Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Krisis Keluarga Modern, Pelajaran Penting dari Sampo Generation


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena Sampo Generation yang berkembang di Korea Selatan dinilai bukan sekadar persoalan demografi, melainkan sinyal perubahan sosial yang berdampak langsung terhadap masa depan keluarga. Istilah tersebut merujuk pada generasi muda yang memilih melepaskan tiga aspek penting dalam kehidupan, yakni menjalin hubungan, menikah, dan memiliki anak akibat tekanan ekonomi serta perubahan budaya yang semakin kompleks.

Data menunjukkan tren tersebut terus menguat. Tingkat fertilitas Korea Selatan yang berada di angka 1,23 pada 2010 turun menjadi 0,84 pada 2020. Bahkan, berdasarkan laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), angka itu kembali merosot menjadi 0,72 pada 2023, menjadikannya salah satu yang terendah di dunia.

Fenomena ini dipicu berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, budaya kerja yang panjang, hingga sulitnya menyeimbangkan karier dan kehidupan keluarga.

Cermin bagi Keluarga Indonesia

Meski terjadi di Korea Selatan, fenomena Sampo Generation dinilai relevan untuk dibaca sebagai peringatan bagi masyarakat modern, termasuk keluarga di Indonesia. Ketika generasi muda tumbuh tanpa teladan yang kuat, komitmen terhadap pernikahan dan keluarga berpotensi mengalami pergeseran makna.

Dalam kondisi demikian, keluarga kerap dipandang sebagai beban ekonomi, sementara pernikahan dianggap membatasi kebebasan pribadi. Akibatnya, keinginan membangun rumah tangga dan memiliki keturunan semakin menurun.

Peran Ayah Menjadi Fondasi Utama

Di tengah perubahan sosial tersebut, peran ayah dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan orientasi hidup anak. Ayah tidak hanya bertanggung jawab sebagai pencari nafkah, tetapi juga berperan sebagai pendidik, pembimbing moral, serta teladan dalam kehidupan keluarga.

Nilai-nilai keimanan, tanggung jawab, dan komitmen dinilai perlu ditanamkan sejak dini melalui kehadiran yang nyata di tengah keluarga. Kehadiran itu dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana seperti makan bersama, mendengarkan cerita anak, membangun komunikasi tanpa gangguan gawai, hingga melibatkan keluarga dalam aktivitas ibadah.

Selain itu, anak juga belajar mengenai makna pernikahan dari hubungan yang ditunjukkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Cara ayah menghormati ibu, menjaga komitmen, dan menjalankan tanggung jawab keluarga menjadi pembelajaran yang membekas bagi anak.

Keluarga sebagai Benteng Masa Depan

Penguatan keluarga dinilai menjadi langkah penting untuk menghadapi tantangan perubahan budaya dan krisis identitas yang dihadapi generasi muda. Kehadiran orang tua yang aktif dan konsisten dapat membantu anak membangun ketahanan mental, sosial, serta spiritual.

Fenomena Sampo Generation menjadi pengingat bahwa masa depan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh kualitas keluarga. Dari lingkungan keluarga yang kuat, lahir generasi yang mampu memandang relasi, pernikahan, dan tanggung jawab sebagai bagian penting dalam membangun masa depan yang sehat dan berkelanjutan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Manfaat Melatih Otot Pantat untuk Panjang Umur dan Cegah Diabetes


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Otot bokong atau gluteus maximus kini dinilai bukan sekadar penunjang estetika fisik semata, melainkan organ vital yang memengaruhi harapan hidup seseorang. 

Melalui edukasi kebugaran digital terbaru, praktisi kesehatan Coach Ido mengungkapkan bahwa kekuatan otot terbesar manusia ini menjadi penentu utama dalam menjaga metabolisme tubuh. 

Penemuan mengenai manfaat melatih otot pantat untuk panjang umur ini menjadi urgensi medis baru di tengah meningkatnya risiko komplikasi penuaan dini pada masyarakat modern.

Mengontrol Gula Darah dan Memahami Fungsi Otot Gluteus Maximus

Secara biologis, "gluteus maximus" bertindak sebagai penampung glukosa terbesar di dalam tubuh. Jaringan otot ini mampu menyerap hingga 80 persen kadar gula darah untuk disimpan menjadi energi atau glikogen.

"Otot pantat yang kuat menyediakan ruangan lebih luas untuk menyimpan dan membakar gula darah, sehingga kadar insulin menjadi lebih stabil," ujar Coach Ido dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5/2026).
 
Ketika massa otot menyusut, wadah penyimpanan berkurang dan memicu lonjakan gula darah yang berujung pada penyakit kronis. Pemahaman mendalam tentang fungsi otot gluteus maximus sangat krusial sebagai cara mencegah diabetes secara alami sejak dini.

Menjaga Keseimbangan Tubuh Lansia untuk Menghindari Cedera Fatal

Selain fungsi metabolik, otot bokong menjadi penggerak utama yang menstabilkan panggul serta tulang belakang. Kelemahan pada area ini berisiko memicu gangguan postur, nyeri punggung bawah (low back pain), hingga cedera lutut kronis.

Pada kelompok lanjut usia di atas 65 tahun, degradasi fungsi otot glutes berujung pada hilangnya kemampuan motorik. Kondisi tersebut meningkatkan risiko jatuh, yang mencatatkan angka tertinggi sebagai penyebab kematian lansia akibat cedera fisik. 

Oleh karena itu, penerapan latihan keseimbangan tubuh menjadi kunci utama dalam mempertahankan kemandirian hidup di masa tua.

Panduan Latihan untuk Optimalisasi Harapan Hidup

Masyarakat dapat menguji kondisi fisik secara mandiri melalui metode 5-times chair stand atau single leg balance. Guna membangun massa otot secara efektif, latihan jenis hinge & squat seperti hip thrusts, deadlift, dan full depth-squat sangat direkomendasikan dengan beban progresif.

Pola latihan ini harus ditunjang asupan protein sebesar 1,6 gram per kilogram berat badan per hari. Meminimalkan waktu duduk dan aktif bergerak terbukti mengembalikan fungsi biologis tubuh, sekaligus memaksimalkan manfaat melatih otot pantat untuk panjang umur secara optimal.

Penulis Lakalim Adalin 
Editor Arianto 


Share:

Sekolah Rakyat Ditarget Rampung Juni 2026, Ini Progresnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Pembangunan Sekolah Rakyat terus dipercepat di berbagai daerah Indonesia. Hingga 24 Mei 2026, proyek yang melibatkan tujuh BUMN Karya itu telah berjalan di 86 lokasi dengan progres rata-rata mencapai 62,19 persen.

Sebanyak 67.542 tenaga kerja dikerahkan untuk menyelesaikan pembangunan yang ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026. Percepatan proyek menjadi fokus pembahasan dalam rapat Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, bersama Direksi Karya Group, di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Dony menegaskan pembangunan Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari upaya memperluas akses pendidikan yang lebih merata.

“Sekolah Rakyat harus menjadi simbol hadirnya negara dalam membuka akses pendidikan yang lebih merata bagi masyarakat,” ujar Dony Oskaria.

Saya masih ingat ketika meliput kondisi sekolah di daerah pelosok beberapa tahun lalu. Ada siswa yang harus berjalan belasan kilometer melewati jalan tanah hanya untuk belajar di ruang kelas sederhana. Karena itu, proyek seperti ini otomatis menyedot perhatian publik.

Progres Sekolah Rakyat Dipantau Ketat Setiap Pekan

Dalam rapat tersebut, BP BUMN dan Danantara membahas penguatan dukungan pendanaan agar proses pembangunan berjalan sesuai target.

Selain itu, monitoring progres proyek dilakukan rutin setiap minggu untuk memastikan hambatan di lapangan bisa segera ditangani.

Pembahasan juga menyentuh penguatan aspek legal dan koordinasi kelembagaan dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Langkah itu dinilai penting agar penyelesaian proyek tidak tersendat administrasi.

BUMN Karya juga diminta lebih selektif memilih vendor dan subkontraktor demi menjaga kualitas bangunan hingga tahap akhir.

Pemerintah Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Sekolah Rakyat

Pemerintah berharap percepatan pembangunan Sekolah Rakyat mampu menghadirkan fasilitas pendidikan yang layak di berbagai wilayah Indonesia.

Sinergi antar-BUMN tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan proyek agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Belakangan, isu pemerataan pendidikan memang kembali menjadi perhatian. Banyak daerah masih menghadapi keterbatasan sarana belajar, mulai dari ruang kelas rusak hingga minimnya fasilitas penunjang pendidikan.

Karena itu, proyek Sekolah Rakyat dipandang menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkecil ketimpangan akses pendidikan antarwilayah.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

AI Mengubah Dunia Kerja, Adaptasi Jadi Penentu Bertahan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Gelombang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah pola kerja global secara cepat. Buku How to Get Ahead in the Age of AI menyoroti bagaimana perubahan teknologi tidak hanya menggeser pekerjaan lama, tetapi juga memaksa pekerja, perusahaan, hingga sistem pendidikan beradaptasi dalam waktu singkat.

Melalui 10 bab utama, buku tersebut menjelaskan bahwa ancaman terbesar bukanlah teknologi AI itu sendiri, melainkan ketidaksiapan manusia menghadapi perubahan. Dunia kerja kini bergerak lebih dinamis, tidak lagi bergantung pada jabatan tetap, pengalaman lama, atau jalur karier linear.

Dunia Kerja Berubah Cepat karena AI

Penulis menggambarkan revolusi AI sebagai perubahan besar yang dampaknya setara revolusi industri. Hampir seluruh sektor pekerjaan diperkirakan mengalami transformasi, mulai dari pekerjaan administratif hingga industri kreatif.

Dalam buku itu dijelaskan bahwa AI tidak selalu menggantikan seluruh profesi. Teknologi lebih banyak mengambil alih tugas-tugas tertentu yang bersifat rutin dan teknis. Karena itu, pekerja dituntut memahami keterampilan mana yang masih relevan dan mana yang mulai terotomatisasi.

Bab “Jobs Are Tasks, Not Titles” menekankan bahwa pekerjaan modern tidak lagi dipahami sekadar jabatan. Nilai pekerja kini diukur dari kemampuan menyelesaikan berbagai tugas yang terus berubah sesuai kebutuhan industri.

Perubahan itu juga memengaruhi pola karier. Buku tersebut menyebut karier masa depan tidak lagi menyerupai tangga lurus, melainkan seperti “memanjat dinding” dengan banyak arah dan peluang baru. Perpindahan bidang kerja dinilai menjadi hal yang semakin umum.

Kemampuan Manusia Tetap Jadi Faktor Utama

Di tengah percepatan AI, buku ini justru menilai kemampuan manusia tetap menjadi aset utama. Kreativitas, empati, komunikasi, dan kemampuan memahami konteks sosial disebut sulit digantikan mesin.

Bab “The Humans Are Coming” menegaskan bahwa kolaborasi manusia dan AI akan menjadi model kerja baru. Perusahaan diperkirakan lebih membutuhkan pekerja adaptif dibanding sekadar pekerja dengan jabatan formal.

Selain itu, buku tersebut mengkritik sistem pendidikan dan ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya mampu mengembangkan potensi manusia secara merata. Banyak talenta disebut gagal berkembang akibat keterbatasan akses pendidikan dan kesempatan ekonomi.

Pada bagian akhir, penulis menekankan pentingnya pola pikir terbuka terhadap perubahan. Mereka yang mampu belajar ulang, mencoba keterampilan baru, dan berani keluar dari pola lama dinilai memiliki peluang lebih besar bertahan di era AI.

How to Get Ahead in the Age of AI memperlihatkan bahwa masa depan kerja tidak lagi ditentukan oleh stabilitas jabatan, melainkan kemampuan beradaptasi. Di tengah percepatan AI, keunikan manusia justru menjadi nilai yang paling sulit digantikan teknologi.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

China Tutup 1.670 Jurusan, AI Ubah Peta Kampus


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Gelombang penutupan ratusan program studi di berbagai universitas China sepanjang 2024 menjadi sinyal kuat perubahan besar dunia pendidikan dan pasar kerja global. Pemerintah China mulai memangkas jurusan yang dinilai tidak lagi relevan dengan arah industri masa depan berbasis AI (kecerdasan buatan), otomasi, dan ekonomi hijau.

Restrukturisasi itu dilakukan secara nasional. Laporan media China Sixth Tone mencatat sedikitnya 19 universitas menghentikan 99 program studi sepanjang tahun lalu. Sementara Kementerian Pendidikan China menghapus sekitar 1.670 program studi dan membuka 1.673 jurusan baru yang dianggap lebih sesuai dengan transformasi industri modern.

Langkah agresif itu menunjukkan bahwa perguruan tinggi di China tak lagi sekadar mencetak lulusan akademik, melainkan diarahkan menjadi pemasok tenaga kerja strategis untuk kebutuhan industri masa depan.

Jurusan Teknik hingga Seni Mulai Dipangkas

Menariknya, program studi yang ditutup bukan hanya jurusan dengan peminat rendah. Sejumlah bidang teknik dan sains yang dulu dianggap strategis justru ikut dihentikan.

Beberapa di antaranya meliputi Teknik Metalurgi, Teknik Tekstil, Teknik Lingkungan, Information Security, Bioteknologi, hingga Fisika Nuklir. Jurusan bisnis seperti Administrasi Publik, Asuransi, dan E-Commerce juga terdampak.

Bahkan sejumlah bidang kreatif seperti Animasi, Penyiaran Televisi, Musicology, dan Seni Pertunjukan mulai dipangkas di beberapa kampus.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa ukuran relevansi jurusan kini berubah. Kampus tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas program studi, tetapi juga kesesuaiannya dengan kebutuhan industri berbasis AI dan digitalisasi.

Sebagai gantinya, China memperluas jurusan baru seperti Artificial Intelligence, Robotics, Data Science, Smart Agriculture, Digital Economy, hingga Low Carbon Technology.

AI Mengubah Struktur Pendidikan Tinggi

Perubahan tersebut mencerminkan pergeseran ekonomi global dari knowledge economy menuju intelligence economy. Dunia kerja kini tidak lagi hanya membutuhkan lulusan dengan kemampuan teoritis, tetapi tenaga kerja yang mampu menggabungkan teknologi, kreativitas, dan problem solving.

Kemampuan lintas disiplin menjadi semakin penting di tengah perkembangan AI dan otomasi industri yang bergerak cepat. Banyak pekerjaan rutin mulai tergantikan mesin, sementara perusahaan mencari talenta yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Kondisi itu menjadi peringatan serius bagi perguruan tinggi di Indonesia. Banyak kampus masih menggunakan kurikulum lama yang dibangun untuk kebutuhan industri puluhan tahun lalu.

Risikonya bukan sekadar meningkatnya pengangguran sarjana, melainkan munculnya lulusan yang memiliki ijazah tetapi kehilangan relevansi di pasar kerja modern.

Model pendidikan masa depan diperkirakan akan bergerak menuju program hybrid seperti AI dan kesehatan, AI dan pertanian, atau data science dan kebijakan publik. Fokusnya bukan lagi sekadar jurusan populer, melainkan kompetensi yang tetap dibutuhkan manusia di era AI.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Kemendikdasmen Gandeng KPK dan Polri Awasi SPMB 2026


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggalang komitmen lintas lembaga untuk mengawal pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 agar lebih transparan dan bebas diskriminasi. Komitmen itu diteken di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Langkah tersebut melibatkan aparat penegak hukum, lembaga pengawas, hingga pemerintah daerah di tengah sorotan publik terhadap praktik titipan, dominasi sekolah favorit, dan ketimpangan akses pendidikan. Pemerintah menilai SPMB bukan lagi sekadar proses administrasi tahunan, melainkan bagian dari layanan publik yang menentukan akses pendidikan anak.

Pemerintah Perketat Tata Kelola SPMB

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan pelaksanaan SPMB harus berjalan objektif, akuntabel, inklusif, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

Menurut dia, hambatan ekonomi, domisili, hingga kondisi disabilitas tidak boleh menjadi alasan anak kehilangan akses pendidikan bermutu. Karena itu, pemerintah menggandeng sejumlah institusi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Polri, Ombudsman RI, serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk mengawasi pelaksanaan SPMB Ramah.

Pelibatan lintas sektor itu menunjukkan pemerintah ingin menekan potensi penyimpangan dalam penerimaan siswa baru yang selama ini kerap memicu polemik di daerah. Mulai dari dugaan manipulasi domisili hingga praktik jalur titipan yang dinilai merusak asas keadilan.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Gogot Suharwoto mengatakan persepsi publik terhadap SPMB mulai membaik. Survei Katadata Insight Center 2025 mencatat 64 persen responden menilai sistem tersebut membantu pemerataan akses pendidikan.

Selain itu, 51 persen responden menilai SPMB meningkatkan transparansi dan 50 persen menyebut sistem ini mampu mengurangi dominasi sekolah favorit.

Daerah dan Sekolah Swasta Mulai Dilibatkan

Kemendikdasmen mencatat sebanyak 476 pemerintah daerah telah menetapkan petunjuk teknis SPMB 2026. Jumlah itu terdiri dari 451 kabupaten/kota dan 25 pemerintah provinsi.

Sejumlah daerah seperti Sumatera Utara, Palembang, Pamekasan, dan Solok bahkan mulai membuka tahapan pendaftaran.

Pemerintah juga memperluas keterlibatan sekolah swasta dalam SPMB. Sebanyak 135 daerah telah menggandeng sekolah swasta untuk menampung siswa yang tidak diterima di sekolah negeri.

Dari jumlah itu, 92 daerah memberikan bantuan operasional kepada sekolah swasta. Sementara 43 daerah menyalurkan bantuan langsung kepada murid melalui beasiswa maupun program sekolah gratis bagi keluarga kurang mampu.

SPMB Ramah 2026 menjadi ujian bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa reformasi penerimaan siswa baru tidak berhenti pada slogan transparansi. Tantangan terbesar tetap berada di level pelaksanaan daerah, terutama dalam memastikan pengawasan berjalan efektif dan akses pendidikan benar-benar merata.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Wisuda Tahfidz Darul Aman Makassar, 27 Santri Hafal 30 Juz


Duta Nusantara Merdeka | Makassar 
Suasana haru bercampur bangga menyelimuti Kampus 1 Pondok Pesantren Darul Aman Gombara Makassar, Ahad, 10 Mei 2026. Sebanyak 184 santri dan santriyah resmi ditamatkan dalam Penamatan Santri Angkatan ke-32 dan Wisuda Tahfidzul Qur’an Tahun 2026.

Momen itu makin terasa istimewa setelah pondok pesantren tersebut meresmikan lapangan baru bernama Konstantinopel Hall. Peresmian dilakukan di tengah antusiasme orang tua santri, dewan guru, serta sejumlah tokoh pendidikan Islam di Sulawesi Selatan.

Wisuda Tahfidz Jadi Sorotan Penamatan Santri

Acara diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri program takhassus, lalu dilanjutkan lagu Indonesia Raya. Nuansa khidmat langsung terasa sejak pagi.

Dari total 184 santri yang ditamatkan, terdiri atas 95 santri putra dan 89 santriyah putri. Sebanyak 27 santri di antaranya diwisuda sebagai hafiz dan hafizah Al-Qur’an.

Rinciannya, hafiz dan hafizah 30 juz kategori Kubro terdiri dari empat putra dan enam putri. Sementara kategori Sughro diikuti 14 putra dan enam putri.

Ketua panitia, Ust. Baharuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara tersebut.

“Terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga acara wisuda dan penamatan santri dapat berjalan sukses,” ujarnya.

Di tengah prosesi wisuda, suasana sempat menghangat ketika salah satu wisudawan, Rafly, menyampaikan kesan selama enam tahun belajar di pesantren. Sejumlah wali santri terlihat menahan air mata saat nama anak mereka dipanggil satu per satu.

Bagi sebagian orang tua, momen seperti ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Ada perjuangan panjang yang ikut tumbuh bersama hafalan demi hafalan para santri.

Konstantinopel Hall dan Spirit Generasi Santri

Ketua Yayasan Buq'atun Mubarakah H.M. Iqbal Djalil, Lc, meminta para lulusan menjaga tanggung jawab sosial setelah kembali ke masyarakat.

“Banggalah menjadi seorang santri dan jadilah generasi yang membawa manfaat bagi bangsa,” katanya.

Wakil Sekretaris Yayasan Buq'atun Mubarakah menjelaskan, nama Konstantinopel Hall dipilih sebagai simbol perjuangan dan semangat menuntut ilmu.

Sementara itu, Kepala Seksi Pontren Kementerian Agama Sulawesi Selatan, KH. Hasan Pinang, S.Ag., M.Phil, menilai santri memiliki peran penting sebagai pewaris nilai agama dan harapan bangsa.

Acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada santri berprestasi dan santri teladan Angkatan ke-31. Hadir pula pendiri Ponpes Darul Aman KH. Abdul Djalil dan Hj. Khaeriyah Abd Djabbar, unsur pemerintah setempat, hingga perwakilan pondok pesantren lain di Makassar.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Gotong Royong Pendidikan Nasional, Strategi Baru Mendikdasmen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan gotong royong sebagai strategi utama mempercepat transformasi pendidikan nasional di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (2/5/2026).

Dalam forum BelajaRaya, ia menyoroti kolaborasi lintas kementerian dan partisipasi publik untuk mendukung program revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran di seluruh Indonesia.

Gotong Royong Jadi Motor Transformasi Pendidikan Nasional

Menurut Mu’ti, kompleksitas persoalan pendidikan tak lagi bisa ditangani pemerintah sendirian. Perlu keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan agar layanan pendidikan merata dan berkualitas.

“Gotong royong adalah kekuatan utama bangsa Indonesia. Dalam konteks pendidikan, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting,” ujarnya di Jakarta.

Program revitalisasi, kata dia, tidak sekadar memperbaiki bangunan sekolah. Fokus utamanya menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pembelajaran bermakna.

Saya teringat saat berkunjung ke sekolah pinggiran beberapa tahun lalu. Bangunannya berdiri, tapi suasananya kaku dan minim interaksi. Di titik itu, terlihat jelas bahwa kualitas belajar tidak hanya ditentukan tembok.

Mu’ti menegaskan, pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan kualitas pembelajaran siswa.

Digitalisasi dan Kolaborasi Lintas Sektor Dipercepat

Selain revitalisasi, Kementerian mendorong digitalisasi pembelajaran melalui teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP). Tujuannya membuat proses belajar lebih interaktif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

“Dengan teknologi, pembelajaran jadi lebih menarik dan mudah dipahami,” kata Mu’ti.

Namun, ia juga mengingatkan tantangan baru di era keterbukaan informasi. Pemerintah harus mampu memilah aspirasi publik yang konstruktif dari sekadar “noise”.

“Kita harus bisa membedakan voice dan noise,” ujarnya.

Di forum yang sama, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyoroti program Sekolah Rakyat sebagai contoh nyata gotong royong lintas sektor untuk menjangkau anak dari keluarga kurang mampu.

“Intervensinya tidak hanya pada anak, tetapi juga keluarganya agar keluar dari siklus kemiskinan,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai praktik gotong royong sudah lama hidup di madrasah dan pesantren.

“Lembaga ini bertahan karena kekuatan kebersamaan masyarakat,” ujarnya.

Di ujung diskusi, pesan yang tersisa cukup jelas. Tanpa kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan publik, transformasi pendidikan berisiko berjalan setengah hati.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Ginjal Tidak Rusak Mendadak, Ini Cara Mencegahnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Cara menjaga kesehatan ginjal dari usus menjadi sorotan dalam tren kesehatan terbaru. Pendekatan ini menekankan hubungan erat antara usus dan ginjal dalam sistem metabolisme tubuh.

Konsep ini menjelaskan bahwa gangguan pada usus dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama ketika pola makan buruk memicu peradangan dan kebocoran zat berbahaya ke aliran darah.

Hubungan Usus dan Ginjal yang Sering Diabaikan

Dalam praktik sehari-hari, banyak orang mengira kerusakan ginjal terjadi tiba-tiba. Padahal, prosesnya sering berlangsung perlahan akibat beban kerja yang terus meningkat.

Usus berfungsi sebagai gerbang utama penyerapan nutrisi. Saat sehat, ia menyaring zat baik dan membuang limbah. Namun, ketika meradang, fungsi ini terganggu.

Saya pernah berbincang dengan seorang dokter penyakit dalam yang menyebut banyak pasien datang terlambat. Mereka fokus pada ginjal, tapi lupa akar masalahnya ada di pola makan.

Ketika usus “bocor”, partikel inflamasi dan sisa metabolisme masuk ke darah. Ginjal kemudian bekerja ekstra keras untuk menyaringnya. Kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa disadari.

Dalam jangka panjang, beban tersebut dapat memengaruhi tekanan darah dan keseimbangan cairan tubuh. Ini yang sering menjadi awal gangguan ginjal kronis.

Pola Hidup Jadi Kunci Pencegahan

Pendekatan kesehatan kini mulai bergeser. Menjaga ginjal tidak lagi hanya fokus pada organ itu sendiri, tetapi dimulai dari memperbaiki sistem pencernaan.

Langkah paling dasar adalah memilih makanan alami atau whole food. Asupan serat yang cukup membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus.

Selain itu, makanan fermentasi juga berperan penting. Produk ini membantu memperkuat sistem imun sekaligus memperbaiki kondisi usus yang meradang.

Yang sering luput, konsumsi produk ultra-proses justru memperburuk keadaan. Kandungan zat aditif dapat memicu inflamasi dan memperberat kerja ginjal.

Saya sendiri pernah mencoba mengurangi makanan olahan selama beberapa minggu. Perubahan paling terasa justru di pencernaan—lebih ringan, dan energi lebih stabil.

Beban Tambahan dari Zat Sintetis

Selain makanan, paparan zat kimia sintetis juga menjadi faktor yang memperberat kerja ginjal. Zat ini masuk ke aliran darah dan harus disaring setiap hari.

Ginjal pada dasarnya sudah bekerja keras menyaring limbah metabolisme. Ketika ditambah beban dari polutan sintetis, kapasitasnya bisa menurun.

Pendekatan alami dinilai lebih aman. Tubuh lebih mudah mengenali dan memproses zat dari bahan alami dibandingkan senyawa buatan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan ginjal bukan soal langkah instan. Ini tentang kebiasaan kecil yang konsisten, dimulai dari apa yang kita makan setiap hari.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Tips Aman Pantau Pendidikan Anak, WhatsApp Dinilai Menyesatkan


Duta Nusantara Merdeka | Surabaya 
Keyakinan jutaan orang tua bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak cukup lewat grup WhatsApp dipatahkan. Prof. Imas Maesaroh menilai pola ini keliru dan berisiko menghambat perkembangan akademik anak.

Peringatan itu disampaikan dalam talkshow EduFun East di Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Kamis (30/4/2026). Forum ini mempertemukan sekolah dan orang tua, membahas kolaborasi konkret demi prestasi siswa di tengah momentum ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi.

WhatsApp Bukan Solusi Komunikasi Pendidikan

“WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan,” ujar Prof. Imas Maesaroh, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ia menilai, penggunaan WhatsApp hanya solusi darurat karena ketiadaan sistem yang lebih tepat. Akibatnya, komunikasi antara sekolah dan orang tua menjadi dangkal dan terlambat.

Saya pernah mendengar keluhan serupa dari seorang orang tua di Jakarta. Ia merasa aktif karena selalu membaca grup kelas, tapi baru tahu anaknya bermasalah saat rapor dibagikan. Terlambat.

Masalah utamanya bukan niat, melainkan sistem. Grup WhatsApp tidak mampu menangkap sinyal awal penurunan nilai, absensi, atau masalah disiplin.

Lima kelemahan utama disorot: informasi bersifat umum, pesan penting tenggelam, isu sensitif tak layak dibuka, tidak terhubung data akademik, dan notifikasi berlebihan justru membebani.

Riset Global: Informasi Rutin Dongkrak Prestasi

Prof. Imas merujuk riset Profesor Peter Bergman (2021). Orang tua yang menerima laporan rutin dua mingguan melihat peningkatan signifikan prestasi anak.

Dari peringkat 30, siswa bisa naik ke 10 atau 15. Sebaliknya, tanpa informasi rutin, tidak ada perubahan berarti.

Penelitian lanjutan di West Virginia mencatat penurunan kegagalan pelajaran hingga 27 persen dan peningkatan kehadiran 12 persen.

Temuan serupa muncul di Chile (2024). Artinya, pola ini relevan juga untuk Indonesia.

“Komunikasi rutin dan akurat langsung berdampak pada karakter dan kompetensi anak,” kata Imas.

Sistem Terintegrasi Jadi Kunci

Menurut Imas, orang tua berhak mendapat empat informasi utama: kehadiran real-time, nilai akademik, aktivitas ekstrakurikuler, dan pengawasan kegiatan luar sekolah.

Namun, beban guru membuat komunikasi personal harian tidak realistis.

Solusinya adalah sistem otomatis berbasis platform terintegrasi. Contohnya, aplikasi akademik yang mengirim notifikasi langsung ke orang tua.

Dalam praktiknya, orang tua bisa langsung tahu anak tidak masuk kelas hari itu, tanpa menunggu laporan akhir semester.

Di titik ini, pertanyaan sederhana menjadi penting: seberapa cepat sekolah memberi informasi kritis? Jawaban itu mencerminkan kualitas sistem pendidikan yang dijalankan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

PCM Medan Denai Gelar Workshop Pendidikan Bermutu



Duta Nusantara Merdeka | Kota Medan
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Medan Denai Menggelar Kegiatan Workshop Pendidikan Bermutu dengan Tema Strategi Marketing Sekolah Muhammadiyah Optimasi Target SPMB yang dilaksanakan di Aula SD Muhammadiyah 23 Terpadu Full Day Medan Jl. Denai GG. Mulajadi Mandala Medan (30/4).

Kegiatan Workshop ini Menampilkan dua Orang Narasumber yakni Assoc. Prof. Dr. Rizka Harfiani, S.Pd.I, MA dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Kota Medan, Drs. Ali Nurdin, MA. Workshop ini dihadiri oleh Seluruh Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Pendidik yang berada dalam Ruang Lingkup Majelis Dikdasmen dan PNF Cabang Medan Denai.

Selain itu Pimpinan Cabang Muhammadiyah Medan Denai juga Melibatkan Seluruh Stakeholder yang berada di Cabang Medan Denai dengan Mengundang Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) serta Ortom, Majelis Se Cabang Medan Denai dengan tujuan Bersama untuk Memajukan AUM di Medan Denai.


Ketua PCM Medan Denai, Harun Al Rasyid, S.Pd.I menyampaikan bahwa Workshop ini digelar sebagai salah satu Pilar Pendidikan dan Mutu Sekolah Muhammadiyah maka melalui Workshop ini nantinya akan menjadikan Pendidik Profesional, Modern dan Berinovasi serta menciptakan Suasana Sekolah yang Islami. Ujarnya.

Harun menambahkan Workshop ini, seperti yang sering diadakan di lingkungan Dikdasmen Muhammadiyah, menegaskan bahwa mutu pendidikan di sekolah Muhammadiyah merupakan upaya komprehensif (komprehensif) untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu dan berkarakter mulia, Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk Persiapan dalam menghadapi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang nantinya dapat diimplementasikan dengan harapan semakin Banyak Masyarakat Menyekolahkan anaknya di Sekolah Muhammadiyah.
Share:

Tujuh Tanda Serangan Jantung yang Bisa Muncul Sebulan Sebelumnya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Serangan jantung sering dianggap datang mendadak tanpa peringatan. Padahal, dalam banyak kasus, tubuh sudah lebih dulu mengirim sinyal sejak beberapa minggu sebelumnya, bahkan hingga sebulan sebelum serangan terjadi.

Masalahnya, banyak orang menganggap gejala awal itu hanya keluhan ringan seperti masuk angin, maag, atau sekadar kelelahan biasa. Akibatnya, penanganan terlambat dan risiko justru membesar.

Saya pernah mendengar cerita seorang tetangga yang mengira sesak napas dan cepat lelah hanya karena usia bertambah. Ia tetap memaksakan aktivitas harian. Seminggu kemudian, ia harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung mendadak.

Kasus seperti itu bukan hal langka. Justru sering terjadi karena tanda awal terlihat terlalu “biasa” untuk dianggap serius.

Tujuh Tanda Serangan Jantung yang Sering Diabaikan

1. Cepat Lelah

Dulu kuat beraktivitas, kini naik tangga sedikit saja sudah terasa berat. Ini bisa menjadi sinyal bahwa jantung mulai tidak bekerja optimal.

Jika rasa lelah itu berbeda dari biasanya, jangan langsung menganggapnya hanya faktor usia atau kurang istirahat.

2. Napas Menjadi Pendek

Aktivitas ringan seperti berjalan santai atau membereskan rumah tiba-tiba membuat napas terasa pendek dan tidak lega.

Kondisi ini bisa menandakan suplai oksigen terganggu karena fungsi jantung mulai menurun.

3. Dada Tidak Nyaman

Tidak selalu berupa nyeri tajam. Kadang rasanya seperti dada tertekan, penuh, atau seperti tertindih sesuatu.

Jika keluhan ini muncul berulang, terutama saat beraktivitas, itu patut menjadi perhatian serius.

4. Nyeri Menjalar

Rasa tidak nyaman dari dada bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung.

Banyak orang mengira ini hanya pegal biasa, padahal bisa menjadi alarm penting dari jantung.

Gejala Tambahan yang Sering Disalahartikan

5. Keringat Dingin

Tubuh tiba-tiba berkeringat dingin tanpa cuaca panas atau aktivitas berat bisa menjadi tanda tubuh sedang dalam mode darurat.

Apalagi jika disertai dada tidak nyaman atau sesak napas, jangan menunda pemeriksaan.

6. Mual dan Perut Tidak Nyaman

Kadang gejalanya mirip maag atau masuk angin. Perut terasa tidak enak, mual, bahkan ingin muntah.

Karena letak saraf yang saling berkaitan, sinyal dari jantung bisa terasa seperti gangguan pencernaan.

7. Tidur Berantakan

Sering terbangun tengah malam, gelisah, atau merasa tubuh tidak benar-benar beristirahat juga bisa menjadi tanda awal.

Banyak orang menyalahkannya pada stres, padahal tubuh sedang memberi sinyal bahwa ada yang tidak beres.

Yang paling berbahaya bukan karena tanda itu tidak ada, tetapi karena kita memilih mengabaikannya.

Jika mulai merasakan beberapa gejala ini, jangan panik. Namun, jangan menunda konsultasi medis agar risiko serangan jantung bisa ditekan lebih awal.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Dokter Swedia Ungkap Cara Ampuh Cegah Stroke Sejak Dini


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Dokter di Swedia mengungkap fakta mengejutkan: 80% kasus stroke sebenarnya dapat dicegah jika masyarakat lebih sadar sejak dini. Menurut mereka, langkah sederhana seperti mengenali tanda FAST dan menjaga aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, bisa menurunkan risiko stroke secara signifikan.

Saya teringat ketika seorang tetangga, yang semula sehat, tiba-tiba mengalami stroke di usia 45 tahun. Ketidaktahuannya tentang gejala awal membuatnya terlambat mendapat pertolongan. Ini menunjukkan, pengetahuan menjadi benteng paling kuat.

Tanda FAST: Cara Cepat Selamatkan Nyawa

FAST adalah singkatan dari empat tanda stroke yang perlu dikenali: wajah, lengan, bicara, dan waktu. Dokter di Stockholm menegaskan, jika kita bisa mengenali satu tanda saja, maka tindakan cepat ke IGD bisa menyelamatkan nyawa. Misalnya, jika seseorang tiba-tiba wajahnya miring, lengan jatuh, atau bicaranya cadel, waktu berharga tak boleh ditunda.

Selain itu, stroke terjadi saat suplai darah ke otak terhenti. Dokter dari American Stroke Association menjelaskan, ada dua jenis utama: iskemik (ketika pembuluh darah tersumbat) dan hemoragik (pembuluh pecah). Hal ini terjadi lebih cepat dari yang kita sadari, dan setiap menitnya, sel otak bisa mati.

Hidroterapi dan Gaya Hidup Aktif untuk Pemulihan

Bagi mereka yang sudah sembuh dari stroke, hidroterapi menawarkan harapan. Dalam air, beban tubuh berkurang hingga 60%, sehingga otot bisa dilatih tanpa tekanan berlebih. Saya ingat, saat meliput rehabilitasi di sebuah pusat terapi, saya melihat seorang ibu yang semula lumpuh, kini mulai bisa berjalan lagi berkat latihan di kolam.

Dokter Swedia juga menekankan tiga perubahan paling efektif untuk mencegah stroke: rutin cek tekanan darah dengan target sistolik di bawah 130 mmHg, berhenti merokok, dan gerak aktif minimal 30 menit, lima hari dalam seminggu. Ini bukan sekadar saran, melainkan langkah nyata yang sudah terbukti memperpanjang usia dan kualitas hidup.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Asam Urat Usia 20-an Meningkat, Ginjal Jadi Taruhan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kasus asam urat pada usia muda kini makin sering ditemukan. Bukan hanya pada laki-laki, perempuan usia 20-an juga mulai banyak mengeluhkan nyeri sendi mendadak yang ternyata berujung pada gangguan ginjal.

Masalahnya sering dianggap sepele. Banyak orang mengira nyeri pada kaki atau jempol hanya akibat kelelahan biasa. Padahal, itu bisa menjadi sinyal awal kadar asam urat yang sudah terlalu tinggi dan mulai membebani ginjal.

Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Memicu

Pola makan menjadi pemicu paling sering. Konsumsi jeroan, seafood, daging merah, hingga makanan instan berlebihan membuat kadar purin meningkat dan memicu penumpukan asam urat dalam tubuh.

Saya pernah menemui seorang pekerja kantoran berusia 27 tahun yang mengaku hampir setiap malam makan mi instan dan gorengan karena praktis. Saat nyeri menyerang, ia baru sadar biaya berobat jauh lebih mahal daripada menjaga pola makan.

Kurang minum air putih juga memperburuk kondisi. Saat tubuh kekurangan cairan, ginjal lebih sulit membuang asam urat melalui urin. Akibatnya, kristal menumpuk dan berpotensi memicu batu ginjal.

Minuman bersoda dan tinggi gula juga tak kalah berbahaya. Kandungan fruktosa tinggi dapat meningkatkan kadar asam urat sekaligus mempercepat kerusakan fungsi ginjal.

Gaya hidup minim gerak ikut memperparah. Duduk terlalu lama, jarang olahraga, dan berat badan berlebih membuat metabolisme melambat sehingga peradangan lebih mudah muncul.

Belum lagi stres yang sering dianggap hal biasa. Saat hormon tubuh tidak stabil, respons peradangan meningkat dan serangan nyeri sendi menjadi lebih mudah kambuh.

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Tanda paling umum adalah nyeri mendadak pada malam hari. Biasanya muncul di area jempol kaki, lutut, atau pergelangan dengan rasa sakit yang tajam.

Sendi juga terasa panas, merah, dan bengkak. Pada beberapa kasus, rasa nyerinya sangat hebat sampai penderita sulit berjalan.

Banyak orang menunda pemeriksaan karena merasa masih muda. Padahal, justru di fase awal inilah pengendalian paling efektif bisa dilakukan.

Saya teringat keluhan seorang ibu muda yang mengira kakinya terkilir biasa. Setelah diperiksa, ternyata kadar asam uratnya tinggi dan sudah memicu gangguan pada saluran kemih.

Jika Dibiarkan, Dampaknya Lebih Serius

Serangan nyeri bisa berulang dan makin sering. Kaki menjadi bengkak, sulit digerakkan, bahkan muncul benjolan keras atau tophi akibat penumpukan kristal asam urat.

Komplikasi paling berat terjadi pada ginjal, mulai dari batu ginjal hingga gagal ginjal. Risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, stroke, dan sindrom metabolik juga ikut meningkat.

Karena itu, pencegahan harus dimulai lebih cepat.

Kurangi makanan tinggi purin, minum air putih minimal dua liter per hari, rutin bergerak, menjaga berat badan ideal, serta menghindari alkohol dan minuman tinggi gula menjadi langkah paling sederhana namun paling efektif.

Kesehatan memang investasi mahal. Banyak orang baru sadar setelah tubuh mulai memberi tagihan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Kebiasaan Sepele Pemicu Serangan Jantung yang Sering Diabaikan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Serangan jantung kerap dipersepsikan sebagai peristiwa mendadak. Padahal, kondisi ini terbentuk perlahan akibat kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Pola hidup sederhana—dari kurang minum hingga begadang—diam-diam memperberat kerja jantung dan merusak pembuluh darah.

Di berbagai kota besar, pola hidup serba cepat makin memperparah situasi. Banyak orang mengabaikan sinyal tubuh karena merasa masih “baik-baik saja”, hingga akhirnya risiko menumpuk tanpa disadari.

Kebiasaan Sepele yang Memicu Risiko Jantung

Kurang minum air putih jadi salah satu pemicu paling sering diabaikan. Tubuh yang kekurangan cairan membuat darah lebih kental, sehingga jantung harus bekerja ekstra memompanya.

Saya pernah menemui rekan kerja yang hanya minum saat benar-benar haus. Ia menganggap sepele, sampai akhirnya mengalami tekanan darah tinggi di usia relatif muda.

Begadang juga tak kalah berbahaya. Meski durasi tidur cukup, tidur lewat tengah malam mengganggu ritme biologis tubuh. Dampaknya menjalar ke metabolisme hingga fungsi jantung.

Paparan asap rokok, baik aktif maupun pasif, tetap menjadi ancaman serius. Zat beracun dalam asap rokok merusak pembuluh darah dan mempercepat proses penyumbatan.

Kebiasaan ngemil tanpa kontrol—terutama saat bekerja atau scrolling—menambah asupan gula, garam, dan lemak tanpa disadari. Pola ini mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah.

Dampak dan Cara Mengendalikannya

Stres yang tidak dikelola membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Denyut jantung dan tekanan darah meningkat, bahkan saat tubuh seharusnya beristirahat.

Kurang tidur memperburuk kondisi ini. Jantung kehilangan waktu pemulihan optimal, sementara hormon stres meningkat.

Gaya hidup minim gerak atau “mager” memperlambat aliran darah. Lemak lebih mudah menumpuk dan mempersempit pembuluh.

Solusinya relatif sederhana, namun butuh konsistensi. Mulai dari minum air secara rutin, tidur lebih awal secara bertahap, hingga aktif bergerak setiap 30–60 menit.

Pengalaman pribadi lain, mencoba berjalan kaki singkat setiap satu jam kerja terasa sepele. Namun setelah beberapa minggu, tubuh terasa lebih ringan dan fokus meningkat.

Intinya, serangan jantung bukan hasil dari satu kesalahan besar, melainkan akumulasi kebiasaan kecil yang dianggap wajar. Yang berbahaya bukan yang sesekali, tapi yang terus diulang tanpa kontrol.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Midlife Crisis Usia 40-65: Tanda, Risiko, dan Solusi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena fakta midlife crisis usia 40-65 dan dampaknya pada hubungan kembali menjadi perhatian setelah berbagai studi menunjukkan tekanan psikologis meningkat pada fase tersebut. Rentang usia 40 hingga 65 tahun disebut sebagai periode paling rentan.

Data dari Institute for Family Studies mencatat sekitar 20 persen pasangan menikah di Amerika Serikat mengaku pernah berselingkuh di usia 55 tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok usia di bawahnya.

Gejala Midlife Crisis: Dari Jenuh hingga Cari Validasi

Midlife crisis sering tidak muncul dalam bentuk ekstrem. Ia datang pelan—rasa jenuh, kehilangan makna, hingga kebutuhan untuk diakui kembali.

Dari pengalaman, isu keluarga beberapa tahun terakhir, keluhan yang paling sering muncul bukan soal konflik besar, tapi justru hal kecil: komunikasi yang dingin dan rutinitas yang terasa monoton.

The Gottman Institute mencatat penurunan kepuasan emosional sebagai pemicu utama. Perasaan kehilangan kedekatan ini kemudian mendorong sebagian orang mencari validasi di luar hubungan.

Faktor lain juga berperan. Perubahan fisik, tekanan karier, hingga fase “empty nest” saat anak mulai mandiri membuat banyak orang merasa kehilangan peran.

Pada titik ini, midlife crisis bukan sekadar soal usia, tetapi soal transisi identitas. Banyak orang ingin “mengulang masa muda” atau mencoba hal baru untuk mengisi kekosongan.

Relasi, Pernikahan, dan Upaya Menghindari Krisis

Dampak paling nyata terlihat pada relasi rumah tangga. Rasa tidak dihargai atau tidak dicintai sering menjadi pintu masuk konflik yang lebih besar.

Namun, sejumlah pendekatan sederhana justru dianggap efektif. Memperbaiki komunikasi, menghidupkan kembali kedekatan fisik, hingga mengunjungi kembali tempat penuh kenangan menjadi cara yang sering direkomendasikan.

Saya pernah berbincang dengan pasangan yang hampir berpisah setelah 20 tahun menikah. Mereka tidak menyelesaikan masalah dengan langkah besar, tapi dari kebiasaan kecil: kembali makan malam bersama tanpa distraksi.

Selain itu, penting membangun rasa syukur terhadap kondisi saat ini. Perubahan fisik dan karier adalah keniscayaan, bukan ancaman.

Konsep lain yang mulai banyak dibicarakan adalah “legacy”—warisan nilai dan makna hidup. Fokus ini dinilai membantu individu melihat hidup lebih luas, bukan sekadar pencapaian pribadi.

Pada akhirnya, midlife crisis bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dipahami. Ia menjadi alarm bahwa ada aspek hidup yang perlu ditata ulang, terutama dalam relasi dan makna diri.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Cara Memahami Aturan Sosial Agar Tidak Diremehkan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena orang mudah diremehkan kembali jadi sorotan dalam dinamika sosial modern, terutama di lingkungan kerja dan pergaulan profesional. Banyak individu dinilai kompeten secara teknis, namun tetap kesulitan mendapat respek karena tidak memahami aturan sosial tak tertulis yang menentukan cara orang lain memperlakukan mereka.

Situasi ini terjadi lintas usia dan profesi. Masalahnya bukan sekadar kemampuan, melainkan sinyal sosial yang dikirim—bagaimana seseorang menetapkan batas, berbicara, dan merespons tekanan dalam interaksi sehari-hari.

Peta Aturan Sosial yang Tak Pernah Diajarkan

Di sekolah, orang dilatih berpikir logis. Di kantor, mereka diasah secara teknis. Namun, satu hal sering terlewat: bagaimana manusia membaca kekuatan dalam interaksi sosial.

Dalam banyak situasi, keputusan dan perlakuan tidak sepenuhnya ditentukan oleh data atau kemampuan. Ada lapisan lain—cara seseorang membawa diri.

Saya pernah menyaksikan seorang rekan dengan analisis tajam justru diabaikan dalam rapat. Ia terlalu sering menjelaskan diri, bahkan sebelum dikritik. Tanpa sadar, itu memberi sinyal keraguan.

Sebaliknya, ada sosok lain yang lebih hemat bicara, tapi setiap kalimatnya diperhitungkan. Bukan karena lebih pintar, melainkan karena tahu kapan harus bicara dan kapan diam.

Ketika Sinyal Lebih Kuat dari Kata-Kata

Orang yang tidak memahami aturan sosial cenderung bereaksi berlebihan. Mereka cepat membela diri, takut dianggap salah, dan berusaha menyenangkan semua pihak.

Polanya berulang: terlalu mudah mengalah, terlalu banyak menjelaskan, dan sulit menetapkan batas. Akibatnya, orang lain membaca celah tersebut sebagai ruang untuk menekan.

Sebaliknya, mereka yang memahami dinamika ini tidak selalu dominan. Mereka justru lebih terukur. Mereka tahu kapan menarik diri, kapan menahan respons, dan kapan bersikap tegas.

Seorang analis muda pernah mengatakan, “Kadang bukan argumen yang menentukan, tapi bagaimana kita berdiri saat menyampaikannya.” Pengamatan itu terasa relevan di banyak situasi.

Dampak: Dari Diremehkan ke Dihormati

Perubahan perlakuan sosial sering kali bukan datang dari peningkatan kemampuan, melainkan dari perubahan sikap.

Saat seseorang berhenti mencari persetujuan semua orang, tidak lagi terburu-buru membela diri, dan mulai menetapkan batas yang jelas, respons lingkungan ikut berubah.

Rasa hormat dalam banyak kasus bukan lahir dari kebaikan semata, melainkan dari konsistensi sikap dan ketegasan batas.

Cara memahami aturan sosial agar tidak diremehkan menjadi kunci dalam membangun posisi yang lebih kuat, baik di tempat kerja maupun dalam relasi sehari-hari.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Membaca Peta Sosial Kantor, Kunci Menang di Dunia Kerja


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena peta sosial kantor yang lebih menentukan dibanding data kembali jadi sorotan dalam dinamika kerja modern. Di banyak organisasi, keputusan penting justru lahir dari relasi, bukan angka, terutama dalam situasi penuh kepentingan.

Dalam praktiknya, kemampuan membaca siapa berpengaruh, kapan bicara, dan bagaimana membangun aliansi sering kali lebih menentukan hasil dibanding analisis data yang presisi sekalipun.

Peta Sosial Kantor Lebih Kuat dari Data

Ada satu pola yang berulang di banyak ruang rapat: data sudah rapi, grafik sudah kuat, tapi keputusan tetap melenceng. Bukan karena datanya salah, melainkan karena “pembacanya” keliru.

Seorang manajer pernah bercerita, proposalnya ditolak mentah meski didukung angka solid. Beberapa minggu kemudian, ide serupa lolos—dibawa oleh orang yang lebih dekat dengan pengambil keputusan.

Di titik ini, peta sosial bekerja. Ia membaca hal yang tak tertulis: ego, kepentingan, dan relasi personal. Data tidak punya emosi. Manusia punya.

Orang yang piawai membaca jaringan sosial tahu kapan harus mendorong ide, dan kapan menahan diri. Bahkan sebelum rapat dimulai, arah keputusan sering sudah terbentuk lewat percakapan informal.

Ketika Pengaruh Mendahului Logika

Dalam banyak kasus, yang menentukan bukan siapa paling benar, melainkan siapa paling mampu membuat argumen terasa masuk akal bagi pihak yang berkuasa.

Di sinilah pengaruh menjadi mata uang utama. Mereka yang memahami struktur informal organisasi tahu siapa yang harus diajak bicara lebih dulu, siapa yang bisa menjadi penghambat diam-diam.

Ada juga strategi halus: memberi ilusi kendali kepada pihak tertentu agar resistensi menurun. Teknik ini sering dipakai tanpa disadari, tapi dampaknya nyata dalam keputusan akhir.

Pengalaman lain datang dari seorang analis muda. Ia mengaku lebih banyak belajar dari “mengamati dinamika rapat” ketimbang membaca laporan. “Kadang yang menentukan bukan isi presentasi, tapi siapa yang duduk di sebelah siapa,” ujarnya.

Dampak dan Pelajaran bagi Profesional

Realitas ini mengubah cara banyak profesional bekerja. Analisis tetap penting, tapi tidak cukup.

Langkah pertama adalah memahami hubungan sebelum mendorong sistem. Kedua, membangun pengaruh sebelum membawa data ke meja diskusi.

Peta sosial kantor bukan soal manipulasi, melainkan kecermatan membaca situasi. Ini tentang memahami lanskap kekuasaan yang sering tersembunyi di balik struktur formal.

Pada akhirnya, mereka yang menguasai jaringan sosial sering unggul lebih dulu. Sementara yang hanya fokus pada angka, kerap tertinggal—bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang membaca manusia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Cara Mengatur Aliran Uang ala Orang Kaya, Ini Faktanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Konsep cara mengatur aliran uang ala orang kaya kembali jadi perhatian di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup konsumtif. Banyak pekerja berpenghasilan tetap mengaku sulit menahan uang, meski pendapatan meningkat.

Fenomena ini terjadi lintas sektor, dari karyawan muda hingga profesional senior. Polanya sama: uang masuk rutin, tetapi cepat keluar tanpa arah yang jelas atau sistem yang terbangun.

Cara Mengatur Aliran Uang, Bukan Sekadar Mencari

Ada satu analogi yang belakangan terasa masuk akal: uang seperti air. Jika alirannya tidak diatur, ia akan habis, bahkan saat volumenya besar.

Seorang rekan di ruang redaksi pernah bercerita, gajinya naik dua kali lipat dalam tiga tahun. Tapi kondisi finansialnya tidak berubah signifikan. “Aneh, uangnya seperti lewat saja,” katanya suatu sore.

Masalahnya bukan pada jumlah pemasukan, melainkan tidak adanya “jalur aliran”. Uang datang, dipakai, lalu hilang tanpa sempat bekerja.

Dalam praktik orang kaya, fokusnya bukan sekadar menambah pemasukan. Mereka membangun sistem: dari mana uang masuk, ke mana dialirkan, dan bagaimana kembali dalam bentuk lain.

Membangun Sistem Aliran, Bukan Kebocoran

Aliran uang yang sehat bersifat terstruktur. Sebagian digunakan untuk kebutuhan hidup, sebagian dialokasikan ke aset, dan sebagian lagi diputar untuk menciptakan arus baru.

Di sinilah perbedaan paling terasa. Banyak orang fokus “menampung air”, tapi lupa membangun pipa. Akibatnya, penghasilan terus habis tanpa jejak pertumbuhan.

Saya pernah melihat langsung pola ini pada seorang pengusaha kecil. Ia tidak mencatat pengeluaran detail, tapi disiplin memisahkan uang usaha dan pribadi. Hasilnya, bisnisnya tumbuh stabil tanpa terasa.

Sebaliknya, mereka yang mencampur semua arus keuangan cenderung mengalami kebocoran. Uang terlihat banyak di awal bulan, tapi menipis tanpa kontrol menjelang akhir.

Dampak dan Cara Mengubah Pola

Pemahaman ini menggeser cara melihat kekayaan. Ukurannya bukan lagi seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa efisien aliran uang dikelola.

Langkah awalnya sederhana: petakan arus kas secara jujur. Lalu tentukan jalur tetap—untuk kebutuhan, investasi, dan pengembangan sumber pendapatan baru.

Cara mengatur aliran uang yang disiplin memungkinkan stabilitas finansial jangka panjang. Tanpa itu, kenaikan gaji hanya memberi ilusi kemajuan.

Pada akhirnya, uang yang diarahkan bisa membangun sistem yang menopang hidup. Sementara uang yang dibiarkan liar hanya mempercepat siklus habis dan mengulang dari nol.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Kemendikdasmen Perkuat Rumah Pendidikan di Tengah Pembatasan Medsos


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kebijakan pembatasan media sosial pelajar melalui PP TUNAS mulai berlaku Maret 2026. Pemerintah mendorong penggunaan Super Aplikasi Rumah Pendidikan sebagai alternatif ruang digital edukatif.

Langkah ini dijalankan bersamaan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusdatin sejak 2025, sebagai respons atas risiko konten negatif yang mengancam perkembangan anak.

Pembatasan Media Sosial dan Alternatif Digital Pendidikan

Guru Biologi SMAN 8 Raja Ampat, Winanto Tri Hapsoro, menilai kebijakan ini relevan dengan kondisi pelajar yang masih rentan terhadap pengaruh digital.

“Pembatasan media sosial oleh pemerintah sangat relevan, karena pelajar masih berada pada fase perkembangan yang rentan pengaruh konten negatif,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Ia menyebut kehadiran Super Aplikasi Rumah Pendidikan menjadi pembeda. Platform ini tidak hanya membatasi, tetapi juga memberi alternatif ruang belajar yang lebih aman.

Di lapangan, perubahan ini terasa nyata. Saya pernah berbincang dengan guru di wilayah timur Indonesia yang mengeluhkan distraksi media sosial lebih dominan daripada bahan ajar. Kini, arah itu mulai bergeser.

Winanto mencontohkan fitur Ruang Murid dan Lab Maya yang memungkinkan siswa di Papua Barat Daya mengakses pengalaman belajar setara dengan sekolah di kota besar.

“Konten seperti Lab Maya sangat membantu siswa kami memahami materi secara lebih mendalam,” katanya.

Efektivitas, Tantangan, dan Adaptasi Generasi Digital

Meski demikian, implementasi kebijakan belum sepenuhnya efektif. Muhammad Najmi HR, siswa kelas VI di Sarijadi, Bandung, mengaku masih bisa mengakses platform seperti TikTok dan YouTube.

Celah ini menunjukkan perlunya pengawasan dan integrasi sistem yang lebih kuat agar kebijakan tidak berhenti di level regulasi.

Dari sisi orang tua, dukungan cukup kuat. Siti Samiatun, warga Cimahi, menilai pembatasan ini membantu mengontrol aktivitas digital anak.

“Saya setuju dengan pembatasan media sosial. Anak jadi tidak terlalu larut dan lupa waktu,” ujarnya.

Namun tantangan berikutnya adalah relevansi konten. Winanto menekankan pentingnya pengembangan fitur mobile dan format video pendek agar sesuai dengan kebiasaan generasi muda.

Saya sendiri melihat pola konsumsi konten pelajar kini sangat cepat. Tanpa adaptasi format, platform edukasi berisiko ditinggalkan meski niatnya baik.

Integrasi Sistem dan Masa Depan Pembelajaran Digital

Kepala Pusdatin, Wibowo Mukti, menjelaskan Super Aplikasi Rumah Pendidikan dirancang sebagai ekosistem terpadu dengan delapan menu utama, termasuk Ruang Murid dan Ruang Guru.

Sebelumnya, layanan pendidikan digital tersebar di hampir 300 aplikasi berbeda. Kondisi ini menyulitkan lebih dari 4 juta guru dan 40 juta siswa di seluruh Indonesia.

Melalui integrasi ini, pemerintah menargetkan pembelajaran yang lebih inklusif, efisien, dan merata, terutama di wilayah terpencil.

Jika konsisten dijalankan, kombinasi pembatasan media sosial pelajar dan penguatan platform edukasi bisa menjadi titik balik pengelolaan ruang digital anak di Indonesia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto




Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini