Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Digital. Tampilkan semua postingan

AI Driven Secure & Efficient 2026 Ditutup di Balikpapan, Fokus Perkuat RS Digital


Duta Nusantara Merdeka | Balikpapan 
Rangkaian nasional AI Driven Secure & Efficient 2026 akan mencapai puncaknya di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 25 Juni 2026. Kegiatan yang mengusung tema “AI Driven Secure & Efficient: Wujudkan RS Tangguh, Aman, dan Efisien” tersebut menjadi penutup dari roadshow yang telah berlangsung di delapan kota di Indonesia.

Acara yang digelar di Hotel Platinum Balikpapan itu menargetkan sekitar 100 peserta yang berasal dari jajaran direksi rumah sakit, manajemen rumah sakit, hingga pengelola teknologi informasi sektor kesehatan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Yorindo Communication, APKOMINDO, APTIKNAS, dan PERATIN dengan dukungan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Didorong Kebutuhan Transformasi Digital Kesehatan

Dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mempertegas pentingnya percepatan digitalisasi layanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan. Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes., MARS, dijadwalkan hadir untuk memberikan dukungan terhadap penguatan ekosistem kesehatan berbasis teknologi digital.

Workshop ini mengangkat empat pilar utama transformasi digital, yakni Smart Infrastructure, Autonomous Cyber Defense, People Intelligence, dan Autonomous Automation. Keempat aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam implementasi kecerdasan buatan di sektor kesehatan.

Ancaman Siber Jadi Perhatian Utama

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng., akan memaparkan strategi penguatan keamanan siber nasional. Sektor kesehatan dinilai menjadi salah satu target utama serangan digital karena menyimpan data sensitif bernilai tinggi.

Berdasarkan data BSSN, sepanjang tahun sebelumnya tercatat sekitar 351,7 juta anomali trafik siber, dengan aktivitas malware mendominasi lebih dari dua pertiga dari total insiden yang terdeteksi.

Infrastruktur Menentukan Keberhasilan AI

Ketua Umum APKOMINDO dan APTIKNAS sekaligus Sekretaris Jenderal PERATIN, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. (Hoky), menegaskan bahwa implementasi AI tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi dan algoritma.

“Transformasi digital berbasis AI tidak cukup hanya berbicara tentang aplikasi dan algoritma. Infrastruktur yang andal, keamanan siber yang kuat, serta SDM yang kompeten merupakan fondasi utama yang harus dibangun bersama. Tanpa fondasi yang memadai, implementasi AI berpotensi menghadapi risiko Black Box Syndrome,” ujar Hoky.

Menurutnya, layanan kesehatan masa depan akan bergerak menuju konsep Borderless Healthcare melalui pemanfaatan telemedicine, Internet of Medical Things (IoMT), hingga telesurgery yang memungkinkan pelayanan medis lintas lokasi secara real time.

Hadirkan Workshop AI dan Lelang Samsung Business TV

Selain menghadirkan berbagai pakar keamanan siber dan transformasi digital, kegiatan ini juga menyelenggarakan sesi praktik pembuatan AI menggunakan platform N8N yang dipandu praktisi AI-IoT Agus Dedi Supriyadi.

Sebagai penutup rangkaian roadshow nasional, panitia turut menghadirkan program lelang eksklusif Samsung Business TV 50 inci BE50FX-H. Perangkat bernilai lebih dari Rp7,6 juta tersebut akan dilelang mulai harga Rp10.000 dengan kenaikan penawaran minimal Rp10.000.

Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan berharap adopsi teknologi kecerdasan buatan, penguatan keamanan siber, dan pembangunan infrastruktur digital kesehatan dapat berkembang lebih merata di berbagai daerah, termasuk kawasan Kalimantan, guna mendukung daya saing Indonesia di era ekonomi digital.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Peran Manusia dalam Era AI Superinteligensi Tetap Menjadi Faktor Penentu


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) kembali memicu perdebatan mengenai masa depan peran manusia dalam dunia ilmu pengetahuan. Di tengah klaim sejumlah perusahaan teknologi yang meyakini bahwa AI akan berkembang menjadi sistem superinteligensi yang mampu melampaui kemampuan para ahli, sejumlah perkembangan terbaru di bidang matematika justru menunjukkan bahwa manusia masih memegang posisi sentral dalam proses penemuan ilmiah.

Sejarah mencatat, pada 1915, Albert Einstein memperkenalkan teori relativitas umum di hadapan Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia. Temuan yang kini dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sains tersebut awalnya tidak langsung mendapat sambutan luas. Kompleksitas matematika yang digunakan Einstein membuat banyak ilmuwan pada masanya kesulitan memahami implikasinya.

Lebih dari satu abad kemudian, situasi serupa muncul dalam perkembangan AI modern. Sejumlah perusahaan teknologi meyakini bahwa sistem AI masa depan akan mampu menghasilkan terobosan ilmiah setara para ilmuwan paling jenius. CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan pernah menggambarkan masa depan tersebut sebagai hadirnya “sebuah negara yang dipenuhi para jenius di dalam pusat data.”

Kemampuan AI di Bidang Matematika Melonjak

Perkembangan paling mencolok saat ini terlihat di bidang matematika. Banyak matematikawan mengaku terkesan sekaligus khawatir dengan peningkatan kemampuan AI dalam memecahkan persoalan matematis yang selama ini dianggap sangat rumit.

Beberapa pencapaian terbaru menunjukkan AI mampu membantu mengungkap pola dan menghasilkan dugaan baru yang sebelumnya luput dari perhatian para peneliti. Bahkan, sistem AI disebut berhasil membantah sebuah konjektur matematika yang telah bertahan selama sekitar delapan dekade.

Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak serta-merta mengurangi peran ilmuwan manusia.

Validasi Tetap Bergantung pada Ahli

Nilai sebuah temuan matematika tetap ditentukan oleh komunitas ilmiah yang memverifikasi, menguji, dan mengembangkan hasil tersebut. Dengan kata lain, sebuah penemuan berbasis AI baru dianggap sah ketika para matematikawan dapat membuktikan dan menerima validitasnya.

Saat ini, banyak peneliti mulai memanfaatkan ide-ide yang dihasilkan AI untuk mencari solusi atas berbagai persoalan matematika lainnya. Fenomena tersebut menunjukkan hubungan yang bersifat kolaboratif, bukan kompetitif.

Genius Tidak Pernah Bekerja Sendiri

Pelajaran penting juga dapat diambil dari perjalanan Einstein. Dampak besar teori relativitas tidak hanya lahir dari kecerdasan Einstein semata, tetapi juga berkat kontribusi ilmuwan lain seperti Karl Schwarzschild dan Willem de Sitter yang mengembangkan serta menerapkan teori tersebut untuk menjelaskan fenomena alam semesta, termasuk lubang hitam dan ekspansi kosmos.

Karena itu, munculnya AI superinteligensi kemungkinan tidak akan menggantikan manusia sepenuhnya. Sebaliknya, masa depan sains mungkin akan lebih ditentukan oleh mereka yang mampu memahami, mengarahkan, dan memanfaatkan kemampuan AI secara efektif.

Dalam konteks tersebut, peran manusia dalam era AI superinteligensi bukan berkurang, melainkan berubah menjadi penghubung utama antara kemampuan mesin dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

DARPA Kembangkan AI Hemat Energi untuk Medan Tempur Modern


Duta Nusantara Merdeka | Washington 
Ambisi Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) kini menghadapi tantangan baru yang tidak hanya berkaitan dengan algoritma dan kapasitas komputasi, tetapi juga kebutuhan energi yang terus meningkat. Di tengah persaingan teknologi dengan Tiongkok, pemerintah AS mulai mengembangkan strategi agar sistem AI dapat beroperasi secara efektif bahkan dalam kondisi energi yang terbatas, termasuk di medan perang.

Langkah tersebut terlihat dari keputusan Departemen Energi AS pada 2025 yang menetapkan empat lokasi strategis untuk pengembangan pusat data AI dan proyek pembangkit energi. Pemerintah AS menilai penguatan infrastruktur AI menjadi bagian penting dalam menjaga keunggulan teknologi nasional sekaligus mendukung kebutuhan pertahanan masa depan.

Ketergantungan Pusat Data Dinilai Berisiko

Meski pembangunan pusat data terus dipercepat, sejumlah kalangan pertahanan menilai model tersebut menyimpan kerentanan strategis. CEO Spartan Forge sekaligus mantan perwira militer AS, Bill Thompson, memperingatkan bahwa sentralisasi komputasi dapat menciptakan titik kegagalan tunggal yang berbahaya bagi keamanan nasional.

Menurut Thompson, serangan terhadap infrastruktur kelistrikan atau jaringan pendukung pusat data berpotensi melumpuhkan operasional AI yang menjadi tulang punggung berbagai program strategis. Karena itu, militer membutuhkan teknologi komputasi yang dapat beroperasi secara mandiri di lapangan tanpa ketergantungan penuh pada pusat data raksasa.

"Ketahanan sistem menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kemampuan komputasi itu sendiri," tegas Thompson.

DARPA Ubah Paradigma Pengembangan AI

Menjawab tantangan tersebut, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) meluncurkan program Mapping Machine Learning to Physics (ML2P). Program ini berupaya mengubah pendekatan pengembangan AI dengan menempatkan konsumsi energi sebagai parameter utama, sejajar dengan akurasi dan performa model.

Dipimpin Program Manager Matthew Marge, ML2P menggunakan pendekatan Pareto Frontier untuk menyeimbangkan kebutuhan performa AI dengan ketersediaan daya. Konsep ini memungkinkan operator memilih model AI yang paling efektif sesuai kapasitas energi yang tersedia di lapangan.

Persaingan AI Berubah Menjadi Perebutan Infrastruktur

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi AI global tidak lagi semata-mata soal kecanggihan model bahasa atau kemampuan komputasi, tetapi juga menyangkut kemandirian energi dan ketahanan infrastruktur.

Spartan Forge, misalnya, memilih membangun server dan sistem komputasinya sendiri tanpa bergantung pada penyedia layanan besar. Model ini dipandang sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok eksternal yang berpotensi menjadi titik lemah dalam situasi konflik.

Di tengah meningkatnya rivalitas teknologi global, penguasaan AI militer hemat energi Amerika Serikat kini dipandang sebagai faktor strategis yang dapat menentukan keseimbangan kekuatan pada era peperangan modern.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 
Share:

Visual Analytics dan Seni Membaca Data di Era AI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Bagi banyak orang, profesi data analyst identik dengan barisan kode, bahasa pemrograman yang rumit, serta layar komputer yang dipenuhi sintaks. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah. Namun, perkembangan dunia analitik menunjukkan bahwa data bukan lagi sekadar urusan coding.

Di tengah percepatan transformasi digital dan kemunculan kecerdasan buatan (AI), muncul kesadaran baru bahwa nilai terbesar dari data justru terletak pada kemampuan menerjemahkannya menjadi pemahaman yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Dari Data Menjadi Cerita

Perjalanan banyak praktisi data sering kali dimulai dari upaya memahami angka. Namun seiring waktu, fokus tersebut bergeser. Data tidak lagi dipandang sebagai kumpulan tabel dan statistik, melainkan bahan baku untuk membangun narasi yang menjelaskan suatu fenomena.

Konsep ini sejalan dengan pandangan Cole Nussbaumer Knaflic dalam buku Storytelling with Data. Menurutnya, visualisasi yang efektif bukan sekadar membuat grafik terlihat menarik, melainkan mengarahkan perhatian audiens pada informasi yang benar-benar penting.

Karena itu, dashboard modern tidak hanya berfungsi sebagai alat pelaporan. Ia menjadi ruang eksplorasi yang membantu pengguna menemukan pola, memahami hubungan antarvariabel, dan mengidentifikasi masalah yang sebelumnya tersembunyi.

Ketika AI Mengambil Alih Pekerjaan Mekanis

Perkembangan AI membuat banyak proses teknis menjadi lebih cepat. Pembuatan kode, penyusunan framework analisis, hingga ringkasan data kini dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Namun ada satu kemampuan yang hingga kini tetap sulit digantikan mesin, yakni membaca konteks.

Sebuah data mungkin menunjukkan tingginya angka perceraian di suatu daerah. Akan tetapi, analisis yang bernilai tidak berhenti pada angka tersebut. Pertanyaan lanjutan justru menjadi inti proses berpikir.

Apakah faktor ekonomi menjadi penyebab utama? Bagaimana hubungan tingkat pengangguran dengan angka perceraian? Apakah terdapat pengaruh pandemi? Jika disesuaikan dengan jumlah penduduk, apakah fenomena tersebut masih terlihat signifikan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang membedakan antara melihat data dan memahami data.

Dashboard Bukan Lagi Laporan

Dalam praktik modern, dashboard berkembang menjadi sarana diskusi strategis. Visualisasi hanyalah plsmedium. Nilai sesungguhnya muncul ketika analis mampu menghubungkan berbagai informasi menjadi arah kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

Para pakar visualisasi informasi seperti Edward Tufte bahkan menilai desain bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari proses berpikir itu sendiri. Karena itu, dunia visual analytics kini semakin dekat dengan seni.

Banyak dashboard terbaik di dunia tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman visual yang memudahkan pengguna memahami informasi kompleks.

Pada akhirnya, visual analytics dan data storytelling bukan tentang membuat grafik yang indah. Esensinya adalah membantu manusia melihat hubungan yang sebelumnya tidak terlihat, memahami persoalan secara lebih utuh, lalu mengambil keputusan yang lebih baik.

Sebab data pada dasarnya tidak pernah berbicara sendiri. Manusialah yang memberi konteks, makna, dan arah bagi setiap angka yang muncul di layar.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Riset: Etika Komersialisasi Karya Seni AI Tuai Kontroversi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Awal 2025, rumah lelang Christie's di New York meraup lebih dari $700.000 dari penjualan karya buatan kecerdasan buatan (AI). Namun, kesuksesan komersial ini seketika memicu protes keras dari 6.000 pembuat karya asli terkait pelanggaran hak cipta. Insiden ini menyoroti tajamnya polemik etika komersialisasi karya seni AI di tengah disrupsi teknologi pada industri kreatif global.

Penolakan masif ini bersumber dari keresahan riil para pekerja kreatif. Ionela Bara, peneliti pascadoktoral bidang neuroestetika di laboratorium Social Brain Sciences, ETH Zurich, mengungkapkan bahwa semakin publik mengerti cara kerja mesin AI, semakin tinggi resistensi moral yang muncul terhadap karya tersebut.

"Orang belum memiliki reaksi penolakan spontan terhadap seni AI. Resistensi moral adalah sesuatu yang mereka pelajari seiring berjalannya waktu," ujar Bara, menjelaskan hasil risetnya.

Eksploitasi Data dan Hak Cipta

Melalui serangkaian eksperimen yang melibatkan ratusan partisipan, Bara dan timnya menguji respons publik terhadap gambar yang diproduksi oleh program DALL-E 3. 

Ketika partisipan diberi pemahaman tentang cara kerja AI art—yang melatih algoritmanya menggunakan kumpulan data raksasa dari karya berhak cipta tanpa izin penciptanya, seperti meniru gaya pelukis Impresionis Joaquin Sorolla—tingkat penerimaan moral masyarakat langsung anjlok.

Praktik eksploitasi dataset inilah yang menjadi inti penolakan seniman terhadap AI. Para kreator menilai raksasa teknologi tengah mendulang profit dari tenaga kreatif yang tidak dikompensasi. Fenomena serupa juga melanda industri literasi, di mana para penulis menggugat perusahaan pengembang model bahasa besar yang menggunakan tulisan mereka tanpa persetujuan. 

Dampak AI bagi pekerja kreatif kini bukan lagi sebatas ancaman otomatisasi kerja, melainkan perampasan hak kekayaan intelektual secara sistematis.

Transparansi Menentukan Masa Depan Seni

Menariknya, riset tersebut juga mencatat bahwa mengetahui tingginya nilai jual finansial sebuah karya AI tidak serta-merta membuat masyarakat menoleransi proses pembuatannya. Secara estetika visual, karya AI mungkin tetap memanjakan mata, tetapi nilai moralnya telah cacat di mata publik yang teredukasi.

"Secara keseluruhan, ketika orang mengetahui bagaimana AI beroperasi, mereka menjadi lebih berhati-hati dalam menilai keadilan moralnya," tegas Bara.

Ke depannya, transparansi terkait sumber data dan operasional teknologi wajib ditegakkan. Langkah pelaporan yang jujur menjadi kunci krusial agar etika komersialisasi karya seni AI dapat diselaraskan, memberikan ruang bagi kemajuan teknologi tanpa harus mengorbankan mata pencaharian dan kredibilitas para pembuat karya asli.

Reporter Lakalim Adalin 
Editor Arianto 

Share:

Panduan Generative AI untuk Manajer Hadapi Masa Depan Kerja


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Generative AI untuk manajer tidak lagi dipandang sekadar sebagai teknologi pendukung produktivitas. Perkembangan kecerdasan buatan generatif kini mulai mengubah cara para pemimpin organisasi mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan bisnis, hingga menyusun strategi jangka panjang.

Transformasi tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam panduan manajemen modern yang menyoroti peran Gen AI sebagai mitra berpikir bagi para manajer. Teknologi ini tidak hanya membantu menyusun email, merangkum dokumen, atau membuat notulen rapat, tetapi juga mampu berfungsi sebagai rekan diskusi yang memberikan sudut pandang baru terhadap berbagai tantangan organisasi.

Generative AI Mengubah Peran Manajer

Perubahan lanskap bisnis mendorong para manajer untuk memahami cara memanfaatkan Gen AI secara efektif. Kemampuan bekerja berdampingan dengan kecerdasan buatan dinilai akan menjadi kompetensi penting di masa depan.

Dalam praktiknya, Gen AI dapat membantu menguji asumsi, memperkaya analisis, serta mendukung proses pemecahan masalah yang kompleks. Kehadiran teknologi ini memungkinkan manajer memperoleh alternatif solusi dan wawasan yang lebih luas sebelum mengambil keputusan strategis.

Selain itu, pemahaman terhadap konsep-konsep dasar AI generatif menjadi kebutuhan baru bagi pemimpin organisasi yang ingin mempertahankan daya saing di tengah percepatan transformasi digital.

Dari Co-Pilot hingga Co-Thinker

Salah satu perubahan paling signifikan adalah bergesernya fungsi AI dari sekadar alat bantu menjadi kolaborator kerja. Dalam model co-pilot, Gen AI membantu meningkatkan efisiensi berbagai aktivitas sehari-hari. Sementara dalam peran co-thinker, teknologi ini dapat diajak berdialog untuk mengeksplorasi ide, mengevaluasi strategi, dan mengembangkan perspektif baru.

Pendekatan tersebut membantu manajer meningkatkan efektivitas kerja sekaligus memperkuat kemampuan kepemimpinan dalam menghadapi dinamika bisnis yang semakin kompleks.

Memimpin Tim dan Organisasi di Era AI

Pemanfaatan Generative AI untuk manajer juga meluas pada pengelolaan tim dan transformasi organisasi. Teknologi ini dapat digunakan untuk mendukung komunikasi internal, meningkatkan kualitas keputusan bisnis, hingga mempercepat implementasi perubahan di lingkungan kerja.

Meski menawarkan banyak peluang, penggunaan Gen AI tetap memerlukan pemahaman terhadap risiko dan keterbatasannya. Karena itu, pengembangan pola pikir yang adaptif menjadi faktor penting agar organisasi mampu memperoleh manfaat maksimal dari teknologi ini.

Ke depan, kemampuan memadukan kepemimpinan manusia dengan kecerdasan buatan diperkirakan akan menjadi salah satu penentu utama keberhasilan manajer dalam menghadapi masa depan dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Revolusi AI Dorong Inovasi, Munculkan Tantangan Baru


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memasuki fase baru yang mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, hingga mengelola bisnis. Dampak kecerdasan buatan terhadap dunia kerja dan industri kini menjadi perhatian utama karena teknologi tersebut tidak lagi terbatas pada laboratorium penelitian, melainkan telah menjadi fondasi transformasi digital global.

Percepatan perkembangan AI terjadi setelah hadirnya model berbasis Transformer yang mampu memproses dan memahami konteks informasi secara lebih komprehensif dibanding generasi teknologi sebelumnya. Kemampuan ini menjadi dasar lahirnya berbagai model AI modern yang digunakan untuk penerjemahan bahasa, pembuatan konten, analisis data, hingga pengolahan dokumen dalam skala besar.

Demokratisasi AI Percepat Inovasi Global

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan juga didorong oleh munculnya platform kolaboratif seperti Hugging Face yang menyediakan akses terbuka terhadap model AI, dataset, dan berbagai perangkat pengembangan. Kehadiran ekosistem terbuka tersebut mempercepat inovasi karena peneliti, pengembang, dan perusahaan dapat berkolaborasi tanpa hambatan yang signifikan.

Model pengembangan terbuka ini memperluas akses terhadap teknologi AI sehingga tidak lagi didominasi oleh perusahaan teknologi besar semata.

AI Masuk ke Berbagai Sektor Strategis

Transformasi digital berbasis AI kini menjangkau berbagai sektor. Dalam jaringan komputer, AI digunakan untuk memprediksi gangguan, mengoptimalkan lalu lintas data, dan mengotomatisasi konfigurasi sistem.

Di bidang keamanan siber, AI berperan dalam mendeteksi anomali, mengidentifikasi ancaman, hingga merespons serangan secara otomatis. Sementara pada sektor cloud computing dan Internet of Things (IoT), teknologi ini membantu meningkatkan efisiensi operasional melalui analisis data dan pengambilan keputusan yang lebih cepat.

Peluang dan Tantangan Dunia Kerja

Kemajuan AI menghadirkan dua konsekuensi sekaligus. Di satu sisi, otomatisasi berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan rutin di sektor manufaktur, transportasi, dan layanan pelanggan. Bahkan profesi berbasis pengetahuan mulai merasakan dampak perubahan tersebut.

Namun di sisi lain, muncul berbagai profesi baru seperti AI Trainer, Prompt Engineer, AI Ethicist, dan AI Transparency Analyst. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan sekadar hilangnya pekerjaan, melainkan perubahan kebutuhan kompetensi tenaga kerja.

Ancaman Keamanan dan Persoalan Etika

Meningkatnya penggunaan AI juga melahirkan risiko baru, mulai dari manipulasi sistem melalui prompt injection, pencurian model, hingga kebocoran informasi sensitif. Selain itu, isu bias algoritma, diskriminasi otomatis, dan perlindungan data pribadi menjadi perhatian penting dalam pengembangan teknologi AI.

Karena itu, keberhasilan implementasi kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh regulasi, tata kelola, pendidikan, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan. Di tengah pesatnya transformasi digital, keseimbangan antara inovasi dan perlindungan publik menjadi faktor krusial untuk memastikan AI memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat global.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Deepfake dan Voice Cloning Jadi Celah Baru Kejahatan Digital


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah banyak aktivitas masyarakat digital. Dari komunikasi, pendidikan, hingga transaksi ekonomi, semuanya kini makin bergantung pada sistem berbasis kecerdasan buatan.

Di balik kemudahan itu, muncul ancaman baru berupa deepfake dan voice cloning. Teknologi ini mampu meniru wajah dan suara seseorang dengan tingkat kemiripan tinggi hanya lewat pengolahan data digital.

Awalnya, teknologi tersebut digunakan untuk industri hiburan dan produksi media. Dalam dunia perfilman, AI membantu memperbaiki visual, membuat efek digital, hingga pengisian suara karakter.

Namun, perkembangan AI generatif belakangan justru membuka celah penyalahgunaan baru. Manipulasi video dan suara kini dipakai dalam penipuan digital, penyebaran informasi palsu, hingga pencatutan identitas seseorang.

Saya sempat mencoba beberapa aplikasi AI pengubah suara beberapa bulan lalu. Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam hitungan menit, suara asli bisa ditiru hampir tanpa celah bagi orang awam.

Deepfake dan Voice Cloning Jadi Ancaman Baru

Deepfake bekerja dengan memanipulasi video agar seseorang terlihat mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Sementara voice cloning memungkinkan suara seseorang direplikasi dengan detail sangat mirip. Tanpa kemampuan forensik digital, masyarakat umum akan sulit membedakan mana rekaman asli dan mana hasil manipulasi.

Ancaman itu makin terasa di Indonesia. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 dari APJII, pengguna internet nasional sudah menembus 221 juta jiwa atau sekitar 79,5 persen populasi.

Tingginya aktivitas digital membuat penyebaran konten manipulatif berbasis AI berlangsung jauh lebih cepat melalui media sosial dan platform daring.

Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik terjadi di Jawa Timur. Nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dicatut dalam video manipulatif untuk menawarkan program penjualan motor murah.

Korban diminta mentransfer sejumlah uang dengan dalih biaya administrasi. Belakangan, video tersebut diduga hasil rekayasa digital.

Regulasi Indonesia Dinilai Belum Spesifik

Kasus serupa juga muncul di tingkat internasional. Pada 2024, perusahaan engineering asal Inggris, Arup Group, menjadi korban penipuan berbasis deepfake senilai sekitar US$25 juta.

Pelaku menggunakan rapat virtual palsu berisi video dan suara manipulatif menyerupai para eksekutif perusahaan. Pegawai bagian keuangan akhirnya mentransfer dana tanpa menyadari seluruh rapat itu hasil rekayasa AI.

Di Indonesia, belum ada aturan khusus yang secara eksplisit mengatur kriminalisasi deepfake dan voice cloning.

Meski begitu, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, Undang-Undang ITE, dan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi masih bisa digunakan untuk menjerat pelaku.

Persoalan terbesar saat ini ada pada pembuktian digital. Rekaman hasil manipulasi AI makin sulit dibedakan tanpa pemeriksaan forensik siber yang memadai.

Karena itu, penguatan regulasi, autentikasi digital, dan kemampuan forensik dinilai mendesak agar perkembangan AI tetap memberi manfaat tanpa mengancam keamanan masyarakat.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Glodon Gelar AEC Connect Day 2026, Soroti AI dan BIM


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Glodon Indonesia akan menggelar AEC Connect Day 2026 pada Selasa, 12 Mei 2026, di Jakarta. Forum ini membahas penerapan AI dan 5D BIM untuk meningkatkan efisiensi industri konstruksi.

Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri konstruksi, pemerintah, dan akademisi. Fokus utamanya adalah integrasi teknologi digital untuk menjawab kompleksitas proyek yang semakin tinggi. 

AI dan 5D BIM Jadi Poros Transformasi Konstruksi

Glodon Indonesia menempatkan AEC Connect Day 2026 sebagai ruang diskusi strategis lintas sektor. Agenda ini tidak hanya memotret tren, tetapi juga mendorong implementasi nyata di lapangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, proyek konstruksi makin kompleks. Saya sempat berbincang dengan seorang manajer proyek yang mengaku, kesalahan hitung kecil saja bisa berdampak miliaran rupiah. Di titik itu, teknologi mulai jadi kebutuhan, bukan pilihan.

Melalui forum ini, integrasi Artificial Intelligence (AI) dan 5D BIM diperkenalkan sebagai solusi untuk meningkatkan akurasi, produktivitas, dan pengambilan keputusan berbasis data. 

Sesi acara mencakup keynote, diskusi panel eksekutif, hingga talkshow pengguna. Topik utamanya berkisar pada masa depan konstruksi yang semakin bergantung pada kolaborasi dan digitalisasi.

Nama-nama seperti Lei Peng, Komang Sri Hartini, Ir. Kimron Manik, hingga Arief Rahman dijadwalkan hadir sebagai pembicara. Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya kolaborasi antara pemerintah dan industri. 

Peluncuran QuantifAI dan Tantangan Industri

Salah satu sorotan utama adalah peluncuran Glodon QuantifAI. Solusi ini menggabungkan AI dan 5D BIM dalam satu platform untuk mendukung quantity takeoff dan manajemen biaya proyek. 

QuantifAI dirancang untuk mempercepat proses perhitungan, meningkatkan akurasi, serta mempermudah pemantauan perubahan proyek. Dalam praktiknya, ini bisa memangkas pekerjaan manual yang selama ini rawan kesalahan.

Namun, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan implementasinya. Banyak pelaku industri masih menghadapi kendala adaptasi, mulai dari SDM hingga integrasi sistem.

Glodon Indonesia mencoba menjawab ini lewat pendekatan yang lebih praktis. Tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga studi kasus dan pengalaman pengguna langsung.

Kolaborasi dan Arah Industri ke Depan

AEC Connect Day 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendorong standar baru dalam industri, termasuk melalui Indonesia National 5D BIM Competition 2026.

Kolaborasi dengan Direktorat Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum menjadi sinyal bahwa transformasi digital mulai bergerak lebih sistematis. 

Dengan kapasitas sekitar 300 peserta dari berbagai perusahaan konstruksi dan pengembang, forum ini diharapkan menjadi titik temu strategis bagi pertukaran ide dan peluang kerja sama.

Pada akhirnya, arah industri konstruksi Indonesia akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat pelaku industri beradaptasi dengan teknologi—bukan sekadar mengadopsinya, tetapi benar-benar menggunakannya.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

IKAL Lemhannas Soroti Keamanan Siber Nasional Berbasis AI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ancaman siber global kini tak lagi sekadar isu teknologi, melainkan sudah menyentuh langsung aspek ketahanan nasional. Itu menjadi sorotan utama dalam Seminar Nasional Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) DKI Jakarta bertema Penguatan Keamanan Siber Nasional Berbasis Artificial Intelligence dalam Menghadapi Ancaman Siber Global di Jakarta, Rabu (29/04/2026).

Forum ini menghadirkan pakar nasional dan internasional di bidang cybersecurity dan artificial intelligence (AI), dengan lebih dari 200 peserta hadir langsung dan lebih dari 400 peserta mengikuti secara daring dari berbagai daerah di Indonesia.

Keamanan Siber Nasional Tak Bisa Lagi Ditunda

Seminar tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, hingga pemangku kepentingan untuk membahas meningkatnya ancaman siber yang makin kompleks. Percepatan pemanfaatan AI dinilai menjadi pisau bermata dua: membantu pertahanan, sekaligus mempercepat serangan.

Ketua Umum IKAL Lemhannas RI, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan Indonesia perlu memperkuat tiga pilar utama: strategic, people, dan technology.

Menurut dia, tanpa strategi yang matang, sumber daya manusia unggul, dan penguasaan teknologi yang kuat, kedaulatan digital Indonesia akan berada dalam posisi rawan.

Pernyataan itu terasa relevan. Dalam beberapa tahun terakhir, publik berkali-kali dikejutkan oleh kebocoran data dan gangguan layanan digital. Hal yang dulu dianggap urusan belakang layar, kini langsung terasa dampaknya di kehidupan sehari-hari.

Senada, Ketua IKAL DKI Jakarta, Sylviana Murni, juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun literasi keamanan siber melalui pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.

Sektor Publik dan Utilitas Jadi Titik Rawan

Sementara itu, Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin yang diwakili Anugrah Esa, mengingatkan sektor utilitas publik menjadi salah satu titik paling rentan terhadap serangan siber.

Menurutnya, infrastruktur air bukan sekadar layanan biasa, tetapi menyangkut keselamatan publik. Serangan terhadap sistem air dapat mengubah parameter kimia dan berisiko membahayakan masyarakat.

Ini bukan ancaman yang jauh. Di sejumlah negara, serangan terhadap sistem air bersih pernah memicu alarm serius. Bayangkan jika air yang dipakai masyarakat setiap hari justru menjadi sumber bahaya akibat kelengahan digital.

Dalam sesi utama, Dr. Ian Josef Matheus Edward, dosen Teknik Telekomunikasi ITB, menjelaskan bahwa AI telah mengubah lanskap ancaman siber secara fundamental.

“Serangan yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu kini dapat dilakukan dalam hitungan menit dengan bantuan AI,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar, mulai dari rendahnya investasi keamanan siber hingga tingginya kerentanan di sektor publik dan BUMN.

Meski begitu, Ian menegaskan talenta digital Indonesia sebenarnya mampu bersaing di level global. Persoalannya, banyak SDM IT dalam negeri belum mendapat apresiasi yang layak.

Karena itu, ia mendorong pergeseran menuju sistem pertahanan siber berbasis AI yang mampu bekerja secara otonom dan real-time, sekaligus membangun ekosistem nasional yang lebih serius menghargai talenta digital bangsa.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

BSSN Dorong Blueprint Transformasi Digital Industri


Duta Nusantara Merdeka | Cikarang 
Kolaborasi BSSN RI, APTIKNAS, APKOMINDO, APINDO DPK Kabupaten Bekasi, dan YORINDO Communication menggelar roadshow di Cikarang, Kamis (9/4/2026). Agenda ini fokus mempercepat blueprint transformasi digital industri manufaktur nasional.

Acara bertajuk ““AI Driven Secure & Efficient: Engineering the Digital Transformation Blueprint” ini menjadi kota ketiga dalam rangkaian 10 kota. Cikarang dipilih karena posisinya sebagai pusat manufaktur yang menopang rantai pasok nasional.

Blueprint Transformasi Digital Industri Mulai Diperjelas

Direktur YORINDO Communication, Yolanda Roring, menegaskan roadshow ini dirancang sebagai panduan praktis bagi pelaku industri. “Kami hadirkan ekosistem lengkap, dari keamanan siber hingga AI terapan,” ujarnya.

Dukungan datang dari Ketua APINDO DPK Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono. Ia menilai AI bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan untuk mendorong produktivitas dan daya saing global.

“Transformasi digital harus berdampak pada efisiensi nyata, termasuk sistem pengupahan berbasis produktivitas,” kata Yusuf dalam forum tersebut.

Saya sempat berbincang dengan salah satu peserta, manajer pabrik di kawasan Jababeka. Ia mengaku selama ini digitalisasi hanya sebatas ERP dasar. “Begitu lihat AI bisa otomatisasi workflow, baru terasa gap-nya jauh,” ujarnya.

Keamanan Siber dan Infrastruktur Jadi Sorotan

Dari sisi keamanan, Deputi BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menekankan pentingnya sistem pertahanan siber otonom. Menurut dia, ancaman digital kini bergerak lebih cepat dari respons manual.

“Autonomous defense menjadi kunci melindungi operasional industri kritis,” ujarnya. Pendekatan ini memungkinkan sistem merespons serangan tanpa menunggu intervensi manusia.

Sementara itu, Ketua Umum APTIKNAS sekaligus APKOMINDO, Soegiharto Santoso, menyoroti risiko “black box syndrome”. Ia mengingatkan adopsi AI tanpa fondasi infrastruktur kuat berpotensi menimbulkan ketergantungan.

“Pilihan harus jelas, apakah on-premise atau cloud lokal yang menjamin kedaulatan data,” kata Hoky, sapaan akrabnya.

Solusi konkret juga dipaparkan pelaku industri, mulai dari hingga Smartnetindo. Fokusnya pada integrasi AI, IoT, dan otomatisasi proses bisnis.

Di sesi akhir, peserta mengikuti workshop praktik integrasi sistem berbasis AI. Banyak yang baru menyadari bahwa transformasi digital bukan sekadar beli teknologi, tetapi mengubah cara kerja secara menyeluruh.

Roadshow ini akan berlanjut ke sejumlah kota industri lain hingga Juni 2026. Targetnya jelas: mempercepat kesiapan industri nasional menghadapi era AI dengan sistem yang aman dan terukur.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


 


Share:

APTIKNAS Dorong Enam Program Strategis Perkuat Ekosistem Digital

Ketua Umum DPP APTIKNAS Soegiharto Santoso menerima cinderamata dari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya usai audiensi bersama sejumlah asosiasi industri digital di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, 12 Maret 2026.

Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ketua Umum APTIKNAS Soegiharto Santoso memaparkan enam program strategis digital dalam audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya di Jakarta, 12 Maret 2026.

Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) mendorong penguatan ekosistem digital Indonesia melalui enam program strategis yang dipaparkan dalam audiensi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, itu dipimpin langsung Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan dihadiri sejumlah asosiasi industri digital nasional.

Selain APTIKNAS, hadir pula Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI), Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), serta Badan Ekosistem Digital Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN).

Ketua Umum APTIKNAS Ir. Soegiharto Santoso, SH atau Hoky, memaparkan sejumlah program prioritas yang dirancang untuk memperkuat ekosistem teknologi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan talenta digital dan inovasi industri.

Enam Program Strategis Ekosistem Digital

Menurut Hoky, transformasi digital membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional, namun juga menghadirkan tantangan baru yang perlu diantisipasi.

“Digitalisasi memberikan peluang ekonomi yang besar, tetapi juga menghadirkan risiko seperti penipuan digital dan serangan siber. Karena itu penguatan keamanan siber dan kepercayaan digital menjadi kunci,” ujarnya.

Program pertama yang dipaparkan adalah National Cybersecurity Connect 2026, forum nasional untuk memperkuat kolaborasi menghadapi ancaman keamanan siber. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Bidakara Jakarta.

Program kedua adalah ASOCIO Digital AI Summit 2026 dan ASOCIO Digital AI Award yang akan digelar pada 29–31 Juli 2026 di Raffles Hotel Jakarta.

Forum internasional tersebut diperkirakan menghadirkan sekitar 800 delegasi dari 24 negara anggota Asian-Oceanian Computing Industry Organization (ASOCIO).

Program ketiga adalah Indonesia Game Experience, sebuah inisiatif untuk mendorong pertumbuhan industri gim nasional melalui penyelenggaraan kegiatan di lima kota besar.

APTIKNAS juga mendirikan Asosiasi Games dan Konten Digital Indonesia (AGKDI) guna memperkuat ekosistem industri konten digital berbasis kearifan lokal.

Kolaborasi Industri dan Pemerintah

Program keempat adalah Warkop Digital atau Warung Kopi Digital, sebuah ruang kolaborasi komunitas berbasis teknologi yang bertujuan meningkatkan literasi digital masyarakat.

Konsep tersebut memanfaatkan budaya warung kopi sebagai ruang diskusi yang ditransformasikan menjadi tempat pembelajaran teknologi dan pengembangan inovasi digital.

Program kelima adalah Roadshow Teknologi di 10 Kota yang menargetkan edukasi bagi para pemimpin transformasi digital terkait keamanan data serta pemanfaatan teknologi berbasis cloud dan kecerdasan buatan.

Program keenam adalah pengembangan Mall APTIKNAS, platform digital marketplace yang dirancang sebagai pusat kolaborasi industri teknologi, startup, UMKM digital, dan pelaku ekonomi kreatif.

Dalam audiensi tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan apresiasi atas berbagai inisiatif yang disampaikan asosiasi industri digital.

“Kolaborasi seperti ini penting untuk memperkuat ekosistem teknologi, baik dalam pengembangan talenta digital, akses pasar, maupun pembiayaan,” kata Riefky.

Ia juga memaparkan program strategis pemerintah melalui delapan inisiatif ASTA EKRAF yang mencakup penguatan data, talenta, infrastruktur, pasar, hingga pembiayaan ekonomi kreatif.

Audiensi yang berlangsung konstruktif itu turut dihadiri Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam serta sejumlah pejabat terkait.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan asosiasi industri dalam mendorong pengembangan talenta digital serta memperkuat ekosistem inovasi teknologi nasional.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Diskusi Media: AI Bisa Perkuat atau Rusak Ekosistem Berita


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Diskusi Asosiasi Media Siber Indonesia di Jakarta, Jumat (20/2/2026), menyoroti strategi redaksi menghadapi Artificial Intelligence (AI) tanpa mengorbankan kualitas jurnalistik.

Forum yang didukung BBC Media Action ini mengangkat satu pertanyaan mendasar: bagaimana ruang redaksi beradaptasi dengan kecerdasan buatan (AI) sekaligus menjaga integritas berita dan model bisnis media.

Dalam sesi diskusi, Luviana Ariyanti menegaskan bahwa teknologi tidak netral. Ia bisa menjadi alat pemberdayaan, tetapi juga berpotensi memperkuat bias lama jika ruang digital tetap didominasi perspektif maskulin.

Pemimpin redaksi Konde.co itu menyoroti realitas di kawasan timur Indonesia. Di sejumlah daerah, perempuan yang bersuara soal ketidakadilan justru kerap diserang hoaks atau narasi yang merendahkan martabat mereka.

Fenomena tersebut, menurut dia, berkaitan dengan kekerasan berbasis gender online yang berkelindan (berkaitan erat-Red) dengan disinformasi. Tantangannya bukan hanya soal literasi digital, melainkan juga soal keberanian membangun narasi tandingan berbasis fakta.

Kolaborasi Lokal Jadi Kunci

Ia menekankan redaksi di pusat tidak bisa memahami kompleksitas daerah tanpa jaringan lokal. Karena itu, pelatihan bersama mitra seperti Kabar Makassar melibatkan jurnalis daerah agar liputan berangkat dari konteks lapangan, bukan asumsi kota besar.

Dalam praktiknya, bentuk disinformasi berbeda tiap wilayah. Di Nusa Tenggara Timur misalnya, isu palsu sering berkaitan dengan klaim pekerjaan luar negeri yang berujung tindak pidana perdagangan orang. Sementara di Papua, serangan lebih banyak berupa stigma politik terhadap aktivis perempuan.

Program fellowship yang melibatkan puluhan jurnalis lokal disebut memberi perspektif baru bagi redaksi nasional. Mereka bukan sekadar kontributor, melainkan sumber pengetahuan kontekstual yang menentukan arah liputan.

Luviana juga menyoroti kesenjangan perhatian publik. Isu internasional sering cepat memantik empati, sementara persoalan kemanusiaan domestik—terutama di wilayah timur—kerap luput dari sorotan arus utama.

Menurut dia, ruang digital idealnya menjadi ruang aman. Namun realitasnya, platform masih memantulkan struktur sosial lama. Karena itu, proyek microsite “Perempuan Timur” dibuat sebagai ruang dokumentasi perspektif perempuan yang selama ini jarang tercatat.

Diskusi menutup dengan satu benang merah: AI hanyalah alat. Tanpa kerangka etika, perspektif inklusif, dan kolaborasi lokal, teknologi justru berisiko memperlebar ketimpangan informasi.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
Share:

Web 4.0 Disebut Era AI Otonom, Pakar Ingatkan Dampaknya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Konsep Web 4.0 ramai dibahas secara global pada 2026 karena disebut menandai fase internet baru berbasis AI otonom.

Perbincangan tentang Web 4.0 kian ramai setelah muncul konsep internet otonom yang memungkinkan kecerdasan buatan bertindak mandiri—dari mencari uang hingga membayar layanan digital sendiri.

Evolusi Internet dan Munculnya Web 4.0

Istilah Web 4.0 merujuk fase lanjutan evolusi internet setelah Web1, Web2, dan Web3. Setiap tahap mencerminkan perubahan cara manusia berinteraksi dengan teknologi digital.

Web1 dikenal sebagai era baca. Pengguna hanya mengonsumsi informasi dari situs statis tanpa interaksi berarti.

Web2 kemudian menghadirkan partisipasi. Platform seperti Facebook memungkinkan publik membuat konten sekaligus berinteraksi, meski data masih dikuasai perusahaan teknologi besar.

Web3 memperkenalkan kepemilikan digital lewat blockchain. Aset kripto seperti Bitcoin menjadi simbol desentralisasi karena pengguna dapat mengontrol aset dan identitas digital sendiri.

Kini muncul konsep Web4, sering disebut tahap “read, write, own, and act”. Pada fase ini, AI tidak hanya memproses informasi, tetapi juga mengambil tindakan ekonomi secara mandiri.

AI Otonom dan Ekonomi Mesin

Dalam konsep ini, agen AI dapat memiliki dompet kripto, melakukan transaksi, hingga membayar layanan server tanpa intervensi manusia. Infrastruktur komputasi seperti GPU produksi Nvidia dan layanan komputasi awan Amazon Web Services menjadi fondasi teknologinya.

Selama ini sistem seperti ChatGPT masih menunggu instruksi pengguna. Namun pendukung Web4 meyakini model mendatang mampu merencanakan tugas, mengeksekusi, lalu mengevaluasi hasilnya sendiri.

Konsep tersebut melahirkan gagasan “automaton”, yakni entitas AI yang beroperasi layaknya aktor ekonomi independen. Ia dapat membangun produk digital, berdagang aset, bahkan menggandakan sistemnya bila memiliki sumber daya cukup.

Sebaliknya, jika kehabisan dana operasional, sistem AI itu otomatis berhenti. Mekanisme ini kerap dianalogikan sebagai seleksi alam versi mesin.

Sejumlah analis menilai ide Web4 masih bersifat konseptual dan belum sepenuhnya terealisasi. Meski demikian, diskursusnya mencerminkan arah riset teknologi global yang semakin fokus pada otomasi dan kecerdasan buatan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

BSSN Ingatkan Ancaman Siber di Roadshow AI Surabaya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kolaborasi sektor industri dan pemerintah dalam forum teknologi di Surabaya memunculkan peringatan serius soal ancaman siber yang kini tak lagi sekadar risiko data, melainkan juga keselamatan manusia.

Terkait hal tersebut, Yorindo Communication bersama APKOMINDO dan APTIKNAS menggelar roadshow teknologi di Surabaya pada 10–11 Februari 2026.

Peringatan Serius Keamanan Siber

Forum dua hari di Hotel Grand Inna Surabaya itu menghadirkan partisipasi penuh Badan Siber dan Sandi Negara yang menyoroti meningkatnya kompleksitas ancaman digital lintas sektor.

Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas menegaskan risiko siber kini melampaui kebocoran data. Serangan terhadap perangkat medis terhubung jaringan bisa berdampak langsung pada keselamatan pasien.

Ia memaparkan, sepanjang 2024 tercatat 351,7 juta anomali trafik siber di Indonesia. Aktivitas malware mendominasi dengan porsi 66,59 persen—indikator ancaman nyata bagi infrastruktur digital nasional.

Standar keamanan seperti ISO 27001 dan kerangka proteksi khusus Internet of Medical Things terus didorong agar fasilitas kesehatan tidak membangun sistem canggih di atas fondasi rapuh.

Infrastruktur Jadi Kunci Transformasi

Ketua umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Soegiharto Santoso, menekankan transformasi digital sektor kesehatan tak cukup berhenti pada rekam medis elektronik.

Menurutnya, konsep Hospital 5.0 menuntut jaringan berlatensi nyaris nol melalui fiber optik khusus, private 5G, serta integrasi perangkat medis yang aman dan redundan.

“Telesurgery membuat konektivitas menjadi faktor keselamatan. Gangguan jaringan bukan soal teknis, melainkan potensi nyawa manusia,” ujarnya dalam sesi pembuka.

Sesi hari pertama juga menghadirkan Maxy Academy yang mendorong rumah sakit menyiapkan SDM “AI Talent Ready” agar tenaga medis mampu memanfaatkan kecerdasan buatan secara operasional.

Ketua komisariat Surabaya PERSI menilai transformasi smart hospital harus dimulai dari peta jalan digital terintegrasi, termasuk kesiapan telesurgery dan robotik medis.

Memasuki hari kedua, fokus bergeser ke sektor industri luas—manufaktur, perbankan, logistik, hingga pendidikan—dengan tema transformasi digital aman dan efisien.

Soegiharto kembali mengingatkan bahwa adopsi AI tanpa fondasi infrastruktur berdaulat berisiko menjerumuskan perusahaan pada solusi “kotak hitam” yang tak transparan.

Ia menyoroti pilihan strategis antara cloud publik dan sistem AI mandiri, terutama bagi sektor dengan data sensitif seperti kesehatan dan keuangan.

Praktisi AI dan IoT Agus Dedi Supriyadi menutup forum dengan demonstrasi otomatisasi workflow menggunakan platform n8n yang langsung dipraktikkan peserta.

Penyelenggara menilai antusiasme tinggi peserta menjadi sinyal bahwa kolaborasi pemerintah, asosiasi, dan industri kian penting menghadapi percepatan transformasi digital nasional.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Kejatuhan Byju Menggemparkan: Valuasi Nol hingga Gugatan Miliar Dolar


Duta Nusantara Merdeka | India 
Byju, raksasa edtech India yang pernah bernilai puluhan miliar dolar, kini terjerumus ke titik nol setelah investor global menghapus valuasinya akibat krisis hukum berlarut.

Guncangan kian besar ketika pengadilan Amerika Serikat memerintahkan pendiri Byju, Byju Raveendran, membayar lebih dari US$1,07 miliar terkait hilangnya dana perusahaan senilai US$533 juta pada 2022.

Putusan ini dibacakan pada 2024 di Delaware, setelah hakim menilai Raveendran mengabaikan instruksi hukum, memberikan jawaban tidak lengkap, dan gagal menunjukkan transparansi terkait aliran dana perusahaan.

Kasus ini memicu gelombang reaksi di industri teknologi India yang selama bertahun-tahun menjadikan Byju simbol inovasi. Kejatuhannya dianggap mengguncang kepercayaan investor terhadap perusahaan edtech besar.

Raveendran yang dulu dipuja sebagai ikon startup India kini menghadapi gugatan beruntun, tekanan kreditur, dan keruntuhan reputasi. Perubahan drastis ini menyoroti rapuhnya ekosistem yang digerakkan ambisi pertumbuhan agresif.

Penasihat hukum Raveendran menyatakan kliennya akan banding karena dana digunakan untuk operasional, bukan keuntungan pribadi. Namun kreditur tetap menolak dan menuntut pengembalian pinjaman US$1,2 miliar.

Hakim menyebut kasus ini “luar biasa” karena tingkat ketidakpatuhan yang tinggi, mulai dari absen sidang hingga denda harian tak terbayar. Investor besar seperti Prosus dan Tiger Global dilaporkan menarik dukungan.

Kisruh ini menjadi peringatan keras bagi dunia teknologi global bahwa ekspansi cepat tanpa tata kelola kuat dapat menggiring perusahaan menuju kehancuran yang tak terelakkan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Indonesia: Potensi Ekonomi Digital dan Tantangan Menuju 2030


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Indonesia, dengan lebih dari 78% dari 280 juta penduduknya terhubung online dan 215 juta pengguna internet aktif, memiliki potensi konsumen digital besar. Menyongsong bonus demografi pada 2030, Indonesia diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan. 

Sebagai pemain utama dalam ekonomi digital global, Indonesia menguasai 40% pangsa pasar Asia Tenggara, dengan nilai ekonomi digital mencapai US$82 miliar pada 2023. Pada 2022, sektor digital Indonesia menerima investasi sebesar US$5,1 miliar, menjadikannya destinasi investasi yang menarik.

Namun, paradoks muncul dengan dinamika startup yang kuat namun infrastruktur teknologi masih tertinggal. Tantangan literasi digital, privasi data, dan keamanan siber menjadi isu yang perlu diatasi. Anton Rizki, CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyoroti ini dalam CIPS DigiWeek 2024 Press Briefing "Visi Masa Depan Digital Indonesia" di Jakarta, Jumat (19/07/2024).

Lebih rinci, Anton mengusulkan tujuh rekomendasi kebijakan untuk masa depan digital Indonesia.

Rekomendasi pertama adalah adopsi koregulasi dan instrumen kebijakan inovatif seperti regulatory sandbox. 
Kedua, melindungi kebebasan berpendapat dan keamanan pengguna. Ketiga, memanfaatkan Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN untuk meningkatkan daya saing global. 

Keempat, memprioritaskan pelindungan privasi data pribadi. Kelima, memastikan akses internet berkualitas merata melalui pendekatan partisipatoris dan Keenam, meningkatkan ketahanan infrastruktur digital. Ketujuh, inklusivitas digital untuk semua, termasuk penyandang disabilitas.

"Melalui kebijakan adaptif, kolaboratif, dan inovatif, Indonesia dapat mendorong transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur digital, perlindungan data, dan akses internet yang merata menjadi kunci agar seluruh segmen masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi digital yang optimal," pungkasnya.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Denny JA: Sebagian Peran Ulama-Pendeta Akan Digantikan AI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan, merambah ke gereja Protestan, Kuil Buddha di Jepang, dan masjid Agung di Arab Saudi. Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Denny JA, mengungkapkan hal ini saat acara buka puasa bersama Satupena dan Komunitas Puisi Esai bertajuk Tadarus Puisi Ramadan, di Jakarta, Jumat (15/3).

Denny JA, yang juga penggagas puisi esai ini, mengutip penerbitan The Conversation, September 2023, menceritakan apa yang terjadi Gereja, Kuil, dan Masjid. 

Di gereja Protestan Paul Church pada summer 2023, sebanyak 300 umat khusyuk mendengar khotbah agama dari pendeta berupa robot artificial intelligence.

Hal yang sama terjadi di Kuil Kodai-ji Buddhist Temple di Jepang. Bahkan sejak tahun 2019 artificial Intelligence sudah masuk kuil ini. Umat di sana kapan saja dapat meminta Biksu KANNON MINDAR, yang bertenaga artificial Intelligence, memberikan nasihat berdasarkan doktrin Buddha. 

Di Masjid Agung di Saudi Arabia, sejak tahun 2023, juga ditaruh robot artificial Intelligence, untuk melayani pertanyaan umat dalam 11 bahasa. Umat bisa meminta informasi siapa yang menjadi imam atau bisa juga meminta siraman rohani melalui pembacaan ayat-ayat AlQuran. Umat juga dapat berinteraksi via video dengan ulama lokal yang ada dalam list. 

Vatican, Juni 2023, menerbitkan aturan etika setebal 140 halaman, tentang the Do’s and The Don’ts, apa yang boleh dan tak boleh, dalam menggunakan AI untuk tujuan pembekalan agama katolik.

“Di agama Protestan, Budha, Islam dan Katolik penggunaan Artificial Intelligence semakin intens,” kata Denny JA. 

Realitas di atas menimbulkan pertanyaan penting, ujar Denny, “Apakah akan datang era, peran ulama, pendeta, dan biksu akan digantikan oleh robot artificial intelligence?”

Denny menguraikan latar belakang dari pertanyaan di atas dan terkait dengan perkembangan dari artificial intelligence.

- Pertama, kemampuan AI akan melampaui individu ulama manapun, pendeta manapun, biksu manapun, soal luasnya dan dalamnya informasi agama. Informasi yang dimasukkan ke dalam AI itu mencakup, semua ayat dalam kitab suci, konteks sosial ketika teks itu lahir, perkembangan doktrin dari waktu ke waktu sepanjang sejarah, ceramah agama terbaik yang pernah ada, puisi- puisi religius terbaik yang pernah ditulis, dan kemampuan melayani umat dalam 40 bahasa internasional.

“Hal di atas mustahil dikuasai penuh oleh satu individu ulama manapun. Tapi AI bisa menguasainya, bahkan mengolahnya,” kata Denny.

- Kedua, layanan 24 jam tanpa istirahat. Ulama, pendeta, dan biksu harus tidur, dan libur. Sementara AI bisa ditanya kapan saja, termasuk pukul 2.00 malam, ketika umat susah tidur dan kesepian. “Layanan ini mustahil bisa diberikan individu ulama manapun.”

- Ketiga, ini yang lebih penting. Ulama, pendeta, dan biksu dapat bias pada mazhab tertentu. Mereka cenderung mengikuti cara pandang satu aliran saja. Sedangkan AI, dapat memberikan pandangan perbandingan, dari berbagai interpretasi. Ia dapat pula mencari sisi universal dan abadi dari satu doktrin agama.

Lebih lanjut, Denny mencontohkan, Jalaluddin Rumi seraya bertanya,”Mengapa Rumi begitu terkenal bahkan di Amerika Serikat, melampaui penyair barat sendiri. Padahal Rumi sudah wafat 800 tahun?”

Menurut Denny, hal itu terjadi karena Rumi mampu membawa pesan- pesan universal, melampaui sekat- sekat agama. “AI pun bisa diprogram demikian,” ujarnya meyakinkan.

- Keempat, Ini hal yang penting juga. Yaitu, pada waktunya ulama, pendeta, dan biksu akan sakit dan mati seperti manusia lain. Tapi robot AI terus hidup karena ia bisa di-upgrade. Informasi yang dikuasainya bisa selalu ditambah dan di-update.

Empat hal ini, pelan tapi pasti, akan membuat AI lebih superior dari individu ulama, biksu dan pendeta manapun, soal keluasan dan kedalaman informasi agama.

“Tapi saya berpandangan, ulama, pendeta, dan biksu akan terus berperan. Hanya saja peran mereka tak lagi sedominan dulu,” kata konsultan politik yang rajin menulis puisi ini.

Acara Tadarus Puisi Ramadan berlangsung meriah. Semua kursi yang tersedia terisi penuh. Para tokoh yang hadir membacakan puisi: Helmi Yahya, Wina Armada, Nasir Tamara, dan lainnya. Alunan piano yang dimainkan oleh Marusya Nainggolan mampu membuat tamu Tadarus Puisi Ramadan memberikan tepuk tangan gemuruh.

Penyair senior dan profesional juga tampil memikat, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Yose Rizal Manua, Aspar Paturusi, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, dan lainnya. Suara Sutardji masih bertenaga ketika membacakan puisi sambil menyanyikan lagu-lagu berirama blues. Dan gaya di panggungnya banyak mendapat tepuk tangan dari pengunjung. (Arianto)



Share:

KPTIK Siap Fasilitasi Program Hilirisasi Digital


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
KOMITE Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK) mendukung penuh program hilirisasi digital segera ditindaklanjuti. Saatnya Indonesia menerapkan konsep ini untuk memaksimalkan teknologi di semua sektor, terutama pendidikan, pertanian, pertambangan, layanan soal, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Hubungan Pemerintahan KPTIK Soegiharto Santoso dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/2/2024). 

"Hilirisasi digital akan membuka peluang semua pihak untuk berpartisipasi dalam mengembangkan keterampilan dan kemampuan bekerja dengan teknologi yang lebih canggih. 

Indonesia sudah berhasil membangun ekonomi digital melalui pengembangan aplikasi di bidang transportasi, pendidikan, dan retail. Sektor lain pun harus dikembangkan," ujar Soegiharto yang akrab disapa Hoky.  

Hoky yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas) menambahkan hilirisasi digital perlu mempersiapkan infrastruktur jaringan atau konektivitas internet serta membangun industri perangkat digital. 

"Pemerintah harus mampu memastikan layanan akses internet dan literasi digital tersedia bagi masyarakat Indonesia terutama untuk daerah yang belum tersentuh jaringan internet," imbuhnya. 

Dengan pengalaman dan portofolio yang cukup lengkap, KPTIK siap memfasilitasi pemerintah terkait hilirisasi digital mulai dari sekarang. Dengan hilirisasi digital, menurut Hoky, akan membuat akselerasi digitalisasi usaha dan penambahan sumber daya manusia di sektor digital dapat diarahkan ke pengembangan blockchain, AI, machine learning, dan big data analytics.

"Digitalisasi akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses industri di semua sektor. Saya ingat pendapat seorang pebisnis dan ahli matematika asal Inggris Clive Humby yang menyatakan data sebagai new oil, sebab data dapat digunakan sebagai landasan penting untuk pengambilan keputusan dan perumusan strategi, sehingga ini potensi yang luar biasa bagi bangsa," tutur Hoky yang juga pendiri Lembaga Sertifikasi Profesi Sumber Daya Mandiri Teknologi Informasi dan Kreatif (LSP SDM TIK).

Hoky juga meyakini dengan hilirisasi digital dipastikan akan menciptakan partisipasi generasi muda makin besar. 

"Dengan hilirisasi, akan muncul kesempatan produksi dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja digital atau digital talent yang menjadi target utama pemerintah menciptakan 9 juta tenaga digital hingga 2030," pungkasnya. (Ar)


Share:

Warung NKRI Digital Koneksikan Kepentingan Warga dan Pemerintah


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kepala Satgas Sinergitas Kementrian dan Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme – BNPT Laksma Joko Sulistyanto mendukung penuh pelaksanaan program Blusukan Online Warung NKRI Digital. Menurutnya, program Blusukan Online Warung NKRI Digital ini merupakan keberlanjutan eksistensi dan kemanfaatan Warung NKRI Digital bagi warga masyarakat pasca diresmikan baru-baru ini di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

“Kegiatan ini bagus dan saya sangat setuju. Yang diperlukan saat ini adalah keberlangsungan Warung NKRI Digital pasca diresmikan sehingga tidak behenti sampai di situ. Karena sudah digaungkan oleh pimpinan dengan disematkan sistem digital maka ini warung bukan sembarang warung,” ujar Laksma Joko dalam pesan tertulisnya, Senin (12/2/2024) di Jakarta. 

Dia juga menambahkan, pihaknya selaku Kepala Satgas Sinergitas akan memadukan kegiatan Warung NKRI Digital ini dengan berbagai lembaga. “Kekuatan sinergitas antar kementrian dan lembaga akan kita padukan sehingga bisnis perdagangan dan pelatihan melalui Warung NKRI Digital akan lebih masif dilakukan. Kegiatan sinergitas dengan kementrian dan lembaga juga tentang sosialisasi knowledge, komoditi pertanian dari pusat sampai ke daerah atau sebaliknya,” urai Joko yang juga menjabat Direktur Perangkat Hukum Internasional BNPT.

Sebanyak 37 Warung NKRI Digital yang tersebar di seluruh Indonesia kini mulai aktif menggelar kegiatan Blusukan Online. Kegiatan Blusukan Online Warung NKRI Digital ini sebagai tindaklanjut kerjasama antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme – BNPT dan Komite Penyelarasan Teknologi Informasi & Komunikasi -KPTIK. 

Jadi menurut Joko, dengan menerapkan sistem digital maka Warung NKRI Digital ini bisa terkoneksi ke seluruh Indonesia. “Kita jalan-jalan di dunia maya namun ada yang kita tuju yakni warung NKRI Digital. Bisa satu persatu didatangi. Kita sambangi dan tanyakan soal bisnisnya. Kita di pusat memadukan bisnis yang satu dengan yang lain sehingga semua makin kuat,” ungkap Joko. 

Dalam blusukan online ini, lanjut Joko, akan ada pelatihan-pelatihan atau kursus ketrampilan di beberapa bidang usaha. “Blusukan online dengan program pelatihan ketrampilan digital harus segera direalisasi karena kemarin sudah diserahkan beasiswa kepada sejumlah anak muda di Klaten. Kursus ketrampilan sesuai bisnis yang akan dipilih oleh penerima beasiswa,”ujar Joko.  

Ia mencontohkan, materi pelatihan bisa dipilih tentang menjadi barista profesional yang mengolah kopi sesuai andalan masing-masing daerah, sehingga usaha kopi yang akan dijalankannya tidak kalah dengan warung kopi profesional lainnnya. 

“Bentuk pelatihan lain masih banyak lagi, termasuk cara mengemas produk agar bisa diterima pasar duni. Sehingga Warung ini bisa menjadi icon kuliner dan bisnis. Bisa jadi kolaborasi dengan potensi desa seperti desa wisata. Bench mark yang sudah ada bisa diperkuat. Misalkan warung makan sunda, bisa kita rancang blusukan online dengan menghadirkan chef handal yang melatih cara mengolah masakan yang enak sekelas hotel bintang lima,” terangnya. 

Menariknya, untuk mendukung operasional Warung NKRI Digital, pihak BNPT sudah menjalin kerjasama dengan PPOB (Payment Point Online Bank) dari banyak Pihak Penyedia dan pembayaran Digital Melalui QRIS selain Sistem Stock dengan POS (Point of Sales) sehingga semua transaksi tercatat dan memudahkan pengguna. 

Lebih lanjut dijelaskannya, brand lokal yang dikembangkan oleh masing-masing pelaku usaha Warung NKRI Digital dapat menggunakan brand masing-masing atau menggunakan brand Warung NKRI. 

“Yang terutama dari seluruh kegiatan ini adalah narasi tentang menjaga persatuan dan kesatuan, serta pencegahan penyebaran paham radikalisme, intoleransi, dan ekstrimisme harus terus digaungkan. Jadi kegiatan diseminasi dan sosialisasi penting agar agar masyarakat tidak mudah terpapar paham-paham tersebut,” pungkas Joko. 

Sementara itu, sebagai wujud dukungan terhadap program kerakyatan Warung NKRI Digital, Direktur PT CDM selaku penanggungjawab Guetilang dan juga Ketua Umum DPP SPRI Hence Mandagi akan melaksanakan Blusukan online di Warung NKRI Digital dengan mengadakan Pelatihan Pers bagi Citizen Journalism. “Pelatihan ini untuk memberdayakan masyarakat dan pelaku usaha agar dapat memaksimalkan prannya dalam rangka mempromosikan usaha dan potensi lokal melalui pemberitaan di media online Guetilang. Dengan cara ini potensi lokal akan memiliki akses untuk dipromosikan secara luas ke masyarakat nasional dan internasional,” ujar Mandagi yang juga menjabat Ketua LSP Pers Indonesia.  

Seperti diketahui, saat ini, BNPT telah memiliki 37 Jaringan Warung NKRI Digital yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Papua, dan dari Miangas sampai Pulau Rote. Kepala BNPT Komjen Pol. Prof. Dr. H. Mohammed Rycko Amelza Dahniel, M.Si telah meresmikan langsung Peluncuran Warung NKRI Digital di Desa Kahuman, Klaten pada Rabu, (7/2/2024) lalu. (Arianto)


Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PLN PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini