Panglima Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Mayjen TNI Dr. Agus Hadi Waluyo, memimpin rapat darurat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kamis (9/4/2026). Fokusnya jelas: mempercepat respons dan menyatukan komando di wilayah Riau dan Kepulauan Riau.
Rapat di Ruang Yudha Makodam XIX itu menyoroti ancaman karhutla yang meningkat akibat cuaca ekstrem, terutama di kawasan gambut yang rawan terbakar.
Operasi Terpadu Jadi Kunci
Dalam arahannya, Agus Hadi Waluyo menegaskan penanganan karhutla tidak bisa lagi sporadis. Semua harus berjalan dalam satu konsep operasi terpadu dengan komando yang tegas dan pembagian wilayah berbasis klaster.
Ia menekankan peran satuan kewilayahan, dari Korem hingga Babinsa, sebagai garda depan. Mereka bertugas mendeteksi titik api sejak dini, memverifikasi, lalu langsung turun menangani.
Saya teringat obrolan dengan seorang Babinsa di Riau tahun lalu. Ia bilang, kadang api kecil yang terlambat ditangani bisa berubah jadi bencana dalam hitungan jam. Pola pikir itulah yang kini coba dipangkas lewat sistem yang lebih terintegrasi.
Respons 3 Jam dan Dukungan Udara
Kecepatan menjadi kata kunci. Pangdam meminta seluruh jajaran mampu bergerak maksimal dalam waktu tiga jam sejak hotspot terdeteksi.
Langkah ini didukung kekuatan darat dan operasi udara seperti water bombing. Selain itu, pengelolaan sumber air di lahan gambut juga disorot karena sering jadi kendala saat pemadaman.
Menurutnya, tanpa kesiapan logistik air, operasi di lapangan akan selalu tertinggal satu langkah.
Pendekatan Preventif dan Kolaborasi
Selain penanganan cepat, pendekatan pencegahan juga diperkuat. Patroli rutin, deteksi dini, dan pembinaan masyarakat menjadi bagian penting dari strategi.
Sinergi lintas sektor turut ditekankan, melibatkan Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga pemerintah daerah.
Pengalaman liputan beberapa musim kemarau lalu menunjukkan, koordinasi yang buruk sering membuat penanganan karhutla tersendat. Karena itu, integrasi antarinstansi kini jadi prioritas utama.
Siaga 24 Jam dan Tim Reaksi Cepat
Pangdam juga memerintahkan Danrem dan Dandim mengaktifkan posko siaga 24 jam. Mereka diminta membentuk Quick Reaction Force (QRF) yang siap bergerak kapan pun dibutuhkan.
Satuan tempur dan bantuan tempur pun disiapkan untuk memperkuat operasi di lapangan jika situasi memburuk.
Dengan skema ini, Kodam XIX berharap mampu menekan dampak karhutla sekaligus menjaga lingkungan tetap aman sepanjang musim rawan kebakaran.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar