Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

PPN Soroti Telur Impor dan Mahalnya Jagung Nasional


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyoroti tingginya biaya produksi, masuknya telur impor, hingga rencana investasi asing di industri unggas nasional dalam seminar AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026 di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Ketua Presidium PPN Yudianto Yosgiarso mengatakan peternak layer rakyat kini menghadapi tekanan berlapis. Produksi telur nasional memang surplus, tetapi harga jagung, distribusi logistik, dan pasar yang tidak stabil membuat peternak kecil makin terdesak.

PPN Soroti Harga Jagung dan Telur Impor

Yudianto menilai industri peternakan telur nasional sebenarnya sudah teruji menghadapi berbagai krisis. Mulai dari krisis moneter 1998, wabah flu burung, hingga pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan distribusi pangan.

“Kami peternak layer tidak ada yang putus asa,” ujar Yudianto di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Menurut dia, produksi telur nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 6,5 juta ton per tahun. Angka itu ditopang sekitar 4 juta peternak rakyat yang turut membuka lapangan kerja bagi jutaan orang.

Di sisi lain, industri unggas juga menjadi penyangga petani jagung nasional. Sekitar 80 persen hasil panen jagung dalam negeri disebut terserap untuk kebutuhan pakan ternak.

Namun persoalan muncul ketika harga jagung di lapangan melonjak. Peternak kini membeli jagung Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram, lebih tinggi dibanding harga acuan pemerintah Rp6.400.

“Bagaimana kami bisa mengupayakan harga telur Rp20 ribu per kilo? Itu sangat jauh dari harapan,” katanya.

Masalah lain datang dari masuknya telur asal Malaysia ke Sumatera Utara. Kondisi itu membuat distribusi telur peternak lokal ke Batam dan Bangka terganggu, sementara stok telur menumpuk di Pulau Jawa.

Tolak Investasi Asing, Dorong Penguatan Koperasi

Dalam forum itu, Yudianto juga menolak rencana investasi asing di sektor peternakan ayam nasional. Menurut dia, peternak lokal masih mampu menjaga swasembada telur tanpa dominasi modal luar negeri.

“Kalau investasi untuk peternakan panda silakan, tapi begitu yang diinvestasikan ayam, terus terang kami menolak,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta seminar.

PPN kini mulai memperkuat jaringan koperasi peternak di berbagai daerah. Hingga 2026, asosiasi tersebut mengklaim telah membentuk sekitar 38 koperasi untuk memperkuat distribusi dan penyerapan produksi telur.

Selain itu, PPN mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG sebagai pasar baru bagi telur nasional. Peternak bahkan mulai meningkatkan populasi ayam lebih awal karena optimistis program itu dapat menyerap produksi dalam jumlah besar.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
Share:

Workshop AI-Driven Purwakarta Dorong Industri Siap Era AI


Duta Nusantara Merdeka | Purwakarta 
Workshop “AI-Driven: Secure & Efficient for Future Industry” digelar Yorindo Communication bersama APKOMINDO, APTIKNAS, dan APINDO Purwakarta di Hotel Prime Plaza Purwakarta, Selasa (28/04/2026). Agenda ini menargetkan percepatan kesiapan industri manufaktur menghadapi era kecerdasan buatan.

Kegiatan ini merupakan kota kelima dari roadshow nasional di 10 kota. Fokusnya bukan sekadar adopsi AI, tetapi membangun fondasi infrastruktur digital yang aman, efisien, dan terintegrasi sebelum teknologi itu benar-benar dijalankan di lapangan.

Fondasi Digital Jadi Titik Kritis

Agus Dedi Supriyadi membuka acara dengan pesan yang cukup tegas: industri tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan vendor teknologi lokal menjadi kunci mempercepat kemandirian digital nasional.

Di lapangan, saya pernah melihat satu pabrik tekstil mencoba otomatisasi tanpa kesiapan sistem. Hasilnya, proses justru kacau karena data tidak sinkron. Situasi seperti ini yang ingin dihindari lewat forum semacam ini.

Sekretaris Jenderal APTIKNAS, Fanky Christian, mewakili Ir. Soegiharto Santoso, menyoroti risiko implementasi AI tanpa fondasi kuat.

“Adopsi AI tanpa infrastruktur digital yang kokoh berisiko menimbulkan black box syndrome,” ujarnya.

Istilah itu bukan sekadar jargon. Sistem bisa berjalan, tapi tanpa transparansi dan kontrol. Dalam konteks industri, ini berbahaya—keputusan bisnis bisa diambil tanpa benar-benar dipahami.

Ancaman Siber dan Realitas Industri

Dari sisi keamanan, BSSN melalui Slamet Aji Pamungkas mengingatkan tren baru: AI melawan AI. Serangan siber kini semakin canggih dan adaptif.

“Keamanan siber merupakan fondasi utama dalam transformasi digital,” katanya.

Pendekatan Autonomous Cyber Defense disebut menjadi kebutuhan, bukan lagi opsi. Sistem harus mampu merespons ancaman secara real-time tanpa menunggu intervensi manusia.

Di sisi lain, Ketua APINDO Purwakarta, Gatot Prasetyoko, menyoroti tekanan nyata industri. Efisiensi bukan lagi pilihan, tapi tuntutan.

“Upaya efisiensi perlu diperkuat dengan pemanfaatan teknologi yang tepat,” ujarnya.

Praktik Langsung dan Tantangan Implementasi

Workshop tidak berhenti di teori. Peserta diajak praktik langsung membuat sistem AI menggunakan platform n8n, dari otomasi HR hingga integrasi IoT di lini produksi.

Suasananya cukup hidup. Banyak peserta terlihat baru menyadari bahwa implementasi AI bukan soal alat, tapi soal memahami proses bisnis sendiri.

Ini poin yang sering terlewat. Teknologi bisa dibeli, tapi pemahaman internal harus dibangun.

Arah Berikutnya

Roadshow ini akan berlanjut ke Tangerang pada 7 Mei 2026. Penyelenggara juga membuka kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak program.

Antusiasme peserta di Purwakarta menunjukkan satu hal: industri sebenarnya siap berubah, asalkan diberi peta jalan yang jelas.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Tujuh Taktik Negosiasi Kotor yang Sering Menjebak Korban


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Taktik negosiasi kotor kerap muncul dalam bisnis, kerja sama proyek, hingga urusan pekerjaan sehari-hari. Modusnya sering terlihat halus, bahkan terasa seperti komunikasi yang ramah dan profesional.

Namun di balik kesan nyaman itu, ada jebakan yang bisa membuat satu pihak kehilangan posisi tawar, terpaksa menyetujui syarat berat, bahkan menanggung risiko sendirian setelah kesepakatan berjalan.

Saya pernah mendengar seorang pelaku usaha kecil bercerita, ia merasa “menang” saat awal kerja sama karena semua permintaannya disetujui. Dua minggu kemudian, klausul tambahan muncul satu per satu. Saat itu, mundur terasa jauh lebih mahal.

Di situlah negosiasi kotor bekerja: bukan menyerang di awal, tetapi perlahan membuat korban merasa tidak punya pilihan.

Tujuh Taktik Negosiasi Kotor yang Sering Dipakai

1. Good News Dulu, Trap Belakangan

Di awal, lawan negosiasi tampil sangat menyenangkan. Mereka banyak setuju dan memberi kesan bahwa Anda sedang menang.

Tujuannya sederhana: membangun rasa aman. Setelah kepercayaan tumbuh, syarat penting dimasukkan perlahan tanpa banyak perlawanan.

Jika negosiasi terasa terlalu mulus sejak awal, justru itu saat yang perlu diwaspadai.

2. False Urgency atau Tekanan Waktu Palsu

Kalimat seperti “harus deal hari ini” atau “besok sudah ada pihak lain” sering dipakai untuk menekan keputusan.

Padahal, belum tentu ancaman itu nyata. Tekanan waktu palsu sengaja dibuat agar Anda berhenti berpikir kritis.

Negosiasi sehat memberi ruang pertimbangan, bukan memaksa keputusan terburu-buru.

3. Informasi Tidak Simetris

Pihak lain sering mengetahui lebih banyak tentang transaksi, tetapi tampil seolah sangat terbuka.

Anda merasa sudah diberi semua informasi, padahal bagian paling penting justru disimpan rapat.

Karena itu, jangan hanya mendengar yang disampaikan. Periksa juga apa yang sengaja tidak dibicarakan.

4. Klausul Abu-Abu

Bahasa kontrak dibuat samar dan multitafsir. Saat dibaca, terlihat aman. Saat masalah muncul, tafsir mereka yang berlaku.

Kalau isi perjanjian membuat Anda harus menebak-nebak maksudnya, itu bukan detail kecil. Itu alarm.

Saat Emosi Mengambil Alih, Risiko Membesar

5. Emotional Hooking

Negosiator memainkan emosi: takut kehilangan peluang, ingin cepat sukses, atau ambisi untuk segera naik level.

Akibatnya, fokus bergeser dari proses ke hasil akhir. Padahal keputusan besar seharusnya lahir dari logika yang dingin.

Semakin terlalu bersemangat, semakin besar kemungkinan Anda sedang diarahkan.

6. Small Yes, Big Commitment

Semuanya dimulai dari persetujuan kecil: setuju meeting, revisi ringan, atau perubahan minor.

Tanpa sadar, rangkaian “iya” kecil itu berubah menjadi komitmen besar yang sulit dibatalkan.

Banyak orang kalah bukan karena satu keputusan besar, tetapi karena akumulasi persetujuan kecil.

7. Disappearing Act

Semua terlihat lancar sampai risiko mulai muncul. Setelah itu, pihak lawan menghilang.

Kontak sulit dihubungi, tanggung jawab kabur, dan Anda ditinggal menghadapi masalah sendirian.

Negosiasi bukan soal deal selesai, tetapi siapa yang tetap hadir setelah kesepakatan berjalan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

APTIKNAS Dorong Perusahaan TIK Go Public Lewat Workshop BEI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) dan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO) bersama Bursa Efek Indonesia menggelar workshop go public untuk mendorong perusahaan TIK masuk pasar modal.

Kegiatan bertajuk “Go Big with Go Public: From Technology Excellence to Public Markets” itu berlangsung di Main Hall BEI Jakarta, Rabu (15/04/2026), dan diikuti sekitar 100 anggota APTIKNAS serta APKOMINDO.

Di tengah geliat ekonomi digital, banyak perusahaan teknologi tumbuh cepat, tetapi sering tersendat saat bicara tata kelola. Produk bagus belum tentu siap masuk bursa.

Saya pernah berbincang dengan pelaku startup yang mengaku lebih pusing mengurus audit dibanding mencari pelanggan baru. Di situlah tantangan sebenarnya dimulai.

Ketua Umum APTIKNAS sekaligus APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. atau Hoky, menegaskan bahwa go public bukan sekadar mencari pendanaan.

“Go public adalah lompatan strategis dari keunggulan teknologi menuju kredibilitas global. Ini bukan hanya tentang memperoleh pendanaan, tetapi juga tentang membangun tata kelola yang baik,” ujar Hoky.

Bursa Efek Indonesia Nilai Sektor Teknologi Siap IPO

Wakil Direktur Bursa Efek Indonesia, Listyorini Dian Pratiwi, mengatakan sektor teknologi menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.

Menurut dia, banyak perusahaan TIK lokal sebenarnya sudah layak melantai di bursa, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam proses menuju IPO.

“Perusahaan teknologi memiliki peluang besar untuk berkembang melalui pasar modal. BEI berkomitmen mendampingi perusahaan dalam setiap tahapan,” kata Listyorini.

Yan Hendrick Simorangkir dari Bursa Efek Indonesia menambahkan, tantangan terbesar sering muncul pada aspek administrasi dan pelaporan keuangan.

Banyak perusahaan unggul dari sisi produk, namun belum siap dalam transparansi dan akuntabilitas yang menjadi syarat utama perusahaan terbuka.

Enam Agenda Strategis APTIKNAS 2026 Jadi Penguat

Selain workshop IPO, APTIKNAS juga memaparkan enam agenda strategis nasional 2026 yang sebelumnya telah disampaikan kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.

Agenda itu mencakup National Cybersecurity Connect 2026, ASOCIO Digital AI Summit 2026, Indonesia Game Experience, Warkop Digital, Roadshow Teknologi 10 Kota, dan Mall APTIKNAS.

Hoky menilai transformasi digital Indonesia tidak boleh berjalan setengah-setengah. Talenta, keamanan siber, teknologi, hingga akses pasar harus bergerak bersamaan.

“Digitalisasi membuka peluang ekonomi yang sangat besar, namun juga menghadirkan risiko seperti serangan siber dan kejahatan digital,” ujarnya.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, yang telah membawa perusahaannya go public, mengatakan perubahan budaya organisasi menjadi tantangan terbesar.

Namun manfaatnya jauh lebih besar, mulai dari akses pendanaan yang luas hingga meningkatnya kredibilitas perusahaan di mata investor.

Lewat sinergi APTIKNAS, APKOMINDO, dan Bursa Efek Indonesia, perusahaan TIK Indonesia didorong tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh sebagai pemain global yang kompetitif.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Roadshow Transformasi Digital Batam Soroti Risiko AI Tanpa Fondasi


Duta Nusantara Merdeka | Batam
Roadshow nasional bertajuk AI Driven Secure & Efficient: Engineering Digital Transformation Blueprint kembali digelar, kali ini singgah di Batam, Kepulauan Riau. Lebih dari 100 peserta dari sektor manufaktur, logistik, kesehatan, hingga praktisi teknologi berkumpul di Harmoni One Hotel Batam untuk membahas satu isu yang kini tak bisa ditunda: bagaimana mengadopsi kecerdasan buatan tanpa membuka celah risiko baru.

Acara ini merupakan kolaborasi Yorindo Communication bersama APTIKNAS dan APKOMINDO, didukung Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI serta bersinergi dengan KADIN Batam. Fokusnya bukan sekadar bicara tren AI, tetapi menyusun fondasi transformasi digital yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

Fondasi Digital Tak Bisa Dilewati

Direktur Yorindo Communication, Yolanda Roring, menegaskan Batam dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini dinilai menjadi simpul penting industri dan perdagangan internasional, sehingga menjadi laboratorium nyata untuk penguatan transformasi digital nasional.

“Kami menghadirkan ekosistem lengkap, mulai dari kebijakan keamanan siber, infrastruktur digital, hingga implementasi AI yang aplikatif. Batam menjadi titik penting karena merupakan hub industri dan perdagangan internasional,” ujar Yolanda.

Pernyataan itu terasa relevan. Dalam banyak forum teknologi, AI sering diperlakukan seperti obat mujarab. Padahal di lapangan, banyak perusahaan masih berjuang dengan persoalan dasar—server yang belum stabil, backup data yang berantakan, hingga keamanan siber yang dianggap urusan belakang. Ibarat membangun gedung tinggi di atas tanah labil, hasilnya hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Ketua Umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. atau Hoky, mengingatkan adopsi AI tanpa fondasi digital yang kokoh justru berbahaya.

“Adopsi AI tanpa infrastruktur digital yang kuat berisiko menimbulkan Black Box Syndrome, yaitu kondisi ketika sistem berjalan tanpa transparansi dan kontrol,” kata Hoky.

Menurut dia, Indonesia perlu membangun digital backbone yang mandiri dan berdaulat, baik melalui sistem on-premise maupun cloud lokal agar kontrol data tetap terjaga.

Keamanan Siber Jadi Garis Pertahanan

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN RI, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng., menekankan keamanan siber harus menjadi fondasi utama transformasi digital.

Dalam paparannya, ia menjelaskan konsep Autonomous Cyber Defense, yakni sistem pertahanan siber yang adaptif dan mampu merespons ancaman secara otomatis.

Pendekatan ini dinilai penting, terutama untuk melindungi infrastruktur kritis seperti manufaktur dan layanan kesehatan. Serangan siber kini bergerak lebih cepat dari prosedur birokrasi biasa. Jika pertahanan masih manual, perusahaan hanya akan sibuk memadamkan api.

Ketua APTIKNAS Kepulauan Riau, Robert Liandro, menambahkan pihaknya siap menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan solusi teknologi yang tepat.

“APTIKNAS Kepri siap memastikan transformasi digital berjalan secara terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Workshop interaktif yang dipandu Agus Dedi Supriyadi juga menjadi sorotan. Peserta mempraktikkan langsung otomasi proses bisnis menggunakan platform n8n serta integrasi AI dan IoT. Ini bukan seminar yang berhenti di slide presentasi—peserta diajak menyentuh langsung cara kerja transformasi digital.

Roadshow ini akan berlanjut ke Purwakarta, Tangerang, Solo, Jakarta, Semarang, hingga Balikpapan-Samarinda sebagai bagian dari target pemerataan transformasi digital di 10 kota strategis Indonesia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

AIPI Soroti Bahaya UPF pada Anak, Desak Kebijakan Tegas


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyoroti bahaya konsumsi makanan ultra-proses (UPF) pada anak dan remaja dalam webinar internasional, Kamis (23/4/2026). Forum ini mempertemukan ilmuwan, pemerintah, dan lembaga global untuk merumuskan respons kebijakan berbasis bukti ilmiah.

Lonjakan konsumsi UPF—tinggi gula, garam, dan lemak—dinilai berkorelasi kuat dengan obesitas anak, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular sejak usia dini. AIPI menilai situasi ini mendesak ditangani lewat reformasi sistem pangan nasional.

Ancaman Nyata UPF pada Anak dan Remaja

Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso, menegaskan perubahan sistem pangan global telah menggeser pola konsumsi masyarakat. Produk ultra-proses kini makin mudah diakses, murah, dan agresif dipasarkan, termasuk ke anak-anak.

“Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas,” ujar Daniel.

Fenomena ini bukan sekadar tren konsumsi. Sejumlah studi global menunjukkan, paparan UPF sejak dini memperbesar risiko malnutrisi ganda—kelebihan kalori tetapi miskin zat gizi.

Saya teringat obrolan ringan dengan seorang orang tua di ruang tunggu klinik beberapa waktu lalu. Ia mengaku anaknya sulit lepas dari camilan kemasan karena dianggap praktis. Cerita seperti ini kini jadi potret umum di kota-kota besar.

Dorongan Kebijakan: Dari Label Gizi hingga Cukai

Pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan dukungan terhadap transformasi kebijakan pangan berbasis riset.

Salah satu momentum penting adalah implementasi PP No. 28/2024. Regulasi ini membuka peluang penguatan label gizi di kemasan depan serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.

Diskusi juga menyoroti perlindungan anak dari pemasaran agresif, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah. Selain itu, kebijakan fiskal seperti cukai minuman berpemanis kembali didorong untuk menekan konsumsi.

Rina Agustina dari AIPI menekankan, kualitas diet kini tak cukup dinilai dari kandungan gizi. Tingkat pemrosesan makanan harus jadi indikator utama.

“Pengetahuan saja tidak cukup. Anak hidup di lingkungan yang justru mempermudah akses ke makanan ultra-proses,” ujarnya.

Arah Baru: Kembali ke Makanan Asli

Forum ini juga mendorong kampanye konsumsi makanan segar berbasis bahan lokal, sejalan dengan panduan “Isi Piringku” dan konsep Planetary Health Diet.

Di tingkat praktis, pendekatan ini bukan hal baru. Banyak keluarga sebenarnya paham pentingnya makanan rumahan, tetapi kalah oleh faktor harga dan kemudahan akses produk kemasan.

Sebagai tindak lanjut, AIPI akan menyusun policy brief dan peta jalan kebijakan jangka pendek hingga panjang. Targetnya jelas: memperbaiki kualitas diet anak Indonesia.

“Jika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, anak-anak akan tumbuh optimal,” ujar Ketua KIK AIPI, Herawati Sudoyo.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Pecah Kongsi Bunaaca Jogja, Saat Cinta dan Bisnis Tabrakan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kisah pecah kongsi Bunaaca Jogja menjadi sorotan setelah brand donat yang sempat naik pesat itu retak akibat konflik personal dan legal pada 2024. Bisnis yang dirintis pasangan kekasih sejak 2019 ini berakhir dengan perpisahan, menyisakan sengketa kepemilikan merek dan arah usaha.

Konflik mencuat saat isu perselingkuhan muncul, diikuti fakta bahwa merek Bunaaca telah didaftarkan secara legal oleh pihak laki-laki tanpa sepengetahuan pasangannya. Sejak itu, keduanya memilih jalan berbeda dalam mengelola bisnis.

Kronologi Pecah Kongsi Bunaaca Jogja

Bunaaca berawal dari usaha rumahan pada 2019. Pihak perempuan mengembangkan resep donat secara mandiri, sementara pasangannya masuk sebagai pemodal.

Memasuki 2020, brand ini mulai dikenal luas di Yogyakarta. Popularitasnya melonjak, terutama di kalangan pencinta dessert.

Pada 2023, bisnis ini disebut mendapat suntikan investasi penuh dari pihak laki-laki. Ekspansi dilakukan dengan membuka toko offline, meski diakui sempat merugi dalam empat bulan awal operasional.

Namun, justru di puncak pertumbuhan pada 2024, konflik personal muncul. Merek Bunaaca diketahui telah dipatenkan atas nama pihak laki-laki, memicu ketegangan yang berujung perpisahan.

Saya teringat obrolan dengan seorang pelaku UMKM di Jakarta. Ia bilang, konflik bisnis paling sering justru datang dari orang terdekat—karena kepercayaan sering menggantikan sistem.

Dampak dan Pelajaran Bisnis dari Konflik Bunaaca

Setelah berpisah pada September 2024, pihak perempuan memilih keluar dan memulai usaha baru di Bali dengan brand Bibblebake. Sementara pihak laki-laki tetap menjalankan Bunaaca, dengan alasan menjaga operasional dan karyawan.

Kasus ini menyoroti tiga kelemahan klasik bisnis pemula. Pertama, terlalu mengandalkan kepercayaan tanpa sistem kontrol yang jelas.

Kedua, aspek legal yang kerap diabaikan. Kepemilikan merek yang tidak disepakati sejak awal menjadi sumber konflik serius.

Ketiga, ketergantungan pada satu individu, terutama dalam hal resep dan kualitas produk.

Dalam pengalaman pribadi, saya pernah melihat sebuah kafe kecil kehilangan pelanggan hanya dalam dua bulan setelah chef utamanya keluar. Rasa berubah, konsumen pun perlahan hilang.

Fenomena serupa terlihat di Bunaaca. Sejumlah pelanggan mengaku kualitas produk berubah setelah perpisahan terjadi.

Pada akhirnya, kisah pecah kongsi Bunaaca Jogja menegaskan satu hal: pertumbuhan bisnis tidak cukup ditopang oleh omzet dan popularitas. Sistem yang kuat dan transparansi sejak awal justru menjadi fondasi utama keberlanjutan usaha.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Dari Karyawan ke CEO: Cara Vivi Xiao Bangun Tim AI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membangun “karyawan digital” mulai mencuri perhatian di kalangan profesional teknologi. Salah satu contoh datang dari Vivi Mengxie Xiao, AI Product Manager asal China, yang mengembangkan sistem kerja berbasis OpenClaw untuk meningkatkan produktivitas.

Melalui pendekatan ini, Vivi tidak sekadar memakai AI sebagai alat bantu, melainkan membangun enam peran virtual yang bekerja layaknya tim internal. Strategi karyawan AI dengan OpenClaw ini mendorong efisiensi sekaligus mengubah pola kerja individu menjadi berbasis sistem.

Transformasi Kerja: Dari Individu ke Sistem AI

Sebelum mengadopsi sistem ini, Vivi menghabiskan sekitar empat jam per hari untuk pekerjaan repetitif. Aktivitasnya mencakup riset berita industri AI, membaca berbagai sumber global, serta menerjemahkan konten berbahasa Inggris ke Mandarin.

Kini, sekitar 60 hingga 70 persen tugas tersebut telah diotomatisasi. Ia membangun enam “karyawan AI” dengan fungsi berbeda, mulai dari administrative assistant hingga research analyst dan finance assistant.

Pendekatan ini membuat alur kerja lebih terstruktur. Tugas yang sebelumnya memakan waktu kini berjalan paralel. Output meningkat, tanpa harus menambah sumber daya manusia secara konvensional.

Saya pernah melihat pola serupa pada seorang editor digital yang mulai memakai automation tools sederhana. Dalam beberapa bulan, ritme produksinya berubah drastis—bukan karena bekerja lebih keras, tetapi karena sistemnya lebih rapi.

Produktivitas Naik, Waktu Kerja Ikut Bergeser

Namun, peningkatan produktivitas tidak selalu diikuti efisiensi waktu. Dalam kasus Vivi, justru terjadi sebaliknya. Jam kerjanya semakin panjang karena kapasitas output ikut meningkat.

“Waktu tidur saya bergeser dari tengah malam menjadi jam 2 pagi karena selalu ada satu hal lagi yang ingin saya kerjakan,” ujar Vivi Mengxie Xiao dalam pengakuannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI tidak otomatis mengurangi beban kerja. Sebaliknya, ia memperbesar kapasitas produksi, yang pada akhirnya mendorong individu untuk terus menambah aktivitas.

Seorang analis data di Jakarta pernah mengungkap hal serupa. Setelah memakai automation, pekerjaannya selesai lebih cepat, tapi targetnya langsung dinaikkan. Ritmenya berubah, bukan berkurang.

Dampak: Bekerja Bukan Lagi Soal Tenaga, Tapi Sistem

Perubahan ini menandai pergeseran mendasar dalam dunia kerja. Fokus tidak lagi pada seberapa keras seseorang bekerja, melainkan seberapa efektif sistem yang dibangun.

Strategi karyawan AI dengan OpenClaw membuka kemungkinan baru: individu bisa memiliki kapasitas setara tim. Namun, tanpa kontrol, peningkatan ini justru memperpanjang jam kerja.

Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, tetapi bagaimana manusia mengelola sistem yang mereka bangun sendiri.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Strategi Karier Anti Diinjak: Cara Bertahan di Kantor


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena pekerja kompeten namun kariernya stagnan kembali jadi sorotan. Banyak karyawan merasa sudah bekerja keras, tetapi tetap sulit naik posisi atau justru tersisih di lingkungan kerja.

Situasi ini bukan semata soal kemampuan teknis. Ada dinamika kekuasaan tak tertulis di kantor yang kerap luput dipahami, padahal menentukan arah karier seseorang.

Dinamika Kekuasaan Tersembunyi di Lingkungan Kerja

Di banyak organisasi, relasi kerja tidak selalu berjalan linier. Hierarki formal sering dibarengi “politik kantor” yang memengaruhi keputusan promosi hingga distribusi proyek strategis.

Salah satu pola yang kerap muncul adalah ketegangan antara atasan dan bawahan yang terlalu menonjol. Karyawan berprestasi justru bisa dianggap ancaman bila tidak dikelola dengan tepat.

Seorang manajer HR di Jakarta pernah bercerita, karyawan terbaik di timnya justru gagal promosi karena dinilai “tidak memberi ruang” bagi atasannya. Penilaian subjektif seperti ini sering tak tertulis, tapi berdampak nyata.

Dalam praktiknya, pekerja yang cerdas membaca situasi cenderung lebih bertahan. Mereka tahu kapan harus tampil dan kapan perlu menahan diri.

Strategi Bertahan: Antara Reputasi dan Kendali Diri

Selain relasi dengan atasan, faktor lain adalah pengelolaan informasi. Tidak semua hal perlu dibagikan, bahkan kepada rekan dekat sekalipun.

Lingkungan kerja kompetitif membuat batas antara kolaborasi dan persaingan menjadi tipis. Keberhasilan satu orang bisa memicu kecemburuan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Saya pernah menemui kasus sederhana. Seorang rekan terlalu terbuka soal rencana pindah divisi. Dalam hitungan minggu, peluang itu justru diambil orang lain yang lebih dulu bergerak diam-diam.

Di titik ini, reputasi menjadi aset utama. Sekali citra profesional terganggu—baik karena ucapan atau sikap—dampaknya bisa panjang dan sulit dipulihkan.

Di sisi lain, ketenangan juga memainkan peran penting. Individu yang tidak terlihat tergesa-gesa cenderung dianggap lebih matang dan memiliki kontrol atas situasi.

Fleksibilitas menjadi kunci berikutnya. Lingkungan kerja terus berubah, dan pendekatan yang kaku justru membuat seseorang mudah tersingkir.

Strategi adaptif—termasuk kemampuan membaca situasi dan, dalam kondisi tertentu, meredam ego—sering kali lebih efektif dibanding sekadar kerja keras.

Pada akhirnya, realitas dunia kerja tidak selalu berpihak pada “yang paling baik”. Pertanyaannya sederhana: apakah ingin tetap idealis tanpa strategi, atau mulai memahami cara bertahan tanpa kehilangan integritas.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 


Share:

Habitat Ungkap Hambatan SKK Konstruksi di Indonesia


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Habitat for Humanity Indonesia membeberkan hasil studi nasional implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) sektor konstruksi di Kota Tangerang, Selasa, 14 April 2026. Temuan utamanya: akses sertifikasi masih timpang, padahal sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja.

Dari total pekerja konstruksi di Indonesia, hanya sekitar 6 persen yang mengantongi sertifikat resmi. Ketimpangan ini dinilai berisiko terhadap kualitas pembangunan dan keselamatan kerja di lapangan.

Ketimpangan Akses Jadi Masalah Inti

Sektor konstruksi selama ini dikenal sebagai tulang punggung pembangunan infrastruktur dan perumahan. Namun di lapangan, kualitas tenaga kerja belum sepenuhnya terstandar.

Saya pernah berbincang dengan seorang tukang bangunan di pinggiran Tangerang. Dia sudah 15 tahun bekerja, tapi belum pernah ikut uji sertifikasi. Bukan karena tidak mampu, melainkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Temuan studi Habitat menguatkan cerita seperti itu. Tiga hambatan utama muncul berulang: minimnya informasi bagi pekerja informal, biaya sertifikasi yang dianggap berat, dan proses administrasi yang rumit.

Padahal, Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) menjadi instrumen penting untuk memastikan kompetensi pekerja sesuai standar nasional.

Program Pelatihan Tunjukkan Hasil, Tapi Belum Merata

Sejak 2023, Habitat for Humanity Indonesia menjalankan program pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Hasilnya cukup mencolok.

Sebanyak 581 pekerja di Kota dan Kabupaten Tangerang telah tersertifikasi. Bahkan, tingkat kelulusan mencapai 96 persen.

“Pekerja konstruksi memiliki peran penting dalam pembangunan, namun masih menghadapi tantangan dalam mengakses sertifikasi,” ujar Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Angka kelulusan tinggi ini memberi sinyal jelas: persoalannya bukan pada kemampuan, tetapi akses. Banyak pekerja sebenarnya siap, hanya terhambat sistem.

Di sisi lain, pemerintah melihat inisiatif ini sebagai model kolaborasi. “Kami mengapresiasi Habitat… hasil studi ini bisa memperkuat kebijakan ke depan,” kata Ir. Kimron Manik dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Habitat juga mencoba menutup celah lain lewat job fair konstruksi pada 2025. Tujuannya sederhana: memastikan pekerja terlatih tidak berhenti di sertifikat, tapi terserap industri.

Dampak Lebih Luas: Kualitas Infrastruktur dan Ekonomi

Kualitas tenaga kerja konstruksi tidak hanya berdampak pada bangunan, tapi juga ekonomi daerah. Infrastruktur yang buruk berisiko mahal di kemudian hari.

Studi ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, industri, hingga lembaga pelatihan untuk memperbaiki ekosistem sertifikasi agar lebih inklusif.

Momentum kolaborasi mulai terlihat. Sejumlah pihak hadir dalam diseminasi, mulai dari Kementerian PU, Bappeda, hingga perwakilan internasional.

Ke depan, tantangannya jelas: membuat sertifikasi tidak lagi eksklusif. Karena di balik setiap bangunan, ada tenaga kerja yang seharusnya punya standar yang sama.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

PT AEK Uji Kesiapan Karlabun, Bayang-Bayang El Nino Menguat


Duta Nusantara Merdeka | Kutai Kartanegara
PT Agri Eastborneo Kencana (PT AEK) menggelar simulasi penanggulangan Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) di Desa Sedulang, Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Sabtu (4/4/2026). Latihan ini dilakukan di tengah prediksi menguatnya fenomena El Nino hingga Oktober mendatang.

Langkah ini mencerminkan satu hal: ancaman kebakaran lahan bukan lagi potensi, melainkan risiko yang tinggal menunggu waktu jika mitigasi tidak disiplin dijalankan.

Kesiapsiagaan yang Diuji, Bukan Sekadar Formalitas

General Manager PT AEK, Syamsul Bahri, menegaskan simulasi ini bagian dari agenda krusial perusahaan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan dari level paling dasar.


“Kewaspadaan harus dimulai dari hal kecil,” ujar Syamsul Bahri.

Pernyataan ini terdengar sederhana, tapi di lapangan sering justru diabaikan. Pengalaman kebakaran lahan di Kalimantan berulang kali menunjukkan bahwa sumber api kerap berasal dari kelalaian manusia—bukan faktor alam semata.

Antara SOP dan Realitas Lapangan

Simulasi yang digelar PT AEK mencakup pemaparan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh tim Health, Safety, and Environment (HSE), pengecekan sarana pemadam, hingga praktik langsung menghadapi api dengan berbagai skala.

Namun, persoalan klasiknya bukan pada ketersediaan SOP atau alat. Banyak perusahaan memiliki dokumen lengkap, tetapi lemah dalam eksekusi saat krisis terjadi.


Dalam beberapa kasus kebakaran sebelumnya, koordinasi antar tim sering menjadi titik rapuh. Respons lambat beberapa menit saja bisa membuat api tak terkendali.

El Nino dan Risiko yang Meningkat

Fenomena El Nino diperkirakan memicu musim kering lebih panjang. Kondisi ini memperbesar peluang munculnya titik api, terutama di wilayah perkebunan.

Di sinilah simulasi seperti yang dilakukan PT AEK menjadi relevan. Bukan hanya untuk memenuhi standar operasional, tetapi menguji refleks organisasi menghadapi kondisi darurat.

Jika disiplin dijaga, simulasi bisa menjadi benteng pertama. Jika tidak, ia hanya akan berakhir sebagai ritual tahunan tanpa dampak nyata.

Penulis: LA
Editor: Arianto 



Share:

APINDO Soroti Wacana Hentikan Restitusi Pajak, Risiko Likuiditas Mengintai


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) merespons wacana penghentian restitusi pajak yang tengah dibahas sebagai bagian dari optimalisasi kebijakan fiskal nasional. Pernyataan ini disampaikan di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda.

Restitusi Pajak dan Nafas Dunia Usaha

Bagi pelaku usaha, restitusi pajak bukan sekadar prosedur administratif. Ini soal arus kas yang menentukan hidup-mati operasional harian. APINDO melihat wacana penghentian restitusi pajak berpotensi menekan likuiditas perusahaan.

Ketua Komite Perpajakan APINDO, Siddhi Widyaprathama, menegaskan dunia usaha pada prinsipnya mendukung langkah pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Namun, kebijakan perlu disusun dengan mempertimbangkan kondisi sektor riil.

“Sinkronisasi kebijakan fiskal dengan kebutuhan dunia usaha menjadi kunci untuk menjaga resiliensi ekonomi nasional,” ujar Siddhi dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4).

Saya teringat obrolan singkat dengan seorang pelaku industri manufaktur di kawasan Bekasi beberapa waktu lalu. Ia menyebut keterlambatan restitusi saja sudah cukup membuat perusahaannya menahan ekspansi. Apalagi jika dihentikan sepenuhnya.

Restitusi, dalam praktiknya, membantu perusahaan menjaga kelancaran produksi hingga memenuhi kewajiban terhadap karyawan. Tanpa itu, tekanan likuiditas bisa cepat menjalar ke aspek lain.

Antara Penerimaan Negara dan Iklim Investasi

APINDO juga menyoroti pentingnya kepastian hukum dalam kebijakan perpajakan. Dunia usaha membutuhkan kepastian, bukan sekadar perubahan kebijakan yang cepat.

Sebagai kontributor besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan pencipta lapangan kerja, sektor usaha melihat pajak bukan hanya sumber penerimaan negara. Pajak juga instrumen untuk menjaga daya saing.

Di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok, ruang gerak dunia usaha sudah cukup sempit. Kebijakan fiskal yang tidak sinkron berpotensi memperburuk situasi.

Meski demikian, APINDO mendukung penguatan pengawasan dan audit perpajakan. Siddhi menilai pengawasan yang profesional dan pelayanan yang efisien bisa berjalan beriringan tanpa menghambat aktivitas usaha.

“Koordinasi yang harmonis antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan operasional dunia usaha merupakan kunci stabilitas ekonomi,” katanya.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Pelajaran Sukses dari Ahok hingga Dahlan Iskan: Integritas, Fokus, dan Ketekunan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Sejumlah tokoh bisnis dan publik Indonesia membagikan pandangan tentang integritas, fokus, dan ketekunan sebagai fondasi kesuksesan dalam berbagai kesempatan diskusi.

Percakapan dan pertemuan informal dengan para tokoh ini menghadirkan satu benang merah: keberhasilan jarang lahir dari jalan pintas. Ia dibangun oleh karakter, konsistensi, dan keberanian mengambil sikap.

Integritas dan Dampak Sosial

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pernah menyampaikan, kepemimpinan bertumpu pada kelurusan karakter. “Kalau kepalanya lurus, bawahnya juga lurus,” ujarnya.

Pesan itu menekankan integritas, keteladanan, dan autentisitas. Kepintaran atau gelar, menurutnya, tak cukup tanpa kejujuran dan konsistensi dalam bertindak.

Pengusaha Andrew Susanto juga berbagi sudut pandang berbeda soal negosiasi. Dalam setiap kesepakatan, kata dia, jangan takut menawar ekstrem hingga diprotes. Dari situlah peluang “good deal” terbuka.

Sementara itu, Grace Tahir dari Mayapada Group menegaskan, kekayaan bukan tujuan akhir. Dampak sosial justru menjadi orientasi utama.

Baginya, uang hanyalah alat. Pendidikan, kesehatan, dan perubahan sosial adalah tujuan yang lebih besar. Ketika dampak dibangun, nilai ekonomi akan mengikuti.

Fokus dan Turun ke Lapangan

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengingatkan pentingnya fokus jangka panjang. Ia menyarankan konsistensi minimal sepuluh tahun di satu bidang.

“Jangan lompat pagar,” pesannya. Berpindah-pindah terlalu cepat hanya akan menghambat kedalaman kompetensi.

Pelajaran lain datang dari Sigit Djokosoetono, Deputi CEO Bluebird Group. Ia pernah turun langsung menjadi sopir taksi untuk memahami realitas lapangan.

Langkah itu bukan pencitraan. Ia ingin mendengar langsung suara pekerja yang sering tak sampai ke meja manajemen.

Ada pula pesan sederhana tentang daya tahan. Kegagalan, selama tidak membuat seseorang menyerah, bukanlah akhir perjalanan.

Dari beragam kisah itu, satu pelajaran terasa relevan: teori penting, tetapi pemahaman nyata terhadap operasional dan karakter pribadi jauh lebih menentukan arah sukses seseorang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Strategi Branding: Kekuatan Psikologi Warna


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Sejumlah riset pemasaran menunjukkan pilihan warna pada brand memengaruhi persepsi dan keputusan beli konsumen melalui pendekatan psikologi warna.

Pernah bertanya mengapa banyak merek makanan cepat saji identik dengan merah? Lihat saja gerai KFC, Mixue, atau Pizza Hut. Warna itu bukan kebetulan.

Dalam kajian pemasaran, fenomena tersebut dikenal sebagai psikologi warna. Warna dinilai mampu memengaruhi emosi, perhatian, hingga dorongan bertindak konsumen saat berhadapan dengan produk.

Merah hingga Kuning: Membangun Impuls dan Energi

Merah kerap diasosiasikan dengan energi, panas, dan urgensi. Warna ini cepat menarik perhatian dan sering digunakan pada produk yang menuntut keputusan spontan.

Di industri makanan, merah lazim dipadukan dengan kuning. Kombinasi ini memberi kesan hangat, ramah, sekaligus menggugah selera. Tak heran pola tersebut banyak dipakai restoran cepat saji global.

Selain sektor kuliner, merah juga identik dengan brand minuman seperti Coca-Cola yang menekankan kesan dinamis dan mudah diingat.

Kuning, di sisi lain, merepresentasikan optimisme dan keceriaan. Warna ini dekat dengan segmen anak muda serta produk keluarga.

Produk seperti Tolak Angin, Chitato, hingga karakter populer Pokémon memanfaatkan kuning untuk membangun kesan ceria dan mudah dikenali.

Biru, Hitam, Hijau: Kepercayaan hingga Keberlanjutan

Biru banyak digunakan sektor perbankan dan teknologi karena identik dengan stabilitas dan rasa aman. Di Indonesia, warna ini dominan pada identitas Bank BCA, Bank BRI, serta Bank Mandiri.

Platform digital global seperti Facebook juga memanfaatkan biru untuk membangun kepercayaan dan kesan profesional.

Hitam menawarkan citra berbeda. Warna ini lekat dengan kemewahan, formalitas, dan eksklusivitas. Industri fesyen premium, seperti Chanel dan Louis Vuitton, menjadikannya identitas utama.

Sementara itu, hijau sering diasosiasikan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Perusahaan teknologi dan layanan digital seperti Tokopedia, Gojek, serta Grab menggunakannya untuk menegaskan citra ramah lingkungan dan pertumbuhan.

Putih pun tak kalah penting. Warna ini menampilkan kesan bersih dan sederhana, sebagaimana terlihat pada identitas Apple yang menonjolkan minimalisme.

Sejumlah laporan pemasaran, termasuk kajian Color Psychology, menyebut pemilihan warna tepat dapat meningkatkan pengenalan merek hingga 80 persen dan memengaruhi ketertarikan beli hingga 85 persen.

Artinya, warna bukan sekadar estetika. Ia bekerja secara emosional, membentuk persepsi, lalu mendorong keputusan. Bagi pelaku UMKM, bisnis daring, hingga perusahaan besar, strategi warna menjadi bagian penting dalam membangun identitas sekaligus kepercayaan pasar.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

APINDO Siap Dukung Prabowo Perluas Lapangan Kerja Nasional


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Indonesia menyatakan kesiapan mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto memperluas lapangan kerja dan memperkuat industrialisasi nasional dalam audiensi di Hambalang, Bogor, Senin (9/2).

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyatakan komitmennya mendukung visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan mendorong industrialisasi nasional.

Komitmen tersebut disampaikan langsung Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, dalam audiensi antara Presiden dan perwakilan pengusaha yang tergabung dalam APINDO di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (9/2).

Menurut Shinta, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha, sejalan dengan semangat Indonesia Incorporated dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Audiensi itu dihadiri pengusaha dari berbagai sektor. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo mengapresiasi peran dunia usaha yang terus menjunjung nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi membangun iklim usaha yang sehat dan kolaboratif.

Keberagaman, menurut Presiden, merupakan kekuatan strategis yang mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat persatuan nasional dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo mengajak dunia usaha untuk bersama-sama menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor padat karya, mulai dari industri tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, hingga makanan dan minuman.

Presiden juga mengapresiasi kontribusi dunia usaha yang selama ini telah menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di sektor-sektor tersebut dan menegaskan pentingnya keberlanjutan penciptaan pekerjaan.

“Arahan Presiden untuk memperluas lapangan kerja menjadi dorongan kuat bagi dunia usaha. APINDO siap mengambil peran aktif dalam memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” kata Shinta dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2).

Menurut Shinta, penciptaan lapangan kerja membutuhkan kerja sama erat antara pemerintah dan dunia usaha. APINDO, kata dia, siap berkolaborasi mendorong investasi, meningkatkan kapasitas produksi, serta membuka lebih banyak kesempatan kerja di berbagai daerah.

Ia menekankan, dunia usaha membutuhkan peran aktif pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja, tidak semata berfokus pada aspek pengupahan, agar kebijakan ketenagakerjaan mampu menciptakan iklim investasi yang sehat dan berdaya saing.

“Peningkatan daya saing nasional tidak hanya bertumpu pada perjanjian perdagangan, tetapi juga pembenahan struktural di dalam negeri. Debottlenecking regulasi, perizinan, logistik, dan biaya produksi menjadi kunci,” ujarnya.

APINDO menegaskan dukungannya terhadap kebijakan Presiden Prabowo dalam memperkuat industrialisasi nasional, yang diyakini akan memberikan manfaat bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Penguatan industrialisasi nasional adalah langkah strategis untuk menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia,” pungkas Shinta.

Penulis Lakalim Adalin 
Editor 


Share:

APINDO dan Coca-Cola Salurkan Beasiswa Pascabanjir


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kepedulian dunia usaha terhadap pemulihan pascabencana kembali diwujudkan melalui aksi nyata APINDO bersama Coca-Cola Europacific Partners dengan menyalurkan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa terdampak banjir.

Program beasiswa senilai 50.000 Euro ini ditujukan untuk mahasiswa di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, guna menjaga keberlanjutan pendidikan di tengah tekanan ekonomi pascabencana.

Penyerahan bantuan dilakukan di Sekretariat APINDO Jakarta, Jumat (30/1), melalui koordinasi DPN APINDO yang menyasar mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, dan Universitas Syiah Kuala.

Ketiga perguruan tinggi tersebut berada di wilayah yang terdampak langsung banjir dan longsor dalam beberapa waktu terakhir, dengan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.

Data Kemdiktisaintek per Desember 2025 mencatat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memengaruhi 18.824 mahasiswa di 60 perguruan tinggi.

Sebagian mahasiswa berisiko tidak melanjutkan studi akibat kondisi ekonomi keluarga yang terdampak, menjadikan dukungan pendidikan sebagai kebutuhan mendesak pascabencana.

Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani menegaskan keberlanjutan pendidikan harus menjadi prioritas bersama, termasuk saat masyarakat menghadapi krisis akibat bencana alam.

Menurut Shinta, pendidikan tidak boleh terhenti oleh bencana, karena akses belajar merupakan bekal penting bagi generasi muda untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Ia menyebut kolaborasi APINDO dan Coca-Cola mencerminkan komitmen nyata dunia usaha dalam berperan aktif mendukung pemulihan sosial masyarakat terdampak.

“Kolaborasi ini adalah wujud tanggung jawab sosial dunia usaha untuk hadir saat masyarakat paling membutuhkan,” ujar Shinta, menegaskan pentingnya sinergi sektor swasta dan masyarakat.

Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia Lucia Karina menyampaikan beasiswa ini bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemulihan sosial pascabencana, khususnya sektor pendidikan.

Menurut Karina, pendidikan menjadi kunci utama membangun ketahanan masyarakat pascabencana, sekaligus memastikan mahasiswa tetap dapat melanjutkan studi tanpa tekanan berlebih.

Ia menambahkan dukungan pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tanggap darurat, melainkan kontribusi berkelanjutan dunia usaha bagi wilayah terdampak.

Selain beasiswa, CCEP Indonesia juga menyalurkan 222 unit mesin filter air bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut.

Distribusi bantuan air bersih dilakukan melalui perguruan tinggi penerima beasiswa serta Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh, untuk memulihkan akses air minum yang aman.

Karina menekankan pemulihan pascabencana tidak terpisahkan dari pemenuhan kebutuhan dasar, terutama ketersediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.

Wakil Rektor III Universitas Syiah Kuala Prof. Mustanir menyampaikan apresiasi atas dukungan beasiswa yang membantu mahasiswa Aceh tetap melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang.

Ia menilai bencana tidak hanya merusak infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga mengancam keberlangsungan studi mahasiswa di daerah terdampak.

Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi menilai kolaborasi dunia usaha dan perguruan tinggi sangat penting untuk menjaga ketahanan pendidikan pascabencana.

Menurutnya, beasiswa ini memberi harapan dan kepastian bagi mahasiswa terdampak UNAND untuk melanjutkan studi dan menata masa depan.

Apresiasi serupa disampaikan Wakil Rektor III Universitas Sumatera Utara Prof. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan yang menilai dukungan dunia usaha krusial menjaga akses pendidikan.

Ia menegaskan bantuan ini tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga memberi dorongan moral agar mahasiswa tetap berprestasi.

Sinergi APINDO, Coca-Cola, dan perguruan tinggi diharapkan menjadi contoh kolaborasi strategis dunia usaha dalam memperkuat ketahanan sosial pascabencana.

Inisiatif ini menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas, bahkan di tengah bencana, demi menjaga masa depan generasi muda Indonesia.

Penulis Lakalim Adalin 
Editor Arianto 


Share:

HUT ke-74 APINDO, Shinta Kamdani Bicara Masa Depan Dunia Usaha


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memperingati HUT ke-74 sebagai momentum refleksi perjalanan dunia usaha nasional sekaligus penegasan arah kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia ke depan.

Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani menegaskan sejak berdiri 1952, APINDO konsisten menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga hubungan industrial, memperkuat daya saing, dan mendorong pertumbuhan inklusif.

Memasuki 2026, usia 74 tahun dipandang bukan puncak capaian, melainkan fase lanjutan dengan fokus penguatan ketenagakerjaan, produktivitas, advokasi kebijakan strategis, serta dukungan bagi industri dan UMKM.

Shinta menekankan masa depan dunia usaha harus memberi dampak nyata, tidak hanya mengejar skala pertumbuhan, tetapi menghadirkan kontribusi ekonomi yang bermakna bagi masyarakat luas.

Ke depan, APINDO mendorong keterlibatan dunia usaha sejak tahap perumusan kebijakan, desain pembangunan, hingga fase awal transformasi ekonomi nasional yang berkelanjutan.

APINDO juga menegaskan komitmen pro-stability, pro-growth, dan pro-poor, sembari menunjukkan peran sosial nyata melalui respons cepat bantuan kemanusiaan saat bencana alam melanda Sumatra.

Penulis Lakalim Adalin 
Editor Arianto 




Share:

Pasutri Muda Jual Gorengan Raup Omzet Fantastis


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Di usia muda saat banyak orang masih bimbang, Yusuf memilih jalan sederhana jualan gorengan keliling, keputusan sunyi yang justru mengubah hidup dan masa depannya.

Kisah itu bermula ketika Yusuf, 23 tahun, ingin menikah namun tak punya penghasilan tetap. Dengan modal nekat dan gerobak, ia memilih berjualan gorengan di pinggir jalan.

Usaha gorengan OTR dijalani Yusuf bersama sang istri, berpindah dari CFD, pasar, hingga titik keramaian. Dimulai awal 2024, mereka konsisten hadir meski cuaca dan lokasi berubah.

Awalnya hanya enam menu sederhana. Resep terus diperbaiki, variasi ditambah, dan pelayanan dijaga. Di balik kesan sepele, omzet harian mereka pernah menyentuh 3 hingga 8 juta rupiah.

Bagi Yusuf, ini bukan sekadar soal uang. Ada cerita jatuh bangun, kehujanan, rugi bahan, hingga komplain pembeli. Semua dijalani tanpa gengsi, demi berdiri di kaki sendiri.

Ia mengakui media sosial, terutama TikTok, membantu memperluas jangkauan. Namun menurutnya, viral bukan keajaiban. “Yang bikin bertahan itu konsistensi dan kualitas,” ujarnya.

Pilihan hidup Yusuf kerap diremehkan. Namun justru dari gerobak sederhana, ia dan istri membangun sinergi, berbagi peran, dan saling menguatkan menghadapi kerasnya jalanan.

“Yang penting halal dan jalan,” kata Yusuf. Prinsip itu membuatnya tak bergantung pada orang tua, sekaligus membuktikan kerja kecil bisa memberi hidup layak dan bermartabat.

Cerita pasutri muda ini menjadi cermin bahwa rezeki tak selalu datang dari jalan terlihat keren, melainkan dari keputusan berani menekuni hal sederhana.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Kemitraan MII dan Alibaba Cloud Dorong Lompatan Digital Indonesia


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Mitra Integrasi Informatika (MII) resmi bermitra dengan Alibaba Cloud untuk memperkuat layanan cloud nasional, menjawab kebutuhan transformasi digital perusahaan Indonesia yang kian agresif.

Kemitraan strategis ini diumumkan sebagai respons atas lonjakan kebutuhan infrastruktur digital yang fleksibel, aman, dan kompetitif, seiring adopsi teknologi cloud lintas sektor industri yang terus meningkat.

Kolaborasi MII dengan Alibaba Cloud menyasar perusahaan yang membutuhkan fondasi teknologi adaptif melalui layanan cloud terintegrasi end-to-end.

Sinergi ini mempertemukan kekuatan solusi teknologi MII dengan infrastruktur global Alibaba Cloud, menciptakan ekosistem digital yang lebih efisien dan siap menopang inovasi berkelanjutan.

Direktur Business Application MII, Kartiwan Johanes, menegaskan kolaborasi ini memperkuat posisi MII sebagai mitra transformasi digital dengan solusi cloud yang scalable, aman, dan relevan.

“Kami menghadirkan solusi cloud yang selaras dengan kebutuhan bisnis pelanggan, mendukung pertumbuhan jangka panjang melalui teknologi yang mudah dikembangkan,” ujar Kartiwan dalam keterangan tertulis, Rabu (21/01/2026).

Sean Yuan, Country Manager Alibaba Cloud Indonesia, menyebut Indonesia sebagai pasar strategis dengan kebutuhan cloud dan AI yang menuntut kurasi lokal melalui kemitraan erat bersama pemain nasional.

Ke depan, kolaborasi ini diharapkan mempercepat transformasi digital nasional, memperkuat daya saing perusahaan, dan membuka ruang inovasi teknologi lintas industri.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


 

Share:

Waspada! Dugaan Penipuan Bermodus Usaha di Mangga Dua Square


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kawasan Mangga Dua Square menjadi perhatian publik setelah muncul laporan dugaan penipuan bermodus kerja sama bisnis yang menimbulkan kekhawatiran pengunjung dan pekerja.

Isu dugaan penipuan kembali mencuat di kawasan pusat perbelanjaan Mangga Dua Square, Jakarta, setelah sejumlah pihak mengaku mengalami kerugian dalam kerja sama usaha yang ditawarkan seorang perempuan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan tersebut melibatkan seorang perempuan berinisial EA, yang disebut menawarkan kerja sama bisnis dengan skema bagi hasil, disertai permintaan setoran modal melalui transfer bank.

Peristiwa ini disebut terjadi sepanjang tahun 2025 di area Mangga Dua Square, Jakarta Pusat, dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan berasal dari kalangan pengunjung, pekerja, serta rekan usaha.

Seorang saksi bernama Rere menyampaikan bahwa dirinya mengetahui beberapa pihak mengalami kerugian finansial, termasuk pekerja di lingkungan pusat perbelanjaan, dengan nilai yang disebut mencapai puluhan juta rupiah.

“Polanya hampir sama, diajak kerja sama usaha, lalu komunikasi terputus setelah dana ditransfer,” ujar Rere, Jumat (26/12/2025), sambil menekankan bahwa informasi tersebut berasal dari cerita para pihak yang merasa dirugikan.

Rere juga menyebut bahwa dugaan kerugian tidak hanya dialami rekan kerja atau pengunjung, namun juga orang-orang yang memiliki kedekatan personal, sehingga menimbulkan dampak emosional yang lebih luas.

Menurut keterangan yang beredar, EA dikenal beraktivitas sebagai pedagang produk fashion wanita dan kerap berpindah lokasi usaha, sehingga cukup dikenal di lingkungan Mangga Dua Square sebelum isu ini muncul.

Hingga saat ini, belum terdapat keterangan resmi dari pihak terduga maupun aparat penegak hukum terkait kebenaran laporan tersebut, dan seluruh informasi masih bersifat dugaan dari pihak-pihak terkait.

Sejumlah pihak berharap pengelola kawasan dan aparat berwenang dapat menindaklanjuti laporan masyarakat guna memastikan kepastian hukum serta menjaga rasa aman di area publik.

Masyarakat diimbau tetap berhati-hati terhadap tawaran kerja sama bisnis dan mengedepankan verifikasi, sembari menunggu kejelasan hukum dari pihak berwenang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini