Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Kornas TRC PPA Menilai PN Samarinda Lambat Menangani Kasus Kematian Balita

Naumi Supriadi ~ Ketua Kornas TRC PPA


Duta Nusantara Merdeka | Kalimantan Timur
Kasus kematian balita Ahmad Yusuf Gazali (4), kembali hangat diperbincangkan. Koordinator Nasional (Kornas) Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Naumi Supriadi menyebut kasus tak hanya murni kelalaian.

Di beberapa kesempatan bahkan Naumi menuding sejumlah pihak yang terkesan lamban. Dan terkesan menutup-nutupi fakta di dalam pengungkapan penyebab kematian anak berusia empat tahun tersebut.

Disway Kaltim berkesempatan mewawancarai secara langsung wanita berusia 48 tahun tersebut. Terkait tudingan yang ia tujukan kepada jajaran kepolisian maupun Pengadilan Negeri (PN) Samarinda.

Ditemui di lobi Hotel Bumi Senyiur Jalan Pangeran Diponegoro, Samarinda Kota Minggu (19/7/2020) malam. Naumi yang mengenakan pakaian serba hitam didampingi sejumlah rekanannya yang tergabung di TRC PPA.

Di awal perbincangan Naumi mengungkapkan kekecewaannya atas tertundanya persidangan dengan agenda putusan yang berlangsung di PN Samarinda, Kamis (16/7/2020) lalu.

Saat itu, sidang terpaksa ditunda oleh majelis hakim yang dipimpin Agung Sulistiyono didampingi Budi Santoso dan Hasrawati Yunus. Lantaran ketiganya belum bermusyawarah. Terkait putusan yang akan dijatuhkan kepada kedua terdakwa, Marlina dan Tri Suprana Yanti.

Atas alasan itu, sidang putusan ditunda. Dan akan berlangsung Senin (20/7/2020) hari ini. Hal yang menjadi kekecewaannya adalah, karena persidangan kerap kali mengalami penundaan. Terhitung sudah lima kali tertunda. Di antaranya dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi, tuntutan hingga putusan.

Penundaan pun disebut Naumi tanpa kejelasan. Pihak keluarga maupun hadirin yang hendak menyaksikan sidang, harus dibuat menunggu hingga seharian. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya bahwa sidang akan berujung ditunda.

“Kan beliau-beliau itu sendiri yang menentukan jadwal sidang. Kalau memang ditunda harusnya bicara dari awal. Apalagi alasannya belum rembukan,”

“Apakah baru tahu itu saat sore. Ini kita datang dari pagi loh. Baru dikasih tahunya pukul 16.00 Wita. Kalau memang belum rembukan beri tahu dari pagi. Bahwa sidang tunda. Itu lebih masuk akal,” ungkapnya.

Naumi lantas menyebut PN Samarinda tak serius menangani kasus hukum yang melibatkan seorang anak. Hal itu karena majelis hakim terkesan mengikuti suasana hati, apabila hendak melangsungkan persidangan.

“Kenapa saya bilang tidak terlalu serius, itu ditambah lagi dari sidang-sidang sebelumnya. Ya kalau orang bilang, seenak-enak jidatnya gitu loh. Ngikutin moodnya. Kalau mau sidang, ya sidang. Kalau begini caranya, kami juga bisa melaporkan ke Badan Pengawas Pengadilan di Pusat,” ucapnya.

Dinilai Banyak Kejanggalan Dalam kesempatan itu pula, ia mengungkapkan akan berencana untuk mengajukan banding hingga ke Mahkamah Agung. Dalam hal ini, TRC PPA akan berkoodinasi lebih dahulu dengan pihak Kejaksaan Negeri Samarinda.

Alasan mengambil jalan banding, kata Naumi, dikarenakan pihak keluarga korban tidak percaya dengan fakta persidangan. Yang dianggap masih kontras. Ada sejumlah keterangan yang tak seirama dari sejumlah saksi yang dihadirkan.

“Memutuskan bandingkan dibolehkan, dan mereka punya hak kok. Terkait dengan banding ini, TRC PPA akan berkoordinasi dengan Kejari,”

“TRC PPA beserta kuasa hukum akan berkonsultasi dan bekerjasama dengan Jaksa Penuntut Umum. Karena yang punya domain untuk melakukan banding adalah jaksa. Karena kami berada di pihak korban. Yang diwakili dengan pengacara milik negara yaitu adalah JPU,” sebutnya.

Salah satu contoh kejanggalan yang terdapat di dalam fakta persidangan, yakni ketika saksi Nur Hidayati dihadirkan untuk menyampaikan keterangan.

Disebutkan bahwa Nur Hidayati adalah selaku pengasuh yang menerima Yusuf saat diantarkan oleh ayahnya, sebelum akhirnya dinyatakan menghilang.

Ketika saksi ditanya majelis hakim, perihal apakah mengenal dengan kedua pengasuh yang ditetapkan jadi tersangka, Nurhidayati justru mengaku tidak tahu namanya. “Ini sungguh aneh. Mereka di bawah satu naungan tapi tak saling mengenal nama. Kenapa bisa begitu,” terangnya.

Selain itu, alasan banding juga dilandasi oleh ketidakpuasan pihak keluarga. Yang menganggap tidak ada pengembangan di dalam mengungkapkan kasus kematian mendiang Yusuf.

“Kasus ini hanya terfokus pada kasus kelalaian ini saja. Sedangkan sebab kematiannya tidak diungkapkan. Atas dasar itu maka mengajukan banding,” tegasnya.

Tudingan juga dialamatkan pada kinerja aparat kepolisian setempat. Naumi menyebut penangangan kasus sangatlah lamban. Polisi setempat dianggap baru kembali melangsungkan pengungkapan kasus ketika tim Labfor Mabes Polri turun setelah viralnya kasus tersebut.

Ia lalu membandingkan penanganan antara jajaran kepolisian di Polresta Samarinda dengan Polda Bali. Dalam hal ini, perbandingan yang dimaksud ialah terkait pengungkapan kasus kematian anak perempuan bernama Angelina di Bali.
Polresta Samarinda dibantu Labfor Mabes Polri, disebutnya baru melangsungkan otopsi setelah tiga bulan jasad Yusuf ditemukan dan dimakamkan.

Berbeda dengan Polda Bali. Yang justru berhasil mengungkap teka-teki kematian Angelina dalam waktu satu bulan. Dengan berhasil mengungkap bahwa anak perempuan tersebut dibunuh oleh ibu angkatnya bernama Margareth.

“Kasus Angelina, itu satu bulan sudah beres semua dan terungkap. Dalam waktu tiga minggu, sudah ditahan tuh Margaret (ibu angkat Angelina). Labfor turun setelah tiga bulan kasus ini berjalan. Itupun setelah TRC PPA Korwil Kaltim yang mengirimkan permintaan,” jelasnya.

Menurutnya, kepolisian yang menangani kasus ini tak harus gerah dengan pernyataannya. “Mestinya sebenarnya tidak perlu gerah. Mari sama-sama kita instrospeksi diri. Betul kah lambat. Atau ada kendala lain. Tidak usah marah, saya bisa pertanggungjawabkan (pernyataan). Kenapa, karena saya mendampingi kasus Angelina tidak seperti ini,” cetusnya.

“Kalau Angelina itu, hilang, nggak jelas hilangnya di mana. Walaupun ternyata ada drama di sana. Nah, kasus ini kan, Yusuf habis dititipkan di PAUD dan hilang. Terus yang disuruh tanggung jawab siapa, masa tetangga ?,” selorohnya.

Lanjut Naumi, polisi memang telah menetapkan dua pengasuh dengan Pasal 359 KUHP terkait unsur kelalaiannya. Namun yang belum terungkap adalah penyebab kematian yang ditemukan tanpa kondisi tubuh yang tak lengkap. Ia menduga bahwa kematian Yusuf tidak murni akibat unsur kelalaian.

“Nah, hilangnya ini kenapa, harusnya diungkapkan. Kenapa bisa tiba-tiba ditemukan tak bernyawa. Kematian ini yang dikatakan tidak ada unsur kekerasan, tapi kok lepas kepalanya. Ususnya tidak ada. Dan diiusukan dimakan binatang. Yang mana mau dibilang cepat penanganannya polisi di sini ? Ini (sudah) tiga bulan loh,” celetuknya.

Naumi merincikan beberapa poin yang dianggap adanya kejanggalan dalam pengungkapan kasus. Yakni pada saat rekonstruksi olah TKP, pihak keluarga tidak mendapatkan kabar maupun dihadirkan dalam agenda tersebut tanpa alasan yang jelas.

Kemudian saat ditemukan diduga barang bukti berupa kain yang terdapat noda bewarna cokelat kemerahan seperti darah. “Itu tidak ada diproses sesuai semestinya. Ditemukan noda coklat kemerahan di sebuah pakaian. Memang dijelaskan alasannya kenapa tidak diproses. Hanya saja bagi keluarga itu rancu tidak jelas. Itupun setelah ditanya pihak keluarga berkali-kali,” jelasnya.

Jawaban dari kepolisian yang dimaksud rancu adalah, noda yang awalnya diduga darah tersebut disebut bercak bekas tumpahan cat. Namun belakangan keterangan itu berubah. Noda tersebut justru disebut adalah bekas karatan besi yang menempel.

“Setelah dikonfirmasi lagi. Itu katanya noda karat. Dan dua jawaban itu tidak melalui proses pemeriksaan uji forensik. Harusnya itu benar-benar dibuktikan bahwa memang noda karat dan bukan noda darah. Setidaknya itu bisa menjawab dugaan pihak keluarga,” ujarnya.

Selain itu, selama proses penyelidikan berjalan. Diketahui ditemukannya jasad berjarak sekitar 3 kilometer dari PAUD. Alur drainase yang diduga Yusuf terseret arus memang sempat ditelusuri relawan maupun kepolisian.

Namun faktanya, aliran tersebut justru buntu dan mengalami pendangkalan. Yang dianggap tak mungkin jasad Yusuf dapat terbawa arus sejauh itu.

“Di sana ditemukan jaring, diduga jasad Yusuf bisa melewati rongga jaring sepanjang 30 sentimeter itu. Oke tak masalah. Tapi selepas itu jalur air hingga ke anak sungai ditemukan Yusuf. Itu TRC PPA di sini sudah mengecek, menemukan ada aliran yang dangkal dan buntu. Dan pihak kepolisian tidak pernah mengembangkan menyelidiki lebih lanjut terkait itu. Bahwa kasus ini tidak murni masalah kelalaian,” terangnya.  

Setelah Yusuf dinyatakan hilang misterius, pihak keluarga awalnya juga telah meminta kepolisian untuk menurunkan anjing pelacak. “Tapi jawabannya pada saat itu, anjingnya sakit. Yang ada tinggal anjing pelacak narkoba. Seharusnya bisa saja saat itu, anjing pelacak dari Polda Kaltim langsung didatangkan. Tapi datangnya itu setelah tiga bulan setelahnya,”

Kejanggalan lagi-lagi disampaikan Naumi. Yakni pasca jasad ditemukan dan dimakamkan. Diketahui, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arief Budiman menyambangi kediaman Yusuf untuk menyampaikan duka cita.

Dalam kesempatan itu, disampaikan Kapolresta Samarinda, bahwa dugaan awal Yusuf ditemukan tak bernyawa disebabkan terseret arus di drainase ketika banjir melanda.

Dalam kesempatan itu juga, disebutnya bahwa Arief Budiman mengatakan kepada orang tua mendiang Yusuf, bahwa kasus akan ditangani oleh jajarannya di Polresta Samarinda.

Namun setelah tiga pekan kemudian tidak ada tanda-tanda dilanjutkan penyelidikan yang dimaksud. “Pihak keluarga langsung bertanya kepada kapolres, jawabannya bahwa kasus ini tidak mau dilepas oleh pihak Polsek. Ini kan aneh. Karena kalau bicara otoritas, Polresta Samarinda berhak mengambil alih kasus seharusnya. Dan selama jeda waktu itu, tidak ada kabar perkembangan kasus, tidak dijelaskan alasannya apa,” ungkapnya.

Penanganan lebih lanjut dari kepolisian baru berlangsung setelah tiga bulan pasca jasad Yusuf ditemukan. Itupun ketika TRC PPA Korwil Kaltim berkirim surat ke Mabes Polri. Meminta untuk dilakukan otopsi.

“Tapi baru berlangsung setelah kasus ini viral. Saat orang tua korban bertemu dengan Hotman Paris. Setelah itu baru semuanya sibuk turun.  Kenapa harus tunggu viral,” imbuhnya.

Di hari yang sama dilakukan otopsi pada jenazah balita Yusuf. Polisi kemudian menurunkan anjing pelacak dari Polda Kaltim. Namun lagi-lagi yang membuat ganjal adalah, kata Naumi, kepolisian melakukan pelacakan sebanyak dua kali. Pelacakan pertama sebagai uji coba. Pihak kepolisian tak memanggil orang tua Yusuf.

“Ada hal yang di luar kebiasaan. Yang namanya anjing melacak tidak ada namanya uji coba dulu. Saat otopsi berlangsung pada pagi. Bersamaan itulah ternyata polisi uji coba dahulu melacak. Saat sore pelacakan kedua, baru wartawan dipanggil semua. Ada apa ?,”  tanyanya.

“Yang perlu dicatat. Saat itu kasus berlangsung sudah tiga bulan. Kalau mau bicara jejak, di luar ruangan dengan di dalam ruangan, yang mana cepat hilang ? Jelas yang di luar ruangan. Karena ada panas hujan dan orang lalu lalang. Apakah benar masih bisa mengendus jejak?,” pungkasnya.

Bantah Tak Serius, Satu Kasus Ditenggat 5 Bulan.

Menanggapi tudingan yang disampaikan Naumi, PN Samarinda membantah tak serius menangani proses peradilan hukum. Apapun itu kasusnya.

Hal itu disampaikan langsung Humas PN Samarinda Abdul Rahman ketika dikonfirmasi Disway Kaltim, Minggu (19/7/2020) siang.

Rahman, sapaan karibnya, membenarkan bahwa sidang tuntutan terpaksa ditunda lantaran majelis hakim belum bermusyawarah.

“Jadi tidak benar lamban dan tak serius menangani hukum. Penundaan ini sangat terpaksa ditunda karena majelis hakim murni belum bermusyawarah,” ungkapnya.
Dijelaskannya, terkait penundaan suatu persidangan hanya bisa diputuskan oleh majelis hakim pada saat persidangan berlangsung. Para hakim pada dasarnya memiliki jadwal sidang masing-masing yang harus ditangani setiap harinya.

“Penundaan persidangan itu ditentukan oleh majelis hakim. Jadi seperti agenda putusan kemarin. Memang pasti para pihak hadir mulai pagi. Apabila perkaranya memang belum siap ya tetap disampaikan dalam persidangan oleh majelis hakim,” jelasnya.

“Hakim ini kan digabungkan di dalam majelis. Dan mereka ada jadwal sidang lainnya. Karena kesibukan ini kemungkinan majelis hakim belum bisa rembukan. Karena mereka ada sidang masing-masing, ya mungkin baru ketemu atau rembuk kalau sudah lengkap anggota majelis hakimnya,” sambungnya.

Majelis hakim yang belum bermusyawarah dianggap wajar terjadi. Lantaran banyaknya sidang yang harus ditangani. “Tim hakim anggota sibuk dengan majelisnya masing-masing. Sangat wajar, karena seperti berkas tidak lengkap dan baru diketahui di dalam persidangan, kan itu baru bisa diputuskan kalau ditunda di dalam sidang,” imbuhnya.

Disampaikan Rahman, waktu proses persidangan telah diatur oleh undang-undang. Dalam hal ini, setiap majelis hakim diberikan tenggat waktu 5 bulan, untuk menyelesaikan suatu perkara.

Sementara dalam kasus ini baru berjalan tiga bulan. Ia pun membantah bahwa majelis hakim di PN Samarinda terkesan lamban lantaran belum masuk tenggat waktunya.

Terkait musyawarah majelis hakim tidak boleh diintervensi. Dan hakim diberikan hak waktu untuk memutuskan sesuatu perkara.

“Kalau dibilang lamban, ya tidak. Jadi begini, majelis hakim dapat memutuskan sampai pada masa penahanan habis. Majelis hakim harus melakukan pemeriksaan keterangan, seusai dengan tahapan perkara. Dan sebelum masa penahanan habis dalam hal ini harus sudah diputuskan. Masa penahanan itu selama 5 bulan, sejak berkas diterima Pengadilan Negeri,”

“Jadi memang harus hati-hati tidak boleh pembelaan langsung diputuskan oleh majelis hakim. Termasuk dalam hal ini musyawarah majelis hakim ada pertimbangan yang harus diambil dan diputuskan. Ada haknya hakim disitu, untuk bermusyawarah dahulu,” pungkasnya.

Polisi Tak Ambil Pusing

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Ulu Ipda M Ridwan yang menangani kasus Yusuf, turut menyampaikan tanggapannya terkait pernyataan yang dilontarkan Naumi.
Kepada Disway Kaltim, Ridwan mengatakan pihaknya telah menangani kasus tersebut sesuai prosedur, dan telah menetapkan tersangka dan pemberkasannya, saat ini pun kasusnya masih berproses di persidangan.

“Yang dia katakan itu semua adalah opini-opini pribadi dia yang tidak mendasar. Kami sudah menangani sesuai prosedur. Jadi apalagi ?,” ungkapnya.

“Kasih tau ke Naumi, polisi tidak punya urusan dengan TRC PPA. Penyidikan tidak ada urusannya dengan dia. Dia bukan ahlinya,” sambungnya.

Terkait pernyataan Naumi yang menyebut polisi tak memproses sejumlah temuan dalam proses penyidikan. Juga terkesan lamban dalam mengungkap kasus, Ridwan mengaku tak ingin ambil pusing. Menurutnya yang disampaikan Naumi hanyalah opini yang tak mendasar.

“Kalau seperti itu bahasanya, tolong harus ada dasarnya. Jangan opini-opini yang dimunculkan. Boleh berstatment tetapi harus ada dasarnya. Kalau ada pembuktian ya disampaikan buktinya apa kesaksiannya apa,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Ridwan turut menjawab terkait temuan noda pada pakaian yang ditemukan jajarannya adalah murni karat dari seng.

“Makanya dasarnya dia bisa mengatakan itu darah, darahnya siapa? Bisa mengatakan itu darah, dari mana dasarnya. Soal kain bernoda itukan saya yang temukan di atas seng turun kebawah. Dan itu karatan bekas seng,” tegasnya.

“Tanya ke Naumi, waktu itu dia lihat tidak darah itu. Jangan karena laporan anggotanya saja, jadi berstatment tidak mendasar. Kalau mau lebih jelas, tanya lebih lanjut ke Polresta Samarinda. Kami bisa jawab setiap poin yang dianggap mereka janggal,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, balita Yusuf dikabarkan menghilang secara misterius di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jannatul Athfal di Jalan Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda Ulu pada Jumat (22/11/2019) silam. Hilangnya Balita Yusuf kala itu, memang menjadi perhatian sebagian besar warga Samarinda.

Pasalnya, selain penuh teka-teki, Yusuf dinyatakan hilang di lokasi tempat mendiang menempuh pendidikan dan dititipkan. Yang tentunya, menambah kekhawatiran sebagian besar kalangan para orang tua saat itu. Sejumlah dugaan pun sempat bermunculan terkait hilangnya Yusuf.

Hingga dua pekan lamanya, jasadnya berhasil ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Kepolisian menyimpulkan penyebab kematian Yusuf diduga akibat terjatuh dari drainase di dekat lingkungan PAUD dan terseret arus banjir yang kala itu tengah melanda Kota Tepian.

Dalam berjalanannya kasus kematian Yusuf, polisi menetapkan dua pengasuh PAUD Jannatul Athfal sebagai tersangka atas unsur kelalaian. Marlina dan Tri Supramayanti dianggap yang paling bertanggungjawab atas hilangnya nyawa balita Yusuf.

Sejak Mei 2020 lalu, perkara dengan unsur kelalaian itupun dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Samarinda. Dalam berjalannya persidangan, kedua terdakwa inipun dituntut pidana empat tahun kurungan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dijerat dengan pasal 359 KUHP.

Keduanya dianggap terbukti lalai saat bertugas menjaga Yusuf. Terkait putusan hukum yang akan dijalani keduanya, baru akan ditentukan oleh majelis hakim dalam persidangan yang akan berlangsung pada Senin (20/7/2020) hari ini di PN Samarinda.
Share:

Melalui Anwar Bakti Institut Rizkinta Sitepu Menanamkan Penguatan Rasa Cinta Tanah Air Kepada Anak Anak Saat Pandemi Covid 19


Duta Nusantara Merdeka | Kota Medan 
Rizkinta Sitepu Ketua Aliansi Pemuda Indonesia Medan melakukan penguatan rasa cinta tanah air Indonesia kepada anak anak murid Anwar Bakti Institut di Jalan Bambu Kota Medan, Sumut

Disaat pandemi Covid 19 (Virus Corona) anwar bakti Institut membuka rumah belajar bagi anak anak yang libur sekolah.

Anwar Bakti Institut merupakan sekolah program berdaya saing, pelopor ummat, dan sebagai penerus program dari Almarhum Anwar Bakti (Tokoh Masyarakat Peduli Anak Jalanan dan Peduli Masjid) demi untuk tetap terus memajukan Ummat. Anwar bakti Institut dipelopori oleh Dewata Sakti yang merupakan Anak Kandung dari Anwar Bakti.

Rizkinta Sitepu Ketua API Kota Medan menyadari akan kondisi sekarang ini bahwa generasi muda lebih mengarah kepada perkembangan zaman yang esensinya negatif atau Norma kesopanan sudah tidak berguna lagi pada zaman sekarang dan juga sudah malas belajar tentang sejarah demgan fokus kepada teknologi yang dimainkan sehingga generasi muda sekarang buta akan sejarah dan sikap patriotisme atau pun cinta tanah air kepada negara. Seperti para pemain tik tok atau aplikasi lainnya yang terbuai akan kesesatan, memamerkan tubuh demi ketenaran semata sehingga meningkatkan nafsu lawan jenis untuk melakukan hal yang tidak senonoh sehingga lanjut berhubungan intim.



Rizkinta Sitepu juga menambahkan bahwa Hal yang seperti ini faktor penyebabnya merupakan kurangnya penanaman atau penguatan rasa cinta tanah air dan penguatan nilai agama serta norma kepada generasi muda zaman sekarang Ini.

Rasa Cinta Tanah Air harus ditanamkan sejak dini karena mereka lah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa kedepan, Jika sejak dini saja nilai dan rasa itu ditanam maka yakinlah cita cita Indonesia menuju generasi emas 2045 akan terwujud

Hal yang dilakukan oleh Dewata Sakti untuk membuat program ini sangat positif karena dapat mengedukasi anak anak sejak dini atau generasi kedepan akan penguatan rasa cinta tanah air, penguatan keagamaan dan norma kesopanan kepada generasi bangsa kedepan khususnya di kota medan dan pada umumnya di seluruh Indonesia apalagi mewabahnya Covid 19 membuat anak anak tidak sekolah dan berkurangnya keseriusan anak anak dalam belajar. 

Hal ini membuat Dewata Sakti Koordinator Anwar Bakti Institut bersemangat untuk terus membuka Rumah Belajar Ini selama Pandemi Covid 19 untuk terus membuat anak anak tetap belajar dan membantu orang tua anak anak untuk menggapai cita citanya. 

Selain Rizkinta Sitepu ada juga Tokoh Pemuda seperti Rizky Syaf Lubis (Ketua Fraksi DPRD Golkar Medan) Amirullah Hidayat (Tokoh Muhammadiyah) Bobby Nasution (Tokoh Pemuda Kota Medan) dan masih banyak yang lain sangat mendukung program Anwar bakti Institut yang dipelopori oleh Dewata Sakti tersebut.

Diakhir penyampaiannya kepada anak Murid Anwar Bakti Institut, Rizkinta Sitepu memberikan Alat Tulis Seperti Buku dan Pulpen untuk dipakai kepada anak didik agar bermanfaat dan lebih semangat lagi dalam belajar dan penuaian Ilmu.**
Share:

Taruna Akpol Angkatan 51 Berikan Bantuan 50 Akte Kelahiran Gratis Bagi Warga Tidak Mampu


Duta Nusantara Merdeka | Bogor
Taruna Akademi Kepolisian angkatan 51 tahun 2020, bersama dengan Sat Binmas Polres Bogor memberikan bantuan 50 akte kelahiran anak secara gratis bagi pasangan suami istri yang menikah siri dan tidak mampu, Selasa (25/02/2020).

Kegiatan yang dilakukan ini merupakan wujud kepedulian para calon pemimpin Polri dalam upaya membangun kesadaran hukum di tengah masyarakat perdesaan yang turut serta meningkatkan trust building partnership dan partnership building antara masyarakat dan Polri.


Melalui peran aktif Petugas, Bhabinkamtibmas Polri yang bersinergi bersama Pemerintah Desa  dan Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil Kabupaten Bogor, Sat Binmas Polres Bogor bersama dengan Taruna tingkat IV Akademi Kepolisian angkatan 51 tahun 2020 melakukan kegiatan pemberian bantuan akte kelahiran sebanyak 50 bagi pasangan suami istri yang tidak mampu dan menikah secara siri.


Kasat Binmas Polres Bogor AKP Achmad Budi Santoso.S.H,  menuturkan, "kami berharap dengan adanya bantuan 50 Akte Kelahiran Anak gratis pada masyarakat di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, bagi pasangan suami istri yang hanya menikah secara siri dapat turut membangun sadar hukum dan meningkatkan kemitraan Polri di tengah masyarakat melalui peranan Bhabinkamtibmas."**


Wartawan DNM : Imam Sudrajat
Share:

IDAI: ASI Eksklusif 6 Bulan Merupakan Makanan Anak Terbaik


Duta Nusantara Merdeka | Depok
WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif 6 bulan yaitu pemberian ASI saja kepada bayi selama 6 bulan tanpa pemberian makanan minuman apapun, kecuali beberapa tetes obat, vitamin dan mineral.

Setelah 6 bulan, menyusui tetap dilanjutkan sesuai permintaan atau sesering yang diinginkan bayi/anak bersama dengan MPASI yang memenuhi diet minimal yang dapat diterima (Minimum Acceptable Diet - MAD) hingga usia 2 tahun atau lebih.

Di sisi lain, ibu hamil dan laktasi sebagai modal produksi ASI memillki angka status gizi kurang yang tinggi yang ditandai dengan prevalensi anemia dan KEK yang tinggi.

Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH MC selaku Panitia mengatakan, Seminar ini digelar Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) FKMUI bertujuan untuk memberikan informasi mengenai rekomendasi terakhir ASI dan MPASI dan membahas evidens baik dari Indonesia maupun negara lain mengenai ASI, MPASI, dan status gizi bayi dan ibu dalam konteks membangun rekomendasi untuk Indonesia.


"Seminar dihadiri oleh akademisi dan peneliti gizi dan kesehatan masyarakat, mahasiswa gizi dan kesehatan masyarakat, kementerian dan lembaga terkait ASI dan MPASI, NGO dan LSM di bidang gizi dan kesehatan masyarakat dan organisasi profesi," kata Sandra saat Seminar Bertajuk "ASI dan MPASI: Dalam Konteks Evidens di Indonesia" pada Sabtu 22 Februari 2020 di Aula A FKMUI, Kampus UI Depok.

Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif Sp.A (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan, Rekomendasi ASI dan MPASI versi IDAI: ASI merupakan makanan anak terbaik. ASI saja cukup sampai anak umur 6 bulan. Setelah 6 bulan, kandungan ASI tidak cukup memenuhi kebutuhan zat gizi anak. Mengapa? Karena anak tumbuh terus, sementara produksi dan kandungan zat gizi ASI tidak meningkat, sehingga kebutuhannya terhadap semua zat gizi meningkat.

Pada umur 6-8 bulan, kata Damayanti, ASI kekurangan 200 kalori/hari untuk memenuhi kebutuhan anaknya, kekurangan ini naik menjadi 300 kalori saat anak umur 9-11 bulan; dan meningkat menjadi 550 kalori saat anak berumur 12-23 bulan. Sehingga saat anak umur 12-23 bulan, walaupun diberi ASI sebanyak 550 ml/hari, tetap akan mengalami kekurangan energi sebanyak 60% dari kebutuhannya.

Untuk zat gizi lain juga demikian. Lanjutnya, Pada umur 12 bulan, ASI kekurangan 40% dari kebutuhan protein anak, 90% dari kebutuhan besi dan 80% dari kebutuhan vitamin A anak. Kekurangan inilah yang perlu didapat dari makanan pendamping ASI (MPASI). Kekurangan tersebut akan dapat dipenuhi bila anak mendapatkan makanan yang beragam dan yang jumlahnya cukup.


Agar kebutuhan energinya tercukupi, tegasnya, maka frekuensi makan anak harus disesuaikan dengan umurnya. Agar mencukupi kebutuhan mikronutriennya, maka makanan anak harus beragam, setidaknya mengandung 4 dari 7 jenis kelompok makanan, yaitu 1. padi-padian/akar, umbi yang biasanya merupakan makanan pokok; 2. Legumes dan kacang-kacangan; 3. Dairy products (Susu, yoghurt & keju); 4. Flesh foods (daging, ayam dan ikan dan hatildaging jeroan); 5. Telur; 6. Buah dan sayuran kaya Vitamin A; dan 7. Buah dan sayuran lainnya.

Data Indonesia (SDKI 2017) menunjukkan bahwa prevalensi anak yang mendapatkan ASI eksklusif sampai umur 4-5 bulan masih rendah, yaitu hanya 38%. Sementara itu, lebih dari separo anak umur 6-23 bulan mendapatkan diet yang tidak memenuhi kebutuhan minimalnya.

Oleh karena itu, imbuhnya, tantangan kedepan untuk perbaikan gizi anak, terutama untuk menurunkan stunting pada 2 tahun pertama kehidupan, masih besar. Tantangan ini terutama lebih berat untuk ibu bekerja, karena cuti hamil yang hanya 3 bulan dan menyeimbangkan antara memenuhi kebutuhan bayinya, kewajiban di rumah sebagai ibu dan menjaga kesehatannya sebagai ibu dan pekerja.

Pada Seminar sesi 2, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH MC, dengan tajuk "Status & Konsumsi Gizi lbu Laktasi" mengatakan bahwa situasi status gizi ibu hamil dan menyusui di Indonesia perlu diperhatikan secara lebih serius khususnya terkait anemia dan kurang energi kronis (KEK). Keduanya dapat berakibat negatif terhadap pertumbuhan janin dan bayi, termasuk stunting.


Sedangkan, Prof. dr. Budi Utomo, MPH, PhD menegaskan pentingnya pemberian MPASI dini yang tepat untuk memastikan pertumbuhan anak yang optimal.

Pada kesempatan seminar yang sama, Ahmad Syafiq PhD, dengan tajuk "Meninjau 1000 HPK: ASI Eksklusif dan Stunting" mengungkapkan bahwa ASI Eksklusif meskipun dampaknya terhadap stunting masih perlu dikonfirmasi, tetapi tetap penting untuk menurunkan angka morbiditas (penyakit) dan mortalitas (kematian) bayi dan anak.

Selanjutnya, Indri Hapsari, PhD dalam seminar dengan tajuk "Meninjau Regulasi ASI Eksklusif lbu Bekerja" menjelaskan situasi mengenai aturan pemberian ASI dan ASI Eksklusif di Indonesia terutama terkait dengan peraturan cuti bagi ibu bekerja yang masih terlalu pendek yaitu hanya 3 bulan.

"Diharapkan seminar ini bisa membuka wawasan bagi masyarakat serta pemerhati gizi dan kesehatan untuk dapat memberikan ASI eksklusif 6 bulan dan ASI sampai 2 tahun kepada bayi/anak sebagai makanan terbaiknya tanpa melupakan pentingnya untuk selalu memonitor pertumbuhan dan perkembangan bayilanak dan memperhatikan status dan asupan gizi ibu laktasi," pungkasnya. (Arianto)



Share:

Ingin Mengenal Lebih Dekat TK Islam Arafah Datangi Mapolres Kutai Kartanegara


Duta Nusantara Merdeka | Kutai Kartanegara
Murid-murid TK Islam Arafah Tenggarong mengunjungi Mapolres Kukar (Kutai Kartanegara), dalam rangka mengenalkan lebih dekat dengan aparat penegak hukum, khususnya yaitu Kepolisian.

Kunjungan sekitar 30 orang murid dan guru dari TK Islam Arafah tersebut diterima dan dipandu oleh anggota Sat Lantas (Lalulintas) Unit Dikyasa dan Sat Binmas Polres Kutai Kartanegara. Selasa (18/02/2020).


Kapolres Kukar (Kutai Kartanegara) AKBP Andrias Susanto Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Kutai Kartanegara AKP Urip Widodo mengatakan, kedatangan anak-anak TK/Paud Islam Arafah ke Polres Kutai Kartanegara, merupakan kunjungan dalam rangka mengenalkan anak-anak didik kepada anggota Kepolisian yang bertugas sebagai pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat.

“Dalam kunjungan ini, kami ajak anak-anak keliling sekitar Mapolres Kutai Kartanegara, mulai dari ruang ECC (Electronic Command Center) hingga memperkenalkan kendaraan kepolisian,” ujar AKP Urip Widodo.


Penegakan supremasi hukum perlu ditanamkan sejak usia dini, diantaranya kegiatan berkunjung ke kantor Polisi termasuk bagian perfungsi untuk mengenal lebih dekat dengan jajaran Kepolisian,” paparnya AKP Urip.

Kasubbag Humas Polres Kutai Kartanegara AKP Urip Widodo juga mempersilahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan dan lainya jika inging berkunjung ke Mapolres Kutai Kartanegara untuk mengenal lebih dekat dengan anggota Kepolisian.

“Polres Kukar (Kutai Kartanegara) menyambut baik bila ada lembaga pendidikan atau sekolah yang ingin berkunjung dan mengenal lebih dekat dengan Kepolisian, karena Polisi adalah sahabat anak,” tandasnya AKP Urip Widodo. **

Wartawan DNM : Imam Sudrajat
Share:

Paud Runah Raya Kunjungi Mapolsek Pademangan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta Utara
Untuk menanamkan rasa cxinta kepada Polisi mulai usia dini, Para Guru dari Paud Rumah Raya Pademangan Barat, Jakarta Utara, mengajak Puluhan anak Paudnya mengunjungi Mapolsek Pademangan, Jakarta Utara, pada Selasa (18/02/2020) pagi.

Kunjungan dari puluhan Anak Anak Paud Rumah Raya yang beralamat di RT.07/RW.12, Kelurahan Pademangan Barat, Jakarta Utara, ini diterima langsung oleh Wakapolsek Pademangan Akp Suyanto.SH, dan Kanit Binmas Iptu Legiso.SH di halaman Mako Mapolsek Pademangan, Jakarta Utara.


Wakapolsek Pademangan, Jakarta Utara, Akp Suyanto mengatakan “bahwa ini adalah bagian dari Program Polri yang menyasar anak anak untuk menanamkan kedisiplinan sejak usia dini.”

Dalam kesempatan tersebut, Wakapolsek Pademangan Akp Suyanto beserta Kanit Binmas Polsek Pademangan juga Bahinkamtibmas memberikan materi tentang Pengenalan Rambu Rambu Lalu Lintas dan cara penggunaan helm yang baik dan benar.


Akp Suyanto juga memberi Pemahaman kepada Anak Paud agar tidak takut sama Polisi, Diakhir acara, anak anak Paud diberikan PIN POLISI SAHABAT ANAK dan diajak / dikenalkan Patroli dengan menggunakan Mobil Dinas dan Motor Dinas serta Fhoto. **

Wartawan DNM : Imam Sudrajat
Share:

Combating Stunting, Jadikan Program Strategis Nasional


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Indonesia menuju 100 tahun Proklamasi Kemerdekaan. Dengan semangat juang Indonesia Emas 2045 agenda berbangsa dan bernegara yang mutlak didukung dan patut kita perjuangkan. Terlebih lagi untuk anak-anak, jangan ada celah kecilpun anak-anak menjauh, meleset, tertinggal dari Indonesia Emas, walaupun sejak masih fase janin yang hidup dalam kandungan ibu-ibu Indonesia. Anak sebagai inti dari generasi emas itu bisa meluntur bahkan gagal, jika dikelola salah arah dan luput sebagai pertimbangan paling puncak (paramount consideration) dalam mengelola negara.

Epedemik stunting satu soal tetapi faktor penentu mempengaruhi status generasi. Jika stunting tak dicegah, diatasi dan diperangi secara total dan bekelanjutan. Sejak janin dalam kandungan sampai 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) secara natural adalah fase emas anak bertumbuh-kembang, fase yang mahal dan tak bisa diulang. Mencegah, mengatasi pun memerangi stunting jangan stagnan apalagi mundur karena keliru diagnosa dan hanya “programisme”, ketika memahaminya bukan permasalahan HAM (human rights) dan hak anak (child’s rights). Anak-anak itulah yang paling terbentur keras akibat kesalahan kebijakan perihal stunting.

Diksi combating tidak berlebihan karena digunakan dalam rujukan mondial pemenuhan hak anak mengatasi malnutrisi dan kelaparan, termasuk stunting. Gagal memerangi stunting beresiko generasi yang hilang (lost generation), alih-alih hendak
mencapai gold generation.

Malahan menjadi permasalahan sosial dan politik, membebani fiskal, biaya sosialnya mahal. Tak ada pilihan, combating stunting atau lost generation! Menurut data, 1 (satu) dari 3 (tiga) anak bawah lima tahun (balita) dalam derita stunting, prevalensiya 30,8%. Dampaknya; mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang bahkan mengalami brain stunting, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, postur tubuh tak maksimal saat dewasa, mengakibatkan kerugian ekonomi 2-3% dari GDP per tahun, dan membiakkan kesenjangan sosial yang parah. Walaupun stunting menjadi masalah dunia, dan prevalensi stunting Indonesia tertinggi kelima di dunia, dan paling tinggi di negara-negara ASEAN. Soal ini potensil menjadi masalah kawasan regional ASEAN, karena Indonesia bertengger di rangking pertama.

Mencermati data dan skala permasalahannya, stunting itu clear and present danger yang musti digemakan sebagai musuh bersama: serius, ekstra-berat dan darurat. Namun bukan “kutukan” yang tidak dapat dicegah (not-unprevenable curse) mengikuti tesis “curse of oil”. Di tengah arah kebijakan politik mengupayakan Indonesia Emas 2045, ikhwal stunting tidak hanya problematika kesehatan! Namun isu kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan. Jangan sampai menjadi paradoks bonus demografi Indonesia.

Bagi anak –yang populasinya 30% rakyat dan pemilik kedaulatan rakyat (constituent power) (Pasal 1 ayat 2 UUD 1945)-- dan diakuinya konstitusi hak anak (Pasal 28B ayat 2 UUD 1945), stunting adalah cabaran menghidupkan konstitusi yang bukan sekadar dokumen aspirasional. Konstitusi bukan tamsil “menu restoran”, yang tertulis ada namun tak tersedia di meja. Kita memiliki tautan kuat berkolaborasi combating stunting, dan berkepentingan supaya jangan menjadi paradoks konstitusi hak anak.

Selanjutnya, stunting berikut kurang gizi dan kelaparan lekat dengan hak hidup (rights to life), hak kelangsungan hidup (rights to survival), hak tumbuh dan berkembang anak (rights to development), merupakan HAM dan hak anak, yang tidak terpisahkan. Hak hidup dan kelangsungan hidup merupakan hak utama (supreme rights) yang tidak boleh dikurangi, walaupun cuma sedikit.

Stunting melampaui program layanan kesehatan. Penanganannya mustilah upaya luar biasa (extraordinary effort). Derap pencapaiannya musti berkemajuan dan realisasi penuh (achieving progresively and full realization). Diksi yang lazim mewakili siatuasi itu adalah combating stunting. Kebijakan dan strateginya melibatkan segenap sumberdaya, termasuk kekuasaan negara (eksekutif, legislatif, yudikatif), terutama pemerintah (eksekutif), vide Pasal 28I ayat 4 UUD 1945. Pun demikian bukan hanya pemerintah namun nonpemerintah: badan swasta/dunia usaha dan industri, organisasi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan, perguruan tinggi, praktisi dan organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, media, dan lebih banyak lagi. Menjadi gerakan masyarakat yang massif: “semua melawan semua”.

Stunting sebagai problematika serius, maka peran pemerintah semustinya musti bergerak sinergis dan menjadikannya urusan konkuren pemerintah daerah yang terutama, yang bahkan perlu didorong sebagai program strategis nasional, yang dimungkinkan dalam UU No.23/2014 tetang Pemerintah Daerah Pasal 67 huruf f. Setiap Pemda musti diberikan peran melaksanakan urusan combating stunting.

Beberapa arah kebijakan yang diajukan kepada pemerintah, tidak hanya Menteri Kesehatan namun mencakup segenap Kementerian dan Lembaga bahkan organ negara –legislatif dan yudikatif selain terutama eksekutif—sebagaimana mandat Pasal 28I ayat (4) UUD 1945.

Dengan pernyatan visional dia atas, kami mengajukan Tujuh Inisiatif (Seven Inisiatives) sebagai berikut:
1. Dari skala problematika dan pentingnya intervensi yang holistik-integratif, dan melibatkan semua sumberdaya dan mencakup semua sektor dan aktor, maka tepat jika combating stunting dengan visi ‘Indonesia Maju’ dan demi Kepentingan Terbaik bagi Anak, kami mendorong Presiden menetapkannya sebagai program strategis nasional.
2. Menggiatkan sebenar-benar gerakan masyarakat sipil, dengan mengintensifkan dan meluaskan bentuk, jenis, skala dan model intervensi mencegah, mengatasi pun memerangi stunting dengan langkah utama perbaikan gizi pangan, imunisasi dan family planning mengamankan “pangkalan” 1000 Hari Pertama Kehidupan.
3. Mendorong kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat (Public, Privat, and Peoples Partnership/P4) termasuk inovasi ragam pembiayaan dan kerjasama termasuk dan tidak terbapat pada sumber corporate social responsibility, creating share values, wakaf, bantuan, hibah dan lainnya.
4. Pengawasan combating stunting melalui mekanisme perlindungan anak dengan melibatkan KPAI dan KPAID sesuai Pasal 76 huruf a dan b UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. KPAI mengonsolidasi semua untuk semua mencegah, mengatasi pun memerangi stunting.
5. Pemajuan dan harmonisasi regulasi, rencana aksi nasional dan rencana aksi daerah combating stunting termasuk Jaminan Kesehatan Nasional yang sensitif hak anak. Walaupun defisit APBN untuk JKN, namun lompatan spektakuler pembangunan manusia dirasakan signifikan dengan memenangkan ancaman stunting yang nyata dan sekarang. Tak mengapa defisit APBN daripada resiko nasional lost generation dan gagalnya ‘Indonesia Emas’. Uang bisa dicari, fase usia emas tak bisa diulangi.
6. Reorientasi dan optimalisasi Jaminan Kesehatan Nasional sebagai instrumen mencegah, mengatasi pun memerangi stunting dengan langkah zero tolerance kepesertaan dan layanan anak dengan JKN, dengan tanpa diskriminasi, berkeadilan, dan berkelanjutan.
7. Mengintegrasikan paradigma dan kaidah pembangunan manusia dalam kebijakan anggaran (APBN dan APBD) sebagai wujud kedaulatan rakyat pada anggaran negara/daerah, yang hambatan regukasinya musti diterobos. Untuk itulah kami mengajukan ‘Omnibus Law’ pembangunan manusia memerangi stunting guna mencapai Indonesia Emas 2045. (Arianto)




Share:

KPAI Raih Bawaslu Award 2019


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Perlindungan anak dari penyalahgunaan kegiatan politik merupakan mandat  UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak terutama dalam pasal 15 huruf a yang berbunyi setiap anak memiliki hak perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik. Sebagai tindaklanjut mandat tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus melakukan berbagai upaya strategis untuk memastikan agar anak tak disalahgunakan dalam kegiatan politik, apapun bentuknya. Diantara yang telah dilakukan KPAI adalah mengundang pimpinan partai-partai politik untuk menandatangani komitmen  mewujudkan pemilu ramah anak,  menyampaikan Surat Edaran bersama antara KPAI, Bawaslu, KPU, dan KPPA kepada stakeholders, MOU dg Bawaslu, bedah visi misi Capres dan Cawapres, meminta timses capres dan cawapres 01 dan 02 untuk melakukan pencegahan penyalahgunaan pelibatan anak dalam setiap tahapan kampanye, pengawasan langsung, serta menindaklanjuti pengaduan masyarakat terkait penyalahgunakan anak dalam kegiatan politik dan sejumlah upaya strategis lainnya. Upaya ini dampaknya cukup positif untuk meningkatkan komitmen penyelenggara pemilu, dan para pihak  terkait perlindungan anak.

Atas upaya tersebut, KPAI mendapat penghargaan Bawaslu Award Tahun 2019 dalam acara Malam Penghargaan yang diselenggarakan oleh Bawaslu Republik Indonesia di The Casablanka, 25 Oktober 2019 Jam 20.00 WIB - 22.00 WIB.

Acara dimaksud dihadiri oleh Menkopolhukam Prof Mahfud MD, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Zainudin Amali dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gusti Ayu Bintang D., serta pejabat lintas kementerian/lembaga terkait dan Bawaslu se Indonesia.

Kami menyampaikan terimakasih kepada Bawaslu atas penghargaan ini. Penghargaan ini kami dedikasikan kepada 83 juta anak Indonesia. Tentu, penghargaan ini akan menjadi pemantik bagi keluarga besar KPAI untuk meningkatkan kinerja selanjutnya yang lebih baik. Apalagi tahun 2020 kita juga menghadapi Pilkada propinsi dan kabupaten/kota sebanyak 270 daerah.Tentu kita berharap sinergisitas penyelenggara pemilu pada tahun tersebut bisa kita tingkatkan lagi. (Arianto)






Share:

KPAI Launching Program KPAI Goes To Campus


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Tahun 2018, KPAI mendapatkan pengaduan 4.885 kasus pelanggaran hak anak. Kasus ini belum memotret fakta jumlah total kasus pelanggaran anak di Indonesia. Kasus yg dilaporkan belum sebanding fakta pelanggaran hak anak yang terjadi di masyarakat. Kondisi ini tentu perlu keterlibatan semua pihak termasuk perguruan tinggi. Apalagi Menurut UU 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan tinggi bahwa diantara fungsi perguruan tinggi adalah mengembangkan civitas akademika yang inovatif dan responsif. Munculnya ragam kasus anak di masyarakat tentu harus direspon oleh perguruan tinggi secara cepat agar perguruan tinggi hadir membantu memberikan solusi kompleksitas masalah anak sekaligus mampu melahirkan para alumni yang responsif anak, apapun disiplin keilmuannya.

Oleh karena itu, KPAI menggelar Program KPAI Goes To Campus pada Kamis, 24 Oktober 2019 pukul 10.00 wib bertempat di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta. Acara ini dilaunching secara bersama oleh Dr. Susanto, MA Ketua KPAI dan  Prof. Dr. Ainun Naim, P.hD Sekretaris Jenderal Kementerian Riset dan Teknologi RI dan didampingi para Komisioner KPAI serta pejabat kementerian terkait.


Dr. Susanto, MA selaku Ketua KPAI mengatakan bahwa untuk mewujudkan perguruan tinggi yang responsif anak, KPAI menggulirkan program "KPAI Goes To Campus" dengan target visitasi tahun 2019 berjumlah minimal 12 kampus di Indonesia, dengan 3 bentuk program yaitu pertama, kuliah umum terkait isu2  perlindungan anak terkini. Kedua, advokasi pentingnya memasukkan materi perlindungan anak dalam mata kuliah terkait. Ketiga, advokasi pentingnya riset terkait isu2 anak terkini. Besar harapan ketiga bentuk program dimaksud dapat mewarnai khasanah keilmuan di perguruan tinggi untuk menghadirkan alumni2 yang ramah anak di bidang profesinya masing2.

"Tahun 2020 program ini akan dilanjutkan agar cakupan jumlah mahasiswa yang responsif dan memiliki komitmen terhadap perlindungan anak  tersebar di Indonesia, harapannya mereka kelak akan menjadi pelopor perubahan dan pembudayaan perlindungan anak hingga basis2 komunitas masyarakat," tutup Susanto. (Arianto)



Share:

Teknologi Terbaru Program Bayi Tabung di Morula IVF Indonesia


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Program In Vitro Fertilization (IVF) atau yang lebih dikenal dengan program bayi tabung, kini semakin populer di masyarakat dan menjadi harapan baru bagi pasangan suami istri yang mendambakan kehadiran anak atau yang kesulitan untuk mempunyai anak. Ironisnya program bayi tabung masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal, faktor keberhasilan program bayi tabung cukup tinggi  mencapai lebih dari 70 persen.

dr. Ivan Sini, SpOG selaku CEO Morula IVF Indonesia menjelaskan, Pertumbuhan layanan bayi tabung di Indonesia semakin meningkat  dengan 10.000 silklus di Indonesia tahun 2018. Dengan usia 21 tahun, Morula IVF IVF Indonesia menjadi layanan bayi tabung swasta paling berpengalaman di Indonesia.

"Group Morula IVF Indonesia memberikan kontribusi sebesar 40% dari pasar di Indonesia. Sementara pasar bayi tabung di Asia Tenggara masih didominasi oleh pasien dari Indonesia. Hal ini disebabkan karena stigma layanan yang tidak baik dan mahal di Indonesia," jelas dr. Ivan dalam konferensi pers dengan tajuk "Ultimate Services, Tingkatkan Kepercayaan Pejuang Buah Hati Di Morula IVF Indonesia" di Cikang Resto Jl. Teuku Cik Ditiro, Menteng. Jakarta Pusat. Selasa (8/10)


Pada kesempatan yang sama, dr. Ivan mengatakan, Morula IVF Jakarta di RS Bunda adalah merupakan bagian dari Morula IVF Indonesia sebagai rantai layanan bayi tabung terbesar di Indonesia serta selalu berusaha memposisikan layanan bayi tabung secara proporsional, professional dan terbuka, contoh profesionalisme ditunjukkan dengan adanya layanan yang terakreditasi  dari Australia yaitu RTAC (The Reproductive Technology Accreditation Committee). Referensi standar angka kehamilan menjadi tolok tolak ukur berkisar 58% pada wanita dengan kelompok prognosis baik (< 38 Tahun), angka kehamilan kembar yang rendah yaitu <5% juga merupakan bukti keberhasilan untuk mengurangi angka komplikasi kehamilan seperti prematuritas.

Prof. Arief Boediono selaku Scientific Director Morula IVF Indonesia mengungkapkan, Teknologi terbaru dan inovatif membantu meningkatkan layanan dan opsi yang bervariatif, antara lain : PGT-A (PREIMPLANTATION GENETIC TESTING for ANEUPLOIDY)

"Tindakan pemeriksaan kromosom pada embrio dengan teknologi Next Generation Sequencing (NGS) yang dilakukan sebelum transfer embrio atau penanaman kembali embrio ke dalam rahim yang terbukti memberikan dampak positif bagi kesuksesan program IVF," ungkap Prof. Arief.

dr Arie Adrianus Polim, D.MAS, SpOG (K) selaku Medical Director Morula IVF Indonesia mengatakan, Teknologi canggih berikutnya ialah Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI), dimana proses pembuahan (fertilisasi) dilakukan dengan cara menyuntikkan satu sperma terpilih langsung ke dalam sel telur. Dengan teknologi ICSI, penolakan sel telur terhadap sperma suami juga bisa dihindari.  Berbeda dengan cara konvensional yang memerlukan sekitar 40.000 sperma untuk membuahi satu sel telur, serta kemungkinan kegagalan fertilisasi karena penolakan sperma suami oleh sel telur istri.


Selanjutnya, kata dr. Arie, yang lebih maju dari ICSI adalah teknologi Intracytoplasmic morphologically selected sperm injection (IMSI). Teknologi ini serupa ICSI, namun pemilihan sperma terbaik dilakukan lebih detail menggunakan mikroskop khusus yang bisa memperbesar penampakan sperma hingga 6.000 kali. Dengan teknologi IMSI, kecacatan bentuk pada sperma bisa terdeteksi sebelum fertilisasi. Sperma yang mempunyai bentuk tidak sempurna akan berakibat pada perkembangan embrio yang kurang baik dan berakhir dengan gagalnya program bayi tabung.

Menurut dr. Arie, Teknologi IMSI merupakan pengembangan ICSI untuk menyeleksi sperma dengan lebih detail menggunakan mikroskop dengan kemampuan pembesaran sangat tinggi. Teknik ini memungkinkan ahli embriologi memilih sperma terbaik untuk proses fertilisasi. Dengan teknik ICSI, seleksi sperma dilakukan dengan pembesaran 40 kali, sementara dengan IMSI pembesaran bisa sampai 6.000 kali.

Selain itu, kata dr. Arie, Layanan kultur embrio secara individual menggunakan teknologi timelapse incubator dimana pertumbuhan embrio diawasi secara ketat dengan lingkungan terkontrol dibawah incubator individual sehingga dapat mengoptimalisasi pertumbuhan embrio dan menghasilkan embrio berkualitas baik serta menyeleksi embrio, dan bias memonitor kelainan proses perkembangan embrio," jelas dr. Arie.

ERA (Endometrial Receptivity Analysis), lanjut dr. Arie,  merupakan layanan terbaru di Morula IVF Jakarta, yaitu analisa untuk menentukan waktu yang tepat dilakukan embrio transfer, dengan cara dilakukan biopsi pada endometrium (dinding rahim). ERA diperuntukkan bagi pasien-pasien yang telah mengalami kegagalan program bayi tabung yang berulang, yang bukan disebabkan oleh kualitas embrio yang kurang bagus.


Morula IVF Jakarta, kata dr. Arie, juga menyediakan produk lain tidak hanya untuk pasangan dengan masalah infertilitas, diantaranya : Pemilihan Jenis Kelamin (Gender Selection). Diperuntukkan pada pasangan yang ingin memiliki anak kedua.

Penyimpanan Telur (Egg Banking), kata dr. Arie, Diperuntukkan bagi wanita atau pasangan yang belum siap mempunyai anak pada saat ini, karena karir atau dikarenakan kondisi medis seperti pre-treatment untuk kanker.

Disisi lain, dr. Arie mengatakan, sebenarnya tidak ada batasan usia untuk melakukan program bayi tabung, asalkan masih memiliki sel telur. Namun semakin tua usia, kehamilan akan semakin berisiko dan peluang kegagalan bayi tabung juga semakin besar. Hal ini berkaitan dengan kromosom yang terbentuk di embrio.

Kebanyakan masalah bayi tabung, kata dr. Arie, adalah kualitas sel telur jelek dan kelainan kromosom, karena faktor usia, terutama wanita di atas 38 tahun, semakin tua maka risiko kelainan kromosom semakin besar.


Bapak Ade Gustian selaku Managing Director mengatakan, Morula IVF Jakarta di RS Bunda Jakarta memberikan komitmen penuh untuk layanan eksekutif. Oleh karena itu system sistem pendaftaran dari ruangan klinik yang baru menjadi bukti komitmen ini. Edukasi atau konseling bayi tabung dilakukan setiap hari tanpa dipungut biaya apapun. Fokus dari patient journey ini adalah misi dari payung besar grup BMHS (Bundamedik Healthcare System) yang menaungi 5 RS Bunda, 10 klinik bayi tabung Morula IVF, 5 laboratorium klinik Diagnosis di seluruh Indonesia di Jakarta, Tangerang, Depok, Padang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Makasar dan Bali. Center Indonesia Informasi juga didapatkan di klinik BIC Pacific Place Jakarta dan BIC Vide Vida Bekasi.

Morula IVF Indonesia Jakarta, kata Bapak Ade,  juga memiliki beragam promo menarik untuk pasien dan calon pasien demi mendapatkan dan layanan yang eksklusif dengan harga terjangkau, seperti "Promo End Year 2019 - My IVF My Choice" untuk mendukung para pejuang buah hati untuk menggapai mimpi 2019.

Mendukung para pejuang buah hati untuk menggapai mimpi 2019 yaitu mempunyai anak di tahun 2020, lanjut Bapak Ade, maka Morula mengadakan promo End Year 2019 dengan tema "My IVF My Choice". Promo berupa potongan harga dari paket obat stimulasi, tindakan IVF, advance technology (IMSI, PGTA) sampai dengan Embrio Transfer. Total potongan harga lebih dari 20 juta rupiah. Promo akan dimulai 16 Oktober sampai dengan 31 Oktober Desember 2019.

Morula IVF Jakarta  juga menyediakan layanan Basic Fertility Screening (BFS) dari harga normal Rp. 2 juta-an menjadi Rp. 789 ribu khusus pembelian online tanggal 10 Oktober 2019 nanti bertepatan sebagai kegiatan mendukung Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). "Paket ini terdiri dari: Konsultasi dengan dokter Obgyn Morula, Tindakan USG, Analisa Sperma & DNA Fragmentation," tutup Bapak Ade. (Arianto)



Share:

KPAI Goes to Campus ke Universitas Negeri Padang


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada hari Kamis tanggal 26 September 2019 merealisasikan program *KPAI Goes to Campus  perdana di Universitas Negeri Padang*.

Ketua KPAI Dr. Susanto MA, didampingi oleh Kepala Sekretariat KPAI Elita Gafar diterima oleh Wakil Rektor 1 (satu) Universitas Negeri Padang Prof. Dr. Yunia Wardi, M.Si, serta para Dekan, pejabat, dosen, dan mahasiswa di Lingkungan Universitas Negeri Padang tersebut berjalan sesuai dengan agenda yaitu penandatanganan MOU antara KPAI dengan Universitas Negeri Padang dan kuliah umum.

Prof. Dr. Yunia Wardi, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa "sensitisasi perlindungan anak sangat penting terutama kepada teman-teman mahasiswa yang akan menjadi guru untuk menciptakan budaya ramah anak. Sehingga sangat tepat sekali Ketua KPAI, Bapak Dr. Susanto, MA. hadir di Universitas Negeri Padang untuk memberikan pencerahan melalui kuliah umum terkait perlindungan anak. Mudah-mudahan dengan adanya kuliah umum ini, ke depan guru-guru tidak terjerumus melakukan kekerasan terhadap anak dan mencegah munculnya kasus-kasus anak lainnya".

Setelah proses penandatangan MOU yang pada prinsipnya para pihak sepakat untuk bersama sama menjalankan perannya sesuai kewenangannya masing2 dalam perlinndungan anak, Ketua KPAI berkesempatan memberikan kuliah umum kepada jajaran pejabat, dosen dan mahasiswa di lingkungan Universitas Negeri Padang dengan tema:  Tren kasus anak terkini dan upaya mewujudkan budaya ramah anak.

Beliau menyampaikan bahwa, " Perguruan Tinggi memiliki peran penting dalam penyelenggaraan perlindungan anak, diantaranya melalui: riset2 baru terkait tematik perlindungan anak, integrasi perlindungan anak dalam pengabdian masyarakat serta memasukkan materi perlindungan anak dalam mata kuliah yg relevan, agar perspektif mahasiswa calon guru semakin akomodatif terhadap perspektif perlindungan anak. Inilah fondasi perubahan perilaku calon guru ke depan agar semakin ramah anak dalam membangun budaya pembelajaran.

Dalam sela-sela kegiatan tersebut, Ketua KPAI Dr. Susanto, MA. mendapatkan gelar tamu kehormatan dari Rektor Universitas Negeri Padang, Prof. Ganefri, Ph.D. (RKO/RD/LA)






Share:

Tips Ajarkan Makna Qurban Bagi Anak


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Idul Adha merupakan momentum menstimulasi karakter kesalehan sosial bagi anak. Saat Qurban tiba, anak di berbagai lokasi Masjid seringkali,  merasakan keseruan saat melihat hewan qurban akan disembelih. Meskipun sebagian anak ada tak siap saat melihat hewan kurban disembelih. Namun demikian, keseruan ini penting disisipkan pendidikan karakter kepada anak agar ia mampu menangkap makna yang dalam dari prosesi Qurban. Berikut tips yang perlu diperhatikan orangtua;

1. Ceritakan kepada anak ttg sejarah Qurban, agar anak mengetahui akar sejarah berikut nilai positifnya.

2. Ajak ada sholat Idul Adha. Mengajak anak dg sholat idul adha, tak hanya mendidik anak agar taat beribadah, namun ia bisa mengenal akan rangkaian idul adha.

3. Jangan paksa anak. Jika anak tidak mau ikut sholat idul adha, jangan paksa mereka. Sepanjang stimulasi terus dilakukan orangtua kepada anak dengan teknik yang baik, pada saatnya ia akan tumbuh kenyamanan untuk menjalankan sholat idul adha.

4. Tumbuhkan anak akan pentingnya budaya hormat dan patuh. Saat Ibrahim diperintah oleh Allah SWT utk mengurbankan anaknya, Nabi Ismail pun menunjukkan sikap hormat kepada orangtuanya dan patuh atas perintah Allah. Budaya hormat harus dididikkan kepada anak seiring kompleksitas tantangan perkembangan anak dewasa ini. Apalagi ajaran agama, budaya indonesia dan ketentuan UU 23 Tahun 2002 ttg Perlindungan Anak menegaskan bahwa hormat kepada orangtua dan guru merupakan kewajiban.

5. Jelaskan bahwa Qurban selain menjalankan perintah Allah juga mengajarkan utk berbagi kepada orang yg tidak mampu. Dengan demikian, qurban mengajarkan kepekaan sosial dan berbagi kepada sesama yg membutuhkan. (Arianto)


Share:

IDAI Ajak Masyarakat Dukung Proses Menyusui


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta
Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada bayinya untuk menunjang pertumbuhan yang optimal hingga 6 bulan pertama kehidupan. ASI juga memberikan sebagian besar kebutuhan gizi anak yang berusia lebih dari 6 bulan hingga 2 tahun. Oleh karena itu, pemberian ASI eksklusif disarankan pada enam bulan pertama, kemudian diberikan secara berkelanjutan dengan makanan pendamping yang sesuai hingga anak berusia dua tahun atau lebih (WHO).

Mengingat pentingnya ASI bagi kehidupan, maka sejak tahun 1992, tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya ditetapkan sebagai Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week). Pada Pekan ASI Sedunia tahun 2019 ini, WABA (Word Allince for Breastfeding Action) mengangkat tema "Empower Parents, Enable Breastfeeding" atau "Dukung Ayah-lbu, Kunci Keberhasilan Menyusui. Pekan ASI Sedunia tahun ini fokus dalam mendukung kedua orang tua agar berdaya untuk dapat merealisasikan target menyusuinya. Menyusui merupakan ranah ibu, dan ketika ayah, pasangan, keluarga, tempat kerja, dan komunitas mendukungnya, maka keberhasilan menyusui akan meningkat.

Sehubungan dengan momen tersebut. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) akan menggelar rangkaian acara yang mengangkat tema Pekan ASI Sedunia tahun ini untuk mengingatkan kembali masyarakat bahwa kita semua dapat mendukung proses menyusui ini sebagai sebuah tim. Seminar media yang dilakukan pada Kamis pagi, 1 Agustus 2019 pukul 09.30 - 11.30 wib bertempat di Gedung IDAI jl. Salemba 1 no. 5 Jakarta, merupakan langkah awal dan sebagai kegiatan pembuka bagi IDAI Cabang di seluruh pengantar materi unuk anggota IDAI agar dapat melaksanakan kelas parenting untuk masyarakat awam di wilayah kerjanya masing-masing.


DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K). FAAP FRCPI(Hon.), Ketua Pengurus Pusat IDAI dalam sambutannya mengatakan, Pemberian ASI merupakan kunci penting untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals (SDGs), dengan menyatakan bahwa ASI meningkatkan gizi (poin SDG 2), mencegah mortalitas anak dan menurunkan risiko penyakit tidak menular (poin SDG 3), dan mendukung perkembarngan kognitif serta pendidikan (poin SDG 4). Tidak hanya itu. pemberian ASl memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, baik kesehatan ibu dan juga kesehatan bayi.

Komposisi ASI yang sangat mudah dicerna oleh pencernaan bayi baru lahir mengandung bahan-bahan yang tidak saja mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi yang belum sempurna, lanjut Aman, tetapi juga mengandung biofaktor yang menyempurnakan fungsi pencernaan dan kekebalan bayi. Mengapa kita harus terus mendorong masyarakat untuk menyusui? Karena keuntungan diperoleh oleh bayi dan ibu dalam proses menyusui.

Dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A, Ketua Satgas ASI IDAI dalam Sesi lImiah Empower parents, Enable Breastfeeding mengatakan Pentingya dukungan tenaga medis untuk orangua agar sukses menyusui. Angka ASI eksklusif di Indonesia masih berkisar sebesar 37.3 % (Tahun 2018) dengan angka kematian bayi yang masih cukup tinggi sekitar 24 per 1000 kelahiran. Indonesia termasuk 10 negara penyumbang kematian bayi terbesar di dunia. 


Menyusui dapat menurunkan angka Kematian yang cukup besar hingga 22% dengan cara melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang menaikan kemungkinan bayi untuk berhasil menyusui kelak. Menyusui juga bila dilakukan dengan baik dapat menekan angka stunting yang masih cukup tinggi di Indonesia bila masyarakat diajarkan dengan benar bagaimana memonitor pertumbuhan berat badan bayi, sejak dilahirkan dengan memakai grafik berat badan bayi yang sudah ada dalam buku kesehatan bayi.

Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menyusui dan mempersiapkan kehamilan dengan baik adalah usaha yang sangat efektif dalam membuat kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak dengan baik dimasa mendatang, kata Elizabeth, Kompetensi mengenai konseling laktasi hendaknya dimiliki oleh tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

"Peran serta para tenaga kesehatan yang lain dalam mendukung ASI, seperti bidan. perawat dan dokter kandungan juga penting dalam mendukung calon ibu untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan juga keberhasilan proses menyusui nantinya," tutup Elizabeth. (Arianto)



Share:

Dampingi Anak dengan Asik dan Bijak di Era Digital


Duta Nusantara Merdeka | Kabupaten Bulungan 
Maraknya penggunaan telpon genggam (gawai) pada anak-anak saat ini menjadi fenomena yang sangat mengkhawatirkan, mengingat banyaknya bahaya yang mengancam anak sebagai generasi penerus bangsa. Anak rentan menjadi sasaran cyberbullying, pelanggaran privasi, terpapar pornografi, radikalisme, dan yang lebih parah, anak menjadi incaran para predator anak (pedofil), belum lagi dampak buruk dari segi kesehatan pada anak

Nahar, Deputi Bidang Perlindungan Anak mengatakan, Melihat kondisi ini, sudah seharusnya kita sebagai orangtua memberi perhatian dan bersama-sama melakukan pencegahan dengan mendampingi anak dan memberi perlindungan bagi mereka di era digital ini. Orangtua harus bisa mendidik anak sesuai dengan perkembangan zaman, mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital yang penuh manfaat sekaligus tantangan.

Nahar mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan karena banyaknya anak yang terjerumus dalam bahaya penggunaan gawai karena adanya kesenjangan kemampuan teknologi antara orangtua dan anak. Orangtua harus mempunyai literasi digital yang baik  dan memahami aturan di dunia digital, mampu memilah sekaligus menyampaikan konten positif dan mencegah konten negatif pada anak.

“Untuk itu melalui pelatihan parenting di era digital ini, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan para orangtua, pendidik juga masyarakat dalam mendampingi dan melindungi anak dalam menggunakan teknologi seperti gawai dengan baik dan aman,” terang Nahar.


Nahar menjelaskan bahwa Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) sudah membuat berbagai kebijakan berupa pedoman, peraturan, serta menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai model yang diharapkan secara efektif bisa direplikasikan di seluruh wilayah Indonesia. Baik oleh kementerian, daerah atau lembaga masyarakat yang bergerak di bidang pencegahan terhadap anak yang teradiksi bahaya internet. Serta menjadi model yang bisa diterapkan dan dimanfaatkan bagi kebutuhan anak dan keluarga menghadapi situasi di era digital ini.

Pakar Perlindungan Anak Yayasan Sejiwa, Diena Haryana menuturkan bahwa dalam mendampingi anak di era digital, harus dilakukan dengan cara asyik dan bijak. Orangtua harus melakukan pendekatan kepada anak, mengajaknya untuk beraktivitas menikmati momen bersama, melakukan hal yang ia sukai di dunia nyata agar anak tidak larut dan berlebihan menggunakan internet.

“Bentuklah anak menjadi netizen unggul yang bertanggungjawab yaitu cerdas, berkarakter, dan mandiri. Membentuk anak tangguh yang mampu hidup di dunia nyata dengan life skills, mampu menggunakan teknologi digital untuk memenuhi segala kebutuhannya. Sadar untuk mengasah keterampilan dalam bergaul (social skills) sehingga pergaulannya dengan keluarga, teman-teman serta masyarakat di lingkungannya tetap terjaga baik. Serta menjadi anak yang aktif, ceria, ramah dan ‘up to date’. Melakukan semua tanggung jawab dan kewajibannya dengan disiplin,” jelas Diena.

Diena menambahkan bahwa orangtua harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan anak secara asertif dan terkoneksi dalam berbagai situasi terkait dunia digital, seperti memuji, menegur, bernegosiasi, dan lain-lain. 


“Kita harus menciptakan suasana ramah, hangat dan penuh cinta bersama anak agar ia tidak mencari kegiatan di luar rumah yang ancamannya lebih besar. Selain itu, sebagai orangtua kita harus bisa menjadi suri tauladan bagi anak yang memiliki integritas tinggi, menjadi ‘top of mind’ (idola) bagi anak, konsisten, kompeten (mampu), dan hadir untuk mendampingi anak,” ujar Diena.

Diena juga mengajak para orangtua untuk menjadi sosok idola bagi anak, yaitu orangtua yang funky, asyik, bergaul, mampu dekat dengan anak serta teman-temannya. “Kita harus hadir dalam hidup anak, mau mendengarkan mereka dengan antusias, menjadi teman diskusi yang asyik. Terapkan nilai-nilai luhur pada anak seperti jujur, menghargai, ikhlas peduli, empati, bijak, cinta/sayang pada anak,” terang Diena.

Diena menyampaikan beberapa hal yang harus dipahami orangtua dan pendidik, yaitu mengetahui di usia berapa saja anak boleh menggunakan gawai dan internet; mengetahui password medsos anak-anak kita; membuat kesepakatan agar anak tidak membawa gawai ke tempat tidur dan meja makan; berteman dengan anak di media sosial tetapi jangan mengontrolnya; masuk di dunia online bersama anak; saat bertemu orang lain anak harus berbicara dengan sekelilingnya, bukan asyik main gawai; dan yang terakhir orangtua harus memasang  fitur “Parental Control” pada gawai anak. (Arianto)




Share:

Pelatihan Parenting di Era Digital, Cegah Anak Terjerumus Bahaya Internet


Duta Nusantara Merdeka | Kab. Bulungan, Kalimantan Utara  Pesatnya perkembangan teknologi di era digital memberikan berbagai dampak baik secara positif maupun negatif khususnya pada anak. Dampak positifnya, anak dapat dengan mudah mengakses internet untuk mengetahui berbagai informasi melalui gawai. Namun, dampak negatif juga ditimbulkan dari bahaya internet yaitu kecanduan permainan (games), rentan menjadi korban kejahatan seksual di dunia maya, serta terpapar konten pornografi dan informasi yang berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

Nahar, Deputi Bidang Perlindungan Anak mengatakan, Survey Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), menunjukan bahwa sebanyak 65,34% anak usia 9 (sembilan) sampai 19 tahun telah memiliki gawai (smartphone). Sementara itu, berdasarkan data Cybercrime, Bareskrim POLRI pada 2017, terdapat 435.944 IP address yang mengunggah dan mengunduh konten pornografi anak. Data ini mengungkapkan bahwa tidak ada daerah yang bebas dari isu kejahatan terhadap anak baik pornografi dan prostitusi di ranah daring, maupun cybercrime.

Nahar menjelaskan, untuk menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan organisasi perlindungan anak, ‘Sejiwa’ melaksanakan Pelatihan Parenting di Era Digital di Kab. Bulungan, Kalimantan Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi para orangtua, tenaga pendidik, serta masyarakat dengan mendampingi anak dalam menggunakan gawai dan melindungi anak dari dampak negatif dunia digital.


“Pelatihan ini merupakan model percontohan yang bertujuan untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan pencegahan anak agar tidak terjerumus dalam bahaya internet. Kab. Bulungan, Kaltara kami pilih sebagai tuan rumah karena merupakan wilayah model percontohan yang telah menerapkan program parenting di era digital. Selain itu, Kab. Bulungan merupakan wilayah perbatasan serta daerah yang lokasinya agak terisolasi,” terang Nahar.

Nahar berharap melalui acara ini, semua pihak dapat ikut terlibat dalam upaya melindungi anak dari bahaya internet di era digital. Tidak hanya penguatan peran keluarga tapi juga penguatan peran masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media massa juga sangat penting dalam upaya tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Utara, Suriansyah mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survey Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017, jumlah pengguna internet usia anak mencapai 75,5% dari 262 juta jumlah total penduduk Indonesia. Fakta ini menunjukan bahwa tingkat penggunaan internet pada usia anak di Indonesia sangatlah tinggi.


“Melalui pelatihan ini saya harap dapat menghasilkan sumber daya masyarakat (SDM) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan parenting di era digital. Demi masa depan anak-anak Kalimantan Utara yang berkualitas, maju, dan damai,” ungkap Suriansyah.

Suriansyah juga meminta kepada seluruh 30 peserta yang terdiri dari orangtua, tenaga pendidik, Dinas Pendidikan, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) serta Aktivis Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di Kalimantan Utara untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan ke para orangtua lain di lingkungan sekitar. Minimal di rumah masing-masing, agar menjadi teladan di masyarakat tentang cara mendidik anak di era digital.

Pakar Perlindungan Anak ‘Sejiwa’, Diena Haryana menegaskan bahwa program parenting ini sangat penting untuk membuka wawasan para orangtua dan pendidik, agar mampu menjadi pendamping dan pelindung anak di era digital saat ini. Mereka diajak untuk membentuk diri menjadi suri tauladan bagi anak baik di dunia nyata maupun di ranah daring (online) dan menjadi netizen unggul.

“Orangtua diberi pemahaman bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak agar bisa dekat dan mampu membangun kedisiplinan, menanamkan nilai luhur serta kebiasaan baik pada anak. Serta bagaimana cara mempengaruhi anak agar bisa menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, dan mandiri. Intinya agar membentuk anak agar menjadi generasi masa depan bermanfaat yang tidak terlarut dan teradiksi di ranah dunia maya,” pungkas Diena. (Arianto)



Share:

IKLAN MURAH

SUSU KURMA AULIA

SUSU KURMA AULIA
Pesan Silahkan Klik Gambar

BREAKING NEWS

~||~ Wabah Virus Corona (Covid-19) Semakin Meningkat, Warga Diharapkan Untuk Tetap Di Rumah ~||~ Aktifitas Di Luar Rumah Wajib Gunakan Masker Dan Patuhi Protokol Kesehatan ~||~ #DIRUMAHSAJA ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno ~ Karakter Bangsa

KILAS BALIK BUNG KARNO KARAKTER  BANGSA Soekarno ketika pidato kata sambutan setelah menerima ijazah gelar Insinyur dari I...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI

loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Follow by Email

Label

#2019GantiPresiden Accounting Aceh Adat Istiadat Advokat Agama Agraria AIDS Aksi Album Anak Artikel Asahan Asian Games Asuransi Asusila Award Bakti Sosial Bandara Banjir BANK Bapenas Bappenas Basarnas Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar Beasiswa Begal Bekraf Belanja Bencana Bencana Alam Berita Bhayangkara Bhayangkari Bisnis BNI BNN BPJS Buka lapak Bukit Asam Buku Bung Karno Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Capital market Cerpen Citilink conference Covid-19 Covid19 Cuaca Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Desa Dialog Digital Dirgahayu HUT RI Diskusi Duka Cita E-Money Ekonom Ekonomi Electronics Entertainment Es cream event Fashion Festival Film Film Horor Film seri Anak Fintech Forum Furniture G30S/PKI Games Gebyar Kemerdekaan Geng Motor Go Pay Go-Jek Gojek Gotong Royong Grab Gym ham Harbolnas Hewan Hiburan HIV Hoax Hotel Hp Hukum Humbahas HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek Industri Informasi Infrastruktur Internasional Internet Investor IPM Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Jokowi Jurnalis Kaliber Kampanye Kamtibmas Karaoke Karhutla KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kekerasan Keluarga Kemanusiaan Kemendikbud Kemenhub KEMENPAN-RB Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Kilas Balik Bung Karno kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Koperasi Kopi Korupsi Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal Kuliner Kutai Kartanegara Lakalantas Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku Legislatif LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup Listrik lomba lari LPS Mahasiswa Mainan anak Majalengka Makanan Jepang Mall Market Outlook Masjid Masker Mata Uang millenial Minuman Keras Minuman sehat Miras Mobil MOI Motivasi MPR Mudik Muhammadiyah Muharram Munas Musik Narkoba Narkotika Nasional Natal New Normal NKRI NU Office Olah Raga Olahraga Opini Organisasi Otomotif P Pagelaran Pahlawan Pameran Parawisata Pariwisata Partai Politik Pasar Pasar modal Patroli PC pe Pegadaian Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Peluncuran Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencurian Pendataan Pendidikan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengajian Pengamanan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perikanan Peristiwa Perjudian Perkawinan Perpajakan Pers Pertamina Pertanian PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pinjam meminjam uang Polantas Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Pornografi Pra Kerja Pramuka Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik promo Property Prostitusi Public Expose Publik expose Puisi Pusat Perbelanjaan PWI Ragam Ramadhan Reksadana Relawan Jokowi Remisi Renungan resa Restoran Reward Robot Rumah Rumah sakit Rups RUU Saber Pungli Sahabat Anak Salon Samosir Sanitasi air.Lingkungan hidup Satlantas Satwa Sejarah Sekolah Sembako Seminar Senjata Sepak Bola Sepeda sehat Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Silaturahim Silaturrahim Smartphone Soekarno Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Suku bunga Sumatera Barat Sumatera Utara Sumut Superstore Suplemen Surat Terbuka Survei Survey susu Syariah Syawal Talkshow Tawuran Teknologi Terorisme Tiket Tips TNI TNI AU TNI-Polri Tokoh Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Palsu Ujaran Kebencian UKM umkm Undang-Undang UNIMED Universitas Unjuk Rasa UU Cipta Kerja UUD 1945 Valentine Day Virus Corona Walikota Wanita Wartawan Wirausaha Workshop

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

VIRUS COVID-19

Wabah Virus Corona (Covid-19) Sudah Menyerang Indonesia, Setiap Hari Korban Semakin Bertambah Sampai ada yang Meninggal, Rakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Bagai Tersambar Petir Mendengar Virus Corona.

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA

PRO KONTRA RUU HIP

~> RUU HIP saat ini sedang Hangat Dipersoalkan, Karena Banyak Pihak yang telah Menolaknya, Baik dari Kalangan Ormas Hingga Partai Politik, Sehingga Terjadi Pro Dan Kontra.

<~ Memang Sebaiknya Persoalan Pancasila Tidak Usah Diganggu Gugat, Karna itu merupakan Landasan Dasar Dalam Berdirinya Negara Indonesia, Sudah Final Masalah Pancasila.

Link Terkait

close
Banner iklan disini