Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

TCM Ungkap Peran Liver dalam Jaga Fungsi Mata


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Dalam konsep Traditional Chinese Medicine (TCM), terdapat teori klasik yang menyebutkan "Gān kāi qiào yú mù" atau "liver membuka diri ke mata". Prinsip ini kerap dimaknai bahwa kondisi kesehatan mata memiliki kaitan erat dengan fungsi liver. Namun, para praktisi TCM menegaskan hubungan tersebut tidak dapat dipahami secara sederhana karena kesehatan mata juga dipengaruhi keseimbangan organ tubuh lainnya.

Liver Berperan Menyuplai Nutrisi ke Mata

Menurut teori TCM, liver berfungsi menyimpan darah yang berperan memberikan nutrisi bagi jaringan mata sehingga mampu menjalankan fungsinya secara optimal. Ketika darah atau Yin liver mengalami kekurangan, kemampuan mata dalam menjalankan fungsinya dapat ikut menurun dan memunculkan berbagai keluhan.

Meski demikian, tidak semua gangguan mata disebabkan oleh masalah pada liver. Pendekatan TCM memandang mata sebagai organ yang dipengaruhi oleh sistem tubuh secara menyeluruh.

Organ Lain Juga Berpengaruh

Selain liver, ginjal memiliki fungsi menjaga keseimbangan Yin, limpa berperan membentuk Qi dan darah, sedangkan jantung bertugas mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Karena itu, kondisi mata juga dipengaruhi oleh kecukupan Qi, darah, Yin, dan Yang serta keseimbangan fungsi organ-organ tersebut.

Pendekatan ini menjelaskan mengapa dua orang dengan keluhan mata yang serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama. Sebagian dapat berkaitan dengan kekurangan darah liver, sebagian dipicu panas liver, sementara kasus lainnya berhubungan dengan gangguan Yin ginjal atau pola ketidakseimbangan tubuh yang berbeda.

Diagnosis TCM Melihat Akar Masalah

Dalam praktik TCM, diagnosis tidak hanya berfokus pada gejala yang tampak pada mata. Praktisi juga berupaya mengidentifikasi pola ketidakseimbangan yang menjadi penyebab utama munculnya keluhan.

Karena itu, anggapan bahwa mata merupakan cerminan liver memang memiliki dasar dalam teori TCM. Namun, kesehatan mata menurut TCM tidak hanya bergantung pada liver, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai organ serta keseimbangan Qi, darah, Yin, dan Yang di seluruh tubuh. Pendekatan inilah yang menjadi dasar TCM dalam memahami dan menangani berbagai keluhan mata secara menyeluruh.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Rahasia Umur Panjang Shigeaki Hinohara hingga 103 Tahun


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Rahasia umur panjang Shigeaki Hinohara terus menjadi bahan pembahasan di kalangan pemerhati kesehatan dan penuaan sehat. Dokter asal Jepang tersebut dikenal tetap aktif bekerja, menulis, dan memberikan kuliah hingga menjelang akhir hayatnya pada usia 103 tahun.

Nama Shigeaki Hinohara bukan sosok biasa di dunia medis Jepang. Selain berprofesi sebagai dokter, ia dikenal luas karena pandangannya mengenai kesehatan yang menempatkan tujuan hidup, kebahagiaan, dan aktivitas bermakna sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas hidup. Hinohara meninggal dunia pada 2017 setelah menjalani kehidupan yang produktif hingga usia sangat lanjut.

Filosofi Hidup yang Menjadi Fondasi Kesehatan

Menurut berbagai catatan dan wawancara yang pernah disampaikan Hinohara, salah satu prinsip utama yang ia pegang adalah memiliki alasan untuk bangun setiap pagi. Dalam budaya Jepang, konsep tersebut dikenal dengan istilah "ikigai", yakni tujuan atau makna hidup yang memberi semangat untuk menjalani hari.

Hinohara meyakini bahwa seseorang yang terus memiliki aktivitas bermakna cenderung lebih bersemangat menjaga kesehatan fisik maupun mentalnya. Karena itu, ia memilih tetap bekerja dan berkarya bahkan ketika usianya telah melewati satu abad.

"Orang yang berhenti memiliki tujuan sering kali kehilangan energi untuk terus berkembang," menjadi salah satu pandangan yang kerap dikaitkan dengan filosofi hidupnya.

Pola Makan Sederhana dan Mendengarkan Tubuh

Selain menjaga aktivitas, Hinohara juga dikenal menerapkan pola makan yang sederhana. Ia menekankan pentingnya makan sesuai kebutuhan tubuh dan menghindari kebiasaan makan berlebihan.

Tidak Makan Karena Emosi

Dalam berbagai kesempatan, Hinohara mengingatkan bahwa banyak orang makan bukan karena lapar, melainkan karena stres, bosan, atau tekanan emosional. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.

Ia juga tidak dikenal sebagai penggemar diet ekstrem maupun penggunaan suplemen secara berlebihan. Fokus utamanya adalah menjaga keseimbangan hidup dan mendengarkan sinyal alami tubuh.

Tetap Bahagia dan Menikmati Kehidupan

Prinsip lain yang selalu ditekankan Hinohara adalah pentingnya menikmati hidup. Ia percaya bahwa kegembiraan, tawa, serta hubungan sosial yang positif memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan secara keseluruhan.

Bahkan pada usia 100 tahun, Hinohara masih aktif menulis buku dan berbagi pengetahuan kepada masyarakat. Baginya, umur panjang bukan hanya soal bertahan hidup lebih lama, tetapi juga menjalani hidup dengan penuh makna.

Kisah Shigeaki Hinohara menunjukkan bahwa hidup sehat lansia tidak hanya ditentukan oleh faktor medis semata. Memiliki tujuan hidup, menjaga pola makan, tetap aktif, serta menikmati setiap fase kehidupan menjadi bagian penting dari rahasia umur panjang Shigeaki Hinohara yang masih relevan hingga saat ini.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Diabetes Datang Perlahan, Ini Tanda dan Cara Mencegahnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Diabetes menjadi salah satu penyakit kronis yang jumlah penderitanya terus meningkat. Kondisi ini sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal sehingga banyak orang baru menyadarinya ketika kadar gula darah sudah tidak terkendali. Karena itu, memahami gejala diabetes dan cara mencegahnya sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa diabetes tidak hanya dipicu oleh konsumsi makanan manis. Faktor lain seperti kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, stres berkepanjangan, hingga faktor keturunan juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit ini.

Fakta Diabetes yang Masih Sering Disalahpahami

Salah satu fakta penting yang jarang diketahui masyarakat adalah peran insulin dalam mengatur kadar gula darah. Hormon ini berfungsi membantu gula masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi. Ketika produksi insulin berkurang atau tubuh mengalami resistensi insulin, gula akan menumpuk di dalam darah.

Kondisi tersebut kerap diperburuk oleh penumpukan lemak di area perut. Kelebihan berat badan diketahui dapat mengganggu kinerja insulin sehingga meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Selain itu, rasa haus berlebihan dan frekuensi buang air kecil yang meningkat sering menjadi sinyal awal yang tidak boleh diabaikan. Gejala tersebut muncul ketika tubuh berusaha membuang kelebihan gula melalui urine.

Kebiasaan yang Memicu Kenaikan Gula Darah

Beberapa kebiasaan sehari-hari dapat membuat kadar gula darah terus meningkat, antara lain terlalu sering mengonsumsi minuman manis, makanan tinggi gula seperti donat dan pencuci mulut, konsumsi karbohidrat berlebihan, kurang bergerak, serta kebiasaan begadang.

Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, risiko gangguan metabolisme dan diabetes akan semakin besar.

Tanda Gula Darah Mulai Tidak Terkontrol

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi rasa haus terus-menerus, sering buang air kecil, mudah lapar namun cepat lelah, luka yang sulit sembuh, hingga gangguan penglihatan seperti pandangan kabur.

Pakar kesehatan menekankan bahwa pengendalian diabetes dapat dilakukan melalui langkah sederhana, seperti mengurangi konsumsi minuman manis, memperbanyak asupan protein, sayuran dan serat, berjalan kaki 10 hingga 15 menit setelah makan, tidur cukup, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara rutin bagi kelompok berisiko.

Deteksi dan pengendalian sejak dini terbukti menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi serius akibat diabetes, termasuk penyakit jantung, kerusakan saraf, gangguan penglihatan, dan gagal ginjal.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Kenali Fase Penyakit Ginjal Kronis, Jangan Abaikan Gejalanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Penyakit ginjal kronis merupakan gangguan kesehatan yang berkembang secara bertahap dan dapat berujung pada gagal ginjal apabila tidak terdeteksi sejak dini. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya kemampuan ginjal dalam menyaring limbah dan cairan dari dalam tubuh. Karena gejalanya sering muncul perlahan, banyak penderita tidak menyadari bahwa fungsi ginjalnya telah mengalami penurunan.

Secara medis, penyakit ginjal kronis dibagi menjadi lima stadium berdasarkan nilai laju filtrasi glomerulus atau Glomerular Filtration Rate (GFR). Semakin rendah nilai GFR, semakin berat tingkat kerusakan ginjal yang terjadi.

Tahapan Stadium Penyakit Ginjal Kronis

Stadium I dan II: Kerusakan Ringan

Pada stadium I, fungsi ginjal masih berada pada kisaran 90-100 persen. Meski demikian, sudah terdapat tanda-tanda awal kerusakan ginjal yang perlu diwaspadai.

Sementara pada stadium II, fungsi ginjal mulai menurun hingga 60-89 persen. Pada fase ini, ginjal masih bekerja relatif baik, namun indikasi kerusakan organ semakin terlihat.

Stadium III: Mulai Muncul Keluhan

Stadium III terbagi menjadi dua fase. Pada stadium IIIA, fungsi ginjal berada pada kisaran 45-59 persen. Penderita mulai merasakan gejala seperti mudah lelah, tubuh lemah, serta pembengkakan pada tangan dan kaki.

Sedangkan stadium IIIB terjadi ketika fungsi ginjal turun menjadi 30-44 persen. Kerusakan ginjal berada pada tingkat sedang. Dengan pengobatan dan pengendalian faktor risiko yang tepat, perkembangan penyakit masih dapat diperlambat agar tidak berlanjut ke stadium berikutnya.

Stadium IV dan V: Risiko Gagal Ginjal

Pada stadium IV, fungsi ginjal tinggal 15-29 persen. Kerusakan ginjal sudah tergolong berat dan kemampuan organ dalam menyaring darah menurun drastis.

Adapun stadium V merupakan tahap paling serius. Fungsi ginjal berada di bawah 15 persen atau bahkan telah berhenti bekerja. Pada kondisi ini, pasien umumnya memerlukan terapi cuci darah (dialisis) atau transplantasi ginjal untuk mempertahankan kualitas hidup.

Gejala Penyakit Ginjal Kronis yang Perlu Diwaspadai

Sejumlah gejala dapat menjadi sinyal adanya gangguan fungsi ginjal. Di antaranya lebih sering buang air kecil, tubuh mudah lelah, kehilangan nafsu makan, pembengkakan pada tangan dan kaki, sesak napas, urine berbusa, mata bengkak, kulit kering dan gatal, serta kesulitan berkonsentrasi.

Para ahli kesehatan mengingatkan pentingnya pemeriksaan rutin, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, dan riwayat penyakit ginjal dalam keluarga. Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan ginjal berkembang menjadi gagal ginjal permanen.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

CHED Soroti Logo pada Kemasan Rokok dalam RPMK Kemenkes


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Upaya pengendalian tembakau melalui kebijakan standarisasi kemasan rokok Indonesia dinilai belum menunjukkan kemajuan berarti meski telah memasuki lima tahun pascapandemi COVID-19. Sejumlah kalangan menilai pemerintah belum konsisten menjalankan reformasi kebijakan yang bertujuan melindungi kesehatan masyarakat dari dampak konsumsi tembakau.

Sorotan mengarah pada implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sebagai aturan pelaksana Undang-Undang Kesehatan. Regulasi tersebut mengatur standardisasi kemasan produk tembakau konvensional maupun rokok elektronik. Namun hingga pertengahan 2026, aturan teknis berupa Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang mengatur sanksi, pengawasan, dan penegakan hukum belum juga diterbitkan.

Beban Ekonomi Rokok Masih Tinggi

Urgensi regulasi ini tidak hanya terkait aspek kesehatan, tetapi juga ekonomi rumah tangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2024, pengeluaran untuk rokok dan tembakau menjadi pos konsumsi terbesar kedua setelah makanan jadi.

Nilai pengeluaran tersebut tercatat sekitar 2,5 kali lebih besar dibandingkan belanja masyarakat untuk daging, telur, dan susu. Bahkan, alokasi dana keluarga untuk pendidikan masih berada di bawah pengeluaran rokok.

Di sisi lain, konsumsi tembakau masih menjadi salah satu faktor risiko utama penyebab beban penyakit nasional. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan rokok menyumbang sekitar 6,8 juta Disability-Adjusted Life Years (DALY) pada 2021. Kondisi ini memperlihatkan bahwa biaya kesehatan akibat tembakau jauh melampaui manfaat fiskal yang diperoleh negara melalui penerimaan cukai.

Logo Dinilai Bertentangan dengan Semangat Plain Packaging

Perdebatan terbaru muncul dalam Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) yang sedang dibahas Kementerian Kesehatan. Dalam draf terbaru Mei 2026, terdapat ketentuan yang masih memperbolehkan pencantuman logo produk pada informasi label kemasan.

Kebijakan tersebut dinilai bertolak belakang dengan konsep plain packaging atau kemasan polos yang bertujuan menghilangkan daya tarik promosi produk tembakau.

Menurut kalangan pengamat, logo bukan sekadar identitas visual. Elemen tersebut berfungsi sebagai instrumen pemasaran yang membangun citra merek dan asosiasi psikologis tertentu, mulai dari gaya hidup hingga simbol kebebasan yang kerap menyasar konsumen usia muda.

Kepala Center of Human and Economic Development (CHED) ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Roosita Meilani Dewi, menegaskan bahwa standarisasi kemasan rokok merupakan instrumen perlindungan sosial dan ekonomi.

"Standarisasi kemasan rokok bukan sekadar urusan tampilan, ini adalah kebijakan ekonomi yang melindungi rakyat. Setiap rupiah yang dihabiskan rumah tangga miskin untuk rokok adalah rupiah yang dicuri dari meja makan, dari bangku sekolah anak, dan dari tabungan masa depan keluarga," ujar Roosita.

CHED Ajukan Sejumlah Rekomendasi

CHED mendesak Kementerian Kesehatan untuk menghapus seluruh ketentuan terkait logo dalam RPMK, memperbesar porsi peringatan kesehatan menjadi minimal 80 persen luas kemasan, menghapus Pasal 20 Ayat 2, serta memastikan konsistensi seluruh pasal agar tidak menimbulkan multitafsir saat implementasi.

Menurut CHED, regulasi yang kuat, konsisten, dan berbasis bukti menjadi syarat utama keberhasilan pengendalian tembakau Indonesia demi melindungi generasi muda sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045. 

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Tanda Liver Capek dan Tubuh Terasa Berat, Kenali Pemicunya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Liver atau hati memiliki peran penting dalam membantu proses metabolisme, menyaring racun, hingga mengolah lemak dalam tubuh. Namun, pola hidup yang tidak sehat membuat organ ini bekerja lebih keras dan memicu berbagai keluhan fisik yang sering diabaikan.

Kondisi liver yang mulai tidak optimal umumnya ditandai tubuh terasa berat, mudah pegal, hingga bangun tidur dalam kondisi tidak segar meski waktu istirahat cukup. Gangguan pencernaan seperti perut kembung, nafsu makan tidak stabil, dan mulut terasa pahit juga bisa menjadi sinyal awal.

Pola Makan dan Begadang Jadi Beban Liver

Konsumsi makanan tinggi minyak, gorengan, makanan olahan, serta minuman manis berlebihan membuat liver harus memproses lebih banyak lemak dan sisa metabolisme. Beban kerja organ ini semakin meningkat ketika dibarengi kebiasaan tidur larut malam dan jadwal makan yang tidak teratur.

Selain itu, stres berkepanjangan dan kurang aktivitas fisik turut memperlambat proses detoks alami tubuh. Akibatnya, metabolisme menjadi tidak optimal dan tubuh lebih mudah lelah.

Sirkulasi Tubuh Ikut Melambat

Saat fungsi liver menurun, aliran energi dan metabolisme tubuh ikut terganggu. Kondisi ini memicu rasa penuh, begah, hingga nyeri pada beberapa bagian tubuh.

Kebiasaan duduk terlalu lama dan jarang bergerak juga membuat sirkulasi tubuh kurang lancar. Banyak orang kemudian memilih makanan manis atau gorengan sebagai “pelarian” saat lelah, padahal kebiasaan tersebut justru memperberat kerja organ dalam.

Cara Sederhana Membantu Liver Tetap Sehat

Menjaga kesehatan liver dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari. Mengurangi makanan berminyak, mengatur jam makan, serta memperbanyak konsumsi makanan hangat dapat membantu kerja organ lebih ringan.

Aktivitas ringan seperti berjalan santai, peregangan, dan latihan pernapasan juga membantu memperbaiki sirkulasi tubuh. Ketika liver bekerja lebih optimal, tubuh biasanya terasa lebih ringan, energi lebih stabil, dan aktivitas harian menjadi lebih nyaman dijalani.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Fakta Medis Cara Mencegah Batu Ginjal Kambuh: Air Saja Ternyata Belum Cukup


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Selama bertahun-tahun, masyarakat luas dan praktisi kesehatan meyakini bahwa minum air putih minimal 2,5 liter per hari merupakan solusi mutlak untuk menjaga fungsi ginjal. Namun, riset berskala besar yang dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi, The Lancet (2026), mematahkan asumsi tunggal tersebut. 

Laporan ini mengungkap fakta bahwa hidrasi intensif semata tidak lagi memadai sebagai cara mencegah batu ginjal kambuh secara signifikan pada pasien berisiko tinggi.

Riset Terbesar Menguji Mitos Hidrasi

Tercatat sebagai salah satu penelitian urologi paling komprehensif, studi ini melibatkan 1.658 responden berusia di atas 12 tahun, di mana mayoritas memiliki riwayat batu ginjal berulang. Pengumpulan data berlangsung masif di enam pusat akademik terkemuka di Amerika Serikat sejak 2017 hingga 2024.

Secara metodologi, sebanyak 826 peserta diinstruksikan menjalani program hidrasi intensif selama enam bulan pertama. Sementara itu, 832 peserta lainnya sebagai kelompok kontrol hanya menerima terapi standar sesuai panduan urologi.

Usai melewati fase pemantauan komprehensif selama dua tahun, temuan klinis memunculkan anomali. Meski volume urine pada kelompok hidrasi intensif terbukti meningkat secara konsisten, tidak ditemukan perbedaan manfaat yang bermakna dibanding kelompok kontrol.

"Hasil riset membuktikan bahwa hidrasi secara intensif ternyata tidak menurunkan tingkat kekambuhan batu ginjal secara bermakna jika hanya mengandalkan air tanpa intervensi lain," urai laporan resmi The Lancet (2026).

Kunci Efektif Pencegahan Batu Ginjal

Lantas, apakah anjuran medis untuk rutin mengonsumsi air 2,5 liter per hari adalah sebuah kekeliruan? Secara medis, pemenuhan cairan tubuh tetap menjadi elemen esensial. 

Kendati demikian, mengandalkan minum air saja terbukti terlalu lemah untuk dijadikan strategi tunggal dalam pencegahan batu ginjal.
Riset mutakhir ini menitikberatkan pada urgensi modifikasi gaya hidup. 

Penerapan diet untuk batu ginjal yang meliputi asupan tinggi kalsium, rendah natrium atau garam, serta pembatasan konsumsi protein hewani—diklaim berdampak jauh lebih vital. Kombinasi nutrisi ini terbukti secara empiris mampu memangkas risiko kambuhnya batu ginjal hingga 50 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Kesimpulannya, cara efektif mencegah batu ginjal kambuh tidak sekadar tentang hidrasi ekstra. Keberhasilan terapi harus bertumpu pada kolaborasi disiplin diet nutrisi, evaluasi profil metabolik secara rutin, hingga pemberian terapi farmakologis sesuai dengan rekomendasi spesialis urologi.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Sering Buang Air Kecil Malam Hari, Ini Penyebabnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kebiasaan terbangun berkali-kali untuk buang air kecil pada malam hari atau nokturia kerap dianggap wajar seiring bertambahnya usia. Namun sejumlah studi medis menunjukkan kondisi itu bisa berkaitan dengan gangguan tidur, penumpukan cairan tubuh, hingga meningkatnya risiko penyakit jantung.

Masalah tersebut banyak dialami kelompok usia di atas 50 tahun. Dalam sejumlah kasus, penderita mengurangi konsumsi air sebelum tidur, tetapi tetap terbangun beberapa kali setiap malam. Kondisi itu memicu kelelahan, kualitas tidur buruk, dan penurunan daya tahan tubuh.

Nokturia Tidak Selalu Dipicu Banyak Minum

Sejumlah anggapan lama soal sering buang air kecil di malam hari mulai dipertanyakan. Salah satunya keyakinan bahwa penyebab utama berasal dari kebiasaan minum menjelang tidur.

Dalam laporan yang dikutip dari penelitian urologi di Inggris, pengurangan minum sebelum tidur hanya memberi dampak terbatas terhadap frekuensi bangun malam. Perbedaannya disebut sekitar 11 persen dibanding orang yang tetap minum normal.

Selain itu, gangguan ini juga sering dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal. Padahal, beberapa dokter menilai penyebabnya bisa lebih kompleks, termasuk perubahan respons kandung kemih dan distribusi cairan tubuh pada usia lanjut.

Penelitian di Jepang terhadap lebih dari 2.000 responden usia di atas 50 tahun juga menemukan kaitan antara gangguan tidur akibat nokturia dengan peningkatan risiko serangan jantung dalam jangka panjang.

Penumpukan Cairan di Kaki Jadi Faktor Penting

Salah satu penjelasan medis yang mulai banyak dibahas adalah akumulasi cairan di area kaki sepanjang hari. Cairan itu kemudian kembali ke aliran darah saat tubuh berbaring dan akhirnya diproses ginjal menjadi urine pada malam hari.

Selain itu, otot detrusor atau otot kandung kemih disebut dapat menjadi lebih sensitif setelah usia 55 tahun. Akibatnya, kandung kemih memberi sinyal penuh lebih cepat meski volume urine belum maksimal.

Beberapa metode non-obat mulai banyak diperkenalkan untuk membantu mengurangi frekuensi bangun malam. Teknik tersebut antara lain mengangkat kaki sebelum tidur, latihan pernapasan 4-7-8, hingga teknik pengosongan kandung kemih ganda.

Meski demikian, dokter mengingatkan bahwa nokturia yang terjadi terus-menerus tetap perlu diperiksa lebih lanjut. Kondisi itu dapat berkaitan dengan diabetes, gangguan prostat, infeksi saluran kemih, gagal jantung, hingga efek samping obat tertentu.

Gangguan buang air kecil di malam hari bukan sekadar persoalan usia atau kebiasaan minum sebelum tidur. Sejumlah penelitian menunjukkan ada faktor biologis dan sirkulasi cairan tubuh yang berperan. Karena itu, pemeriksaan medis tetap penting dilakukan jika frekuensi bangun malam terus meningkat dan mengganggu kualitas tidur.

Penulis Lakalim Adalin 
Editor Arianto 
 
Share:

Usus dan Otak Ternyata Saling Terhubung, Ini Dampaknya ke Mental


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Kesehatan usus ternyata tidak hanya memengaruhi sistem pencernaan, tetapi juga berkaitan langsung dengan suasana hati, fokus, tingkat stres, hingga kesehatan mental seseorang. Sejumlah penelitian modern menunjukkan hubungan kuat antara usus dan otak melalui sistem saraf, hormon, serta bakteri baik di dalam tubuh.

Fenomena itu menjelaskan mengapa pola makan buruk, kurang tidur, konsumsi gula berlebihan, hingga gangguan pencernaan kerap diikuti perubahan emosi dan penurunan konsentrasi. Dalam dunia medis, usus bahkan mulai disebut sebagai “otak kedua” karena memiliki koneksi biologis langsung dengan otak manusia.

Hubungan Usus dan Otak Semakin Jadi Sorotan

Salah satu faktor utama hubungan tersebut adalah saraf vagus, jalur komunikasi yang terus mengirim sinyal biologis dari sistem pencernaan menuju otak setiap saat. Jalur ini membuat kondisi usus dapat memengaruhi respons emosional manusia.

Selain itu, hampir 95 persen serotonin atau hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia diproduksi di sistem pencernaan. Fakta ini mengubah pandangan lama bahwa kesehatan mental hanya dikendalikan otak.

Penelitian juga menemukan bakteri usus tertentu mampu memengaruhi keinginan makan. Sinyal kimia dari bakteri dapat mendorong otak memilih makanan tinggi gula atau makanan ultra processed secara berulang.

Di sisi lain, peradangan kronis pada usus mulai dikaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, dan gangguan stres. Sensasi “butterflies in the stomach” saat gugup pun disebut sebagai respons awal sistem saraf usus terhadap tekanan emosional.

Kesehatan Usus Berpengaruh pada Imunitas dan Fokus

Tak hanya soal emosi, sekitar 70 persen sistem kekebalan tubuh manusia berada di lapisan usus. Organ ini bekerja memantau bakteri berbahaya dan racun yang masuk ke tubuh setiap hari.

Penggunaan antibiotik berlebihan juga dinilai dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus. Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan brain fog atau kabut otak, seperti sulit fokus, mudah lelah, dan penurunan daya ingat sementara.

Karena itu, menjaga kesehatan usus mulai dianggap bagian penting dari menjaga kualitas hidup secara menyeluruh. Langkah sederhana seperti memperbanyak serat, mengurangi makanan ultra processed, tidur cukup, dan mengelola stres dinilai membantu menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.

Temuan mengenai hubungan usus dan otak memperlihatkan bahwa kesehatan mental tidak berdiri sendiri. Pola makan, kualitas tidur, dan kondisi pencernaan kini menjadi faktor yang ikut menentukan stabilitas emosi, fokus, hingga daya tahan tubuh manusia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Lansia Melemah Bukan Sekadar Faktor Usia, Ini Penyebabnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Penurunan fungsi tubuh pada lansia ternyata tidak seluruhnya disebabkan faktor usia. Kebiasaan duduk terlalu lama, minim latihan kekuatan, serta kurang asupan protein disebut mempercepat hilangnya massa otot atau sarcopenia.

Fenomena itu kini makin sering terlihat di lingkungan perkotaan. Banyak lansia tetap aktif secara sosial, tetapi tubuhnya perlahan kehilangan kekuatan dasar untuk berjalan stabil, bangun dari kursi, hingga menjaga keseimbangan tubuh.

Gaya Hidup Sedenter Mempercepat Penurunan Otot

Di banyak keluarga Indonesia, kondisi lansia yang melemah sering dianggap wajar. Kalimat “namanya juga sudah tua” terdengar sederhana, tetapi perlahan menjadi pembenaran atas penurunan fungsi tubuh yang sebenarnya masih bisa ditekan.

Padahal tubuh manusia dirancang untuk terus bergerak. Ketika otot jarang dipakai dan tubuh terlalu lama pasif, sistem tubuh beradaptasi menjadi lebih lemah.

Kondisi itu dikenal sebagai sarcopenia, yakni penurunan massa dan fungsi otot seiring bertambah usia. Organisasi kesehatan seperti World Health Organization dan National Institute on Aging menyoroti gaya hidup sedenter sebagai faktor yang mempercepat proses tersebut.

Di sejumlah taman kota Jakarta pada pagi hari, pemandangan lansia berjalan pelan sambil membawa tongkat mulai jamak terlihat. 

Sebagian mengaku cepat lelah meski aktivitas hariannya ringan. Ada pula yang mulai kesulitan naik tangga rumah sendiri.

Latihan Kekuatan Dinilai Lebih Penting

Penelitian menunjukkan latihan kekuatan dan asupan protein cukup membantu mempertahankan massa otot, keseimbangan tubuh, serta kemampuan fungsional lansia.

Artinya, aktivitas fisik untuk usia lanjut tidak cukup hanya berjalan santai. Tubuh tetap memerlukan stimulasi otot dan latihan keseimbangan agar fungsi gerak tidak turun drastis.

Namun pendekatan itu juga bukan berarti memaksa lansia berolahraga ekstrem. Tujuan utamanya justru sederhana: tetap mandiri dalam aktivitas dasar sehari-hari.

Kemampuan bangun sendiri dari tempat tidur, berjalan tanpa takut jatuh, hingga tidak sepenuhnya bergantung pada anggota keluarga menjadi indikator penting kualitas hidup lansia.

Pada akhirnya, menjaga kekuatan otot bukan soal tampil bugar semata. Di usia lanjut, otot menjadi penyangga utama agar hidup tetap aktif, aman, dan bermartabat.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Massa Otot dan Panjang Umur, Ini Fakta yang Sering Diabaikan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Pembicaraan soal hidup sehat selama ini lebih sering berhenti pada diet, langkah kaki, atau angka timbangan. Padahal, ada satu faktor yang justru mulai dianggap paling menentukan usia panjang: massa otot.

Sejumlah riset kesehatan menunjukkan kehilangan massa otot berkaitan erat dengan risiko kematian dini. Otot tak lagi dipandang sekadar penunjang kekuatan fisik, melainkan organ hidup yang ikut menjaga metabolisme, hormon, hingga kestabilan gula darah.

Otot Jadi Penyangga Metabolisme Tubuh

Banyak orang baru sadar pentingnya otot ketika usia mulai menua. Lutut mudah nyeri, badan cepat lelah, dan pemulihan tubuh makin lambat. Di pusat kebugaran atau taman kota, pemandangan orang usia 40 tahun mulai rutin latihan beban kini makin lazim terlihat.

Fungsi otot ternyata jauh lebih kompleks dibanding sekadar membentuk tubuh. Jaringan ini membantu mengatur sensitivitas insulin, menjaga keseimbangan hormon, serta menekan peradangan melalui produksi miokin.

Tak sedikit dokter kini menyebut otot sebagai “tabungan kesehatan” jangka panjang. Sebab ketika massa otot turun drastis, metabolisme tubuh ikut melambat. Kondisi itu membuka jalan bagi berbagai penyakit kronis.

Sekitar 80 persen glukosa setelah makan disimpan di jaringan otot. Karena itu, otot menjadi pengatur utama kadar gula darah manusia. Semakin baik kualitas massa otot seseorang, semakin stabil pula sistem metaboliknya.

Risiko Penyakit Kronis Disebut Menurun

Penelitian kesehatan juga menemukan hubungan antara massa otot dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Bahkan, penurunan fungsi kognitif seperti Alzheimer disebut lebih rendah pada individu dengan massa otot terjaga.

Di usia lanjut, manfaat itu terasa lebih nyata. Tubuh yang memiliki otot cukup cenderung lebih stabil, tidak mudah jatuh, dan memiliki kepadatan tulang lebih baik sehingga risiko osteoporosis ikut menurun.

Masalahnya, penurunan massa otot sering terjadi diam-diam. Setelah usia 30 tahun, tubuh mulai kehilangan massa otot secara bertahap bila tidak diimbangi aktivitas fisik dan asupan protein memadai.

Karena itu, menjaga otot kini bukan lagi urusan atlet atau binaragawan. Bagi banyak orang, terutama pekerja urban yang duduk berjam-jam di depan layar, latihan kekuatan perlahan berubah menjadi kebutuhan dasar kesehatan jangka panjang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Ginjal Tidak Rusak Mendadak, Ini Cara Mencegahnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Cara menjaga kesehatan ginjal dari usus menjadi sorotan dalam tren kesehatan terbaru. Pendekatan ini menekankan hubungan erat antara usus dan ginjal dalam sistem metabolisme tubuh.

Konsep ini menjelaskan bahwa gangguan pada usus dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama ketika pola makan buruk memicu peradangan dan kebocoran zat berbahaya ke aliran darah.

Hubungan Usus dan Ginjal yang Sering Diabaikan

Dalam praktik sehari-hari, banyak orang mengira kerusakan ginjal terjadi tiba-tiba. Padahal, prosesnya sering berlangsung perlahan akibat beban kerja yang terus meningkat.

Usus berfungsi sebagai gerbang utama penyerapan nutrisi. Saat sehat, ia menyaring zat baik dan membuang limbah. Namun, ketika meradang, fungsi ini terganggu.

Saya pernah berbincang dengan seorang dokter penyakit dalam yang menyebut banyak pasien datang terlambat. Mereka fokus pada ginjal, tapi lupa akar masalahnya ada di pola makan.

Ketika usus “bocor”, partikel inflamasi dan sisa metabolisme masuk ke darah. Ginjal kemudian bekerja ekstra keras untuk menyaringnya. Kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa disadari.

Dalam jangka panjang, beban tersebut dapat memengaruhi tekanan darah dan keseimbangan cairan tubuh. Ini yang sering menjadi awal gangguan ginjal kronis.

Pola Hidup Jadi Kunci Pencegahan

Pendekatan kesehatan kini mulai bergeser. Menjaga ginjal tidak lagi hanya fokus pada organ itu sendiri, tetapi dimulai dari memperbaiki sistem pencernaan.

Langkah paling dasar adalah memilih makanan alami atau whole food. Asupan serat yang cukup membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus.

Selain itu, makanan fermentasi juga berperan penting. Produk ini membantu memperkuat sistem imun sekaligus memperbaiki kondisi usus yang meradang.

Yang sering luput, konsumsi produk ultra-proses justru memperburuk keadaan. Kandungan zat aditif dapat memicu inflamasi dan memperberat kerja ginjal.

Saya sendiri pernah mencoba mengurangi makanan olahan selama beberapa minggu. Perubahan paling terasa justru di pencernaan—lebih ringan, dan energi lebih stabil.

Beban Tambahan dari Zat Sintetis

Selain makanan, paparan zat kimia sintetis juga menjadi faktor yang memperberat kerja ginjal. Zat ini masuk ke aliran darah dan harus disaring setiap hari.

Ginjal pada dasarnya sudah bekerja keras menyaring limbah metabolisme. Ketika ditambah beban dari polutan sintetis, kapasitasnya bisa menurun.

Pendekatan alami dinilai lebih aman. Tubuh lebih mudah mengenali dan memproses zat dari bahan alami dibandingkan senyawa buatan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan ginjal bukan soal langkah instan. Ini tentang kebiasaan kecil yang konsisten, dimulai dari apa yang kita makan setiap hari.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Tujuh Tanda Serangan Jantung yang Bisa Muncul Sebulan Sebelumnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Serangan jantung sering dianggap datang mendadak tanpa peringatan. Padahal, dalam banyak kasus, tubuh sudah lebih dulu mengirim sinyal sejak beberapa minggu sebelumnya, bahkan hingga sebulan sebelum serangan terjadi.

Masalahnya, banyak orang menganggap gejala awal itu hanya keluhan ringan seperti masuk angin, maag, atau sekadar kelelahan biasa. Akibatnya, penanganan terlambat dan risiko justru membesar.

Saya pernah mendengar cerita seorang tetangga yang mengira sesak napas dan cepat lelah hanya karena usia bertambah. Ia tetap memaksakan aktivitas harian. Seminggu kemudian, ia harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung mendadak.

Kasus seperti itu bukan hal langka. Justru sering terjadi karena tanda awal terlihat terlalu “biasa” untuk dianggap serius.

Tujuh Tanda Serangan Jantung yang Sering Diabaikan

1. Cepat Lelah

Dulu kuat beraktivitas, kini naik tangga sedikit saja sudah terasa berat. Ini bisa menjadi sinyal bahwa jantung mulai tidak bekerja optimal.

Jika rasa lelah itu berbeda dari biasanya, jangan langsung menganggapnya hanya faktor usia atau kurang istirahat.

2. Napas Menjadi Pendek

Aktivitas ringan seperti berjalan santai atau membereskan rumah tiba-tiba membuat napas terasa pendek dan tidak lega.

Kondisi ini bisa menandakan suplai oksigen terganggu karena fungsi jantung mulai menurun.

3. Dada Tidak Nyaman

Tidak selalu berupa nyeri tajam. Kadang rasanya seperti dada tertekan, penuh, atau seperti tertindih sesuatu.

Jika keluhan ini muncul berulang, terutama saat beraktivitas, itu patut menjadi perhatian serius.

4. Nyeri Menjalar

Rasa tidak nyaman dari dada bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung.

Banyak orang mengira ini hanya pegal biasa, padahal bisa menjadi alarm penting dari jantung.

Gejala Tambahan yang Sering Disalahartikan

5. Keringat Dingin

Tubuh tiba-tiba berkeringat dingin tanpa cuaca panas atau aktivitas berat bisa menjadi tanda tubuh sedang dalam mode darurat.

Apalagi jika disertai dada tidak nyaman atau sesak napas, jangan menunda pemeriksaan.

6. Mual dan Perut Tidak Nyaman

Kadang gejalanya mirip maag atau masuk angin. Perut terasa tidak enak, mual, bahkan ingin muntah.

Karena letak saraf yang saling berkaitan, sinyal dari jantung bisa terasa seperti gangguan pencernaan.

7. Tidur Berantakan

Sering terbangun tengah malam, gelisah, atau merasa tubuh tidak benar-benar beristirahat juga bisa menjadi tanda awal.

Banyak orang menyalahkannya pada stres, padahal tubuh sedang memberi sinyal bahwa ada yang tidak beres.

Yang paling berbahaya bukan karena tanda itu tidak ada, tetapi karena kita memilih mengabaikannya.

Jika mulai merasakan beberapa gejala ini, jangan panik. Namun, jangan menunda konsultasi medis agar risiko serangan jantung bisa ditekan lebih awal.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Dokter Swedia Ungkap Cara Ampuh Cegah Stroke Sejak Dini


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Dokter di Swedia mengungkap fakta mengejutkan: 80% kasus stroke sebenarnya dapat dicegah jika masyarakat lebih sadar sejak dini. Menurut mereka, langkah sederhana seperti mengenali tanda FAST dan menjaga aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, bisa menurunkan risiko stroke secara signifikan.

Saya teringat ketika seorang tetangga, yang semula sehat, tiba-tiba mengalami stroke di usia 45 tahun. Ketidaktahuannya tentang gejala awal membuatnya terlambat mendapat pertolongan. Ini menunjukkan, pengetahuan menjadi benteng paling kuat.

Tanda FAST: Cara Cepat Selamatkan Nyawa

FAST adalah singkatan dari empat tanda stroke yang perlu dikenali: wajah, lengan, bicara, dan waktu. Dokter di Stockholm menegaskan, jika kita bisa mengenali satu tanda saja, maka tindakan cepat ke IGD bisa menyelamatkan nyawa. Misalnya, jika seseorang tiba-tiba wajahnya miring, lengan jatuh, atau bicaranya cadel, waktu berharga tak boleh ditunda.

Selain itu, stroke terjadi saat suplai darah ke otak terhenti. Dokter dari American Stroke Association menjelaskan, ada dua jenis utama: iskemik (ketika pembuluh darah tersumbat) dan hemoragik (pembuluh pecah). Hal ini terjadi lebih cepat dari yang kita sadari, dan setiap menitnya, sel otak bisa mati.

Hidroterapi dan Gaya Hidup Aktif untuk Pemulihan

Bagi mereka yang sudah sembuh dari stroke, hidroterapi menawarkan harapan. Dalam air, beban tubuh berkurang hingga 60%, sehingga otot bisa dilatih tanpa tekanan berlebih. Saya ingat, saat meliput rehabilitasi di sebuah pusat terapi, saya melihat seorang ibu yang semula lumpuh, kini mulai bisa berjalan lagi berkat latihan di kolam.

Dokter Swedia juga menekankan tiga perubahan paling efektif untuk mencegah stroke: rutin cek tekanan darah dengan target sistolik di bawah 130 mmHg, berhenti merokok, dan gerak aktif minimal 30 menit, lima hari dalam seminggu. Ini bukan sekadar saran, melainkan langkah nyata yang sudah terbukti memperpanjang usia dan kualitas hidup.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Asam Urat Usia 20-an Meningkat, Ginjal Jadi Taruhan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kasus asam urat pada usia muda kini makin sering ditemukan. Bukan hanya pada laki-laki, perempuan usia 20-an juga mulai banyak mengeluhkan nyeri sendi mendadak yang ternyata berujung pada gangguan ginjal.

Masalahnya sering dianggap sepele. Banyak orang mengira nyeri pada kaki atau jempol hanya akibat kelelahan biasa. Padahal, itu bisa menjadi sinyal awal kadar asam urat yang sudah terlalu tinggi dan mulai membebani ginjal.

Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Memicu

Pola makan menjadi pemicu paling sering. Konsumsi jeroan, seafood, daging merah, hingga makanan instan berlebihan membuat kadar purin meningkat dan memicu penumpukan asam urat dalam tubuh.

Saya pernah menemui seorang pekerja kantoran berusia 27 tahun yang mengaku hampir setiap malam makan mi instan dan gorengan karena praktis. Saat nyeri menyerang, ia baru sadar biaya berobat jauh lebih mahal daripada menjaga pola makan.

Kurang minum air putih juga memperburuk kondisi. Saat tubuh kekurangan cairan, ginjal lebih sulit membuang asam urat melalui urin. Akibatnya, kristal menumpuk dan berpotensi memicu batu ginjal.

Minuman bersoda dan tinggi gula juga tak kalah berbahaya. Kandungan fruktosa tinggi dapat meningkatkan kadar asam urat sekaligus mempercepat kerusakan fungsi ginjal.

Gaya hidup minim gerak ikut memperparah. Duduk terlalu lama, jarang olahraga, dan berat badan berlebih membuat metabolisme melambat sehingga peradangan lebih mudah muncul.

Belum lagi stres yang sering dianggap hal biasa. Saat hormon tubuh tidak stabil, respons peradangan meningkat dan serangan nyeri sendi menjadi lebih mudah kambuh.

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Tanda paling umum adalah nyeri mendadak pada malam hari. Biasanya muncul di area jempol kaki, lutut, atau pergelangan dengan rasa sakit yang tajam.

Sendi juga terasa panas, merah, dan bengkak. Pada beberapa kasus, rasa nyerinya sangat hebat sampai penderita sulit berjalan.

Banyak orang menunda pemeriksaan karena merasa masih muda. Padahal, justru di fase awal inilah pengendalian paling efektif bisa dilakukan.

Saya teringat keluhan seorang ibu muda yang mengira kakinya terkilir biasa. Setelah diperiksa, ternyata kadar asam uratnya tinggi dan sudah memicu gangguan pada saluran kemih.

Jika Dibiarkan, Dampaknya Lebih Serius

Serangan nyeri bisa berulang dan makin sering. Kaki menjadi bengkak, sulit digerakkan, bahkan muncul benjolan keras atau tophi akibat penumpukan kristal asam urat.

Komplikasi paling berat terjadi pada ginjal, mulai dari batu ginjal hingga gagal ginjal. Risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, stroke, dan sindrom metabolik juga ikut meningkat.

Karena itu, pencegahan harus dimulai lebih cepat.

Kurangi makanan tinggi purin, minum air putih minimal dua liter per hari, rutin bergerak, menjaga berat badan ideal, serta menghindari alkohol dan minuman tinggi gula menjadi langkah paling sederhana namun paling efektif.

Kesehatan memang investasi mahal. Banyak orang baru sadar setelah tubuh mulai memberi tagihan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

AIPI Soroti Bahaya UPF pada Anak, Desak Kebijakan Tegas


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyoroti bahaya konsumsi makanan ultra-proses (UPF) pada anak dan remaja dalam webinar internasional, Kamis (23/4/2026). Forum ini mempertemukan ilmuwan, pemerintah, dan lembaga global untuk merumuskan respons kebijakan berbasis bukti ilmiah.

Lonjakan konsumsi UPF—tinggi gula, garam, dan lemak—dinilai berkorelasi kuat dengan obesitas anak, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular sejak usia dini. AIPI menilai situasi ini mendesak ditangani lewat reformasi sistem pangan nasional.

Ancaman Nyata UPF pada Anak dan Remaja

Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso, menegaskan perubahan sistem pangan global telah menggeser pola konsumsi masyarakat. Produk ultra-proses kini makin mudah diakses, murah, dan agresif dipasarkan, termasuk ke anak-anak.

“Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas,” ujar Daniel.

Fenomena ini bukan sekadar tren konsumsi. Sejumlah studi global menunjukkan, paparan UPF sejak dini memperbesar risiko malnutrisi ganda—kelebihan kalori tetapi miskin zat gizi.

Saya teringat obrolan ringan dengan seorang orang tua di ruang tunggu klinik beberapa waktu lalu. Ia mengaku anaknya sulit lepas dari camilan kemasan karena dianggap praktis. Cerita seperti ini kini jadi potret umum di kota-kota besar.

Dorongan Kebijakan: Dari Label Gizi hingga Cukai

Pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan dukungan terhadap transformasi kebijakan pangan berbasis riset.

Salah satu momentum penting adalah implementasi PP No. 28/2024. Regulasi ini membuka peluang penguatan label gizi di kemasan depan serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.

Diskusi juga menyoroti perlindungan anak dari pemasaran agresif, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah. Selain itu, kebijakan fiskal seperti cukai minuman berpemanis kembali didorong untuk menekan konsumsi.

Rina Agustina dari AIPI menekankan, kualitas diet kini tak cukup dinilai dari kandungan gizi. Tingkat pemrosesan makanan harus jadi indikator utama.

“Pengetahuan saja tidak cukup. Anak hidup di lingkungan yang justru mempermudah akses ke makanan ultra-proses,” ujarnya.

Arah Baru: Kembali ke Makanan Asli

Forum ini juga mendorong kampanye konsumsi makanan segar berbasis bahan lokal, sejalan dengan panduan “Isi Piringku” dan konsep Planetary Health Diet.

Di tingkat praktis, pendekatan ini bukan hal baru. Banyak keluarga sebenarnya paham pentingnya makanan rumahan, tetapi kalah oleh faktor harga dan kemudahan akses produk kemasan.

Sebagai tindak lanjut, AIPI akan menyusun policy brief dan peta jalan kebijakan jangka pendek hingga panjang. Targetnya jelas: memperbaiki kualitas diet anak Indonesia.

“Jika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, anak-anak akan tumbuh optimal,” ujar Ketua KIK AIPI, Herawati Sudoyo.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Kebiasaan Sepele Pemicu Serangan Jantung yang Sering Diabaikan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Serangan jantung kerap dipersepsikan sebagai peristiwa mendadak. Padahal, kondisi ini terbentuk perlahan akibat kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Pola hidup sederhana—dari kurang minum hingga begadang—diam-diam memperberat kerja jantung dan merusak pembuluh darah.

Di berbagai kota besar, pola hidup serba cepat makin memperparah situasi. Banyak orang mengabaikan sinyal tubuh karena merasa masih “baik-baik saja”, hingga akhirnya risiko menumpuk tanpa disadari.

Kebiasaan Sepele yang Memicu Risiko Jantung

Kurang minum air putih jadi salah satu pemicu paling sering diabaikan. Tubuh yang kekurangan cairan membuat darah lebih kental, sehingga jantung harus bekerja ekstra memompanya.

Saya pernah menemui rekan kerja yang hanya minum saat benar-benar haus. Ia menganggap sepele, sampai akhirnya mengalami tekanan darah tinggi di usia relatif muda.

Begadang juga tak kalah berbahaya. Meski durasi tidur cukup, tidur lewat tengah malam mengganggu ritme biologis tubuh. Dampaknya menjalar ke metabolisme hingga fungsi jantung.

Paparan asap rokok, baik aktif maupun pasif, tetap menjadi ancaman serius. Zat beracun dalam asap rokok merusak pembuluh darah dan mempercepat proses penyumbatan.

Kebiasaan ngemil tanpa kontrol—terutama saat bekerja atau scrolling—menambah asupan gula, garam, dan lemak tanpa disadari. Pola ini mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah.

Dampak dan Cara Mengendalikannya

Stres yang tidak dikelola membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Denyut jantung dan tekanan darah meningkat, bahkan saat tubuh seharusnya beristirahat.

Kurang tidur memperburuk kondisi ini. Jantung kehilangan waktu pemulihan optimal, sementara hormon stres meningkat.

Gaya hidup minim gerak atau “mager” memperlambat aliran darah. Lemak lebih mudah menumpuk dan mempersempit pembuluh.

Solusinya relatif sederhana, namun butuh konsistensi. Mulai dari minum air secara rutin, tidur lebih awal secara bertahap, hingga aktif bergerak setiap 30–60 menit.

Pengalaman pribadi lain, mencoba berjalan kaki singkat setiap satu jam kerja terasa sepele. Namun setelah beberapa minggu, tubuh terasa lebih ringan dan fokus meningkat.

Intinya, serangan jantung bukan hasil dari satu kesalahan besar, melainkan akumulasi kebiasaan kecil yang dianggap wajar. Yang berbahaya bukan yang sesekali, tapi yang terus diulang tanpa kontrol.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Cara Efektif Mengecilkan Plak Jantung, Kunci di LDL


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Plak jantung terbentuk diam-diam selama bertahun-tahun dan kerap baru terdeteksi saat sumbatan melewati 70 persen. Pada fase ini, pasien biasanya membutuhkan pemasangan ring, bypass, atau sudah mengalami serangan jantung.

Jika belum sampai tahap intervensi, peluang masih terbuka. Dengan pendekatan tepat—menekan kolesterol jahat, meredakan peradangan, dan memperbaiki metabolisme—plak bisa distabilkan, bahkan mengecil dalam batas tertentu.

Mengapa Plak Jantung Terbentuk Diam-Diam

Proses pembentukan plak tidak instan. Ia bermula dari kadar LDL tinggi, terutama jenis kecil dan padat yang mudah menempel di dinding pembuluh darah. Kerusakan pembuluh akibat hipertensi, gula tinggi, dan rokok mempercepat proses ini.

Di tahap berikutnya, LDL teroksidasi memicu respons imun. Sel-sel imun memakannya dan berubah menjadi “sel busa”, fondasi awal plak. Seiring waktu, kalsium ikut menumpuk, membuat plak mengeras dan mempersempit aliran darah.

Saya pernah menemui seorang kerabat yang merasa sehat, rutin bekerja tanpa keluhan. Ia baru sadar setelah hasil pemeriksaan menunjukkan penyumbatan signifikan—tanpa gejala sebelumnya. Kasus seperti ini bukan pengecualian.

Cara Efektif Mengecilkan Plak Jantung dan Menstabilkannya

Kunci utama ada pada penurunan LDL. Targetnya di bawah 70 mg/dL untuk risiko tinggi, bahkan 55 mg/dL untuk risiko sangat tinggi. Pola makan menjadi fondasi: kurangi gorengan, batasi gula, dan perbanyak serat.

Dalam banyak kasus, terapi statin diperlukan. Selain menurunkan LDL, statin berfungsi menstabilkan plak agar tidak mudah pecah—pemicu utama serangan jantung. Studi besar seperti Asteroid Trial dan Saturn Trial menunjukkan penekanan LDL dapat menghentikan progresi plak.

Peradangan juga tak kalah penting. Tidur cukup, berhenti merokok, serta mengelola stres menjadi langkah sederhana tapi krusial. Pemeriksaan HS-CRP dapat memberi gambaran tingkat peradangan dalam tubuh.

Pengendalian tekanan darah dan gula darah menjaga dinding pembuluh tetap sehat. Target tekanan darah di bawah 130/80 mmHg dan gula darah puasa di bawah 100 mg/dL menjadi patokan umum.

Dampak Metabolisme dan Peran Olahraga

Trigliserid tinggi memperburuk kondisi dengan meningkatkan LDL kecil padat. Rasio trigliserid terhadap HDL di atas 2 menjadi sinyal risiko metabolik. Solusinya sederhana: kurangi karbohidrat olahan, turunkan berat badan, dan rutin berolahraga.

Jalan cepat 30 menit sehari sering diremehkan, padahal efeknya nyata. Selain memperbaiki metabolisme, olahraga membantu pembentukan pembuluh kolateral—jalur alternatif aliran darah saat terjadi sumbatan.

Intinya, plak mungkin tidak hilang total, tapi bisa dibuat stabil. Dan dalam dunia kardiovaskular, stabilitas sering kali menjadi pembeda antara hidup normal dan serangan mendadak.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Cara Aman Jalani Diet Diabetes Harian Tanpa Ribet


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Mengatur pola makan jadi kunci utama dalam menjalani diet diabetes harian. Dengan jadwal terstruktur dari pagi hingga malam, penderita bisa menjaga kadar gula darah tetap stabil tanpa harus merasa tersiksa oleh pantangan ketat.

Pola Diet Diabetes Harian yang Terukur

Pagi hari dimulai dengan asupan tinggi protein dan lemak sehat. Telur rebus atau orak-arik dipadukan roti gandum dan alpukat jadi pilihan aman. Alternatif lain seperti oatmeal tanpa gula dengan chia seed dan blueberry juga efektif menjaga energi.

Konsultan Thalia Febiola pernah mencoba pola ini saat mendampingi keluarga yang didiagnosis pradiabetes. Hasilnya cukup terasa, rasa lapar lebih terkontrol hingga siang.

Menjelang siang, camilan ringan seperti kacang almond atau seledri dengan selai kacang membantu menjaga kadar gula tidak turun drastis. Porsi kecil tapi konsisten jadi kunci.

Masuk waktu makan siang, komposisi ideal terdiri dari protein tanpa lemak, serat tinggi, dan karbohidrat kompleks. Salad ayam panggang, quinoa dengan sayuran, atau wrap gandum isi kalkun jadi contoh menu seimbang.

Minuman juga tak kalah penting. Air putih atau sparkling water tanpa gula jauh lebih aman dibanding minuman kemasan.

Detail Menu dan Dampaknya bagi Gula Darah

Sore hari sering jadi waktu rawan ngemil. Pilihan seperti yogurt tanpa gula, apel dengan almond butter, atau wortel dengan hummus bisa jadi solusi sehat.

Menariknya, pola makan seperti ini bukan sekadar soal angka gula darah. Ini juga membentuk kebiasaan baru yang lebih stabil. Tubuh terasa lebih ringan, energi lebih konsisten.

Malam hari, jika masih lapar, camilan ringan seperti kacang campur, telur rebus, atau potongan mentimun cukup membantu tanpa memicu lonjakan gula.

Sebaliknya, ada beberapa makanan yang sebaiknya dihindari. Minuman manis seperti soda dan teh kemasan, roti putih, nasi putih berlebih, hingga makanan cepat saji terbukti mempercepat lonjakan gula darah.

Saya pernah melihat sendiri bagaimana perubahan kecil—seperti mengganti nasi putih dengan quinoa—bisa berdampak besar dalam beberapa minggu.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Tes HbA1c, Alat Akurat Cegah Diabetes Sejak Awal


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Tes HbA1c kini makin sering disebut sebagai alat paling akurat untuk mendeteksi diabetes sejak dini. Pemeriksaan ini mengukur rata-rata kadar gula darah selama tiga bulan terakhir tanpa perlu puasa, sehingga dianggap lebih “jujur” dibanding tes biasa.

Konsepnya sederhana. HbA1c adalah hemoglobin yang berikatan dengan glukosa dalam darah. Karena sel darah merah siklus hidup sekitar 90 hari, jejak gula darah dalam periode itu otomatis terekam.

Mengapa HbA1c Disebut Pemantau Paling Jujur

Dalam praktik medis, HbA1c bukan sekadar angka laboratorium. Ia mencerminkan pola hidup seseorang dalam tiga bulan terakhir—mulai dari konsumsi gula, aktivitas fisik, hingga kepatuhan terapi.

Berbeda dengan tes gula darah sewaktu yang bisa melonjak setelah makan, HbA1c relatif stabil. Inilah yang membuatnya sulit dimanipulasi.

Saya pernah menemani kerabat melakukan cek kesehatan rutin. Hasil gula darah hari itu normal, tapi HbA1c-nya tinggi. Dokter langsung menyimpulkan ada pola makan yang bermasalah, bukan sekadar fluktuasi sesaat.

Pemeriksaan ini juga menjadi alat penting bagi dokter untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan diabetes. Jika HbA1c tidak turun, biasanya ada yang perlu dikoreksi, entah pola makan atau terapi.

Cara Baca Hasil dan Dampaknya bagi Kesehatan

Hasil HbA1c ditampilkan dalam bentuk persentase yang langsung menggambarkan tingkat risiko seseorang terhadap diabetes.

Nilai di bawah 5,7 persen masih tergolong normal. Namun, rentang 5,7 hingga 6,4 persen sudah masuk kategori prediabetes—fase kritis yang sering diabaikan.

Di atas 6,5 persen, seseorang dikategorikan diabetes. Jika angkanya melewati 8 persen, kondisi biasanya sudah tidak terkontrol dan berisiko memicu komplikasi serius.

Dalam beberapa laporan medis, pasien sering baru sadar setelah angka HbA1c melewati batas aman. Padahal, fase prediabetes memberi ruang intervensi yang jauh lebih mudah.

Di sinilah letak pentingnya pemeriksaan rutin. HbA1c bukan hanya alat diagnosis, tapi juga alarm dini yang memberi kesempatan memperbaiki gaya hidup sebelum terlambat.

Penulis Lakalim Adalin 
Editor Arianto 

Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PLN PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini