Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Sense of Crisis Jadi Kunci Bertahan di Tengah Krisis


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kenaikan harga gas nonsubsidi, lonjakan harga bahan bakar minyak, hingga meningkatnya biaya kebutuhan harian mulai memunculkan kecemasan baru di tengah masyarakat. Namun di saat yang sama, pusat perbelanjaan tetap ramai, restoran baru terus bermunculan, dan aktivitas konsumsi terlihat berjalan normal.

Kontras itu memunculkan pertanyaan besar: apakah ancaman krisis ekonomi memang belum terasa, atau justru masyarakat sedang masuk dalam kondisi “boiling frog syndrome”, yakni situasi ketika ancaman datang perlahan tetapi gagal disadari sejak awal.

Fenomena tersebut menjadi sorotan di tengah klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I 2026. Angka itu bahkan disebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi China. Namun, di balik data makro yang terlihat positif, muncul kekhawatiran soal menurunnya kepekaan terhadap perubahan.

Krisis Besar Sering Datang Diam-Diam

Pendiri IKEA, Ingvar Kamprad, pernah mengingatkan bahwa rasa puas diri menjadi racun paling berbahaya bagi organisasi. Sejarah bisnis menunjukkan banyak perusahaan besar runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan terlambat membaca perubahan.

Kodak misalnya, gagal beradaptasi dengan fotografi digital meski menjadi salah satu penemunya. Sementara Blockbuster terlambat memahami perubahan perilaku konsumen di industri hiburan. Nasib serupa dialami BlackBerry yang pernah mendominasi pasar ponsel profesional.

Mereka memiliki modal besar, teknologi, dan tenaga ahli. Namun, perusahaan-perusahaan itu kehilangan sense of crisis atau kepekaan terhadap ancaman yang tumbuh perlahan.

Penulis dan konsultan kepemimpinan Michelle Gibbings menyebut rasa puas diri tidak muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan hingga dianggap normal. Situasi itu membuat standar kerja turun tanpa disadari.

Relevansi Tidak Bisa Disimpan

Ancaman complacency tidak hanya menghantam perusahaan, tetapi juga individu. Banyak profesional berhenti belajar ketika merasa posisi dan kenyamanannya sudah aman.

Profesor psikologi sosial David Dunning mengatakan, “Jika tidak kompeten, Anda tidak akan menyadari bahwa Anda tidak kompeten.” Pernyataan itu menggambarkan bagaimana seseorang bisa tertinggal tanpa menyadarinya.

Sementara itu, profesor kepemimpinan John Kotter menilai perubahan dunia bergerak lebih cepat dibanding kemampuan organisasi beradaptasi. Menurut dia, sense of crisis bukan berarti hidup dalam kepanikan, melainkan kesadaran untuk terus belajar dan berubah.

Dalam dunia kerja modern, relevansi tidak bisa disimpan seperti tabungan. Ketika organisasi dan individu berhenti mempertanyakan dirinya sendiri, kemunduran sebenarnya sudah dimulai, meski belum terlihat di permukaan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Pemerintah Siapkan Dua Mesin Ekonomi Kejar Target 8 Persen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Pemerintah mulai mengandalkan dua sumber utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8 persen, yakni belanja negara dan percepatan aktivitas sektor swasta. Strategi itu ditempuh melalui penambahan likuiditas perbankan, percepatan investasi, hingga penyaluran kredit murah bagi pelaku usaha ekspor.

Ketua Dewan Komisioner Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan langkah tersebut saat membuka Jogja Financial Festival pada Jumat, 22 Mei 2026. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan uang beredar di sektor keuangan benar-benar masuk ke kegiatan produktif dan tidak tertahan di perbankan.

“Kita pastikan uang di perekonomian cukup. Sehingga perbankan kita paksa untuk bekerja, menyalurkan uang yang di perbankan sehingga masuk ke perekonomian,” ujar Purbaya.

Likuiditas Perbankan Jadi Motor Pertumbuhan

Pemerintah menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen sulit tercapai jika dunia usaha kekurangan akses pembiayaan. Karena itu, otoritas fiskal dan sektor keuangan mulai memperbesar likuiditas agar penyaluran kredit meningkat ke sektor riil.

Salah satu langkah yang ditempuh ialah memindahkan dana sekitar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sistem perbankan nasional. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas bank menyalurkan pembiayaan ke industri dan investasi produktif.

Menurut Purbaya, pemerintah mulai melihat ruang pemulihan dari sektor swasta setelah likuiditas diperkuat. “Angka 8 persen itu tinggi memang, cuman bukan angka yang mustahil,” katanya.

Pemerintah juga mulai membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Satgas lintas kementerian itu ditugaskan menyelesaikan hambatan investasi, terutama masalah perizinan dan koordinasi antarinstansi.

Kredit Murah Disiapkan untuk Eksportir

Selain memperkuat kredit perbankan, pemerintah menyiapkan skema pembiayaan berbunga rendah untuk perusahaan berorientasi ekspor. Skema itu akan disalurkan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan PT Sarana Multi Infrastruktur.

Pemerintah menargetkan bunga pinjaman berada di kisaran 5–6 persen agar pelaku usaha memiliki ruang ekspansi lebih besar di tengah tekanan global dan tingginya biaya modal.

Kebijakan tersebut memperlihatkan fokus pemerintah tidak hanya menjaga konsumsi domestik, tetapi juga memperkuat investasi dan ekspor sebagai sumber pertumbuhan baru. Di tengah perlambatan ekonomi global, pemerintah tampaknya mulai menggeser strategi dari sekadar menjaga daya beli menuju ekspansi sektor produktif.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Roadshow AI Nasional Bidik Transformasi Digital Rumah Sakit


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kolaborasi Yorindo Communication, APTIKNAS, APKOMINDO, dan PERATIN dengan dukungan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN RI) terus memperluas kampanye transformasi digital nasional melalui roadshow “AI Driven Secure & Efficient: Engineering The Digital Transformation Blueprint”.

Hingga Mei 2026, kegiatan tersebut telah digelar di enam kota, yakni Surabaya, Bali, Cikarang, Batam, Purwakarta, dan Tangerang. Forum itu mempertemukan pelaku industri, regulator, vendor teknologi, hingga praktisi keamanan siber untuk membahas penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang aman dan efisien.

Industri Mulai Mengejar AI, Tapi Kekhawatiran Siber Meningkat

Di banyak perusahaan, pembahasan AI kini tidak lagi sekadar tren seminar teknologi. Dunia industri mulai serius menghitung efisiensi operasional, otomatisasi data, hingga penguatan keamanan digital berbasis AI.

Namun, di balik antusiasme itu, kekhawatiran soal serangan siber dan kebocoran data ikut meningkat. Seorang pengelola rumah sakit swasta di Jakarta pernah mengaku mulai khawatir setelah sistem digital rumah sakit makin bergantung pada cloud dan integrasi data pasien.

Roadshow nasional ini membahas berbagai isu tersebut, mulai dari autonomous cyber defense, cloud computing, data center, hingga penguatan keamanan infrastruktur digital.

Ketua Umum APTIKNAS sekaligus Ketua Umum APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso atau Hoky, menilai sektor kesehatan menjadi salah satu sektor paling krusial dalam transformasi digital nasional.

“Kita tidak punya waktu lagi untuk ragu. Gelombang AI tidak akan menunggu kesiapan kita,” ujar Hoky.

Menurut dia, rumah sakit membutuhkan sistem digital yang bukan hanya modern dan efisien, tetapi juga aman, patuh regulasi, dan mampu menjaga kedaulatan data nasional.

Jakarta dan Balikpapan Jadi Fokus Berikutnya

Sepanjang roadshow, tingkat partisipasi peserta terus meningkat. Di Cikarang misalnya, jumlah kehadiran bahkan melampaui angka registrasi. Kawasan industri itu menjadi titik penting pembahasan efisiensi manufaktur berbasis digital backbone yang aman.

Purwakarta juga menarik perhatian karena pembahasan mengenai risiko “black box syndrome” dalam implementasi AI. Isu transparansi algoritma mulai menjadi perhatian industri, terutama sektor yang berhubungan dengan layanan publik.

Memasuki Juni 2026, roadshow akan berfokus pada sektor kesehatan. Agenda berikutnya dijadwalkan berlangsung di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, 10 Juni 2026 dengan target peserta direktur rumah sakit dan tim teknologi informasi.

Penutupan roadshow nasional akan berlangsung di Balikpapan pada 25 Juni 2026. Selain seminar, panitia juga menyiapkan Business Meetup yang mempertemukan pelaku industri teknologi lokal di Balikpapan dan Samarinda untuk memperkuat ekosistem digital Kalimantan Timur dan mendukung pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 
 
Share:

Serangan Siber Melonjak, Metrodata dan HP Bidik Celah Keamanan UKM


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Lonjakan serangan siber di Indonesia mulai mengubah cara perusahaan menjaga sistem digital mereka. Di tengah meningkatnya ancaman berbasis kecerdasan buatan atau AI, PT FPT Metrodata Indonesia (FMI) bersama HP Indonesia meluncurkan SecBox, solusi keamanan siber terintegrasi yang menyasar usaha kecil dan menengah (UKM).

Peluncuran dilakukan di Jakarta, Kamis, 20 Mei 2026, saat tekanan terhadap sektor digital nasional terus membesar. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 1,52 miliar insiden siber terjadi sejak Januari hingga pertengahan April tahun ini. Angka itu memperlihatkan serangan digital bukan lagi ancaman abstrak, melainkan risiko bisnis sehari-hari.

UKM Mulai Jadi Target Baru Serangan Siber

Selama ini, banyak pelaku usaha kecil menganggap keamanan siber hanya kebutuhan perusahaan besar. Padahal, pola serangan mulai bergeser. Peretas justru memburu bisnis dengan sistem keamanan lemah dan respons lambat.

Seorang pemilik perusahaan distribusi di Jakarta Selatan pernah bercerita, email palsu yang tampak biasa nyaris membuat data pelanggan mereka bocor. Serangannya sederhana, tetapi dampaknya bisa panjang. Dari situ, perusahaan mulai sadar biaya pemulihan sering kali lebih mahal dibanding investasi keamanan sejak awal.

FMI melihat celah itu sebagai kebutuhan pasar yang terus tumbuh. Presiden Direktur PT FPT Metrodata Indonesia, Edwin Putraoetama Octosa, mengatakan banyak perusahaan masih kesulitan membangun sistem pengawasan keamanan digital karena terbentur biaya dan keterbatasan sumber daya.

“Melalui SecBox, kami tidak sekadar meluncurkan produk, kami membangun kepercayaan bahwa setiap organisasi di Indonesia dari skala apa pun, berhak atas keamanan digital yang tangguh,” ujar Edwin.

Ancaman Berbasis AI Dinilai Makin Sulit Dideteksi

SecBox mengintegrasikan sejumlah layanan keamanan dalam satu platform, mulai dari Endpoint Detection and Response (EDR), SIEM/XDR, threat monitoring, hingga layanan Security Operations Center (SOC) selama 24 jam.

HP Indonesia mendukung sistem itu melalui HP Wolf Security yang dirancang memperkuat perlindungan perangkat kerja harian. Presiden Direktur HP Indonesia, Juliana Cen, menilai ancaman berbasis AI membuat pola serangan makin cepat dan sulit dikenali.

“Bagi usaha kecil dan menengah, satu insiden saja dapat menimbulkan dampak finansial yang serius,” kata Juliana.

Di sisi lain, banyak perusahaan menengah belum mampu membangun SOC mandiri karena investasi infrastruktur dan tenaga ahli masih mahal. Situasi itu membuka ruang bagi layanan keamanan berbasis langganan yang lebih fleksibel.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk, Susanto Djaja, mengatakan keamanan siber kini sudah menjadi bagian penting strategi bisnis perusahaan, bukan lagi sekadar pelengkap transformasi digital.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Pendapatan PPGL Susut 17 Persen, DER Tembus 185 Persen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL) mencatat penurunan pendapatan dan laba sepanjang tahun buku 2025 di tengah tekanan industri logistik nasional. Dalam paparan publik di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026, Direktur Utama PPGL Darmawan Suryadi mengakui kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, terutama akibat perlambatan aktivitas pengiriman dan tingginya biaya operasional.

Pendapatan usaha Perseroan tercatat Rp175,23 miliar atau turun 17,24 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp211,73 miliar. Penurunan itu turut menekan laba sebelum pajak menjadi Rp14,56 miliar dari sebelumnya Rp19,23 miliar.

Tekanan Industri Logistik Mulai Terasa

Di sektor logistik, penurunan volume pengiriman bukan lagi cerita baru. Sejumlah pelaku usaha mengaku biaya distribusi terus bergerak naik, sementara persaingan tarif semakin ketat. Situasi itu ikut membayangi kinerja PPGL sepanjang tahun lalu.

“Pendapatan usaha tercatat sebesar Rp175,23 miliar, mengalami penurunan sebesar 17,24 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp211,73 miliar,” ujar Darmawan Suryadi.

Penurunan juga terjadi pada laba komprehensif tahun berjalan. PPGL membukukan laba Rp9,50 miliar atau turun 25,78 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp12,96 miliar.

Meski demikian, Perseroan masih mencatat kenaikan aset cukup agresif. Total aset meningkat 59,25 persen menjadi Rp411,85 miliar. Namun, kenaikan itu dibarengi lonjakan liabilitas hingga 136,45 persen menjadi Rp267,53 miliar.

Kondisi tersebut tercermin pada rasio utang perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) naik tajam menjadi 185,3 persen, jauh di atas posisi tahun sebelumnya sebesar 77,7 persen. Sementara Debt to Asset Ratio (DAR) naik menjadi 64,96 persen.

PPGL Fokus Cari Pelanggan Baru

Di tengah tekanan itu, PPGL memilih menjaga pelanggan lama sambil memburu pasar baru. Strategi ini dinilai penting karena sektor logistik kini makin sensitif terhadap efisiensi biaya dan kecepatan layanan.

Darmawan mengatakan Perseroan tetap berupaya mempertahankan kualitas pelayanan kepada pelanggan eksisting. Pada saat bersamaan, perusahaan juga membidik pelanggan baru untuk menopang pertumbuhan tahun berjalan.

Dalam industri logistik, mempertahankan klien lama sering kali lebih sulit dibanding mencari pelanggan baru. Apalagi, eksportir dan importir kini semakin selektif memilih jasa pengurusan transportasi yang mampu memberi layanan cepat sekaligus efisien.

PPGL menegaskan komitmennya menjalankan strategi operasional yang lebih optimal demi memperbaiki kinerja pada 2026. Perseroan juga tetap mempertahankan visi sebagai penyedia layanan one-stop service bagi eksportir dan importir.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Ekspansi Agresif JAYA Mulai Tekan Arus Laba Perusahaan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) menghadapi tekanan kinerja sepanjang tahun buku 2025. Emiten transportasi itu membukukan pendapatan Rp 73,90 miliar, turun 26,62 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 100,71 miliar.

Kontraksi pendapatan langsung menggerus laba bersih perusahaan. JAYA hanya mencatat laba tahun berjalan Rp 4,48 miliar atau turun 27,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,15 miliar. Di saat bersamaan, perusahaan justru memperbesar ekspansi aset dan utang secara agresif.

Ekspansi Besar, Margin Keuntungan Menyusut

Direktur Utama JAYA, Darmawan Suryadi, mengatakan penurunan pendapatan berdampak langsung terhadap laba perusahaan.

“Penurunan pendapatan ini berdampak pada laba tahun berjalan yang tercatat sebesar Rp 4,48 miliar,” ujar Darmawan dalam Public Expose di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Namun persoalan JAYA bukan sekadar penjualan yang melemah. Dari laporan kinerja perusahaan, tekanan paling terasa justru datang dari sisi pembiayaan. Beban bunga melonjak 82,96 persen menjadi Rp 5,86 miliar.

Kenaikan biaya bunga sebesar itu biasanya menjadi sinyal klasik bahwa ekspansi perusahaan mulai bertumpu pada leverage yang cukup tinggi. Dalam industri transportasi, pola semacam ini kerap muncul ketika perusahaan buru-buru memperbesar armada saat permintaan pasar belum sepenuhnya pulih.

Laba usaha JAYA tercatat turun 26,80 persen menjadi Rp 8,70 miliar. Sementara laba bruto hanya turun tipis 2,14 persen menjadi Rp 33,29 miliar. Angka ini menunjukkan efisiensi operasional masih relatif terjaga, tetapi tekanan biaya keuangan mulai memakan ruang keuntungan bersih.

Di kalangan pelaku pasar, situasi seperti ini sering dibaca sebagai fase “bertaruh pada pertumbuhan”. Perseroan memperbesar kapasitas sekarang dengan harapan volume bisnis beberapa tahun mendatang mampu menutup beban utang hari ini.

Utang Melonjak, Diversifikasi Bisnis Dipercepat

Sepanjang 2025, total aset JAYA melonjak 71,90 persen menjadi Rp 378,17 miliar. Tetapi kenaikan itu diikuti lonjakan liabilitas yang jauh lebih tinggi, yakni 164 persen menjadi Rp 253,88 miliar.

Sementara ekuitas hanya tumbuh tipis 0,38 persen. Struktur ini memperlihatkan sebagian besar ekspansi perusahaan ditopang pinjaman dan kewajiban baru.

Perseroan memang sedang memperluas lini usaha. Selain menambah armada, JAYA membentuk PT Jaya Bae Nusantara dan PT Prima Bae Nusantara di sektor angkutan.

Perusahaan juga masuk ke bisnis kendaraan bekas melalui PT Maju Bae Makmur dan memperluas sektor properti lewat PT Aman Bae Jaya.

Anak usaha PT Aman Bae Sentosa tercatat memiliki 11 villa dan dua bidang tanah di Bali. Sedangkan PT Aman Bae Perkasa mengembangkan proyek Perumahan Sindang Mulya Cibarusah di Kabupaten Bekasi.

Diversifikasi ini memperlihatkan JAYA tidak lagi hanya mengandalkan bisnis transportasi. Namun tantangan terbesar perseroan ke depan adalah memastikan ekspansi tersebut benar-benar menghasilkan arus kas baru, bukan sekadar memperbesar beban pembiayaan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Glodon dan PUPR Percepat AI 5D BIM Konstruksi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Glodon Indonesia bersama Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia mempercepat transformasi digital sektor konstruksi melalui penerapan Artificial Intelligence (AI), 5D BIM, dan Common Data Environment (CDE) dalam ajang Glodon Indonesia AEC Days 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Forum itu bukan sekadar peluncuran teknologi baru. Pemerintah dan pelaku industri mulai mengakui digitalisasi konstruksi sebagai kebutuhan mendesak di tengah proyek infrastruktur yang makin kompleks, mahal, dan melibatkan ribuan data lintas sektor.

Head of Data and Information Division Ministry of Public Works Indonesia, Komang Sri Hartini, mengatakan percepatan transformasi digital mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dan pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN.

“Digitalisasi infrastruktur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kami harus membangun manajemen data yang efisien, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Komang Sri Hartini.

Menurut dia, proyek IKN menjadi titik balik pengelolaan data konstruksi nasional. Dari sana, pemerintah mulai membangun standarisasi data digital dan pola kolaborasi lintas sektor berbasis BIM.

Tantangan Digitalisasi Konstruksi Indonesia

Komang mengakui transformasi digital tak berjalan mulus. Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan sekitar 75 ribu data infrastruktur yang harus dipantau secara bersamaan.

Di lapangan, persoalan sering muncul karena data proyek tersebar di banyak sistem. Seorang pengawas proyek yang hadir dalam forum itu bahkan bercerita pernah mengejar revisi gambar konstruksi lewat grup percakapan hingga tengah malam karena dokumen tidak terintegrasi.

Masalah semacam itu membuat implementasi BIM, CDE, dan AI menjadi semakin penting. Lewat sistem terpusat, pemerintah dapat memantau progres proyek, membaca potensi risiko, hingga mengevaluasi kinerja konstruksi secara real time.

“Semua pemangku kepentingan bekerja dalam basis data yang sama. Itu membuat pengambilan keputusan jauh lebih cepat,” kata Komang.

Glodon Luncurkan QuantifAI dan Kompetisi AI 5D BIM

Vice Country Director Glodon Indonesia, Florentia Edrea, mengatakan perusahaan kini mengembangkan teknologi 5D BIM berbasis AI melalui produk terbaru bernama Glodon QuantifAI, solusi digital terbaru dalam bentuk 2-in-1.

Teknologi itu diklaim mampu membaca berbagai format gambar konstruksi di Indonesia dan membantu penghitungan volume material lebih akurat. Sistem tersebut juga terhubung dengan kontrol penggunaan material di lapangan.

“Tujuan utamanya membuat proyek lebih efisien, lebih menguntungkan, dan mengurangi kesalahan pekerjaan,” ujar Florentia.

Dalam acara itu, Glodon dan Kementerian Pekerjaan Umum juga meluncurkan AI 5D BIM Master Challenge 2026 dengan target 1.500 peserta dari kalangan mahasiswa, quantity surveyor, hingga profesional konstruksi.

Direktur Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi Republik Indonesia, Kimron Manik, mengatakan tenaga kerja konstruksi Indonesia tak bisa lagi menghindari perubahan teknologi.

“Suka atau tidak suka, pelaku konstruksi Indonesia dipaksa mengikuti perkembangan teknologi digital,” ujar Kimron.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

PPN Soroti Telur Impor dan Mahalnya Jagung Nasional


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyoroti tingginya biaya produksi, masuknya telur impor, hingga rencana investasi asing di industri unggas nasional dalam seminar AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026 di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Ketua Presidium PPN Yudianto Yosgiarso mengatakan peternak layer rakyat kini menghadapi tekanan berlapis. Produksi telur nasional memang surplus, tetapi harga jagung, distribusi logistik, dan pasar yang tidak stabil membuat peternak kecil makin terdesak.

PPN Soroti Harga Jagung dan Telur Impor

Yudianto menilai industri peternakan telur nasional sebenarnya sudah teruji menghadapi berbagai krisis. Mulai dari krisis moneter 1998, wabah flu burung, hingga pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan distribusi pangan.

“Kami peternak layer tidak ada yang putus asa,” ujar Yudianto di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Menurut dia, produksi telur nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 6,5 juta ton per tahun. Angka itu ditopang sekitar 4 juta peternak rakyat yang turut membuka lapangan kerja bagi jutaan orang.

Di sisi lain, industri unggas juga menjadi penyangga petani jagung nasional. Sekitar 80 persen hasil panen jagung dalam negeri disebut terserap untuk kebutuhan pakan ternak.

Namun persoalan muncul ketika harga jagung di lapangan melonjak. Peternak kini membeli jagung Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram, lebih tinggi dibanding harga acuan pemerintah Rp6.400.

“Bagaimana kami bisa mengupayakan harga telur Rp20 ribu per kilo? Itu sangat jauh dari harapan,” katanya.

Masalah lain datang dari masuknya telur asal Malaysia ke Sumatera Utara. Kondisi itu membuat distribusi telur peternak lokal ke Batam dan Bangka terganggu, sementara stok telur menumpuk di Pulau Jawa.

Tolak Investasi Asing, Dorong Penguatan Koperasi

Dalam forum itu, Yudianto juga menolak rencana investasi asing di sektor peternakan ayam nasional. Menurut dia, peternak lokal masih mampu menjaga swasembada telur tanpa dominasi modal luar negeri.

“Kalau investasi untuk peternakan panda silakan, tapi begitu yang diinvestasikan ayam, terus terang kami menolak,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta seminar.

PPN kini mulai memperkuat jaringan koperasi peternak di berbagai daerah. Hingga 2026, asosiasi tersebut mengklaim telah membentuk sekitar 38 koperasi untuk memperkuat distribusi dan penyerapan produksi telur.

Selain itu, PPN mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG sebagai pasar baru bagi telur nasional. Peternak bahkan mulai meningkatkan populasi ayam lebih awal karena optimistis program itu dapat menyerap produksi dalam jumlah besar.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
Share:

Workshop AI-Driven Purwakarta Dorong Industri Siap Era AI


Duta Nusantara Merdeka | Purwakarta 
Workshop “AI-Driven: Secure & Efficient for Future Industry” digelar Yorindo Communication bersama APKOMINDO, APTIKNAS, dan APINDO Purwakarta di Hotel Prime Plaza Purwakarta, Selasa (28/04/2026). Agenda ini menargetkan percepatan kesiapan industri manufaktur menghadapi era kecerdasan buatan.

Kegiatan ini merupakan kota kelima dari roadshow nasional di 10 kota. Fokusnya bukan sekadar adopsi AI, tetapi membangun fondasi infrastruktur digital yang aman, efisien, dan terintegrasi sebelum teknologi itu benar-benar dijalankan di lapangan.

Fondasi Digital Jadi Titik Kritis

Agus Dedi Supriyadi membuka acara dengan pesan yang cukup tegas: industri tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan vendor teknologi lokal menjadi kunci mempercepat kemandirian digital nasional.

Di lapangan, saya pernah melihat satu pabrik tekstil mencoba otomatisasi tanpa kesiapan sistem. Hasilnya, proses justru kacau karena data tidak sinkron. Situasi seperti ini yang ingin dihindari lewat forum semacam ini.

Sekretaris Jenderal APTIKNAS, Fanky Christian, mewakili Ir. Soegiharto Santoso, menyoroti risiko implementasi AI tanpa fondasi kuat.

“Adopsi AI tanpa infrastruktur digital yang kokoh berisiko menimbulkan black box syndrome,” ujarnya.

Istilah itu bukan sekadar jargon. Sistem bisa berjalan, tapi tanpa transparansi dan kontrol. Dalam konteks industri, ini berbahaya—keputusan bisnis bisa diambil tanpa benar-benar dipahami.

Ancaman Siber dan Realitas Industri

Dari sisi keamanan, BSSN melalui Slamet Aji Pamungkas mengingatkan tren baru: AI melawan AI. Serangan siber kini semakin canggih dan adaptif.

“Keamanan siber merupakan fondasi utama dalam transformasi digital,” katanya.

Pendekatan Autonomous Cyber Defense disebut menjadi kebutuhan, bukan lagi opsi. Sistem harus mampu merespons ancaman secara real-time tanpa menunggu intervensi manusia.

Di sisi lain, Ketua APINDO Purwakarta, Gatot Prasetyoko, menyoroti tekanan nyata industri. Efisiensi bukan lagi pilihan, tapi tuntutan.

“Upaya efisiensi perlu diperkuat dengan pemanfaatan teknologi yang tepat,” ujarnya.

Praktik Langsung dan Tantangan Implementasi

Workshop tidak berhenti di teori. Peserta diajak praktik langsung membuat sistem AI menggunakan platform n8n, dari otomasi HR hingga integrasi IoT di lini produksi.

Suasananya cukup hidup. Banyak peserta terlihat baru menyadari bahwa implementasi AI bukan soal alat, tapi soal memahami proses bisnis sendiri.

Ini poin yang sering terlewat. Teknologi bisa dibeli, tapi pemahaman internal harus dibangun.

Arah Berikutnya

Roadshow ini akan berlanjut ke Tangerang pada 7 Mei 2026. Penyelenggara juga membuka kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak program.

Antusiasme peserta di Purwakarta menunjukkan satu hal: industri sebenarnya siap berubah, asalkan diberi peta jalan yang jelas.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Tujuh Taktik Negosiasi Kotor yang Sering Menjebak Korban


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Taktik negosiasi kotor kerap muncul dalam bisnis, kerja sama proyek, hingga urusan pekerjaan sehari-hari. Modusnya sering terlihat halus, bahkan terasa seperti komunikasi yang ramah dan profesional.

Namun di balik kesan nyaman itu, ada jebakan yang bisa membuat satu pihak kehilangan posisi tawar, terpaksa menyetujui syarat berat, bahkan menanggung risiko sendirian setelah kesepakatan berjalan.

Saya pernah mendengar seorang pelaku usaha kecil bercerita, ia merasa “menang” saat awal kerja sama karena semua permintaannya disetujui. Dua minggu kemudian, klausul tambahan muncul satu per satu. Saat itu, mundur terasa jauh lebih mahal.

Di situlah negosiasi kotor bekerja: bukan menyerang di awal, tetapi perlahan membuat korban merasa tidak punya pilihan.

Tujuh Taktik Negosiasi Kotor yang Sering Dipakai

1. Good News Dulu, Trap Belakangan

Di awal, lawan negosiasi tampil sangat menyenangkan. Mereka banyak setuju dan memberi kesan bahwa Anda sedang menang.

Tujuannya sederhana: membangun rasa aman. Setelah kepercayaan tumbuh, syarat penting dimasukkan perlahan tanpa banyak perlawanan.

Jika negosiasi terasa terlalu mulus sejak awal, justru itu saat yang perlu diwaspadai.

2. False Urgency atau Tekanan Waktu Palsu

Kalimat seperti “harus deal hari ini” atau “besok sudah ada pihak lain” sering dipakai untuk menekan keputusan.

Padahal, belum tentu ancaman itu nyata. Tekanan waktu palsu sengaja dibuat agar Anda berhenti berpikir kritis.

Negosiasi sehat memberi ruang pertimbangan, bukan memaksa keputusan terburu-buru.

3. Informasi Tidak Simetris

Pihak lain sering mengetahui lebih banyak tentang transaksi, tetapi tampil seolah sangat terbuka.

Anda merasa sudah diberi semua informasi, padahal bagian paling penting justru disimpan rapat.

Karena itu, jangan hanya mendengar yang disampaikan. Periksa juga apa yang sengaja tidak dibicarakan.

4. Klausul Abu-Abu

Bahasa kontrak dibuat samar dan multitafsir. Saat dibaca, terlihat aman. Saat masalah muncul, tafsir mereka yang berlaku.

Kalau isi perjanjian membuat Anda harus menebak-nebak maksudnya, itu bukan detail kecil. Itu alarm.

Saat Emosi Mengambil Alih, Risiko Membesar

5. Emotional Hooking

Negosiator memainkan emosi: takut kehilangan peluang, ingin cepat sukses, atau ambisi untuk segera naik level.

Akibatnya, fokus bergeser dari proses ke hasil akhir. Padahal keputusan besar seharusnya lahir dari logika yang dingin.

Semakin terlalu bersemangat, semakin besar kemungkinan Anda sedang diarahkan.

6. Small Yes, Big Commitment

Semuanya dimulai dari persetujuan kecil: setuju meeting, revisi ringan, atau perubahan minor.

Tanpa sadar, rangkaian “iya” kecil itu berubah menjadi komitmen besar yang sulit dibatalkan.

Banyak orang kalah bukan karena satu keputusan besar, tetapi karena akumulasi persetujuan kecil.

7. Disappearing Act

Semua terlihat lancar sampai risiko mulai muncul. Setelah itu, pihak lawan menghilang.

Kontak sulit dihubungi, tanggung jawab kabur, dan Anda ditinggal menghadapi masalah sendirian.

Negosiasi bukan soal deal selesai, tetapi siapa yang tetap hadir setelah kesepakatan berjalan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

APTIKNAS Dorong Perusahaan TIK Go Public Lewat Workshop BEI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) dan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO) bersama Bursa Efek Indonesia menggelar workshop go public untuk mendorong perusahaan TIK masuk pasar modal.

Kegiatan bertajuk “Go Big with Go Public: From Technology Excellence to Public Markets” itu berlangsung di Main Hall BEI Jakarta, Rabu (15/04/2026), dan diikuti sekitar 100 anggota APTIKNAS serta APKOMINDO.

Di tengah geliat ekonomi digital, banyak perusahaan teknologi tumbuh cepat, tetapi sering tersendat saat bicara tata kelola. Produk bagus belum tentu siap masuk bursa.

Saya pernah berbincang dengan pelaku startup yang mengaku lebih pusing mengurus audit dibanding mencari pelanggan baru. Di situlah tantangan sebenarnya dimulai.

Ketua Umum APTIKNAS sekaligus APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. atau Hoky, menegaskan bahwa go public bukan sekadar mencari pendanaan.

“Go public adalah lompatan strategis dari keunggulan teknologi menuju kredibilitas global. Ini bukan hanya tentang memperoleh pendanaan, tetapi juga tentang membangun tata kelola yang baik,” ujar Hoky.

Bursa Efek Indonesia Nilai Sektor Teknologi Siap IPO

Wakil Direktur Bursa Efek Indonesia, Listyorini Dian Pratiwi, mengatakan sektor teknologi menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.

Menurut dia, banyak perusahaan TIK lokal sebenarnya sudah layak melantai di bursa, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam proses menuju IPO.

“Perusahaan teknologi memiliki peluang besar untuk berkembang melalui pasar modal. BEI berkomitmen mendampingi perusahaan dalam setiap tahapan,” kata Listyorini.

Yan Hendrick Simorangkir dari Bursa Efek Indonesia menambahkan, tantangan terbesar sering muncul pada aspek administrasi dan pelaporan keuangan.

Banyak perusahaan unggul dari sisi produk, namun belum siap dalam transparansi dan akuntabilitas yang menjadi syarat utama perusahaan terbuka.

Enam Agenda Strategis APTIKNAS 2026 Jadi Penguat

Selain workshop IPO, APTIKNAS juga memaparkan enam agenda strategis nasional 2026 yang sebelumnya telah disampaikan kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.

Agenda itu mencakup National Cybersecurity Connect 2026, ASOCIO Digital AI Summit 2026, Indonesia Game Experience, Warkop Digital, Roadshow Teknologi 10 Kota, dan Mall APTIKNAS.

Hoky menilai transformasi digital Indonesia tidak boleh berjalan setengah-setengah. Talenta, keamanan siber, teknologi, hingga akses pasar harus bergerak bersamaan.

“Digitalisasi membuka peluang ekonomi yang sangat besar, namun juga menghadirkan risiko seperti serangan siber dan kejahatan digital,” ujarnya.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, yang telah membawa perusahaannya go public, mengatakan perubahan budaya organisasi menjadi tantangan terbesar.

Namun manfaatnya jauh lebih besar, mulai dari akses pendanaan yang luas hingga meningkatnya kredibilitas perusahaan di mata investor.

Lewat sinergi APTIKNAS, APKOMINDO, dan Bursa Efek Indonesia, perusahaan TIK Indonesia didorong tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh sebagai pemain global yang kompetitif.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Roadshow Transformasi Digital Batam Soroti Risiko AI Tanpa Fondasi


Duta Nusantara Merdeka | Batam
Roadshow nasional bertajuk AI Driven Secure & Efficient: Engineering Digital Transformation Blueprint kembali digelar, kali ini singgah di Batam, Kepulauan Riau. Lebih dari 100 peserta dari sektor manufaktur, logistik, kesehatan, hingga praktisi teknologi berkumpul di Harmoni One Hotel Batam untuk membahas satu isu yang kini tak bisa ditunda: bagaimana mengadopsi kecerdasan buatan tanpa membuka celah risiko baru.

Acara ini merupakan kolaborasi Yorindo Communication bersama APTIKNAS dan APKOMINDO, didukung Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI serta bersinergi dengan KADIN Batam. Fokusnya bukan sekadar bicara tren AI, tetapi menyusun fondasi transformasi digital yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

Fondasi Digital Tak Bisa Dilewati

Direktur Yorindo Communication, Yolanda Roring, menegaskan Batam dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini dinilai menjadi simpul penting industri dan perdagangan internasional, sehingga menjadi laboratorium nyata untuk penguatan transformasi digital nasional.

“Kami menghadirkan ekosistem lengkap, mulai dari kebijakan keamanan siber, infrastruktur digital, hingga implementasi AI yang aplikatif. Batam menjadi titik penting karena merupakan hub industri dan perdagangan internasional,” ujar Yolanda.

Pernyataan itu terasa relevan. Dalam banyak forum teknologi, AI sering diperlakukan seperti obat mujarab. Padahal di lapangan, banyak perusahaan masih berjuang dengan persoalan dasar—server yang belum stabil, backup data yang berantakan, hingga keamanan siber yang dianggap urusan belakang. Ibarat membangun gedung tinggi di atas tanah labil, hasilnya hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Ketua Umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. atau Hoky, mengingatkan adopsi AI tanpa fondasi digital yang kokoh justru berbahaya.

“Adopsi AI tanpa infrastruktur digital yang kuat berisiko menimbulkan Black Box Syndrome, yaitu kondisi ketika sistem berjalan tanpa transparansi dan kontrol,” kata Hoky.

Menurut dia, Indonesia perlu membangun digital backbone yang mandiri dan berdaulat, baik melalui sistem on-premise maupun cloud lokal agar kontrol data tetap terjaga.

Keamanan Siber Jadi Garis Pertahanan

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN RI, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng., menekankan keamanan siber harus menjadi fondasi utama transformasi digital.

Dalam paparannya, ia menjelaskan konsep Autonomous Cyber Defense, yakni sistem pertahanan siber yang adaptif dan mampu merespons ancaman secara otomatis.

Pendekatan ini dinilai penting, terutama untuk melindungi infrastruktur kritis seperti manufaktur dan layanan kesehatan. Serangan siber kini bergerak lebih cepat dari prosedur birokrasi biasa. Jika pertahanan masih manual, perusahaan hanya akan sibuk memadamkan api.

Ketua APTIKNAS Kepulauan Riau, Robert Liandro, menambahkan pihaknya siap menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan solusi teknologi yang tepat.

“APTIKNAS Kepri siap memastikan transformasi digital berjalan secara terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Workshop interaktif yang dipandu Agus Dedi Supriyadi juga menjadi sorotan. Peserta mempraktikkan langsung otomasi proses bisnis menggunakan platform n8n serta integrasi AI dan IoT. Ini bukan seminar yang berhenti di slide presentasi—peserta diajak menyentuh langsung cara kerja transformasi digital.

Roadshow ini akan berlanjut ke Purwakarta, Tangerang, Solo, Jakarta, Semarang, hingga Balikpapan-Samarinda sebagai bagian dari target pemerataan transformasi digital di 10 kota strategis Indonesia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

AIPI Soroti Bahaya UPF pada Anak, Desak Kebijakan Tegas


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyoroti bahaya konsumsi makanan ultra-proses (UPF) pada anak dan remaja dalam webinar internasional, Kamis (23/4/2026). Forum ini mempertemukan ilmuwan, pemerintah, dan lembaga global untuk merumuskan respons kebijakan berbasis bukti ilmiah.

Lonjakan konsumsi UPF—tinggi gula, garam, dan lemak—dinilai berkorelasi kuat dengan obesitas anak, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular sejak usia dini. AIPI menilai situasi ini mendesak ditangani lewat reformasi sistem pangan nasional.

Ancaman Nyata UPF pada Anak dan Remaja

Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso, menegaskan perubahan sistem pangan global telah menggeser pola konsumsi masyarakat. Produk ultra-proses kini makin mudah diakses, murah, dan agresif dipasarkan, termasuk ke anak-anak.

“Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas,” ujar Daniel.

Fenomena ini bukan sekadar tren konsumsi. Sejumlah studi global menunjukkan, paparan UPF sejak dini memperbesar risiko malnutrisi ganda—kelebihan kalori tetapi miskin zat gizi.

Saya teringat obrolan ringan dengan seorang orang tua di ruang tunggu klinik beberapa waktu lalu. Ia mengaku anaknya sulit lepas dari camilan kemasan karena dianggap praktis. Cerita seperti ini kini jadi potret umum di kota-kota besar.

Dorongan Kebijakan: Dari Label Gizi hingga Cukai

Pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan dukungan terhadap transformasi kebijakan pangan berbasis riset.

Salah satu momentum penting adalah implementasi PP No. 28/2024. Regulasi ini membuka peluang penguatan label gizi di kemasan depan serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.

Diskusi juga menyoroti perlindungan anak dari pemasaran agresif, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah. Selain itu, kebijakan fiskal seperti cukai minuman berpemanis kembali didorong untuk menekan konsumsi.

Rina Agustina dari AIPI menekankan, kualitas diet kini tak cukup dinilai dari kandungan gizi. Tingkat pemrosesan makanan harus jadi indikator utama.

“Pengetahuan saja tidak cukup. Anak hidup di lingkungan yang justru mempermudah akses ke makanan ultra-proses,” ujarnya.

Arah Baru: Kembali ke Makanan Asli

Forum ini juga mendorong kampanye konsumsi makanan segar berbasis bahan lokal, sejalan dengan panduan “Isi Piringku” dan konsep Planetary Health Diet.

Di tingkat praktis, pendekatan ini bukan hal baru. Banyak keluarga sebenarnya paham pentingnya makanan rumahan, tetapi kalah oleh faktor harga dan kemudahan akses produk kemasan.

Sebagai tindak lanjut, AIPI akan menyusun policy brief dan peta jalan kebijakan jangka pendek hingga panjang. Targetnya jelas: memperbaiki kualitas diet anak Indonesia.

“Jika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, anak-anak akan tumbuh optimal,” ujar Ketua KIK AIPI, Herawati Sudoyo.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Pecah Kongsi Bunaaca Jogja, Saat Cinta dan Bisnis Tabrakan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kisah pecah kongsi Bunaaca Jogja menjadi sorotan setelah brand donat yang sempat naik pesat itu retak akibat konflik personal dan legal pada 2024. Bisnis yang dirintis pasangan kekasih sejak 2019 ini berakhir dengan perpisahan, menyisakan sengketa kepemilikan merek dan arah usaha.

Konflik mencuat saat isu perselingkuhan muncul, diikuti fakta bahwa merek Bunaaca telah didaftarkan secara legal oleh pihak laki-laki tanpa sepengetahuan pasangannya. Sejak itu, keduanya memilih jalan berbeda dalam mengelola bisnis.

Kronologi Pecah Kongsi Bunaaca Jogja

Bunaaca berawal dari usaha rumahan pada 2019. Pihak perempuan mengembangkan resep donat secara mandiri, sementara pasangannya masuk sebagai pemodal.

Memasuki 2020, brand ini mulai dikenal luas di Yogyakarta. Popularitasnya melonjak, terutama di kalangan pencinta dessert.

Pada 2023, bisnis ini disebut mendapat suntikan investasi penuh dari pihak laki-laki. Ekspansi dilakukan dengan membuka toko offline, meski diakui sempat merugi dalam empat bulan awal operasional.

Namun, justru di puncak pertumbuhan pada 2024, konflik personal muncul. Merek Bunaaca diketahui telah dipatenkan atas nama pihak laki-laki, memicu ketegangan yang berujung perpisahan.

Saya teringat obrolan dengan seorang pelaku UMKM di Jakarta. Ia bilang, konflik bisnis paling sering justru datang dari orang terdekat—karena kepercayaan sering menggantikan sistem.

Dampak dan Pelajaran Bisnis dari Konflik Bunaaca

Setelah berpisah pada September 2024, pihak perempuan memilih keluar dan memulai usaha baru di Bali dengan brand Bibblebake. Sementara pihak laki-laki tetap menjalankan Bunaaca, dengan alasan menjaga operasional dan karyawan.

Kasus ini menyoroti tiga kelemahan klasik bisnis pemula. Pertama, terlalu mengandalkan kepercayaan tanpa sistem kontrol yang jelas.

Kedua, aspek legal yang kerap diabaikan. Kepemilikan merek yang tidak disepakati sejak awal menjadi sumber konflik serius.

Ketiga, ketergantungan pada satu individu, terutama dalam hal resep dan kualitas produk.

Dalam pengalaman pribadi, saya pernah melihat sebuah kafe kecil kehilangan pelanggan hanya dalam dua bulan setelah chef utamanya keluar. Rasa berubah, konsumen pun perlahan hilang.

Fenomena serupa terlihat di Bunaaca. Sejumlah pelanggan mengaku kualitas produk berubah setelah perpisahan terjadi.

Pada akhirnya, kisah pecah kongsi Bunaaca Jogja menegaskan satu hal: pertumbuhan bisnis tidak cukup ditopang oleh omzet dan popularitas. Sistem yang kuat dan transparansi sejak awal justru menjadi fondasi utama keberlanjutan usaha.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Dari Karyawan ke CEO: Cara Vivi Xiao Bangun Tim AI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membangun “karyawan digital” mulai mencuri perhatian di kalangan profesional teknologi. Salah satu contoh datang dari Vivi Mengxie Xiao, AI Product Manager asal China, yang mengembangkan sistem kerja berbasis OpenClaw untuk meningkatkan produktivitas.

Melalui pendekatan ini, Vivi tidak sekadar memakai AI sebagai alat bantu, melainkan membangun enam peran virtual yang bekerja layaknya tim internal. Strategi karyawan AI dengan OpenClaw ini mendorong efisiensi sekaligus mengubah pola kerja individu menjadi berbasis sistem.

Transformasi Kerja: Dari Individu ke Sistem AI

Sebelum mengadopsi sistem ini, Vivi menghabiskan sekitar empat jam per hari untuk pekerjaan repetitif. Aktivitasnya mencakup riset berita industri AI, membaca berbagai sumber global, serta menerjemahkan konten berbahasa Inggris ke Mandarin.

Kini, sekitar 60 hingga 70 persen tugas tersebut telah diotomatisasi. Ia membangun enam “karyawan AI” dengan fungsi berbeda, mulai dari administrative assistant hingga research analyst dan finance assistant.

Pendekatan ini membuat alur kerja lebih terstruktur. Tugas yang sebelumnya memakan waktu kini berjalan paralel. Output meningkat, tanpa harus menambah sumber daya manusia secara konvensional.

Saya pernah melihat pola serupa pada seorang editor digital yang mulai memakai automation tools sederhana. Dalam beberapa bulan, ritme produksinya berubah drastis—bukan karena bekerja lebih keras, tetapi karena sistemnya lebih rapi.

Produktivitas Naik, Waktu Kerja Ikut Bergeser

Namun, peningkatan produktivitas tidak selalu diikuti efisiensi waktu. Dalam kasus Vivi, justru terjadi sebaliknya. Jam kerjanya semakin panjang karena kapasitas output ikut meningkat.

“Waktu tidur saya bergeser dari tengah malam menjadi jam 2 pagi karena selalu ada satu hal lagi yang ingin saya kerjakan,” ujar Vivi Mengxie Xiao dalam pengakuannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI tidak otomatis mengurangi beban kerja. Sebaliknya, ia memperbesar kapasitas produksi, yang pada akhirnya mendorong individu untuk terus menambah aktivitas.

Seorang analis data di Jakarta pernah mengungkap hal serupa. Setelah memakai automation, pekerjaannya selesai lebih cepat, tapi targetnya langsung dinaikkan. Ritmenya berubah, bukan berkurang.

Dampak: Bekerja Bukan Lagi Soal Tenaga, Tapi Sistem

Perubahan ini menandai pergeseran mendasar dalam dunia kerja. Fokus tidak lagi pada seberapa keras seseorang bekerja, melainkan seberapa efektif sistem yang dibangun.

Strategi karyawan AI dengan OpenClaw membuka kemungkinan baru: individu bisa memiliki kapasitas setara tim. Namun, tanpa kontrol, peningkatan ini justru memperpanjang jam kerja.

Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, tetapi bagaimana manusia mengelola sistem yang mereka bangun sendiri.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Strategi Karier Anti Diinjak: Cara Bertahan di Kantor


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena pekerja kompeten namun kariernya stagnan kembali jadi sorotan. Banyak karyawan merasa sudah bekerja keras, tetapi tetap sulit naik posisi atau justru tersisih di lingkungan kerja.

Situasi ini bukan semata soal kemampuan teknis. Ada dinamika kekuasaan tak tertulis di kantor yang kerap luput dipahami, padahal menentukan arah karier seseorang.

Dinamika Kekuasaan Tersembunyi di Lingkungan Kerja

Di banyak organisasi, relasi kerja tidak selalu berjalan linier. Hierarki formal sering dibarengi “politik kantor” yang memengaruhi keputusan promosi hingga distribusi proyek strategis.

Salah satu pola yang kerap muncul adalah ketegangan antara atasan dan bawahan yang terlalu menonjol. Karyawan berprestasi justru bisa dianggap ancaman bila tidak dikelola dengan tepat.

Seorang manajer HR di Jakarta pernah bercerita, karyawan terbaik di timnya justru gagal promosi karena dinilai “tidak memberi ruang” bagi atasannya. Penilaian subjektif seperti ini sering tak tertulis, tapi berdampak nyata.

Dalam praktiknya, pekerja yang cerdas membaca situasi cenderung lebih bertahan. Mereka tahu kapan harus tampil dan kapan perlu menahan diri.

Strategi Bertahan: Antara Reputasi dan Kendali Diri

Selain relasi dengan atasan, faktor lain adalah pengelolaan informasi. Tidak semua hal perlu dibagikan, bahkan kepada rekan dekat sekalipun.

Lingkungan kerja kompetitif membuat batas antara kolaborasi dan persaingan menjadi tipis. Keberhasilan satu orang bisa memicu kecemburuan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Saya pernah menemui kasus sederhana. Seorang rekan terlalu terbuka soal rencana pindah divisi. Dalam hitungan minggu, peluang itu justru diambil orang lain yang lebih dulu bergerak diam-diam.

Di titik ini, reputasi menjadi aset utama. Sekali citra profesional terganggu—baik karena ucapan atau sikap—dampaknya bisa panjang dan sulit dipulihkan.

Di sisi lain, ketenangan juga memainkan peran penting. Individu yang tidak terlihat tergesa-gesa cenderung dianggap lebih matang dan memiliki kontrol atas situasi.

Fleksibilitas menjadi kunci berikutnya. Lingkungan kerja terus berubah, dan pendekatan yang kaku justru membuat seseorang mudah tersingkir.

Strategi adaptif—termasuk kemampuan membaca situasi dan, dalam kondisi tertentu, meredam ego—sering kali lebih efektif dibanding sekadar kerja keras.

Pada akhirnya, realitas dunia kerja tidak selalu berpihak pada “yang paling baik”. Pertanyaannya sederhana: apakah ingin tetap idealis tanpa strategi, atau mulai memahami cara bertahan tanpa kehilangan integritas.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 


Share:

Habitat Ungkap Hambatan SKK Konstruksi di Indonesia


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Habitat for Humanity Indonesia membeberkan hasil studi nasional implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) sektor konstruksi di Kota Tangerang, Selasa, 14 April 2026. Temuan utamanya: akses sertifikasi masih timpang, padahal sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja.

Dari total pekerja konstruksi di Indonesia, hanya sekitar 6 persen yang mengantongi sertifikat resmi. Ketimpangan ini dinilai berisiko terhadap kualitas pembangunan dan keselamatan kerja di lapangan.

Ketimpangan Akses Jadi Masalah Inti

Sektor konstruksi selama ini dikenal sebagai tulang punggung pembangunan infrastruktur dan perumahan. Namun di lapangan, kualitas tenaga kerja belum sepenuhnya terstandar.

Saya pernah berbincang dengan seorang tukang bangunan di pinggiran Tangerang. Dia sudah 15 tahun bekerja, tapi belum pernah ikut uji sertifikasi. Bukan karena tidak mampu, melainkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Temuan studi Habitat menguatkan cerita seperti itu. Tiga hambatan utama muncul berulang: minimnya informasi bagi pekerja informal, biaya sertifikasi yang dianggap berat, dan proses administrasi yang rumit.

Padahal, Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) menjadi instrumen penting untuk memastikan kompetensi pekerja sesuai standar nasional.

Program Pelatihan Tunjukkan Hasil, Tapi Belum Merata

Sejak 2023, Habitat for Humanity Indonesia menjalankan program pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Hasilnya cukup mencolok.

Sebanyak 581 pekerja di Kota dan Kabupaten Tangerang telah tersertifikasi. Bahkan, tingkat kelulusan mencapai 96 persen.

“Pekerja konstruksi memiliki peran penting dalam pembangunan, namun masih menghadapi tantangan dalam mengakses sertifikasi,” ujar Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Angka kelulusan tinggi ini memberi sinyal jelas: persoalannya bukan pada kemampuan, tetapi akses. Banyak pekerja sebenarnya siap, hanya terhambat sistem.

Di sisi lain, pemerintah melihat inisiatif ini sebagai model kolaborasi. “Kami mengapresiasi Habitat… hasil studi ini bisa memperkuat kebijakan ke depan,” kata Ir. Kimron Manik dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Habitat juga mencoba menutup celah lain lewat job fair konstruksi pada 2025. Tujuannya sederhana: memastikan pekerja terlatih tidak berhenti di sertifikat, tapi terserap industri.

Dampak Lebih Luas: Kualitas Infrastruktur dan Ekonomi

Kualitas tenaga kerja konstruksi tidak hanya berdampak pada bangunan, tapi juga ekonomi daerah. Infrastruktur yang buruk berisiko mahal di kemudian hari.

Studi ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, industri, hingga lembaga pelatihan untuk memperbaiki ekosistem sertifikasi agar lebih inklusif.

Momentum kolaborasi mulai terlihat. Sejumlah pihak hadir dalam diseminasi, mulai dari Kementerian PU, Bappeda, hingga perwakilan internasional.

Ke depan, tantangannya jelas: membuat sertifikasi tidak lagi eksklusif. Karena di balik setiap bangunan, ada tenaga kerja yang seharusnya punya standar yang sama.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

PT AEK Uji Kesiapan Karlabun, Bayang-Bayang El Nino Menguat


Duta Nusantara Merdeka | Kutai Kartanegara
PT Agri Eastborneo Kencana (PT AEK) menggelar simulasi penanggulangan Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) di Desa Sedulang, Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Sabtu (4/4/2026). Latihan ini dilakukan di tengah prediksi menguatnya fenomena El Nino hingga Oktober mendatang.

Langkah ini mencerminkan satu hal: ancaman kebakaran lahan bukan lagi potensi, melainkan risiko yang tinggal menunggu waktu jika mitigasi tidak disiplin dijalankan.

Kesiapsiagaan yang Diuji, Bukan Sekadar Formalitas

General Manager PT AEK, Syamsul Bahri, menegaskan simulasi ini bagian dari agenda krusial perusahaan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan dari level paling dasar.


“Kewaspadaan harus dimulai dari hal kecil,” ujar Syamsul Bahri.

Pernyataan ini terdengar sederhana, tapi di lapangan sering justru diabaikan. Pengalaman kebakaran lahan di Kalimantan berulang kali menunjukkan bahwa sumber api kerap berasal dari kelalaian manusia—bukan faktor alam semata.

Antara SOP dan Realitas Lapangan

Simulasi yang digelar PT AEK mencakup pemaparan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh tim Health, Safety, and Environment (HSE), pengecekan sarana pemadam, hingga praktik langsung menghadapi api dengan berbagai skala.

Namun, persoalan klasiknya bukan pada ketersediaan SOP atau alat. Banyak perusahaan memiliki dokumen lengkap, tetapi lemah dalam eksekusi saat krisis terjadi.


Dalam beberapa kasus kebakaran sebelumnya, koordinasi antar tim sering menjadi titik rapuh. Respons lambat beberapa menit saja bisa membuat api tak terkendali.

El Nino dan Risiko yang Meningkat

Fenomena El Nino diperkirakan memicu musim kering lebih panjang. Kondisi ini memperbesar peluang munculnya titik api, terutama di wilayah perkebunan.

Di sinilah simulasi seperti yang dilakukan PT AEK menjadi relevan. Bukan hanya untuk memenuhi standar operasional, tetapi menguji refleks organisasi menghadapi kondisi darurat.

Jika disiplin dijaga, simulasi bisa menjadi benteng pertama. Jika tidak, ia hanya akan berakhir sebagai ritual tahunan tanpa dampak nyata.

Penulis: LA
Editor: Arianto 



Share:

APINDO Soroti Wacana Hentikan Restitusi Pajak, Risiko Likuiditas Mengintai


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) merespons wacana penghentian restitusi pajak yang tengah dibahas sebagai bagian dari optimalisasi kebijakan fiskal nasional. Pernyataan ini disampaikan di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda.

Restitusi Pajak dan Nafas Dunia Usaha

Bagi pelaku usaha, restitusi pajak bukan sekadar prosedur administratif. Ini soal arus kas yang menentukan hidup-mati operasional harian. APINDO melihat wacana penghentian restitusi pajak berpotensi menekan likuiditas perusahaan.

Ketua Komite Perpajakan APINDO, Siddhi Widyaprathama, menegaskan dunia usaha pada prinsipnya mendukung langkah pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Namun, kebijakan perlu disusun dengan mempertimbangkan kondisi sektor riil.

“Sinkronisasi kebijakan fiskal dengan kebutuhan dunia usaha menjadi kunci untuk menjaga resiliensi ekonomi nasional,” ujar Siddhi dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4).

Saya teringat obrolan singkat dengan seorang pelaku industri manufaktur di kawasan Bekasi beberapa waktu lalu. Ia menyebut keterlambatan restitusi saja sudah cukup membuat perusahaannya menahan ekspansi. Apalagi jika dihentikan sepenuhnya.

Restitusi, dalam praktiknya, membantu perusahaan menjaga kelancaran produksi hingga memenuhi kewajiban terhadap karyawan. Tanpa itu, tekanan likuiditas bisa cepat menjalar ke aspek lain.

Antara Penerimaan Negara dan Iklim Investasi

APINDO juga menyoroti pentingnya kepastian hukum dalam kebijakan perpajakan. Dunia usaha membutuhkan kepastian, bukan sekadar perubahan kebijakan yang cepat.

Sebagai kontributor besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan pencipta lapangan kerja, sektor usaha melihat pajak bukan hanya sumber penerimaan negara. Pajak juga instrumen untuk menjaga daya saing.

Di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok, ruang gerak dunia usaha sudah cukup sempit. Kebijakan fiskal yang tidak sinkron berpotensi memperburuk situasi.

Meski demikian, APINDO mendukung penguatan pengawasan dan audit perpajakan. Siddhi menilai pengawasan yang profesional dan pelayanan yang efisien bisa berjalan beriringan tanpa menghambat aktivitas usaha.

“Koordinasi yang harmonis antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan operasional dunia usaha merupakan kunci stabilitas ekonomi,” katanya.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Pelajaran Sukses dari Ahok hingga Dahlan Iskan: Integritas, Fokus, dan Ketekunan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Sejumlah tokoh bisnis dan publik Indonesia membagikan pandangan tentang integritas, fokus, dan ketekunan sebagai fondasi kesuksesan dalam berbagai kesempatan diskusi.

Percakapan dan pertemuan informal dengan para tokoh ini menghadirkan satu benang merah: keberhasilan jarang lahir dari jalan pintas. Ia dibangun oleh karakter, konsistensi, dan keberanian mengambil sikap.

Integritas dan Dampak Sosial

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pernah menyampaikan, kepemimpinan bertumpu pada kelurusan karakter. “Kalau kepalanya lurus, bawahnya juga lurus,” ujarnya.

Pesan itu menekankan integritas, keteladanan, dan autentisitas. Kepintaran atau gelar, menurutnya, tak cukup tanpa kejujuran dan konsistensi dalam bertindak.

Pengusaha Andrew Susanto juga berbagi sudut pandang berbeda soal negosiasi. Dalam setiap kesepakatan, kata dia, jangan takut menawar ekstrem hingga diprotes. Dari situlah peluang “good deal” terbuka.

Sementara itu, Grace Tahir dari Mayapada Group menegaskan, kekayaan bukan tujuan akhir. Dampak sosial justru menjadi orientasi utama.

Baginya, uang hanyalah alat. Pendidikan, kesehatan, dan perubahan sosial adalah tujuan yang lebih besar. Ketika dampak dibangun, nilai ekonomi akan mengikuti.

Fokus dan Turun ke Lapangan

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengingatkan pentingnya fokus jangka panjang. Ia menyarankan konsistensi minimal sepuluh tahun di satu bidang.

“Jangan lompat pagar,” pesannya. Berpindah-pindah terlalu cepat hanya akan menghambat kedalaman kompetensi.

Pelajaran lain datang dari Sigit Djokosoetono, Deputi CEO Bluebird Group. Ia pernah turun langsung menjadi sopir taksi untuk memahami realitas lapangan.

Langkah itu bukan pencitraan. Ia ingin mendengar langsung suara pekerja yang sering tak sampai ke meja manajemen.

Ada pula pesan sederhana tentang daya tahan. Kegagalan, selama tidak membuat seseorang menyerah, bukanlah akhir perjalanan.

Dari beragam kisah itu, satu pelajaran terasa relevan: teori penting, tetapi pemahaman nyata terhadap operasional dan karakter pribadi jauh lebih menentukan arah sukses seseorang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini