PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA) mencatat perbaikan signifikan dalam kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025. Meski masih membukukan kerugian, emiten perikanan tersebut berhasil menekan rugi bersih, memperbaiki profitabilitas operasional, dan memperkuat struktur liabilitas di tengah tekanan industri yang masih berlangsung.
Direktur Utama ASHA, William Sutioso, dalam Public Expose di Jakarta, Kamis (11/6), mengungkapkan bahwa penjualan bersih Perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp170,51 miliar. Angka ini turun 35,29% dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp263,48 miliar.
"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar, berkurangnya volume penjualan, menurunnya kontrak pelanggan utama, serta pemulihan operasional yang belum sepenuhnya berjalan optimal," ujar William.
Profitabilitas Operasional Berbalik Positif
Di tengah penurunan pendapatan, ASHA berhasil melakukan efisiensi yang cukup agresif. Beban pokok penjualan turun 37,65% menjadi Rp169,55 miliar dari Rp271,93 miliar pada tahun sebelumnya.
Efisiensi tersebut mendorong perbaikan laba bruto yang berbalik positif menjadi Rp946,44 juta pada 2025. Pada 2024, Perseroan masih mencatat rugi bruto sebesar Rp8,45 miliar. Secara tahunan, terjadi perbaikan hingga 111,20%.
Sementara itu, rugi sebelum pajak turun 31,66% menjadi Rp20,26 miliar dibandingkan Rp29,63 miliar pada 2024. Adapun rugi tahun berjalan berhasil ditekan menjadi Rp19,57 miliar, membaik 36,66% dibandingkan rugi Rp30,89 miliar pada tahun sebelumnya.
Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga menyusut 36,60% menjadi Rp19,57 miliar. Perbaikan kinerja tersebut turut tercermin pada rugi bersih per saham yang turun dari Rp6,18 menjadi Rp3,91 per lembar saham atau membaik 36,73% secara tahunan.
Struktur Keuangan Tetap Terjaga
Per 31 Desember 2025, total aset ASHA tercatat Rp126,32 miliar, turun 18,27% dibandingkan Rp154,56 miliar pada akhir 2024. Penurunan terutama berasal dari berkurangnya aset lancar sebesar 25,15% menjadi Rp37,99 miliar serta aset tidak lancar yang turun 14,91% menjadi Rp88,33 miliar.
Dari sisi kewajiban, total liabilitas berhasil ditekan 32,15% menjadi Rp18,30 miliar dari Rp26,97 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan terbesar berasal dari liabilitas jangka panjang yang menyusut 71% menjadi Rp3,13 miliar.
Sementara itu, ekuitas Perseroan tercatat Rp108,02 miliar atau turun 15,34% dibandingkan Rp127,59 miliar pada 2024 akibat akumulasi rugi yang masih membebani saldo laba ditahan.
Strategi 2026 dan Tantangan Industri
Manajemen menilai tantangan industri masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global, perubahan regulasi sektor perikanan, keterbatasan tenaga kerja, serta fluktuasi harga energi dan bahan baku ikan.
Untuk mendorong pertumbuhan, ASHA menyiapkan strategi ekspansi pasar, hilirisasi produk perikanan, peningkatan fasilitas dockyard, penguatan kerja sama internasional, serta optimalisasi tata kelola perusahaan.
Memasuki 2026, Perseroan membidik peningkatan kontribusi produk bernilai tambah melalui pengembangan merek Willie’s Product, perluasan pasar domestik, peningkatan volume produk olahan, serta operasional penuh fasilitas dockyard di Cilacap guna memperkuat sumber pendapatan dan efisiensi usaha.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto

































