Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar menggelar seminar “Bersama Melawan Kanker Menuju Masa Depan Lebih Sehat” di Jakarta, Rabu (4/2/2026), menekankan pentingnya kesadaran kolektif pencegahan kanker.
Sri Suparni Bahlil, menyampaikan tema tersebut menjadi ajakan untuk memperkuat kepedulian masyarakat. Ia menilai peningkatan literasi kesehatan harus berjalan seiring dengan gerakan nyata pencegahan kanker sejak dini.
Sri mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan oleh Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar. Menurutnya, forum seperti ini membuka ruang edukasi yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas, khususnya kalangan perempuan sebagai penjaga kesehatan keluarga.
Ia menyinggung data Kementerian Kesehatan yang memproyeksikan peningkatan kasus kanker menuju 2050. Sri menyebut setiap individu memiliki potensi mengalami pertumbuhan sel abnormal, sehingga upaya pencegahan harus menjadi perhatian bersama.
Berdasarkan data kesehatan nasional, sekitar 400.000 kasus baru kanker terdeteksi setiap tahun di Indonesia. Angka kematian diperkirakan mencapai 240.000 kasus, menegaskan urgensi penguatan strategi deteksi dan penanganan sejak dini.
Sri menekankan pentingnya pemahaman ilmiah mengenai perkembangan sel kanker. Dalam kondisi normal, sistem kekebalan tubuh dapat memperbaiki kerusakan DNA atau mematikan sel bermasalah melalui mekanisme alami yang dikenal sebagai apoptosis.
Ia menilai pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak hidup dalam ketakutan berlebihan. Sebaliknya, kesadaran ilmiah diharapkan mendorong masyarakat lebih disiplin menjalankan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan utama.
Sri menegaskan prinsip pencegahan lebih efektif dibandingkan pengobatan. Menurutnya, menjaga kesehatan melalui gaya hidup aktif, asupan gizi seimbang, pengelolaan stres, dan pemeriksaan rutin menjadi investasi kesehatan jangka panjang.
Ia juga menyoroti kegiatan olahraga rutin yang dilakukan anggota Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar. Aktivitas tersebut dinilai mampu menjaga kesehatan fisik sekaligus membantu pengelolaan stres, yang menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan tubuh.
Sri berharap meningkatnya prediksi kasus kanker dapat direspons dengan peningkatan kesadaran masyarakat. Ia menilai pengetahuan harus diterjemahkan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar.
Dalam seminar tersebut, peserta juga mendapat paparan dari sejumlah narasumber. Salah satunya Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, yang memaparkan strategi nasional pencegahan kanker.
Selain itu, hadir perwakilan Yayasan Pemerhati Kanker Indonesia, Yani Nirmalasari, serta Ketua Divisi Onkologi Ginekologi RSCM, dr. Fitriyadi Kusuma. Keduanya memberikan perspektif medis dan pengalaman pendampingan pasien kanker.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, menyoroti kompleksitas deteksi kanker. Ia menyebut sejumlah jenis kanker sulit terdeteksi karena gejala awalnya sering menyerupai penyakit lain.
Sarmuji membagikan pengalaman pribadi terkait putranya yang pernah didiagnosis kanker darah. Ia menuturkan proses diagnosis berlangsung panjang karena hasil pemeriksaan awal tidak menunjukkan peningkatan leukosit secara signifikan.
Menurutnya, diagnosis baru ditegakkan setelah pemeriksaan lanjutan melalui pengambilan sampel sumsum tulang. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya ketelitian medis dalam menilai gejala yang memiliki kemiripan antarpenyakit.
Ia menilai kesiapan tenaga medis menjadi faktor krusial dalam mendeteksi kanker. Dokter diharapkan membuka berbagai kemungkinan diagnosis agar kesalahan penanganan dapat diminimalkan sejak tahap awal pemeriksaan.
Sarmuji menambahkan keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Ia menyebut sebagian pasien kanker terlambat mendapatkan penanganan karena kurangnya deteksi dini dan keterbatasan akses pemeriksaan lanjutan.
Ia menegaskan bahwa kanker dapat menyerang siapa saja, termasuk individu dengan gaya hidup sehat. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci agar peluang penanganan lebih efektif dan angka kesembuhan meningkat.
Sarmuji juga menekankan pentingnya dukungan keluarga bagi pasien kanker. Ia menyebut keberadaan sistem pendukung menjadi faktor psikologis yang berperan dalam proses pengobatan dan pemulihan pasien.
Seminar tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat solidaritas masyarakat terhadap pasien kanker. Para pembicara menilai perjuangan melawan kanker membutuhkan kolaborasi antara tenaga medis, keluarga, dan komunitas.
Melalui forum edukasi tersebut, peserta diajak menjadikan Hari Kanker Sedunia sebagai titik awal meningkatkan kepedulian kesehatan. Upaya kecil yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu membangun masa depan kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Reporter Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar