Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Kapolres Majalengka Pimpin Panen Raya Jambu Kristal Dalam Rangka Wujudkan Ketahanan Pangan


Duta Nusantara Merdeka | Majalengka
Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Majalengka AKBP Dr. Bismo Teguh Prakoso memimpin Panen Raya Jambu Kristal, dalam rangka mewujudkan Ketahanan Pangan Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Masa Pandemi Covid 19 di Desa Jayi, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Rabu (14/10/2020).

Kegiatan panen raya Jambu Kristal dan Belimbing serta simbolis Pemberian Bantuan berupa Beras dan hasil panen kepada masyarakat ini menerapkan protocol kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker dan mencuci tangan.


Kapolres Majalengka AKBP Dr. Bismo Teguh Prakoso sambutanya mengatakan panen raya ini merupakan kegiatan Polri hadir dalam program ketahanan pangan di masa pandemic covid-19 ini.

“Dengan panen raya ini, masyarakat dapat merasakan program ketahanan pangan ini dan wujud kepedulian Polri kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Kapolres.

Ditambahkan kata Lulusan terbaik 2001 ini, Hasil panen akan didistribusikan ke masyarakat sekitar yang terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19.


“Karena dari awal, progam ketahanan pangan ini bertujuan untuk membantu meringankan beban masyarakat,” jelasnya AKBP Dr. Bismo Teguh Prakoso.

Kegiatan ini dihadiri Kasat Binmas Polres Majalengka IPTU Rudi Djunardi, Kapolsek Sukahaji, Camat Sukahaji, Danramil Sukahaji, Wakapolsek Sukahaji, Kepala Desa Jayid, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat serta Perwakilan masyarakat penerima bantuan. **

Wartawan DNM : Imam Sudrajat
Share:

Manfaatkan Bantaran BKT Tanam Sayuran Dan Jahe Merah Untuk Resapan Air


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta Timur
Lahan kosong yang berada di bantaran pinggir kali ( BKT) Jakarta Timur
Sebelumya menjadi masalah jika terjadi luapan  banjir

Maka untuk mengantisipasi hal tersebut terkait resapan air ketanah.
Solusi salah satunya  sebagai sebagai upaya mengurangi banjir , dengan menanam tumbuhan, sayur sayuran serta lainya.

"Hal merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi dampak banjir di Jakarta, dengan adanya penanaman - tumbuhan dan sayuran - sayuran tersebut bisa mengurangi luapan air jika pada musim penghujan," ucapnya 

" Sebagi gagasaa dan inovasi baru dengan menanam  (Kebun) dengan memanfaatkan  lahan bantaran kali 

Di lakukan Lingkungan BKT Pulo gebang   RT 07/ 08 - Cakung  Jakarta Timur, dengan menanam berbagai jenis sayur mayur, Kankung, Sawi, tapi paling diutamakan menanaman Jahe Merah, begitulah dikatakan , Rohmat Kasatlak Jakarta Timur 

Lanjut  Rohmat, dengan menanam  Jahe Merah untuk resapan air sangat baik dan kualitasnyapun   manfaat sangat bagus juga baik," Ujarnya dengan jelas. Kamis , 03-09-2020
di Jakarta

Rohmat (Kasatlak) Jakarta Timur , tambahkan dengan inovasi ini diharapkan pada pihak pemerintah provinsi DKI Jakarta khususya atau instansi terkait agar terus memberikan dorongan atau sport baik dari segi Pemanfaatan lahan yang di bantaran kali penanaman tumbuhan dan sayuran.

Untuk diketahui penanaman tumbuhan dan sayuran - sayuran serta penghijauan guna untuk resapan air 
Juga ada beberapa upaya budidaya sampah organik menjadi pupuk kompos, juga budidaya magoot,

Itu semua bentuk inovasi semoga menjadi inspirasi bagi masyarakat, sebagai upaya mengurangi dan penanggulangan dampak banjir dan banyak sampah di DKI Jakarta," pungkasnya.**

Wartawan DNM : Ayub Nasution
Share:

Kapolres Majalengka Dan Muspika Palasah Laksanakan Panen Pepaya Dan Labu


Duta Nusantara Merdeka | Majalengka
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Majalengka AKBP Dr.Bismo Teguh Prakoso bersama Muspika Palasah melaksanakan panen Pepaya dan Labu, bertempat di Desa Majasuka Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Selasa (1/9).

Areal tanaman berupa Pepaya dan Labu yang dikembangkan oleh warga Desa Majasuka sebagai Desa Tangguh Raharja ini merupakan progam ketahanan pangan menghadapi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Program ketahanan pangan Program Kapolri bersama Panglima TNI sebagai implementasi kebijakan Presiden RI menghadapi Covid-19. Panen Pepaya dan labu dalam rangkaian ketahanan pangan yang dikembangkan petani Desa Majasuka sebagai Desa Tangguh.



Di awal kegiatan, Kapolres Majalengka AKBP Dr.Bismo Teguh Prakoso bersama Muspika Palasah membuka dimulainya Panen Pepaya dan Labu dalam rangka “Ketahanan Pangan”  ditengah Pandemi Covid-19 yang di pelopori oleh Polres Majalengka.

Tidak lupa dalam kegiatan tersebut Kapolres himbau masyarakat tentang pentingnya Mengikuti Protokol kesehatan melalui 3M Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak untuk mencegah penyebaran Covid-19 dalam rangka Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Hasil Panen Pepaya dan Labu di lahan Desa Majasuka langsung dibagikan kepada warga yang terdampak Covid-19, dalam rangka mewujudkan Ketahanan pangan Polres Majalengka menuju Adaptasi Kebiasaan Baru Dimasa Pandemic Covid-19.

Panen Pepaya dan Labu dihadiri langsung Kapolres Majalengka, Kasat Binmas, Kasat Intelkam Kapolsek Palasah, Camat Palasah, Danramil Palasah, Kepala Desa se-Kecamatan Palasah, dan Puluhan Warga yang menerima Hasil Panen Pepaya dan Labu. **

Wartawan DNM : Imam Sudrajat
Share:

Tiga Pilar Kelurahan Sukabumi Utara Laksanakan Panen Sayur Hidroponik


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta Barat
Di tengah pandemi Covid -19 yang kian meluas,  unsur tiga pilar Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, melaksanakan panen sayur Hidroponik di wilayah RW 04 Sukabumi Utara.

Dalam kesempatan tersebut, Binmas Kelurahan Sukabumi Utara, Polsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Aiptu Sahari menyampaikan terima kasih kepada ibu-ibu Kader PKK RW 04 yang telah berhasil membudidayakan pertanian hidroponik berupa sayuran, sehingga bisa menopang kebutuhan pangan sehari-hari khususnya warga RW 04.


"Kegiatan ini merupakan program ketahanan pangan dalam rangka pandemi Covid-19 di Wilayah RW 041  Sukabumi Utara" ucap Aiptu Sahari.

Sementara, Lurah Sukabumi Utara, Trinanda Puspitosari menyampaikan sangat mengapresiasi para petani setempat yang sukses mengolah lahan yang sangat terbatas untuk dijadikan sarana bercocok tanam, seperti sayuran.

“Apalagi keberhasilan ini bertepatan dengan masa pandemi wabah Covid-19. Ini untuk menjaga stok ketersediaan kebutuhan pangan masyarakat lokal agar dapat terpenuhi di masa pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Trinanda Puspitosari juga menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah sehingga  pelaksanaan panen bisa berjalan ditengah ketakutan akibat pandemi Corona.


“Saya berharap Pemerintah bisa memfasilitasi pupuk dan bibit bagi warga dalam menjalankan Program Mandiri Pangan,” ungkapnya.

Tak luput Lurah menyampaikan terima kasih kepada unsur tiga pilar yang selama ini memberikan pendampingan serta penyuluhan pangan di tengah pandemi Covid-19.

“Kita tidak boleh terlena dengan kondisi saat ini. Tetap waspada dan berhati-hati dalam menjaga kesehatan badan. Namun tetap menjalankan aktifitas tentunya dengan melaksanakan imbauan pemerintah seperti menjaga jarak, menggunakan masker dan sering cuci tangan,” imbuhnya Trinanda Puspitosari. **

Wartawan DNM : Imam Sudrajat
Share:

HKTI Gelar Munas di JCC Jakarta


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menggelar Munas pada kamis (12/3/2020) di JCC Jakarta.

Ketua DPK HKTI kota Sukabumi Bambang Herawanto  mengatakan, terkait penyatuan HKTI manfaatnya sangat besar karena selama ini kelompok tani merasa ada keraguan untuk ada  di posisi yang mana, sehingga dengan penyatuan ini bisa merapat semua bahwa HKTI Cuma satu.

Ini sangat berfaedah, kata Bambang, ketika kita ingin merancang kegiatan bersama bagaimana HKTI bisa membantu para petani di daerah, mengutip kalimat Menteri Pertanian RI "pondasi dalam suatu negara itu tidak lepas dari pada kehidupan pertanian karena pertanian bisa menghasilkan ketahanan pangan masyarakat yang berujung pada negara yang kuat."

"Kemandirian pangan menjadi hal yang mutlak tidak sampai disitu kita juga harus bisa mengekspor akibat surplus dari produksi pertanian kita sehingga menambah devisa bagi negara kita," ujar Bambang dalam Munas HKTI di Jakarta.

Anggota DPRD Kota Sukabumi ini juga mengajak kaum millenial, sebab musababnya  paradigma negatif anak muda di kota Sukabumi tentang pertanian masih belum menjanjikan sehingga mereka mencari sumber penghasilan lain, dan para anak muda ini tidak melanjutkan apa yang diwariskan oleh orang tuanya dulu dan putus.

Disisi lain, lanjutnya, Dengan kita melakukan sistem manajemen pertanian dan memodernisasi alat pertanian, sehingga efisiensi bisa tercipta dan ujungnya adalah akan ada penghasilan yang diraih bagi masyarakat, anak muda dan entreperenur di bidang pertanian.

Selain itu, imbuh Bambang, beliau juga memberikan satu konsep berupa koperasi untuk memberantas sistem ijon dan bekerja sama dengan beberapa bank yang sudah kerjasama dengan HKTI kota Sukabumi membuat MOU bersama sehingga bisa jauh dari sistem Ijon tersebut.

Selanjutnya, Bambang mengungkapkan, Visi saya sebagai Ketua DPK HKTI kota Sukabumi menjadi pendorong proses produksi sehingga menjadi pusat jasa hasil pertanian.

"Saran untuk Anak muda kota sukabumi, Jangan apriori pertanian, karena sudah banyak konsep yang sudah diciptakan pemerintah dan hasil pertanian tidak lebih buruk dari yang mereka cari saat ini bahkan bisa menghasilkan satu kegiatan yang lebih menjanjikan,' tutupnya.




Share:

Presiden: Tingkatkan Manajemen Pertanian untuk Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Transformasi sektor pertanian di Indonesia sulit dilakukan tanpa adanya perubahan dalam manajemen pembangunan pertanian. Kebijakan dan program pembangunan pertanian harus dijalankan mulai dari hulu hingga hilirnya agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka The 2nd Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2020 sekaligus Musyawarah Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 12 Maret 2020.

"Dari pangan lah dapat mendorong tingkat kesehatan yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan produktivitas bangsa dan negara kita. Oleh sebab itu, pekerjaan yang berkaitan dengan pangan, pertanian, itu betul-betul harus dilihat dari hulu sampai hilir. Tidak bisa kita hanya melihat hulunya, atau melihat hilirnya, atau mengurus hulunya tapi tidak mengurus hilirnya," ujarnya.

Dengan daratan yang cukup luas, Indonesia sesungguhnya masih memiliki lahan dan ruang yang amat besar bagi peningkatan sektor pertanian. Hanya saja, menurut Presiden, diperlukan kesiapan baik dari sisi infrastruktur pertanian serta edukasi dan kesediaan bibit yang tepat dan unggul.

"Inilah saya kira fungsi-fungsi HKTI dalam menyelesaikan persoalan-persoalan seperti itu," kata Presiden.

Selain itu, sektor pertanian juga harus pandai melihat peluang dan ceruk pasar yang sebenarnya cukup besar namun jarang tersentuh. Seperti misalnya pertanian khusus komoditas buah tropis yang memiliki permintaan dalam jumlah besar dari mancanegara. Demikian pula dengan rempah-rempah dan tanaman herbal yang banyak dimiliki Indonesia.


Presiden mengatakan, selama ini sektor pertanian cenderung menanam sejumlah komoditas yang tak banyak berubah sejak puluhan tahun. Dibutuhkan keberanian untuk mengupayakan hal-hal baru dengan model pengembangan yang tepat disertai dengan manajemen kualitas yang baik untuk menangkap peluang pasar yang besar.

"Apa ada yang memiliki 10 ribu hektare yang hanya ditanami buah tropis di negara kita? Permintaan yang datang ke saya misalnya manggis. Permintaan banyak tapi barangnya enggak ada. Dari Timur Tengah, Eropa, Tiongkok, tapi barangnya enggak ada," ucapnya.

Lebih jauh, perlu disadari bahwa sektor pertanian tidak akan mampu menyelesaikan masalah peningkatan produksi, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, jika masih terpaku dengan cara lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan era Industri 4.0. Kepala Negara menyebut bahwa saat ini dibutuhkan transfer kemampuan penggunaan dan penerapan teknologi bagi peningkatan pertanian.

"Saya rasa urusan yang berkaitan dengan teknologi, aplikasi, ini mulai bermunculan. Jangan biarkan lahan-lahan kosong yang tidak produktif terutama di luar Jawa itu betul-betul masih menganggur dan tidak dimanfaatkan," ujarnya.

Pemerintah sendiri memberikan dukungan yang cukup besar bagi para pelaku usaha baik mikro, kecil, dan menengah untuk mengembangkan usaha pertanian. Untuk tahun ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus sektor pertanian sebesar Rp50 triliun.

"Manfaatkan itu. Buat sebuah proposal bisnis yang baik dan menunjukkan itu sebuah pekerjaan yang dimanajemeni dengan cara-cara modern, kalkulasi yang baik, sehingga memberikan kepercayaan pada perbankan bahwa pertanian memang bisa menghidupi kita dan pertanian bisa dijadikan tumpuan bagi ekonomi negara kita," tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Moeldoko. (Arianto)






Share:

ABI Gelar Seminar Nasional dan Mini Expo “Pengendalian Pirit, Wereng Batang Cokelat, dan Layu Fusarium dengan Teknologi Organik dan Hayati”


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Arus utama pembangunan pertanian saat ini dan masa mendatang adalah berkelanjutan (sustainable) yang berarti mampu bertumbuh terus, bersahabat dengan lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial. Karena itulah dalam meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, pemerintah dan pelaku usaha harus memperhatikan dimensi keberlanjutan.

Aplikasi teknologi organik dan hayati merupakan salah satu upaya mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Pertanian yang bukan hanya untuk kepentingan saat ini tetapi juga kepentingan generasi mendatang. Pertanian yang bisa menghasilkan produk-produk bebas residu sesuai standar ekspor.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan tanaman pangan, tahun ini pemerintah mempunyai program optimalisasi lahan rawa seluas 500 ribu ha. Salah satu kendala yang dihadapi petani dalam menanam padi di lahan rawa pasang surut adalah adanya mineral pirit (FeS2). Bila mineral ini tersingkap dan bersentuhan dengan oksigen, tanah menjadi semakin masam atau pH-nya bisa anjlok di bawah 3,5. Idealnya, padi tumbuh di lahan dengan kisaran pH 5,5-6,5.

Dalam kondisi tanah yang masam, tanaman padi sulit menyerap hara. Padi kurang subur dan berwarna kekuningan. Biasanya, untuk meningkatkan pH tanah berpirit diperlukan aplikasi sekitar satu ton kapur dolomit. Namun cara ini tidak selalu mudah bagi petani. Kini dengan teknologi organik, hanya diperlukan beberapa kilogram bahan organik sebagai antipirit dan pembenah tanah.


Selain itu, petani padi di sentra produksi juga menghadapi serangan wereng batang cokelat (WBC). Secara langsung, hama ini mengisap cairan tanaman padi. Daun menguning, kering, dan akhirnya mati. Secara tidak langsung, hama ini bisa membawa virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput yang juga menyerang padi. Bahkan, pada serangan berat bisa menyebabkan puso atau gagal panen.

Untuk mengendalikan WBC, petani dapat memanfaatkan pestisida bahan kimia sintetis. Tapi kadangkala pengendalian dengan bahan kimia sintetis ini belumlah cukup. Diperlukan biopestisida untuk menekan risiko kerusakan tanaman padi karena serangan WBC. Biopestitida ini antara lain mengandung cendawan Metharizium spp. dan Beauveria bassiana yang efektif sebagai pengendali biologis WBC pada tanaman padi.

Ada lagi Fusarium oxysporum. Cendawan penyebab penyakit (patogen) ini tidak hanya menyerang tanaman pangan, tapi juga hortikultura dan perkebunan. Inang patogen ini antara lain bawang, pisang, kentang, tomat, kubis, semangka, pepaya, anggrek, cabai, ketimun, sawit, kelapa, lada, vanili, dan kapas.

Pengendalian cendawan ini dapat dilakukan dengan bahan kimia sintetis. Tapi dalam aplikasinya, petani sering kurang memperhatikan lima tepat: tepat dosis, waktu, cara, jenis, dan sasaran sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan produk-produk pertanian yang dihasilkan. Pengendalian dengan teknologi hayati seperti menggunakan bakteri antagonis dapat menekan penyakit tersebut. Di sisi lain tetap dapat mendorong pertumbuhan tanaman tersebut.

Terkait dengan hal itu, Asosiasi Bio-Agroinput Indonesia (ABI) menggelar Seminar Nasional dan Mini Expo bertema “Pengendalian Pirit, Wereng Batang Cokelat, dan Layu Fusarium dengan Teknologi Organik dan Hayati.”


Gunawan Sutio, Ketua Umum Asosiasi Bio-Agroinput Indonesia (ABI) mengatakan, Tujuan diadakan seminar ini adalah untuk mengomunikasikan dan menyosialisasikan teknologi organik dan hayati dari produksi dalam negeri dalam pengendalian pirit, wereng batang cokelat, dan layu fusarium. Selain itu juga untuk mendapatkan dukungan pemerintah dan parlemen terhadap pertumbuhan dan perkembangan produksi dan aplikasi teknologi organik dan hayati dari produksi dalam negeri. Kegiatan seminar ini juga dilengkapi dengan mini expo anggota ABI yang bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk organik dan hayati produksi dalam negeri.

Seminar menghadirkan tiga kelompok pembicara, kata Gunawan Sutio, yakni akademisi pakar ilmu tanah dan proteksi tanaman dari Fakultas Pertanian IPB Bogor, anggota Komisi IV DPR RI dan pejabat pemerintah terkait, serta petani dan Pengamat Oganisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta petani yang mempraktikkan cara pengendalian hama penyakit dengan teknologi organik dan hayati.

Menurut Gunawan Sutio, pupuk atau pestisida organik atau hayati sangat dibutuhkan saat ini. Di luar saja kebutuhan akan pupuk/pestisida organik dan hayati setiap harinya mengalami peningkatan. Indonesia pun harus mulai beralih, mengingat kondisi tanahnya sudah rusak. Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian harus memperhatikan dimensi keberlanjutan.

"Dalam pengertian mampu bertumbuh terus, ramah lingkungan, serta dapat dipertanggungjawabkan secara sosial. Melalui aplikasi teknologi organik dan hayati kita dapat mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Pertanian yang bukan hanya untuk kepentingan saat ini tetapi juga kepentingan generasi yang akan datang. Pertanian yang bisa menghasilkan produk-produk yang bebas residu sesuai dengan standar ekspor," ujar Gunawan Sutio pada Seminar Nasional dan Mini Expo “Pengendalian Pirit, Wereng Batang Cokelat, dan Layu Fusarium dengan Teknologi Organik dan Hayati” di Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Ibnu Multazam, Angota Komisi IV DPR mengungkapkan perlu dukungan untuk mengakselerasi penggunaan pupuk organik, salah satunya melalui pemberian bantuan combine harvester untuk mengembalikan jerami ke lahan. Pemerintah perlu mereformulasi komposisi pemupukan untuk meningkatkan unsur hara tanah. Pemerintah harus mendorong masyarakat melakukan pemupukan berimbang sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Selain itu, pemerintah dapat memfasilitasi, serta melakukan pendampingan dan pembinaan kepada petani untuk memproduksi pupuk organik yang baik.

"Pelaku bisnis organik dan hayati belum sebanyak kimia, tetapi untuk saat ini beberapa perusahaan pestisida/pupuk sudah mulai memproduksi organik dan hayati. Kalau yang menjadi anggota ABI, sudah ada 11 perusahaan yang memproduksi organik/hayati. Ini tentu kedepannya semakin bertambah, seiringnya perkembangan akan konsep organik dan ramah lingkungan," tutup Gunawan Sutio. (Arianto)





Share:

Ibu Negara Iriana Joko Widodo Tanam Mangrove di Pandeglang


Duta Nusantara Merdeka | Pandeglang
Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla dan para anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK) hari Senin, 11 Maret 2019, melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Banten. Adapun agenda kunjungan kerja kali ini adalah melaksanakan penanaman mangrove di Pantai PLTU Labuhan, Kabupaten Pandeglang.

Hujan mengguyur lokasi acara saat Ibu Negara dan rombongan tiba sekira pukul 10.10 WIB. Namun, hujan tidak menyurutkan semangat Ibu Negara. Di tengah guyuran hujan, Ibu Iriana yang mengenakan jas hujan warna hijau toska, melakukan penanaman mangrove di tepi pantai.

"Hujan ini tidak mengurangi semangat dari kita semua para ibu-ibu, ada Ibu Menteri, Ibu OASE, Ibu-ibu dari Indonesia Power, Ibu Gubernur, dan Ibu Bupati semua yang hadir disini," ujar Ibu Iriana.

Pada kesempatan itu Ibu Negara menanam pohon bakau atau _Rhizophora mucronata_ dan pohon pulai atau _Alstonia scholaris_. Penanaman magrove ini ditargetkan mencapai sejuta pohon sebagai upaya meminimalisasi dampak gelombang tinggi di kawasan pesisir pantai di Tanah Air.


Selain di Pantai PLTU Labuhan Kabupaten Pandeglang, pada saat bersamaan juga dilakukan penanaman mangrove di sembilan lokasi lainnya. Melalui _video conference_, Ibu Iriana pun menyapa para peserta penanaman mangrove tersebut.

"Ini semua ada total 53 ribu pohon mangrove serentak ditanam hari ini juga," ujar Ibu Negara.

Adapun sepuluh lokasi yang ditanami mangrove ini adalah di kawasan pantai Kabupaten Langkat Sumatra Utara, Kecamatan Pasir Saleti Lampung Timur, Lemah Wungkuk Cirebon Jawa Barat, Sawo Jajar Brebes Jawa Tengah, Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, Pohuwato Gorontalo, Donggala Sulawesi Tengah, Pantai Cereme Nusa Tenggara Barat, Teluk Ambon Maluku, dan Pandeglang Banten.

Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan, dari sepuluh provinsi, Pandeglang menjadi percontohan. Menurutnya, alasan dipilihnya mangrove adalah karena bisa menahan ombak yang sangat tinggi dan berpotensi tsunami hingga 88 persen.

"Apabila terjadi lagi bencana di kemudian hari kita sudah menyiapkan mitigasi bencana dan meminimalisasi korban yang berjatuhan," ungkap Ibu Iriana.

Turut mendampingi Ibu Iriana dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla dalam acara ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.(Arianto)


Share:

Presiden Jokowi Gelar Silaturahmi dengan Petani Tebu


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Presiden Joko Widodo menggelar silaturahmi dengan ratusan petani tebu yang hadir mewakili sejumlah provinsi di Indonesia. Pertemuan tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, hari Rabu, 6 Februari 2019.

Pertemuan tersebut dimanfaatkan Presiden untuk lebih banyak mendengar sejumlah masukan, baik berupa kendala maupun usulan dari para petani tebu di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Negara mendapatkan saran pengembangan yang memang dibutuhkan untuk dapat mengetahui lebih banyak soal proses produksi para petani.

"Kalau bicara dengan pelaku-pelaku saya lebih cepat paham dan langsung ditindaklanjuti," ungkap Presiden.


Terkait hal itu, Mulyadi, petani tebu asal Jawa Barat menyarankan kepada Presiden untuk merevitalisasi pabrik-pabrik gula milik BUMN. Ia menyebut bahwa di Jawa Barat terdapat tiga pabrik yang usianya sudah ratusan tahun.

"Rata-rata umurnya sudah ratusan tahun sehingga perlu diperbaiki. Harapan kami bisa dilakukan revitalisasi di Jawa Barat," ucapnya.

Kepala Negara sangat menyambut baik saran-saran yang diberikan kepadanya. Dirinya mengatakan akan menindaklanjuti usulan-usulan tersebut dengan terlebih dahulu membicarakannya kepada pihak-pihak terkait termasuk kepada perwakilan para petani tebu tersebut.

                                                                Reporter : Arianto
Share:

Presiden Jokowi Apresiasi Peran Penting Penyuluh Pertanian



Duta Nusantara Merdeka | Semarang
Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan ribuan penyuluh pertanian yang berkumpul di GOR Jatidiri, Karangrejo, Kota Semarang, hari Minggu, 3 Februari 2019.

Keberadaan para penyuluh pertanian tersebut, menurut Presiden, sangat penting untuk membantu para petani meningkatkan hasil pertanian. Dalam kurun waktu 2014 hingga 2018 misalnya, produktivitas komoditas jagung meningkat yang ditandai dengan penurunan angka impor jagung dari 3,6 juta ton menjadi hanya 180 ribu ton saja.

"Saya lihat angkanya (2014) 3,6 juta ton. Tahun kemarin impor jagung kita 180.000 ton. Artinya kita sudah mengurangi hampir 3,4 juta ton impor jagung dari luar negeri. Itu keberhasilan bapak, ibu, dan saudara-saudara sekalian dalam memperbaiki produksi," ujarnya.

Meski demikian, Kepala Negara mengatakan bahwa pemerintah dan seluruh elemen terkait lainnya masih memiliki banyak pekerjaan di bidang pertanian. Persoalan pola tanam merupakan salah satu hal yang harus diberikan perhatian lebih.

"Produksi melimpah tapi tidak diatur tata waktunya yang terjadi adalah harga yang anjlok. Hati-hati. Pengaturan-pengaturan seperti itu perlu dilakukan," ujar Presiden.

Persoalan seperti itu misalnya terjadi pada komoditas cabai yang beberapa kali mengalami suplai berlebihan. Akibatnya, harga cabai beranjak naik.

"Komunikasi di antara kita di seluruh Tanah Air ini perlu. Jangan sampai produksi melimpah harga jatuh sehingga petani dirugikan," tuturnya.

Salah satu solusi yang saat ini sedang dikerjakan pemerintah ialah mendorong industri pertanian untuk melakukan hilirisasi produk-produk pertanian. Melalui hilirisasi, para pelaku agrobisnis akan mendapatkan nilai tambah dan jaminan pasar yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan para petani itu sendiri.

"Hilirisasi produk-produk pertanian ini memang harus dan inilah yang sedang kita siapkan," tutup Kepala Negara.

Turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.


                                                            Reporter : Arianto
Share:

Wajib Tanam Bawang Putih Ternyata Menguntungkan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Kebijakan pemerintah mewajibkan importir bawang putih memproduksi 5% dari volume pengajuan rekomendasi impor ternyata menguntungkan petani dan importir sendiri. Bahkan saat ini mulai tumbuh menjamur sentra-sentra bawang putih yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Hal ini terungkap dalam Rapat Evaluasi Wajib Tanam dan Sosialisasi Petunjuk Teknis Penanaman Bawang Putih di Semarang, hari Selasa,18 Desember 2018. Rapat ini dipimpin Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi.

Suwandi mengungkapkan kebijakan wajib tanam bawang putih sebenarnya menguntungkan semua pihak. Kondisi ini harus didukung dengan benih yang benar-benar berkualitas dan penanaman dilakukan secara serius.

Jika ini dipenuhi atau dilaksanakan, sambungnya, bawang putih akan memberikan keuntungan yang lumayan besar. Hasil panennya baik untuk dijual sebagai konsumsi, lebih-lebih jika dijual dalam bentuk benih.

“Asal benihnya benar, dirawat baik-baik, hasilnya ada yang bisa mencapai 16 ton per hektar. Sementara biaya produksi sekitar Rp 8.000 per kilogram. Kalau dijual kering askip harganya Rp 18.000 per kilogram, kalau sudah jadi benih bisa Rp 40.000 per kilogram bahkan lebih," ungkap Suwandi.

Oleh karena itu, Suwandi menegaskan keliru kalau menganggap program ini merugikan. Praktik riilnya importir bisa bekerjasama dengan kelompok tani yang bagi hasilnya disepakati bersama." Jadi dua-duanya untung. Ini kesempatan importir untuk bersama-sama memuliakan petani," tegasnya.


Target Swasembada

Suwandi mengatakan sesuai arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Direktorat Jenderal Hortikuktira Kementan akan terus berupaya mengejar target swasembada bawang putih 2021 dan 2019 ditargetkan sudah swasembada benih. 

Importir penerima Rekomendasi Impor Produk Hortikuktura (RIPH) 2017 diberi tenggat waktu sampai 31 Desember 2018 untuk menyelesaikan tanamnya. Ini mengacu rekomendasi Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI tanggal 25 April 2018.

"Kami tentu akan komitmen menjalankan amanat tersebut. Silahkan masih ada waktu beberapa hari untuk menyelesaikan. Bagi yang telah menyelesaikan kewajibannya, kami akan beri reward pada pengajuan RIPH 2019 nanti. Bagi yang tidak memenuhi, pasti kita akan evaluasi nanti setelah tanggal batas tersebut," ujarnya.

Perlu diketahui, rapat ini dihadiri ratusan importir bawang putih yang mendapatkan RIPH dari Kementerian Pertanian mengikuti pertemuan tersebut. Turut hadir Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, Satgas Pangan Bareskrim Polri, Wakil Deputi 4 BIN hingga Dinas Pertanian sentra bawang putih seluruh Indonesia. Pertemuan digelar untuk mengevaluasi pelaksanaan wajib tanam bawang putih oleh importir sekaligus sosialisasi perubahan ketentuan pelaksanaan penanaman bawang putih.

Inspektur Jenderal Kementan, Justan Riduan Siahaan, mengaku sudah membuktikan sendiri bahwa pola kemitraan antara pelaku usaha dengan petani bisa berjalan baik. Salah satu buktinya di Humbang Hasundutan Sumatera Utara, dengan menyisihkan seribu perak per kilo dari keuntungan usaha impor bawang putih, cukup untuk modal usaha tanam termasuk membayar tenaga kerja.

"Untungnya dibagi antara petani atau pemilik lahan dengan importir. Ternyata jalan kok. Sudah saatnya importir turut peduli mensejahterakan petani," ujar Justan.

Sementara itu, Kepala Subbagian Satuan Tugas (Satgas) Ketersediaan Pangan Mabes Polri Kombes Pol Anton Sasono mengingatkan agar kebijakan wajib tanam bawang putih dapat dilaksanakan tanpa mengganggu stabilitas pasokan dan harga bahan pangan.

"Kami akan tegas kepada siapapun yang mencoba mengganggu ketersediaan pangan. Karena ini sangat sensitif," tegas dia.

                                                                 Reporter : Arianto
Share:

IKLAN MURAH

SUSU KURMA AULIA

SUSU KURMA AULIA
Pesan Silahkan Klik Gambar

BREAKING NEWS

~||~ Wabah Virus Corona (Covid-19) Semakin Meningkat, Warga Diharapkan Untuk Tetap Di Rumah ~||~ Aktifitas Di Luar Rumah Wajib Gunakan Masker Dan Patuhi Protokol Kesehatan ~||~ #DIRUMAHSAJA ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno ~ Karakter Bangsa

KILAS BALIK BUNG KARNO KARAKTER  BANGSA Soekarno ketika pidato kata sambutan setelah menerima ijazah gelar Insinyur dari I...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI

loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Follow by Email

Label

#2019GantiPresiden Accounting Aceh Adat Istiadat Advokat Agama Agraria AIDS Aksi Album Anak Artikel Asahan Asian Games Asuransi Asusila Award Bakti Sosial Bandara Banjir BANK Bapenas Bappenas Basarnas Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar Beasiswa Begal Bekraf Belanja Bencana Bencana Alam Berita Bhayangkara Bhayangkari Bisnis BNI BNN BPJS Buka lapak Bukit Asam Buku Bung Karno Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Capital market Cerpen Citilink conference Covid-19 Covid19 Cuaca Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Desa Dialog Digital Dirgahayu HUT RI Diskusi Duka Cita E-Money Ekonom Ekonomi Electronics Entertainment Es cream event Fashion Festival Film Film Horor Film seri Anak Fintech Forum Furniture G30S/PKI Games Gebyar Kemerdekaan Geng Motor Go Pay Go-Jek Gojek Gotong Royong Grab Gym ham Harbolnas Hewan Hiburan HIV Hoax Hotel Hp Hukum Humbahas HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek Industri Informasi Infrastruktur Internasional Internet Investor IPM Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Jokowi Jurnalis Kaliber Kampanye Kamtibmas Karaoke Karhutla KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kekerasan Keluarga Kemanusiaan Kemendikbud Kemenhub KEMENPAN-RB Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Kilas Balik Bung Karno kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Koperasi Kopi Korupsi Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal Kuliner Kutai Kartanegara Lakalantas Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku Legislatif LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup Listrik lomba lari LPS Mahasiswa Mainan anak Majalengka Makanan Jepang Mall Market Outlook Masjid Masker Mata Uang millenial Minuman Keras Minuman sehat Miras Mobil MOI Motivasi MPR Mudik Muhammadiyah Muharram Munas Musik Narkoba Narkotika Nasional Natal New Normal NKRI NU Office Olah Raga Olahraga Opini Organisasi Otomotif P Pagelaran Pahlawan Pameran Parawisata Pariwisata Partai Politik Pasar Pasar modal Patroli PC pe Pegadaian Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Peluncuran Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencurian Pendataan Pendidikan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengajian Pengamanan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perikanan Peristiwa Perjudian Perkawinan Perpajakan Pers Pertamina Pertanian PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pinjam meminjam uang Polantas Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Pornografi Pra Kerja Pramuka Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik promo Property Prostitusi Public Expose Publik expose Puisi Pusat Perbelanjaan PWI Ragam Ramadhan Reksadana Relawan Jokowi Remisi Renungan resa Restoran Reward Robot Rumah Rumah sakit Rups RUU Saber Pungli Sahabat Anak Salon Samosir Sanitasi air.Lingkungan hidup Satlantas Satwa Sejarah Sekolah Sembako Seminar Senjata Sepak Bola Sepeda sehat Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Silaturahim Silaturrahim Smartphone Soekarno Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Suku bunga Sumatera Barat Sumatera Utara Sumut Superstore Suplemen Surat Terbuka Survei Survey susu Syariah Syawal Talkshow Tawuran Teknologi Terorisme Tiket Tips TNI TNI AU TNI-Polri Tokoh Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Palsu Ujaran Kebencian UKM umkm Undang-Undang UNIMED Universitas Unjuk Rasa UU Cipta Kerja UUD 1945 Valentine Day Virus Corona Walikota Wanita Wartawan Wirausaha Workshop

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

VIRUS COVID-19

Wabah Virus Corona (Covid-19) Sudah Menyerang Indonesia, Setiap Hari Korban Semakin Bertambah Sampai ada yang Meninggal, Rakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Bagai Tersambar Petir Mendengar Virus Corona.

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA

PRO KONTRA RUU HIP

~> RUU HIP saat ini sedang Hangat Dipersoalkan, Karena Banyak Pihak yang telah Menolaknya, Baik dari Kalangan Ormas Hingga Partai Politik, Sehingga Terjadi Pro Dan Kontra.

<~ Memang Sebaiknya Persoalan Pancasila Tidak Usah Diganggu Gugat, Karna itu merupakan Landasan Dasar Dalam Berdirinya Negara Indonesia, Sudah Final Masalah Pancasila.

Link Terkait

close
Banner iklan disini