Sebuah video Game Theory bertajuk Rich Dad, Poor Dad viral karena membongkar mitos sukses, kegagalan, dan privilege kelas sosial dengan logika dingin yang bikin banyak orang terdiam.
Video tersebut menjelaskan secara kronologis mengapa orang kaya cenderung makin kaya, sementara kelompok miskin sulit naik kelas, memakai pendekatan teori permainan, bukan motivasi kosong atau jargon pengembangan diri.
Yang dibahas adalah apa itu kesuksesan struktural, siapa yang diuntungkan, kapan pola ini terbentuk lintas generasi, di mana ketimpangan terjadi, mengapa sistem menentukan hasil, dan bagaimana individu terjebak di dalamnya.
Salah satu contoh yang dipatahkan adalah Marshmallow Test, eksperimen klasik soal kontrol diri, yang selama ini dianggap bukti anak disiplin akan lebih sukses di masa depan.
Profesor Jiang menjelaskan, anak kaya mampu menunda kepuasan bukan karena lebih hebat, tetapi karena hidup dalam dunia stabil yang menepati janji, membuat keputusan menunggu jadi rasional.
Sebaliknya, anak dari keluarga miskin hidup di lingkungan tidak pasti, janji sering gagal ditepati, sehingga memilih “sekarang” adalah strategi bertahan hidup, bukan tanda kelemahan karakter.
Narasi growth mindset juga ikut dibedah. Keberanian mencoba dan gagal disebut bukan sekadar mental pemenang, melainkan hasil dari adanya jaring pengaman finansial yang tidak dimiliki semua orang.
“Growth mindset itu privilege,” tegas Prof Jiang, karena kegagalan bagi orang kaya hanyalah jatuh di kasur empuk, sementara bagi kelas bawah bisa berarti tamatnya hidup.
Pembahasan berlanjut ke pola asuh. Anak keluarga mapan dibiasakan berdebat dan berpendapat karena mereka disiapkan memimpin, mengatur, dan mengambil keputusan tanpa takut konsekuensi sosial.
Di keluarga ekonomi pas-pasan, kepatuhan justru diajarkan sebagai bentuk perlindungan, karena melawan atasan atau aparat bisa berujung kehilangan pekerjaan atau masalah hukum serius.
Video ini juga menampar logika kebiasaan sukses, seperti bangun pagi. Prof Jiang menyebut itu sering efek dari keberhasilan, bukan penyebab tunggal yang bisa ditiru mentah-mentah.
Realitanya, mobilitas sosial butuh faktor keberuntungan besar atau perubahan sistem ekstrem. Opsinya merantau jauh, menikah dengan orang kaya, atau menunggu revolusi akibat "Elite Overproduction".
Konsep elite overproduction, menjelaskan mengapa konflik sosial sering dipicu oleh kelebihan elite yang berebut kursi kekuasaan, lalu menarik massa bawah sebagai alat perubahan.
Intinya, sukses itu 1% strategi individu dan 99% struktur sistem. Berhentilah menghakimi nasib orang lain sembarangan, karena level kesulitan hidup tiap orang berbeda-beda sejak garis start.
Kesimpulan besarnya: kesuksesan hanya sebagian kecil soal strategi individu, selebihnya ditentukan struktur, sistem, dan titik awal yang tidak pernah benar-benar setara.
Video ini bukan untuk mematahkan harapan, tetapi mengajak berhenti menghakimi nasib orang lain hanya dari mindset, karena level kesulitan hidup tiap orang jelas berbeda.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar