Tekanan ganda ekonomi Indonesia kembali mengemuka seiring ancaman krisis energi global dan kemunculan varian baru COVID-19 bernama Cicada. Situasi ini dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional dalam waktu dekat.
Indonesia, yang baru pulih dari dampak pandemi dalam beberapa tahun terakhir, kini menghadapi kombinasi risiko eksternal yang dapat menekan fiskal, inflasi, hingga daya beli masyarakat.
Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia: Energi dan Pandemi Baru
Direktur Eksekutif INISIATOR, Yakub F. Ismail, menilai tekanan ganda ekonomi Indonesia berasal dari ketergantungan tinggi terhadap energi fosil serta volatilitas harga global.
Lonjakan harga minyak dan gas akibat gangguan distribusi global mendorong kenaikan beban subsidi energi dalam APBN. Dampaknya, ruang fiskal pemerintah berpotensi menyempit.
Kondisi ini mempersempit kemampuan negara dalam membiayai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Di sisi lain, biaya produksi industri ikut meningkat.
Kenaikan biaya tersebut berisiko memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Situasi ini menjadi alarm serius bagi stabilitas ekonomi nasional.
Pada saat bersamaan, kemunculan varian baru COVID-19, Cicada, menambah ketidakpastian. Meskipun masih tahap awal, potensi kepanikan publik tidak bisa diabaikan.
Jika penyebaran tidak terkendali, sektor berbasis mobilitas seperti pariwisata, transportasi, dan perdagangan akan kembali terdampak. Sektor informal pun terancam ikut melemah.
Strategi Hadapi Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Yakub menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus mampu beradaptasi secara strategis menghadapi tekanan ganda ekonomi Indonesia.
Langkah utama yang dinilai krusial adalah percepatan transisi menuju energi terbarukan. Diversifikasi energi seperti surya, angin, dan bioenergi menjadi solusi jangka panjang.
Reformasi subsidi energi juga perlu diarahkan lebih tepat sasaran guna mengurangi tekanan fiskal. Kebijakan ini dinilai penting menjaga keseimbangan anggaran negara.
Di sektor riil, penguatan UMKM menjadi kunci. Dukungan melalui pembiayaan, insentif pajak, serta digitalisasi dinilai mampu menjaga ketahanan ekonomi domestik.
Selain itu, pemerintah perlu menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang transparan dan pro-investasi. Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi faktor krusial.
Reformasi struktural jangka panjang dinilai penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Upaya ini menjadi fondasi dalam menghadapi ketidakpastian global.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق