Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Public Expose. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Public Expose. Tampilkan semua postingan

GHON Targetkan Pendapatan Rp208 Miliar di Tengah Tekanan Kinerja 2026


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) menetapkan target pendapatan sebesar Rp208,33 miliar sepanjang 2026 meskipun kinerja perseroan pada kuartal I tahun ini menunjukkan perlambatan. Manajemen optimistis sasaran tersebut dapat dicapai melalui penguatan strategi bisnis, ekspansi menara, serta peningkatan hubungan dengan para pemangku kepentingan.

Direktur Utama GHON, Rudolf Parningotan Nainggolan, mengungkapkan bahwa pendapatan perseroan pada kuartal I-2026 tercatat Rp51,22 miliar. Angka tersebut turun 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp53,30 miliar. Pernyataan itu disampaikan Rudolf dalam Public Expose yang digelar di Jakarta, Kamis (5/6/2026).

Penurunan pendapatan turut berdampak pada laba bersih perusahaan. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, GHON membukukan laba bersih Rp16,77 miliar atau setara Rp30,49 per saham. Realisasi tersebut turun 22,08 persen dibandingkan laba bersih Rp21,52 miliar pada kuartal I-2025.

Kinerja GHON Kuartal I 2026 Tertekan

Selain laba bersih, laba kotor perusahaan juga mengalami penurunan menjadi Rp35,56 miliar dari sebelumnya Rp39,77 miliar. Sementara itu, laba operasi tercatat Rp30,64 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp34,47 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi posisi keuangan, total aset GHON hingga Maret 2026 tercatat Rp1,42 triliun, turun 2,65 persen dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar Rp1,46 triliun. Adapun liabilitas dan ekuitas masing-masing tercatat Rp627,09 miliar dan Rp797,07 miliar.

Strategi dan Target Bisnis 2026

Meski menghadapi tekanan kinerja, GHON tetap memasang target pendapatan Rp208,33 miliar pada 2026. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2025 sebesar Rp211,31 miliar.

Perseroan juga memproyeksikan EBITDA sebesar Rp167,64 miliar pada 2026, turun 3,64 persen dari capaian Rp173,74 miliar pada tahun sebelumnya. Dengan proyeksi tersebut, margin EBITDA diperkirakan berada di kisaran 80,47 persen.

Menurut Rudolf, perusahaan akan fokus mempererat hubungan dengan seluruh pemangku kepentingan, menjaga kesehatan keuangan, memperluas portofolio bisnis, serta melanjutkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan.

Tambah Menara dan Tenant Baru

Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, GHON menargetkan pembangunan 69 menara baru dengan skema Build-to-Suit (B2S) serta penambahan 46 kolokasi sepanjang 2026. Dengan strategi tersebut, jumlah penyewaan menara atau tenant ditargetkan meningkat hingga mencapai 1.820 tenant pada akhir tahun.

Manajemen meyakini kombinasi ekspansi infrastruktur dan penguatan operasional akan menjadi faktor utama dalam mencapai target pendapatan Rp208 miliar pada 2026 di tengah tantangan industri menara telekomunikasi yang semakin kompetitif.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Kuartal I 2026, MAXI Cetak Rugi Rp8,41 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI) membukukan penurunan kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Hingga 31 Maret 2026, emiten produsen makanan ringan tersebut mencatat penjualan neto sebesar Rp36,53 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp38,84 miliar.

Presiden Direktur MAXI, Sarkoro Handajani, mengungkapkan capaian tersebut dalam Public Expose yang digelar di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Penurunan penjualan turut menekan profitabilitas perusahaan hingga berbalik mengalami kerugian pada tiga bulan pertama tahun ini.

Laba Berbalik Menjadi Rugi

Penurunan pendapatan berdampak langsung terhadap laba bruto perusahaan. MAXI hanya membukukan laba bruto Rp3,35 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan Rp10,80 miliar pada kuartal I 2025.

Di saat yang sama, beban usaha meningkat menjadi Rp9,33 miliar dari sebelumnya Rp7,41 miliar. Kondisi tersebut membuat perusahaan mencatat rugi usaha sebesar Rp5,98 miliar, berbanding terbalik dengan laba usaha Rp3,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kerugian juga tercermin pada laba sebelum pajak yang tercatat minus Rp8,41 miliar. Pada kuartal I 2025, perusahaan masih membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp2 miliar. Dengan demikian, MAXI membukukan rugi neto tahun berjalan sebesar Rp8,41 miliar.

Dari sisi neraca, total liabilitas meningkat menjadi Rp158,18 miliar per 31 Maret 2026, dibandingkan Rp151,52 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, total aset tercatat Rp295,83 miliar, sedikit menurun dari Rp297,58 miliar.

Strategi Ekspor Jadi Motor Pertumbuhan

Menghadapi tantangan tersebut, MAXI tetap optimistis terhadap prospek bisnis sepanjang 2026. Perseroan mempertahankan strategi fokus pada segmen makanan ringan premium untuk pasar ekspor dengan mengandalkan bahan alami, proses produksi modern, dan cita rasa khas Indonesia.

Selain mempertahankan pasar utama di Amerika Utara, Eropa, dan Australia, perusahaan menargetkan ekspansi ke kawasan Timur Tengah dan Asia. Tiongkok, Singapura, serta negara-negara anggota GCC (Gulf Cooperation Council) menjadi sasaran utama peningkatan pangsa pasar internasional.

Perkuat Pasar Domestik

Di pasar dalam negeri, MAXI melihat peluang pertumbuhan dari meningkatnya minat konsumen terhadap produk lokal berkualitas. Perusahaan berencana meluncurkan produk baru yang menyasar segmen menengah atas dengan inovasi rasa dan kemasan yang lebih sesuai kebutuhan pasar.

Untuk mendukung strategi tersebut, perusahaan akan memperkuat jaringan distribusi nasional, meningkatkan aktivitas pemasaran digital, serta memperluas partisipasi dalam pameran dagang dan berbagai kegiatan industri makanan guna meningkatkan visibilitas merek dan memperluas basis pelanggan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Buku Xi Jinping Ungkap Ambisi Global Tiongkok Abad 21


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Buku Xi Jinping: Emperor of the Red Dragon karya Daniel D. Lee menyajikan gambaran komprehensif mengenai perjalanan hidup, konsolidasi kekuasaan, serta dampak kepemimpinan Xi Jinping terhadap Tiongkok dan dunia. 

Melalui pendekatan historis dan politik, buku ini menjelaskan bagaimana kepemimpinan Xi Jinping dan transformasi Tiongkok modern menjadi salah satu fenomena paling berpengaruh dalam geopolitik abad ke-21.

Xi Jinping lahir di Beijing pada 15 Juni 1953 sebagai putra Xi Zhongxun, tokoh senior Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sebagai bagian dari kelompok elite politik yang dikenal sebagai princelings, Xi tumbuh dalam lingkungan kekuasaan. 

Namun masa mudanya diwarnai gejolak Revolusi Kebudayaan ketika ayahnya tersingkir dari lingkaran kekuasaan. Pada usia 15 tahun, Xi dikirim ke desa terpencil Liangjiahe untuk menjalani kerja paksa selama tujuh tahun, pengalaman yang disebut membentuk karakter dan pandangan politiknya.

Dari Kader Daerah ke Pemimpin Tertinggi

Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Tsinghua dan bergabung dengan PKT pada 1974, Xi meniti karier politik secara bertahap. Ia pernah menduduki sejumlah posisi penting di Hebei, Fujian, Zhejiang, hingga Shanghai sebelum akhirnya dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PKT pada 2012.

Di bawah kepemimpinannya, model pemerintahan yang sebelumnya lebih kolektif berubah menjadi lebih terpusat. Langkah tersebut diperkuat dengan penghapusan batas masa jabatan presiden pada 2018. Xi juga memperkenalkan konsep China Dream atau Impian Tiongkok serta Xi Jinping Thought yang kemudian dimasukkan ke dalam konstitusi partai.

Transformasi Ekonomi dan Penguatan Teknologi

Buku ini menjelaskan bagaimana Tiongkok berupaya beralih dari ekonomi berbasis manufaktur murah menuju ekonomi yang ditopang inovasi dan teknologi tinggi. Melalui program seperti Made in China 2025, Beijing menargetkan posisi terdepan dalam kecerdasan buatan, teknologi 5G, komputasi kuantum, dan bioteknologi.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut dibarengi tantangan berupa tingginya utang korporasi, pemerintah daerah, dan rumah tangga yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Sorotan HAM dan Ketegangan Global

Di bidang domestik, pemerintahan Xi memperluas penggunaan teknologi pengawasan, memperketat kontrol internet, serta menerapkan berbagai kebijakan yang memicu kritik internasional terkait hak asasi manusia. Isu Xinjiang, Tibet, Hong Kong, dan pembatasan kebebasan sipil menjadi perhatian sejumlah negara Barat.

Pada saat yang sama, Tiongkok memperluas pengaruh global melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI), mempertegas klaim di Laut Tiongkok Selatan, serta mempertahankan sikap tegas terhadap Taiwan. Hubungan dengan Amerika Serikat juga semakin kompetitif dalam bidang perdagangan, teknologi, dan pengaruh geopolitik.

Secara keseluruhan, buku ini menggambarkan Xi Jinping sebagai figur yang berhasil memperkuat posisi Tiongkok sebagai kekuatan global, namun juga menghadapi kritik terkait sentralisasi kekuasaan, pengawasan negara, dan meningkatnya ketegangan internasional. Warisan kepemimpinannya dipandang akan menjadi salah satu faktor penentu arah politik dan ekonomi dunia pada dekade mendatang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Kinerja MIDI 2025 Positif, Pendapatan Tembus Rp20,64 Triliun


Duta Nusantara Merdeka | Tangerang 
PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. Perseroan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan dan lonjakan laba bersih di tengah upaya peningkatan efisiensi operasional. Kinerja keuangan MIDI 2025 dan prospek bisnis 2026 menjadi sorotan setelah perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan penjualannya.

Corporate Secretary MIDI, Suantopo Po, menyampaikan dalam Public Expose di Tangerang, Kamis (4/6/2026), bahwa pendapatan bersih perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp20,64 triliun. Angka tersebut meningkat 3,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp19,89 triliun.

Efisiensi Operasional Dorong Lonjakan Laba

Pertumbuhan pendapatan turut mengangkat laba bruto MIDI menjadi Rp5,39 triliun pada 2025, naik dari Rp5,23 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp15,25 triliun dari Rp14,66 triliun.

Meski menghadapi kenaikan biaya pokok, perusahaan berhasil menekan sejumlah beban operasional. Beban penjualan dan distribusi turun menjadi Rp4,18 triliun dari Rp4,23 triliun. Sementara itu, beban umum dan administrasi menyusut menjadi Rp447,97 miliar dibandingkan Rp487,83 miliar pada 2024.

Efisiensi tersebut berdampak signifikan terhadap profitabilitas. Laba usaha MIDI melonjak 34,60 persen secara tahunan menjadi Rp967,99 miliar, dibandingkan Rp719,17 miliar pada periode sebelumnya.

Setelah memperhitungkan berbagai penghasilan dan beban lainnya, laba sebelum pajak tercatat Rp927,06 miliar, meningkat dari Rp658,28 miliar. Adapun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp792,36 miliar atau tumbuh 45,01 persen dari Rp546,41 miliar pada 2024.

Strategi Bisnis MIDI Tahun 2026

Memasuki 2026, perseroan fokus memperkuat posisinya sebagai peritel multi-format melalui jaringan Alfamidi, Alfamidi Super, dan Midi Fresh. Perusahaan juga akan meningkatkan kualitas layanan pelanggan serta mengoptimalkan kanal belanja digital melalui aplikasi Midi Kriing dan berbagai platform lainnya.

Di sektor merchandising, MIDI berupaya memperluas kelengkapan produk guna memaksimalkan area penjualan sekaligus menjaga margin dengan harga yang kompetitif. Sementara itu, strategi pemasaran komprehensif tetap dilanjutkan untuk memperkuat daya saing bisnis.

Kinerja Kuartal I 2026 Tetap Bertumbuh

Hingga 31 Maret 2026, jumlah gerai MIDI mencapai 2.627 unit, bertambah 40 gerai dibandingkan akhir 2025. Rinciannya terdiri dari 2.541 gerai Alfamidi, 82 gerai Alfamidi Super, dan empat gerai Midi Fresh.

Pada kuartal I 2026, pendapatan neto perseroan mencapai Rp5,88 triliun, naik 6,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,52 triliun. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 39,50 persen menjadi Rp265,57 miliar dari Rp190,37 miliar.

Kinerja positif tersebut memperlihatkan bahwa strategi efisiensi dan penguatan format bisnis yang dijalankan perusahaan mulai memberikan hasil yang berkelanjutan, sekaligus menjadi fondasi bagi pertumbuhan MIDI sepanjang 2026.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Kinerja AMRT 2025 Moncer, Laba Tembus Rp3,41 Triliun


Duta Nusantara Merdeka | Tangerang 
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan ritel Alfamart, mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,41 triliun, meningkat 8,34 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp3,14 triliun.

Presiden Direktur AMRT, Anggara Hans Prawira, mengungkapkan capaian tersebut dalam Public Expose yang digelar di Tangerang, Kamis (4/6/2026). Kenaikan laba juga tercermin pada laba per saham dasar yang meningkat menjadi Rp82,16 dari sebelumnya Rp75,81.

Pencapaian positif tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan. Sepanjang 2025, AMRT mencatat pendapatan bersih sebesar Rp126,73 triliun atau naik 7,19 persen dibandingkan Rp118,22 triliun pada 2024. Kinerja AMRT 2025 dan ekspansi gerai luar Jawa menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan bisnis perusahaan.

Pendapatan Ditopang Segmen Makanan dan Non-Makanan

Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari segmen makanan yang menghasilkan Rp89,62 triliun, meningkat dibandingkan Rp83,28 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, segmen non-makanan turut mencatat pertumbuhan menjadi Rp37,10 triliun dari Rp34,94 triliun.

Dari sisi wilayah operasional, pendapatan terbesar berasal dari luar Pulau Jawa yang mencapai Rp49,64 triliun. Selanjutnya wilayah Jawa di luar Jabodetabek menyumbang Rp46,69 triliun, sedangkan kawasan Jabodetabek berkontribusi sebesar Rp33,97 triliun.

Meski beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp98,98 triliun dari Rp92,86 triliun, perusahaan tetap mampu meningkatkan laba bruto menjadi Rp27,75 triliun dibandingkan Rp25,36 triliun pada tahun sebelumnya.

Laba Usaha dan Aset Tumbuh

Kenaikan aktivitas operasional turut mendorong beban penjualan dan distribusi menjadi Rp21,96 triliun serta beban umum dan administrasi sebesar Rp2,43 triliun. Namun, peningkatan pendapatan lain-lain menjadi Rp1,33 triliun dan penurunan tipis beban lainnya membantu mendorong laba usaha AMRT menjadi Rp4,56 triliun, naik dari Rp4,07 triliun.

Di sisi keuangan, total aset perseroan hingga akhir 2025 tercatat Rp42,57 triliun, meningkat dari Rp38,79 triliun. Liabilitas naik menjadi Rp23,19 triliun, sementara ekuitas tumbuh menjadi Rp19,38 triliun.

Ekspansi Gerai Luar Jawa Jadi Fokus

Manajemen menilai pertumbuhan bisnis tetap terjaga meski total belanja kebutuhan pokok nasional hanya tumbuh sekitar 1,9 persen. Kategori makanan masih menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan 3,2 persen.

“Dalam lima tahun terakhir terdapat pergeseran pembukaan toko dari wilayah Jabodetabek ke wilayah di luar Pulau Jawa,” ujarnya.

Strategi ekspansi gerai luar Jawa tersebut kini membuat sekitar 36 persen dari total 24.434 gerai Alfamart berada di luar Pulau Jawa. Untuk mendukung distribusi dan ketersediaan barang, perseroan juga mengoptimalkan operasional 58 pusat distribusi atau gudang logistik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Dengan pertumbuhan laba AMRT 2025 yang berkelanjutan serta penguatan jaringan ritel di luar Jawa, perseroan semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu pemain utama industri ritel modern nasional.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

GOLF Tebar Dividen Rp10,36 Miliar, Bidik Pertumbuhan 2026


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp10,36 miliar atau 20 persen dari laba bersih tahun buku 2025 setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Perseroan juga menyiapkan sebagian laba untuk memperkuat cadangan dan mendukung ekspansi bisnis golf, properti, serta pariwisata terintegrasi di Bali, Sentul, dan Belitung.

Keputusan tersebut menjadi salah satu agenda utama RUPST yang digelar di Jakarta, Selasa (2/6/2026). Berdasarkan hasil rapat, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp51,81 miliar. Selain dividen, sebesar Rp15,54 miliar atau 30 persen dialokasikan sebagai cadangan wajib, sedangkan Rp25,90 miliar atau 50 persen ditempatkan sebagai cadangan lainnya untuk memperkuat struktur permodalan.

Ravenal Arvense selaku Investor Relation GOLF menjelaskan bahwa perseroan juga melaporkan perkembangan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO). Dari perolehan bersih IPO sebesar Rp371,28 miliar, realisasi penggunaan dana hingga periode pelaporan telah mencapai Rp211,88 miliar. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan belanja modal dan modal kerja, sementara sisa dana sebesar Rp159,39 miliar masih dikelola untuk mendukung pengembangan bisnis.

Kinerja GOLF Tumbuh Sepanjang 2025

Sepanjang tahun buku 2025, GOLF mencatat pendapatan bersih Rp215,5 miliar atau meningkat 8,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp198 miliar. Pertumbuhan ditopang oleh peningkatan kinerja lapangan golf, terutama New Kuta Golf Bali, serta kontribusi segmen properti melalui serah terima unit The Links Golf Villa dan pengembangan kawasan Sequoia Hills di Sentul.

Perseroan juga membukukan laba bersih Rp51,8 miliar di tengah peningkatan investasi pada sejumlah proyek strategis. Pada kuartal I 2026, tren pertumbuhan masih berlanjut dengan pendapatan mencapai Rp28,82 miliar, naik 1,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba usaha melonjak 146,16 persen menjadi Rp3,18 miliar, sementara laba bersih tumbuh 20,60 persen menjadi Rp1,60 miliar.

Strategi Ekspansi Bali, Sentul, dan Belitung

Manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan lebih dari 10 persen pada 2026 dengan menjaga margin laba bersih di atas 20 persen. Strategi tersebut didukung pengembangan proyek Banyan Tree Pecatu Resorts di Bali yang diharapkan memperkuat posisi kawasan New Kuta Golf sebagai destinasi wisata premium.

Selain itu, GOLF tengah mempercepat pembangunan fasilitas komersial baru, clubhouse, venue acara, serta pengembangan kawasan Black Rocks Golf & Leisure di Belitung. Perseroan juga melanjutkan pengembangan proyek properti di Sentul guna menjaga kontribusi pendapatan dari sektor real estate.

Senada, Komisaris Utama GOLF, Darma Mangkuluhur Hutomo, mengatakan visi perseroan adalah membangun ekosistem golf dan pariwisata terintegrasi di Indonesia. “Portofolio kami yang mencakup lapangan golf berstandar internasional, fasilitas leisure, serta pengembangan properti terintegrasi di Bali, Sentul, dan Belitung akan memperkuat posisi perseroan sebagai destinasi berskala global,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama GOLF, Dwi Febri Astuti, menambahkan bahwa fokus perusahaan saat ini adalah mempercepat penyelesaian proyek strategis dan mengoptimalkan sumber pendapatan baru. Menurut dia, langkah tersebut menjadi fondasi untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Kuartal I-2026, GOLF Cetak Pendapatan Bersih Rp28,82 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) mencatat pendapatan bersih Rp28,82 miliar sepanjang Kuartal I-2026. Angka itu tumbuh 1,3 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp28,45 miliar. Kenaikan laba usaha dan membaiknya margin lapangan golf menjadi penopang utama kinerja emiten berkode GOLF tersebut.

Investor Relation, Ravenal Arvense GOLF memaparkan capaian itu dalam paparan publik di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Di tengah persaingan bisnis leisure dan properti yang makin rapat, perseroan justru memperlihatkan efisiensi operasional yang mulai terasa hasilnya.

Laba Usaha Melonjak, Bisnis Golf Jadi Mesin Utama

Kinerja paling mencolok terlihat pada laba usaha. Pada Kuartal I-2026, laba usaha GOLF melonjak 146,2 persen menjadi Rp3,17 miliar dari sebelumnya Rp1,29 miliar pada 1Q25.

Laba bersih juga naik 20,6 persen menjadi Rp1,59 miliar. Sementara laba kotor tumbuh 5,4 persen menjadi Rp15,35 miliar.

Kenaikan margin itu datang dari bisnis inti lapangan golf dan restoran. Segmen tersebut menyumbang pendapatan Rp24,06 miliar dengan kontribusi terbesar berasal dari golf sebesar 78 persen.

Perseroan juga menikmati kenaikan margin laba kotor dari 50,1 persen menjadi 54,8 persen. Dalam industri wisata, margin seperti ini biasanya menjadi penanda bahwa operasional mulai lebih efisien dan biaya promosi tidak lagi terlalu agresif.

Di Bali, tren wisata golf ikut terdorong pemulihan kunjungan wisatawan asing. Jumlah wisman ke Bali naik dari 1,45 juta orang pada Kuartal I-2025 menjadi 1,47 juta orang pada Kuartal I-2026.

Pelaku industri pariwisata di Bali menyebut wisata golf kini bukan lagi sekadar olahraga kelas premium. “Sekarang tamu bisnis juga banyak yang memperpanjang masa tinggal hanya untuk bermain golf,” ujar seorang pengelola resort di kawasan Jimbaran beberapa waktu lalu.

Proyek Vila dan Hotel Mewah Mulai Didorong

Selain bisnis golf, GOLF mulai agresif memperkuat lini properti dan perhotelan premium. Salah satu proyek yang disiapkan ialah hotel butik mewah Banyan Tree Pecatu Bali di kawasan New Kuta Golf.

Hotel itu akan dibangun di atas lahan 5,1 hektare dengan 70 vila eksklusif. Perseroan menargetkan proyek mulai beroperasi pada kuartal IV 2027.

GOLF juga mengembangkan The Links Golf Villa di Bali dan Belitung. Di Sentul, Jawa Barat, perseroan menggarap proyek hunian Sequoia Hills seluas 76 hektare.

Pada Kuartal I-2026, total aset perseroan tercatat Rp8,69 triliun. Sementara liabilitas naik tipis menjadi Rp672,26 miliar.

Belanja modal atau capex yang sudah direalisasikan mencapai Rp21,67 miliar pada awal tahun ini. Dana itu dipakai untuk pengembangan fasilitas golf, kawasan komersial, dan proyek properti.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Target Pendapatan JTPE 2026 Tembus Rp3 T via Keamanan Digital


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) optimistis mengejar target pendapatan JTPE 2026 sebesar Rp3,05 triliun, atau tumbuh 10 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,78 triliun. Emiten penyedia solusi keamanan dokumen dan digital ini juga memproyeksikan laba bersih menembus angka Rp412,57 miliar, kendati sempat mencatatkan kontraksi keuangan pada kuartal pertama tahun ini.

Manajemen mengungkapkan bahwa hingga April 2026, perseroan telah berhasil mengamankan sekitar 60 persen dari total target pendapatan tahun fiskal berjalan. Fakta ini menjadi bantalan operasional yang kuat di tengah perlambatan awal tahun.

"Estimasi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tahun 2026 di atas 10 persen," ujar Lukito Budiman, Direktur JTPE, dalam paparan publik secara virtual, Jumat (29/5/2026).

Kinerja Kuartal I Jasuindo dan Realisasi Laba

JTPE mencatatkan penjualan sebesar Rp265,05 miliar. Angka ini turun 23,9 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan Rp348,32 miliar pada periode yang sama 2025. Perlambatan ini turut berdampak pada laba bersih perseroan yang terkoreksi 47 persen menjadi Rp27 miliar. Sementara itu, posisi EBITDA perusahaan tercatat senilai Rp40 miliar.

Meski demikian, manajemen enggan merevisi target pendapatan JTPE 2026. Penurunan pada kuartal pertama dievaluasi baru mencerminkan 8,68 persen dari total proyeksi tahunan, dan lonjakan kontrak yang diamankan usai kuartal pertama memberikan kepastian arus kas perusahaan ke depan.

Ekspansi Solusi Keamanan Digital dan Biometrik

Untuk merealisasikan target pertumbuhan dua digit tersebut, JTPE agresif memperluas penetrasi pasar melalui ekspansi solusi keamanan digital. Perusahaan memusatkan kompetensi inti pada manajemen sistem biometrik, pembuatan infrastruktur Radio Frequency Identification (RFID), serta produksi kartu telekomunikasi melalui skema usaha patungan (joint venture) yang strategis.

Lebih jauh, perseroan juga melakukan investasi teknologi biometrik tingkat lanjut guna mengokohkan ekosistem layanannya. "Kami akan mempertahankan keunggulan produk lanjutan dengan berinvestasi dalam teknologi dan keamanan paspor canggih, serta transformasi digital berupa solusi tanda tangan digital," tambah Lukito.

Hingga saat ini, perseroan tercatat telah bertransformasi total dari sekadar pabrik percetakan umum menjadi pemain sentral dalam industri produk keamanan digital berskala global. Portofolio JTPE terus berkembang dari produksi paspor, e-KTP, kartu pembayaran EMV, hingga dokumen kendaraan. 

Solusi keamanan ini mendapat kepercayaan penuh dari berbagai klien korporasi raksasa lintas sektor, mulai dari Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI, Telkomsel, hingga ekosistem teknologi global seperti Google Play dan Spotify.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

SINI Rights Issue, Ini Strategi Singaraja Putra Genjot Laba


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Singaraja Putra Tbk (SINI) resmi mengumumkan langkah bisnis agresif untuk merambah sektor pertambangan batubara secara masif di Indonesia.

Keputusan strategis tersebut dipaparkan langsung oleh Amir Antolis, Direktur Utama SINI dalam acara Paparan Publik di Veranda Hotel Pakubuwono, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Melalui rencana aksi korporasi saham SINI tersebut, emiten holding ini optimistis mampu mendongkrak kinerja operasional hulu yang sempat melambat.

Rencana Aksi Korporasi Saham SINI dan Akuisisi Tambang Batubara KMS

SINI bersiap menerbitkan sebanyak-banyaknya 721,5 juta lembar saham baru lewat skema penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu.

Langkah ini diproyeksikan bakal memperkokoh struktur permodalan untuk mendukung rencana jangka panjang korporasi secara terukur dan berkelanjutan.

Perseroan kini menargetkan akuisisi tambang batubara KMS dengan membeli 99,995 persen saham dari raksasa infrastruktur, PT Petrosea Tbk.

Sebelumnya, anak usaha mereka juga telah mengikat kontrak eksklusif operasional dengan kontraktor kakap seperti PT Bukit Makmur Mandiri Utama.

"Langkah korporasi ini menjadi katalis penting untuk mengamankan rantai pasok dan memperluas portofolio konsolidasi kami," kata Amir Antolis.

Evaluasi Kinerja Keuangan PT Singaraja Putra Tbk dan Target 2026

Dari catatan historis kinerja keuangan PT Singaraja Putra Tbk periode 2025, pendapatan perusahaan sebenarnya naik 21,90 persen mencapai Rp534,11 miliar.

Sayangnya, laba bersih tahun berjalan terkoreksi sedalam 46,55 persen menjadi Rp41,36 miIiar akibat pembengkakan biaya investasi awal logistik tambang.

Kendati demikian, SINI meyakini operasional penuh dari entitas anak seperti PT Pasir Bara Prima akan membalikkan keadaan tahun ini.

Perseroan pun menargetkan lonjakan pendapatan ambisius hingga Rp1,31 triliun pada akhir tahun buku 2026 lewat optimalisasi volume penambangan.

Pengawasan internal yang ketat sengaja diterapkan manajemen guna memastikan seluruh proses transisi bisnis baru ini berjalan transparan dan akuntabel.

Transformasi struktural ini dipandang sebagai eksekusi riil dari Strategi PT Singaraja Putra Tbk Genjot Laba di tengah ketatnya pasar global.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
Share:

Bali United Siapkan Ekspansi Sportainment di 2026


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, induk usaha Bali United, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Gedung Bali United, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa, 26 Mei 2026. Agenda utama rapat membahas laporan keuangan, strategi bisnis, hingga arah ekspansi perusahaan pada 2026.

Dalam Public Expose yang digelar bersamaan dengan RUPS, manajemen menegaskan fokus baru perusahaan pada penguatan bisnis sportainment, sport tourism, dan aset digital. Bali United Training Center di Gianyar menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perseroan.

Bali United Training Center Jadi Magnet Sport Tourism

Bali United Training Center di Sukawati, Gianyar, kini berkembang menjadi salah satu pusat sport tourism terbesar di Indonesia. Fasilitas itu sudah memiliki 12 lapangan serta sejumlah sarana latihan berstandar internasional.

Sepanjang 2025, kawasan tersebut menjadi lokasi berbagai agenda olahraga berskala internasional. Maybank Marathon menghadirkan hampir 14 ribu pelari dari 52 negara, sedangkan OPPO Run diikuti sekitar 7 ribu peserta dari 20 negara.

Awal 2026, dua klub Korea Selatan, Pohang Steelers dan Jeonbuk Reserves, juga memilih Bali United Training Center sebagai lokasi pemusatan latihan mereka.

Beberapa pelatih lokal mengaku cukup terkejut melihat perkembangan fasilitas latihan Bali United. Dulu banyak klub Indonesia kesulitan mencari lapangan standar internasional. Kini, fasilitas serupa justru mulai dilirik klub luar negeri.

Turnamen usia muda Bali7s 2026 ikut memperkuat posisi Bali United di sektor sportainment. Ajang itu diikuti sekitar 500 tim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, India, hingga Belanda.

Bali United Bidik Profit dari Ekspansi Bisnis

Direktur Utama Bali United, Yabes Tanuri, mengatakan 2026 menjadi momentum mempercepat pertumbuhan bisnis perusahaan setelah melewati fase konsolidasi tahun lalu.

“Setelah melewati fase konsolidasi di tahun lalu, serta melihat indikator ekonomi 2026 yang bergerak positif, tahun ini adalah momentum bagi kami untuk memanen hasil dari berbagai unit usaha,” ujar Yabes dalam Public Expose.

Perseroan kini mulai memperluas lini usaha melalui ekspansi Bali United Store, pengembangan IPX atau Intellectual Property Exchange, hingga memperkuat kerja sama sponsorship dengan berbagai merek nasional dan internasional.

Selain mengejar profit, Bali United juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia sepak bola Indonesia. Hingga pertengahan 2026, sekitar 300 pelatih berlisensi D PSSI Nasional telah dilahirkan melalui program kolaborasi bersama PSSI.

Komisaris Utama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, Jemi Wiyono Prihadi, menilai kombinasi bisnis olahraga, digital, dan fasilitas fisik akan menjadi fondasi penting pertumbuhan perusahaan ke depan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Citra Tubindo Bukukan Pendapatan Rp4,4 Triliun di 2025


Duta Nusantara Merdeka |  Jakarta 
PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 5,10 persen sepanjang 2025. Meski penjualan meningkat, laba perusahaan justru mengalami tekanan akibat kenaikan beban pokok pendapatan yang cukup tajam.

Direktur Utama CTBN, Xavier Claude Bertin menyampaikan, total pendapatan perseroan mencapai US$266,88 juta atau sekitar Rp4,47 triliun. Pernyataan itu disampaikan dalam Public Expose di Jakarta, Selasa (26/05/2026).

Pendapatan CTBN Naik, Beban Produksi Ikut Membesar

Di tengah kenaikan pendapatan, tekanan mulai terlihat dari sisi operasional. Beban pokok pendapatan CTBN naik menjadi US$208,506 juta, lebih tinggi dibanding periode sebelumnya sebesar US$191,181 juta.

Kenaikan biaya tersebut ikut memangkas laba bruto perusahaan. Sepanjang 2025, laba bruto CTBN tercatat turun menjadi US$58,373 juta dari sebelumnya US$62,736 juta.

Tekanan berlanjut pada laba usaha perseroan. CTBN membukukan laba usaha sebesar US$28,062 juta, turun dibanding periode sebelumnya yang mencapai US$36,115 juta.

Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar US$28,389 juta. Angka tersebut lebih rendah dibanding capaian tahun sebelumnya sebesar US$35,417 juta.

Laba Bersih CTBN Terkoreksi pada 2025

Penurunan juga terjadi pada laba neto tahun berjalan. Sepanjang 2025, laba bersih CTBN tercatat sebesar US$21,77 juta, turun dari sebelumnya US$26,20 juta.

Meski laba mengalami koreksi, kondisi neraca perusahaan masih terjaga. Hingga 31 Desember 2025, total aset CTBN tercatat sebesar US$173,73 juta.

Adapun total ekuitas perseroan mencapai US$124,47 juta. Sementara total liabilitas berada di level US$49,26 juta, terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar US$40,331 juta dan jangka panjang US$8,930 juta.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Kuartal I-2026, SDPC Bukukan Pendapatan Rp1,01 Triliun


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT millennium pharmacon international Tbk (SDPC) mencatat penjualan neto sebesar Rp1,01 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka itu naik 3,86 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp980,19 miliar.

Kinerja tersebut disampaikan President Director SDPC, Dr. Imam Fathorrahman, M.M., dalam Public Expose di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Di tengah pertumbuhan pendapatan, laba bersih perusahaan justru turun tipis menjadi Rp10,10 miliar dari sebelumnya Rp10,33 miliar.

Pendapatan SDPC Naik, Beban Operasional Ikut Membesar

Per 31 Maret 2026, laba bruto SDPC turun menjadi Rp87,63 miliar dari Rp88,56 miliar pada periode sebelumnya.

Di saat yang sama, beban operasional meningkat menjadi Rp59,44 miliar dibanding Rp57,31 miliar pada kuartal I/2025. Kenaikan biaya tersebut membuat laba usaha turun 9,78 persen menjadi Rp28,19 miliar.

Adapun laba periode berjalan tercatat Rp10,10 miliar atau turun 2,22 persen secara tahunan. Meski begitu, posisi keuangan perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan.

Total aset SDPC naik menjadi Rp2,01 triliun dari Rp1,96 triliun. Liabilitas meningkat ke Rp1,68 triliun, sedangkan total ekuitas tumbuh menjadi Rp325,50 miliar.

SDPC Andalkan Digitalisasi dan Ekspansi Wilayah Timur

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, SDPC mulai memperkuat digitalisasi melalui anak usaha PT Digital Pharma Andalan Indonesia (DPAI). Perusahaan ini mengembangkan aplikasi OLIN, sistem manajemen farmasi berbasis digital untuk apotek dan toko obat.

OLIN dirancang membantu pengelolaan pembelian distributor, pemantauan stok otomatis, penjualan daring dan luring, hingga analisis bisnis berbasis data. Model seperti ini makin penting karena pola distribusi farmasi berubah cepat setelah pandemi.

SDPC juga menyiapkan ekspansi distribusi ke kawasan Indonesia Timur. Beberapa kota yang menjadi target pengembangan antara lain Gorontalo, Kendari, Kupang, Ambon, hingga Jayapura.

Selain membuka cabang baru, perusahaan juga berupaya menambah prinsipal baru untuk produk OTC, alat kesehatan, dan consumer goods. Strategi ini disiapkan untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah persaingan distribusi farmasi yang makin ketat.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

SGER Kehilangan Momentum, Laba 2025 Anjlok 67 Persen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) mencatat penurunan laba bersih cukup dalam sepanjang 2025. Emiten batu bara itu hanya membukukan laba Rp213,27 miliar, turun 67,7 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp658,7 miliar.

Penurunan itu dipaparkan Direktur Utama SGER, Welly Thomas, dalam Public Expose di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Pelemahan harga komoditas serta penurunan volume perdagangan batu bara menjadi tekanan utama terhadap pendapatan perusahaan sepanjang tahun lalu.

Pendapatan Batu Bara Turun Tajam

Sepanjang Januari-Desember 2025, pendapatan bersih SGER tercatat Rp6,74 triliun. Angka itu merosot 54,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp14,76 triliun.

Turunnya pendapatan ikut menyeret laba bruto perusahaan. SGER hanya membukukan laba bruto Rp536,94 miliar, turun hampir separuh dari posisi 2024 sebesar Rp1,03 triliun.

Di sektor tambang, kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Seorang pelaku pasar pernah menyebut bisnis batu bara mirip ombak laut; ketika harga tinggi semua tampak mudah, tetapi saat siklus turun, perusahaan harus bertarung menjaga napas kas.

Laba sebelum pajak penghasilan SGER juga turun tajam menjadi Rp238,26 miliar. Setelah dikurangi pajak neto Rp30,47 miliar, laba tahun berjalan perusahaan tercatat Rp207,79 miliar.

Meski laba menyusut, perusahaan masih menjaga pertumbuhan aset. Total aset SGER hingga akhir 2025 mencapai Rp5,64 triliun atau naik 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kas dan bank perusahaan juga meningkat signifikan menjadi Rp361,27 miliar dari sebelumnya Rp150,24 miliar. Namun, kenaikan liabilitas hingga Rp3,28 triliun menunjukkan tekanan pembiayaan masih cukup besar.

SGER Cari Nafas Baru di Luar Batu Bara

Manajemen SGER mulai menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki kinerja pada 2026. Salah satunya dengan memperluas pasar ekspor melalui kerja sama perdagangan dengan Vietnam dan Bangladesh.

Perseroan juga mulai mendorong diversifikasi bisnis non-batu bara, termasuk penjualan manganese ore dan petroleum coke. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.

Welly Thomas mengatakan perusahaan menargetkan volume penjualan 2026 tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan 2025. Target itu akan ditopang perluasan jaringan pemasok dan pembeli di pasar domestik maupun internasional.

Di tengah perlambatan industri, strategi diversifikasi mulai menjadi jalan yang banyak ditempuh emiten energi. Investor kini bukan hanya melihat besar kecilnya laba, tetapi juga kemampuan perusahaan bertahan saat siklus komoditas berubah arah.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Laba Bersih NRCA Melonjak 115 Persen pada 2025


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) membukukan laba bersih Rp175,52 miliar sepanjang 2025. Angka itu melonjak 115,1 persen dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp81,6 miliar. Lonjakan terjadi di tengah kenaikan beban pokok pendapatan dan meningkatnya liabilitas perusahaan konstruksi tersebut.

Direktur Utama NRCA, Hadiwinarto Christanto, menyampaikan capaian itu dalam public expose di Jakarta, Jumat, 21 Mei 2026. Anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk tersebut menilai peningkatan penghasilan lain-lain dan efisiensi beban menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan laba.

Kinerja Operasional Masih Tertekan

Sepanjang 2025, pendapatan NRCA tumbuh 7,1 persen menjadi Rp3,61 triliun, dibandingkan Rp3,37 triliun pada 2024. Namun, kenaikan itu belum sepenuhnya tercermin pada laba bruto karena beban pokok pendapatan ikut naik 7,7 persen menjadi Rp3,21 triliun.

Akibatnya, laba bruto hanya meningkat tipis 2,8 persen menjadi Rp398,99 miliar. Situasi ini menunjukkan margin operasional perseroan masih menghadapi tekanan di tengah ketatnya industri konstruksi.

Meski demikian, laba usaha NRCA justru melonjak 42,5 persen menjadi Rp278,47 miliar. Kenaikan tajam tersebut terutama ditopang penghasilan lainnya yang melesat 142 persen menjadi Rp95,03 miliar. Di sisi lain, beban lainnya turun 32,6 persen menjadi Rp65,55 miliar.

Laba sebelum pajak perusahaan konstruksi yang terafiliasi dengan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk itu mencapai Rp175,64 miliar atau naik 114,1 persen secara tahunan.

Ekspansi dan Risiko Liabilitas

Dari sisi neraca, total aset NRCA naik 22,4 persen menjadi Rp2,9 triliun hingga akhir 2025. Kas dan setara kas juga meningkat 20,5 persen menjadi Rp649,4 miliar.

Namun, kenaikan aset dibarengi lonjakan liabilitas sebesar 31,6 persen menjadi Rp1,54 triliun. Peningkatan terutama berasal dari kewajiban jangka pendek, seiring ekspansi proyek dan kebutuhan modal kerja.

Manajemen menargetkan pendapatan operasional Rp3,8 triliun pada 2026. Hingga Mei 2026, nilai kontrak baru telah mencapai Rp1,11 triliun, termasuk proyek Pou Chen Factory Pekalongan, Lampung City Mall Phase 2, hingga Saint Carolus Hospital Gading Serpong.

NRCA kini menghadapi dua tantangan sekaligus: menjaga pertumbuhan laba dan mengendalikan tekanan liabilitas. Strategi memburu proyek pemerintah, efisiensi operasional, serta ekspansi kemitraan diproyeksikan menjadi penopang utama kinerja perseroan pada 2026.

Reporter Lakalim Adalin 
Editor Arianto 



Share:

RGAS Raup Penjualan Rp272 Miliar di Tengah Tekanan EPC


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) mencatat lonjakan kinerja sepanjang 2025. Emiten jasa penunjang industri gas itu membukukan penjualan Rp272,53 miliar, naik 275,78 persen dibanding tahun sebelumnya Rp72,52 miliar. Kenaikan pendapatan itu turut mengerek laba bersih hingga 497,56 persen menjadi Rp15,95 miliar.

Direktur Utama RGAS, Edy Nurhamid Amin, mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang bisnis perdagangan barang dan jasa konstruksi yang menjadi tulang punggung pendapatan perseroan. Pernyataan itu disampaikan dalam Public Expose di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Bisnis EPC dan Spare Parts Jadi Mesin Pertumbuhan

Segmen perdagangan barang menyumbang pendapatan terbesar mencapai Rp210,10 miliar. Sementara jasa konstruksi berkontribusi Rp42,31 miliar. Sisanya berasal dari segmen lain Rp16,36 miliar dan jasa inspeksi Rp3,75 miliar.

Di tengah perlambatan sejumlah sektor industri, lonjakan RGAS terbilang mencolok. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kontraktor EPC justru menahan ekspansi akibat margin yang makin tipis dan harga material yang sulit diprediksi.

Perseroan mengakui tekanan industri masih besar. Persaingan proyek EPC dan penyediaan spare parts semakin ketat. Kondisi geopolitik Timur Tengah serta penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah ikut menekan biaya material.

“Perseroan harus lebih selektif memilih proyek dan mitra agar tetap kompetitif dari sisi harga, kualitas, dan waktu pengerjaan,” ujar Edy.

Beban pokok pendapatan RGAS naik menjadi Rp229,69 miliar dari sebelumnya Rp47,10 miliar. Namun, beban usaha relatif terkendali di angka Rp19,15 miliar atau hanya naik 4,49 persen dibanding 2024.

Di sisi neraca, aset lancar tercatat Rp127 miliar, turun dibanding tahun sebelumnya Rp144,19 miliar. Sementara total liabilitas hingga akhir 2025 mencapai Rp54,02 miliar.

Jaringan Gas Rumah Tangga Jadi Peluang Baru

RGAS melihat prospek industri gas nasional masih terbuka lebar. Pemerintah tengah mendorong pengurangan impor LPG sekaligus memperluas jaringan gas rumah tangga atau jargas.

Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pembangunan 119.354 sambungan rumah pada 2025-2026. Angka itu diperkirakan melonjak menjadi 959.232 sambungan rumah pada 2026-2027.

Perseroan menilai program itu bakal meningkatkan permintaan gas bumi domestik. Dari sinilah RGAS mencoba mengambil posisi lebih agresif, mulai dari penguatan layanan EPC terintegrasi hingga pengembangan produk berbasis TKDN.

Menariknya, perusahaan mulai mengoptimalkan teknologi Artificial Intelligence untuk mendukung pemasaran, analisis pelanggan, dan pengambilan keputusan berbasis data. Langkah digitalisasi ini dianggap penting agar operasional lebih efisien di tengah persaingan proyek yang makin padat.

Di level industri, cerita seperti ini bukan hal baru. Banyak pelaku sektor energi mulai sadar, perang bisnis kini bukan sekadar soal proyek besar, tetapi juga kecepatan membaca data dan efisiensi rantai pasok.

RGAS juga menyatakan akan memperkuat tata kelola perusahaan dan kualitas sumber daya manusia demi menjaga pertumbuhan berkelanjutan pada 2026.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Kuartal I 2026, CSRA Cetak Laba Rp83,68 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mencatat laba bersih Rp83,68 miliar sepanjang kuartal I 2026. Angka itu tumbuh 6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp78,96 miliar.

Kenaikan laba terjadi di tengah lonjakan pendapatan perusahaan yang hampir dua kali lipat. Perseroan juga mengklaim mampu menjaga efisiensi operasional saat biaya produksi dan aktivitas bisnis meningkat tajam.

Dalam paparan publik usai RUPS Tahunan di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026, Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis PT Cisadane Sawit Raya Tbk, Seman Sendjaja, mengatakan pertumbuhan ditopang peningkatan penjualan dan pengendalian beban usaha.

“Peningkatan laba didorong kenaikan penjualan dan efisiensi beban usaha di tengah peningkatan aktivitas operasional,” ujar Seman Sendjaja dalam paparan publik tersebut.

Pendapatan perusahaan tercatat melonjak menjadi Rp541,32 miliar. Nilai itu naik 96,6 persen dibandingkan Rp275,39 miliar pada kuartal I 2025.

Namun, lonjakan penjualan ikut diiringi kenaikan beban pokok penjualan menjadi Rp427,98 miliar. Angka tersebut meningkat 177,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Beban Produksi Naik, Margin Laba Bruto Tertekan

Kenaikan biaya produksi membuat laba bruto perusahaan turun 6,5 persen menjadi Rp113,34 miliar. Pada periode sama tahun lalu, laba bruto CSRA masih berada di level Rp121,18 miliar.

Situasi ini lazim terjadi di industri sawit ketika volume produksi meningkat bersamaan dengan kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional kebun.

Seorang analis perkebunan di Jakarta pernah menyebut, tantangan perusahaan sawit saat ini bukan hanya menjaga produksi, tetapi mempertahankan margin keuntungan ketika biaya terus bergerak naik.

Meski begitu, arus kas operasional perusahaan justru menguat. CSRA membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp96,07 miliar, naik 57,8 persen dibandingkan Rp60,89 miliar tahun sebelumnya.

CSRA Fokus Mekanisasi dan Ekspansi Lahan

Peningkatan arus kas didorong penerimaan pelanggan yang mencapai Rp567,55 miliar. Nilai itu hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal I 2025.

Di sisi lain, arus kas investasi tercatat negatif Rp69,47 miliar akibat penambahan aset tetap dan tanaman produktif. Perseroan juga mengalokasikan dana untuk pembayaran utang bank dan liabilitas pembiayaan.

Per 31 Maret 2026, total aset perusahaan mencapai Rp2,64 triliun. Ekuitas naik menjadi Rp1,55 triliun, mencerminkan penguatan struktur keuangan perusahaan.

Ke depan, CSRA menargetkan peningkatan produksi tandan buah segar, optimalisasi mekanisasi panen, serta perluasan landbank di Sumatera Selatan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Pendapatan PPGL Susut 17 Persen, DER Tembus 185 Persen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL) mencatat penurunan pendapatan dan laba sepanjang tahun buku 2025 di tengah tekanan industri logistik nasional. Dalam paparan publik di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026, Direktur Utama PPGL Darmawan Suryadi mengakui kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, terutama akibat perlambatan aktivitas pengiriman dan tingginya biaya operasional.

Pendapatan usaha Perseroan tercatat Rp175,23 miliar atau turun 17,24 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp211,73 miliar. Penurunan itu turut menekan laba sebelum pajak menjadi Rp14,56 miliar dari sebelumnya Rp19,23 miliar.

Tekanan Industri Logistik Mulai Terasa

Di sektor logistik, penurunan volume pengiriman bukan lagi cerita baru. Sejumlah pelaku usaha mengaku biaya distribusi terus bergerak naik, sementara persaingan tarif semakin ketat. Situasi itu ikut membayangi kinerja PPGL sepanjang tahun lalu.

“Pendapatan usaha tercatat sebesar Rp175,23 miliar, mengalami penurunan sebesar 17,24 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp211,73 miliar,” ujar Darmawan Suryadi.

Penurunan juga terjadi pada laba komprehensif tahun berjalan. PPGL membukukan laba Rp9,50 miliar atau turun 25,78 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp12,96 miliar.

Meski demikian, Perseroan masih mencatat kenaikan aset cukup agresif. Total aset meningkat 59,25 persen menjadi Rp411,85 miliar. Namun, kenaikan itu dibarengi lonjakan liabilitas hingga 136,45 persen menjadi Rp267,53 miliar.

Kondisi tersebut tercermin pada rasio utang perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) naik tajam menjadi 185,3 persen, jauh di atas posisi tahun sebelumnya sebesar 77,7 persen. Sementara Debt to Asset Ratio (DAR) naik menjadi 64,96 persen.

PPGL Fokus Cari Pelanggan Baru

Di tengah tekanan itu, PPGL memilih menjaga pelanggan lama sambil memburu pasar baru. Strategi ini dinilai penting karena sektor logistik kini makin sensitif terhadap efisiensi biaya dan kecepatan layanan.

Darmawan mengatakan Perseroan tetap berupaya mempertahankan kualitas pelayanan kepada pelanggan eksisting. Pada saat bersamaan, perusahaan juga membidik pelanggan baru untuk menopang pertumbuhan tahun berjalan.

Dalam industri logistik, mempertahankan klien lama sering kali lebih sulit dibanding mencari pelanggan baru. Apalagi, eksportir dan importir kini semakin selektif memilih jasa pengurusan transportasi yang mampu memberi layanan cepat sekaligus efisien.

PPGL menegaskan komitmennya menjalankan strategi operasional yang lebih optimal demi memperbaiki kinerja pada 2026. Perseroan juga tetap mempertahankan visi sebagai penyedia layanan one-stop service bagi eksportir dan importir.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Ekspansi Agresif JAYA Mulai Tekan Arus Laba Perusahaan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) menghadapi tekanan kinerja sepanjang tahun buku 2025. Emiten transportasi itu membukukan pendapatan Rp 73,90 miliar, turun 26,62 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 100,71 miliar.

Kontraksi pendapatan langsung menggerus laba bersih perusahaan. JAYA hanya mencatat laba tahun berjalan Rp 4,48 miliar atau turun 27,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,15 miliar. Di saat bersamaan, perusahaan justru memperbesar ekspansi aset dan utang secara agresif.

Ekspansi Besar, Margin Keuntungan Menyusut

Direktur Utama JAYA, Darmawan Suryadi, mengatakan penurunan pendapatan berdampak langsung terhadap laba perusahaan.

“Penurunan pendapatan ini berdampak pada laba tahun berjalan yang tercatat sebesar Rp 4,48 miliar,” ujar Darmawan dalam Public Expose di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Namun persoalan JAYA bukan sekadar penjualan yang melemah. Dari laporan kinerja perusahaan, tekanan paling terasa justru datang dari sisi pembiayaan. Beban bunga melonjak 82,96 persen menjadi Rp 5,86 miliar.

Kenaikan biaya bunga sebesar itu biasanya menjadi sinyal klasik bahwa ekspansi perusahaan mulai bertumpu pada leverage yang cukup tinggi. Dalam industri transportasi, pola semacam ini kerap muncul ketika perusahaan buru-buru memperbesar armada saat permintaan pasar belum sepenuhnya pulih.

Laba usaha JAYA tercatat turun 26,80 persen menjadi Rp 8,70 miliar. Sementara laba bruto hanya turun tipis 2,14 persen menjadi Rp 33,29 miliar. Angka ini menunjukkan efisiensi operasional masih relatif terjaga, tetapi tekanan biaya keuangan mulai memakan ruang keuntungan bersih.

Di kalangan pelaku pasar, situasi seperti ini sering dibaca sebagai fase “bertaruh pada pertumbuhan”. Perseroan memperbesar kapasitas sekarang dengan harapan volume bisnis beberapa tahun mendatang mampu menutup beban utang hari ini.

Utang Melonjak, Diversifikasi Bisnis Dipercepat

Sepanjang 2025, total aset JAYA melonjak 71,90 persen menjadi Rp 378,17 miliar. Tetapi kenaikan itu diikuti lonjakan liabilitas yang jauh lebih tinggi, yakni 164 persen menjadi Rp 253,88 miliar.

Sementara ekuitas hanya tumbuh tipis 0,38 persen. Struktur ini memperlihatkan sebagian besar ekspansi perusahaan ditopang pinjaman dan kewajiban baru.

Perseroan memang sedang memperluas lini usaha. Selain menambah armada, JAYA membentuk PT Jaya Bae Nusantara dan PT Prima Bae Nusantara di sektor angkutan.

Perusahaan juga masuk ke bisnis kendaraan bekas melalui PT Maju Bae Makmur dan memperluas sektor properti lewat PT Aman Bae Jaya.

Anak usaha PT Aman Bae Sentosa tercatat memiliki 11 villa dan dua bidang tanah di Bali. Sedangkan PT Aman Bae Perkasa mengembangkan proyek Perumahan Sindang Mulya Cibarusah di Kabupaten Bekasi.

Diversifikasi ini memperlihatkan JAYA tidak lagi hanya mengandalkan bisnis transportasi. Namun tantangan terbesar perseroan ke depan adalah memastikan ekspansi tersebut benar-benar menghasilkan arus kas baru, bukan sekadar memperbesar beban pembiayaan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Laba Bersih NTBK Naik di Tengah Penjualan yang Melemah


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) mencatat laba bersih Rp706,98 juta sepanjang 2025. Angka itu tumbuh 10,36 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp640,58 juta, meski pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan.

Kinerja tersebut dipaparkan Direktur Utama NTBK, Bambang Susilo dalam Public Expose di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026. Emiten berkode saham NTBK itu mulai mengandalkan efisiensi dan ekspansi kendaraan listrik untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan pasar.

Pendapatan NTBK Turun, Laba Justru Menguat

Sepanjang 2025, pendapatan NTBK tercatat Rp96,58 miliar atau turun 8,44 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp105,48 miliar.

Penurunan itu terjadi di tengah perlambatan sejumlah sektor industri yang menjadi pasar utama perusahaan. Namun di saat bersamaan, NTBK berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp77,54 miliar dari sebelumnya Rp89,11 miliar.

Hasilnya, laba kotor justru meningkat menjadi Rp19,04 miliar dari Rp16,37 miliar pada akhir 2024.

Di ruang-ruang publik pasar modal, situasi seperti ini sering dianggap sinyal penting. Beberapa analis melihat perusahaan mulai lebih disiplin menjaga biaya operasional dibanding sekadar mengejar pertumbuhan penjualan agresif.

Beban usaha NTBK tercatat Rp16,88 miliar, naik dari Rp15,12 miliar. Meski demikian, laba usaha perusahaan masih meningkat menjadi Rp2,16 miliar dari sebelumnya Rp1,25 miliar.

Pendapatan lain-lain juga melonjak menjadi Rp1,34 miliar dari Rp926,79 juta. Namun, beban lain-lain ikut membengkak menjadi Rp2,19 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp1,12 miliar.

NTBK Bidik Peluang dari Kendaraan Listrik dan Tambang

Di tengah tekanan pendapatan, NTBK mulai memindahkan fokus pertumbuhan ke tiga sektor utama: manufaktur dan infrastruktur, kendaraan listrik, serta pertambangan.

Perusahaan menilai pembangunan infrastruktur nasional masih membuka peluang permintaan kendaraan dan alat berat.

Selain itu, berkembangnya ekosistem kendaraan listrik nasional ikut menjadi ruang ekspansi baru. Dukungan pemerintah terhadap energi baru membuat bisnis EV dipandang lebih menjanjikan dalam beberapa tahun mendatang.

“Dengan strategi ekspansi dan diversifikasi ini, Perseroan optimistis dapat meningkatkan kinerja usaha secara berkelanjutan,” ujar Bambang Susilo.

Dari sisi neraca, total aset NTBK tercatat Rp158,31 miliar, turun dari Rp168,64 miliar pada akhir 2024. Liabilitas juga turun menjadi Rp63,44 miliar dari Rp73,29 miliar.

Sementara total ekuitas tercatat Rp94,86 miliar, sedikit turun dibanding akhir tahun sebelumnya sebesar Rp95,35 miliar.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Transformasi TLKM 30 Dorong Laba Telkom Tetap Stabil


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menutup tahun buku 2025 dengan laba bersih Rp17,8 triliun di tengah tekanan industri telekomunikasi dan perlambatan ekonomi. Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun dengan EBITDA Rp72,2 triliun sepanjang 2025.

Kinerja itu muncul bersamaan dengan percepatan strategi transformasi TLKM 30 yang mulai dijalankan lebih agresif sejak tahun lalu. Pasar merespons positif langkah tersebut. Total Shareholder Return (TSR) Telkom tercatat mencapai 35,7 persen sepanjang 2025.

Di kalangan investor pasar modal, saham Telkom memang sempat dipandang bergerak “aman tapi lambat”. Namun situasinya berubah sejak perusahaan mulai fokus merapikan portofolio bisnis dan memperjelas arah transformasi digital. Seorang analis telekomunikasi bahkan menyebut pasar mulai melihat Telkom lebih disiplin dalam mengelola aset dan belanja modal.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan strategi TLKM 30 menjadi fondasi utama transformasi perusahaan.

“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” ujar Dian.

Restrukturisasi Bisnis Mulai Diarahkan Lebih Fokus

Melalui TLKM 30, Telkom menjalankan empat pilar transformasi, mulai dari penguatan tata kelola, perampingan bisnis noninti, optimalisasi aset, hingga perubahan model holding menjadi strategic holding.

Langkah streamlining mulai terlihat lewat proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026. Telkom juga mulai merampingkan sejumlah entitas yang dinilai tidak lagi selaras dengan bisnis utama telekomunikasi digital.

Di sisi lain, perusahaan melakukan pemisahan sebagian aset Wholesale Fiber Connectivity ke InfraNexia. Langkah itu ditandai lewat penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025.

Telkom juga mengubah pendekatan bisnis dari operating holding menjadi strategic holding. Nantinya, operasional usaha akan difokuskan ke empat segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Bisnis Data Dan Infrastruktur Masih Jadi Penopang

Segmen B2C melalui Telkomsel masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan capaian Rp109,2 triliun. Trafik data tumbuh 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.

Sementara itu, bisnis infrastruktur digital ikut menopang pertumbuhan. TelkomGroup kini memiliki backbone serat optik lebih dari 210 ribu kilometer, jaringan data center, hingga konektivitas satelit untuk wilayah blank spot.

Anak usaha menara telekomunikasi Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin mencapai 82,2 persen. Adapun bisnis data center dikelola melalui NeutraDC yang mengoperasikan fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura.

Telkom mengalokasikan belanja modal Rp27,5 triliun sepanjang 2025. Mayoritas dana digunakan untuk memperkuat infrastruktur digital dan memperluas konektivitas nasional.

“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi,” kata Dian.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PLN PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini