Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) menegaskan dukungan terhadap penguatan hilirisasi perunggasan nasional berbasis ekonomi rakyat dalam seminar AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026 di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Ketua Dewan Pembina Aspeksindo Drs. Sokhiatulo Laoli MM mengatakan konsolidasi antarpihak menjadi kunci utama agar sektor peternakan rakyat tidak terus berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah pusat, daerah, asosiasi, hingga pelaku usaha diminta bergerak dalam satu arah.
“Sinergitas antar semua pihak itu penting. Kalau tidak bekerja bersama-sama, susah,” ujar Sokhiatulo dalam seminar tersebut di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Konsolidasi Peternak Dinilai Jadi Titik Lemah
Menurut Sokhiatulo, persoalan terbesar peternakan nasional bukan semata produksi, melainkan lemahnya konsolidasi di tingkat bawah. Ia menilai banyak peternak masih menjalankan usaha secara tradisional dan belum membangun pola bisnis modern.
Ia mencontohkan program Sekolah Peternak Rakyat (SPR) yang selama ini dijalankan bersama pemerintah daerah. Program itu melibatkan dukungan APBD, asosiasi, dan kelompok peternak dalam pelatihan selama tujuh bulan.
“Peternak tidak hanya diajarkan beternak, tapi bagaimana menjadi pengusaha yang profesional,” katanya.
Di sejumlah daerah pesisir, kata dia, pendekatan itu mulai terlihat hasilnya. Kelompok kecil peternak yang sebelumnya berjalan sendiri kini mulai membangun jejaring produksi dan pemasaran bersama.
Saya sempat menemui pola serupa di beberapa sentra peternakan rakyat Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Banyak kandang berdiri berdampingan, tetapi para peternaknya bahkan tidak saling mengetahui harga pakan terbaru di wilayahnya sendiri.
Kondisi seperti itu, menurut Sokhiatulo, membuat posisi peternak rakyat mudah tertekan ketika harga pakan naik atau distribusi tersendat.
Daerah Diminta Aktif Masuk ke Ekosistem Hilirisasi
Aspeksindo juga meminta pemerintah daerah tidak bersikap pasif terhadap sektor peternakan rakyat. Sokhiatulo mengatakan kepala daerah harus ikut terlibat membangun ekosistem usaha hingga pemasaran hasil ternak.
“Nah itu kami mengajak para bupati anggota Aspeksindo. Kami bilang, ‘Sudah bantu saja, itu aset daerah dan rakyat juga’,” ujarnya.
Ia menjelaskan satu kelompok peternak idealnya menjadi pusat pembelajaran bagi kelompok lain. Dengan pola itu, hilirisasi perunggasan nasional tidak berhenti pada produksi, tetapi menciptakan regenerasi usaha di daerah.
Menurut dia, kawasan kepulauan dan pesisir memiliki tantangan distribusi berbeda dibanding wilayah daratan. Karena itu, dukungan regulasi dan keberpihakan anggaran daerah dinilai menentukan keberhasilan ketahanan pangan nasional.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto





























