjukkan pola kolaborasi yang makin solid.

Dalam pengalaman liputan lapangan, pola seperti ini biasanya efektif memutus jalur distribusi, bukan hanya di hilir tapi juga sampai ke jaringan pemasok.

Dampak Ekonomi dan Imbauan ke Masyarakat

Peredaran barang ilegal bukan hanya merugikan negara dari sisi penerimaan, tetapi juga menciptakan persaingan usaha tidak sehat.

Produk tanpa cukai, misalnya, dijual jauh lebih murah karena tidak menanggung beban pajak. Ini menekan pelaku usaha resmi yang patuh aturan.

Karena itu, masyarakat diminta ikut berperan. Peningkatan kesadaran hukum dinilai penting untuk memutus rantai distribusi barang ilegal.

Langkah penindakan yang konsisten, ditambah partisipasi publik, menjadi kombinasi kunci untuk menjaga pasar tetap sehat dan kompetitif.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Habitat Ungkap Hambatan SKK Konstruksi di Indonesia


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Habitat for Humanity Indonesia membeberkan hasil studi nasional implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) sektor konstruksi di Kota Tangerang, Selasa, 14 April 2026. Temuan utamanya: akses sertifikasi masih timpang, padahal sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja.

Dari total pekerja konstruksi di Indonesia, hanya sekitar 6 persen yang mengantongi sertifikat resmi. Ketimpangan ini dinilai berisiko terhadap kualitas pembangunan dan keselamatan kerja di lapangan.

Ketimpangan Akses Jadi Masalah Inti

Sektor konstruksi selama ini dikenal sebagai tulang punggung pembangunan infrastruktur dan perumahan. Namun di lapangan, kualitas tenaga kerja belum sepenuhnya terstandar.

Saya pernah berbincang dengan seorang tukang bangunan di pinggiran Tangerang. Dia sudah 15 tahun bekerja, tapi belum pernah ikut uji sertifikasi. Bukan karena tidak mampu, melainkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Temuan studi Habitat menguatkan cerita seperti itu. Tiga hambatan utama muncul berulang: minimnya informasi bagi pekerja informal, biaya sertifikasi yang dianggap berat, dan proses administrasi yang rumit.

Padahal, Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) menjadi instrumen penting untuk memastikan kompetensi pekerja sesuai standar nasional.

Program Pelatihan Tunjukkan Hasil, Tapi Belum Merata

Sejak 2023, Habitat for Humanity Indonesia menjalankan program pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Hasilnya cukup mencolok.

Sebanyak 581 pekerja di Kota dan Kabupaten Tangerang telah tersertifikasi. Bahkan, tingkat kelulusan mencapai 96 persen.

“Pekerja konstruksi memiliki peran penting dalam pembangunan, namun masih menghadapi tantangan dalam mengakses sertifikasi,” ujar Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Angka kelulusan tinggi ini memberi sinyal jelas: persoalannya bukan pada kemampuan, tetapi akses. Banyak pekerja sebenarnya siap, hanya terhambat sistem.

Di sisi lain, pemerintah melihat inisiatif ini sebagai model kolaborasi. “Kami mengapresiasi Habitat… hasil studi ini bisa memperkuat kebijakan ke depan,” kata Ir. Kimron Manik dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Habitat juga mencoba menutup celah lain lewat job fair konstruksi pada 2025. Tujuannya sederhana: memastikan pekerja terlatih tidak berhenti di sertifikat, tapi terserap industri.

Dampak Lebih Luas: Kualitas Infrastruktur dan Ekonomi

Kualitas tenaga kerja konstruksi tidak hanya berdampak pada bangunan, tapi juga ekonomi daerah. Infrastruktur yang buruk berisiko mahal di kemudian hari.

Studi ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, industri, hingga lembaga pelatihan untuk memperbaiki ekosistem sertifikasi agar lebih inklusif.

Momentum kolaborasi mulai terlihat. Sejumlah pihak hadir dalam diseminasi, mulai dari Kementerian PU, Bappeda, hingga perwakilan internasional.

Ke depan, tantangannya jelas: membuat sertifikasi tidak lagi eksklusif. Karena di balik setiap bangunan, ada tenaga kerja yang seharusnya punya standar yang sama.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

FORSIMEMA Soroti Pentingnya Integritas dan Efisiensi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ketua Umum FORSIMEMA, Syamsul Bahri menegaskan pentingnya integritas dan efisiensi dalam organisasi media melalui pernyataan reflektif di Jakarta, Senin (13/4/2026). Pesan ini menyoroti dilema klasik antara kecepatan kerja dan keberanian menjaga nilai kebenaran.

“Efisiensi adalah tentang melakukan sesuatu dengan benar, namun integritas adalah tentang melakukan hal yang benar,” ujar Syamsul.

Efisiensi Tanpa Arah Bisa Menyesatkan

Dalam praktik organisasi, efisiensi sering menjadi ukuran utama. Target harus tercapai cepat, biaya ditekan, dan proses dipersingkat.

Di ruang redaksi, situasi ini bukan hal baru. Saya pernah melihat bagaimana tekanan kecepatan membuat verifikasi informasi terasa seperti beban tambahan. Padahal, di situlah letak kualitas.

Efisiensi, dalam konteks ini, memang penting. Ia menjaga organisasi tetap hidup, terutama di tengah tekanan ekonomi yang tidak ringan.

Namun, ketika efisiensi berdiri sendiri tanpa arah nilai, ia berpotensi melenceng. Prosedur bisa dipenuhi, target tercapai, tetapi substansi kebenaran justru terabaikan.

Integritas: Pilar yang Tak Bisa Ditawar

Di sisi lain, integritas berbicara soal keberanian memilih yang benar. Bukan sekadar bagaimana sesuatu dikerjakan, tetapi apa dan mengapa hal itu dilakukan.

Dalam dunia media dan hukum, integritas bukan pilihan tambahan. Ia adalah fondasi. Tanpa itu, kepercayaan publik runtuh—dan sulit dibangun kembali.

Saya teringat percakapan dengan seorang jurnalis senior yang pernah berkata, “Berita bisa cepat, tapi kepercayaan butuh waktu lama.” Kalimat sederhana, tetapi menggambarkan posisi integritas yang tidak tergantikan.

Menurut Syamsul Bahri, integritas menuntut transparansi dan akuntabilitas. Bahkan ketika pilihan yang benar terasa lebih mahal atau berisiko, di situlah ujian sesungguhnya.

Menyatukan Efisiensi dan Integritas

Tantangan terbesar organisasi hari ini bukan memilih salah satu, melainkan menyatukan keduanya. Efisiensi menjaga organisasi tetap berjalan, sementara integritas menjaga arah dan martabatnya.

Ketika keduanya berjalan seiring, organisasi tidak hanya produktif, tetapi juga dipercaya. Sebaliknya, jika salah satu diabaikan, dampaknya langsung terasa—baik secara internal maupun di mata publik.

Pesan Ketum FORSIMEMA ini relevan di tengah perubahan industri media yang serba cepat. Tekanan digital, kompetisi, dan tuntutan produksi tinggi kerap menggoda untuk mengorbankan prinsip.

Pentingnya integritas dan efisiensi dalam organisasi media bukan sekadar konsep, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa integritas, efisiensi kehilangan makna. Tanpa efisiensi, integritas sulit bertahan.

Di titik ini, organisasi diuji bukan hanya soal seberapa cepat bergerak, tetapi seberapa lurus arah yang dipilih.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini