Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id

Cerpen ~ Langit Senja DI Tepi Mahakam



Duta Nusantara Merdeka |

Langit SenjaDi Tepi Mahakam



 Banjarmasin terkenal sebagai kota seribu sungai. Disana juga terdapat Pasar Apung di muara sungai Barito. Banyak pedagang sembako di dominasi kaum ibu menjajakan jualan mereka. Bahkan warung kopi terapung pun ada untuk sarapan pagi para pedagang itu. Tampaknya mereka damai, bahagia dan mengesankan.

Tanpa terasa perjalanan Banjarmasin ke kota Baru, cukup juga melelahkan menempuh 11 jam dengan speedboad. Posisi Kota Baru di Ujung Utara pulau laut sebelah Timur Banjarmasin dipisahkan oleh Selat Laut masih wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.

Pada pagi itu bebberapa saat aku menginjakkan kaki di kota Baru, Kabut Asap sedang terbang jauh. Sinar matahari pagi menyambut kehadiranku begitu ceria dan bersahabat. Pandangan mataku masih menngamati betapa sibuknya orang berlalu lalang dengan transaski bisnis di pasar ikan. Maklum para nelayan baru turun dari laut dengan hasil tangkapan ikan yang menurut mereka agak lumayan sejak Kementerian Laut dan Perikanan melakukan gebrakan pembasmian kapal asing pencuri ikan di perairan Maritim Indonesia.

“Mas, Kok diam aja?” Gak Beli Ikan ? Tiba-tiba secepat ramah seorang perempuan muda menyapaku tanpa kuduga sebelumnya. Memang aku tadi memperhatikan cewek ccantik itu ketika dia memilih ikan di pasar ramai itu.

“Oh... Tidak!” Jawabku gugup sambil memperhatikan wanita bertubuh langsing itu diiringi senyum kuda. Aku berfikir untuk apa beli ikan bagaimana memasaknya lagi, dimana?

“Mas ini, tampaknya bukan orang sini ya ? Aku pun bukan orang sini tapi selalu datang ke Kota Baru ini dan beli ikan untuk sarapan di Kafe itu !” jelas cewek Cantik itu sambil menngajakku bejalan beberapa meter ke arah kafe yang tak jauh dari pasar ikan itu. Seperti kerbau dicucuk hidung, aku mengikuti saja sambil ngobrol ke barat dan ketimur, mennghormati sikap seorang perempuan yang ku nilai baik.

Di Kafe sederhana itu kami duduk berdampingan dan menyambung obrolan tadi. Sementara pemilik kafe seorang perempuan setengah baya memannggang ikan yang dibawa cewek itu, ternyata dia memperkenalkan namanya Jeni. Mahasiswi semester akhir jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Lambung Magkurat di Banjarmasin. Dia mengaku usianya sudah 30-an tapi belum menyelesaikan studinya.

“Maklum aja Mas, aku dari kalangan keluarga biasa, bukan anak pejabbat, ya beginilah !” katanya rendah hati.
Jadi nama kamu Jeni ?” Desakku lagi ingin tahu !

Ya, Lengkapnya Jeni Wowore. Ayahku seorang perantau asal dari Pamekasan, Madura, dan Ibuku dari Suku Dayak yang asalnya dari Tanah Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah, sebelah barat Palangka Raya kata Jeni Wowore menjelaskan padaku.

“Tapi Mas gak punya nama ya ?” tanya Jeni begitu tajam terhadapku.

“Panggil aja Mas Yud!” jawabku asal kena saja. Jeni tertawa keras.

Kami terus ngobrol kesana kemari dari soal kuliah, pejabat yang korupsi sampai soal pacar. Pada tahun 1998, ada kerusuhan etnis antara masyarakat asli di Kalimantan dengan Pendatang, mayoritas dari Madura. Beberapa tahun kemudian terjadi perdamaian, apalgi sudah terjadi pembauran kedua belah pihak, sehingga kerukunan hidup bisa pulih kembali.

Kerusuhan itulah membuat studiku terkendala dan waktu itu kami sempat mengungsi pulang ke Madura,” jelas Jeni Wowore agak menunduk seperti mengenang masaa lalu. Sementara hidangan nasi putih, ikan bakar dan sambal kecap sudah terhidang di meja depan kami, plus dua gelas teh manis. Sambil mennyantap hidangan saraapan pagi, kami terus mengobrol dan semakin akrab seperti sudah lama bersahabat.

Jeni Wowore sebelumnya menetap di Banjarmasin, kedua ayah ibu nya adalah pedagang kecil yang hidup sederhana dengan dua orang anaknya yakni Wawan adik Jeni. Ayah Jeni. Kosim Wowore, dari keluarga petani garam di Pamekasan, Madura, Provinsi Jawa Timur. Sebagai keluarga petani garam yang hidup pass-pasan membuat Kosim Woowre dan teman-temannya merantau ke Kalimanntan Selatan.

       Keberadaan Jeni Wowore di Kota Baru adalah dalam rangka Liburan dan singgah ketempat keluarga Ibunya. Dia juga akan lanjut ke Balik Papan dan terus ke Samarinda. Aaku juga menceritakan bahwa sejak dari Surabaya, aku dua hari berada di Banjarmasin dan akan lanjut ke Samarinda, Kalimantan Timur. Aku memang sedang melakukan investigassi lingkungan dan budaya (Environtmen of Investigation and Culture) untuk referensi penulisan buku.

“Kalau Begitu bareng aja Mas Yud, aku pun akan kesana kita naik KM Ferry, besok sampai !” sambut Jeni.

“Boleh, karena akupun tak punya teman,” jelasku. Kami bergegas, lalu kami tinggalkan Kota Baru yang sibuk dan mengesankan itu. Bagiku, tak mungkin dalam waktu relatif singkat bisa kembali ke Pulau laut itu.

Samarinda adalah Ibukota Provinsi Kalimantan Timur, yang dikenal sebagai Kota Minyak juga produsen kain songket Samarinda yang nillainya mahal dan terkenal sampai mancanegara.

Jen, aku baru kali pertama menginjak Bumi Saamarinda,” kataku memecah suasana kebisuan kami berdua dan Jeni Wowore menatapku tajam.

“Oh Ya? Kalau aku sih sudah biasa, setiap liburan mengunjungi tante disini !” katanya.

Jeni Wowore menjelaskan bahwa tantenya, adik kandung ibunya tinggal di Samarida, suaminya kerja di kilang minyak, dan tantenya itulah yang ikut membantu biaya kuliah Jeni Wowore.
“Jen, dimana sungai Mahakam yang terkenal itu ?” tanyaku ingin tau.

“ Mas Yud belum tau, itulah yang terbentang luas, kesana kita ?” tanya Jeni Wowore mengajakku.

Dia menceritakan kalau sore-sore di hari libur banyak orang bersantai di tepi sungai Mahakam itu. Ada keluarga bersama anak-anaknya, ada pasangan muda-mudi, mereka duduk-duduk sambil menimati suasana senja yang menyinari sungai Mahakam, dimana banyak orang berlalu lalang mempergunakan perahu itu sampai kecil. Kelihatannya karna menjauh.
            
Sungai Mahakam memang tempat berlalu lintas dari muara sampai ke hulu di perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Utara dimana belum lama ini heboh adanya waga Indonesia yang pindah ke negeri jiran itu karena susah hidupnya, terutama kesejahteraan ekonminya kurang diperhatikan pemerintah.

            Langit senja di tepi Mahakam ini begitu sangat indah karena Sinar Mentari yang berwarna kuning kemerah-merahan itu mampu meengunggah hati pengunjung untuk berlama-lama bersantai disitu. Aku masih duduk di sebuah batu besar dekat pohon raksasa yang terpotong di tengahnya, tapi rimbun daunnya.

“Jen, hutan belantara sudah habis di Kalimantan ini, ya?”

“Ya, sejak zaman sebelum reformasi hutan kita berkurang, tinggal sedikit sisa untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup!” jelas Jeni seraya menjelaskan ada kayu hitam yang dilindungi di Kalimantan Timur, masuk cagar alam Taman Nasional.

Dari kata-kata kalimat yang diucapkan Jeni sebenarnya bisa dicermati bahwa dia cerdik dan berwawasan pemikirannya. Dia cerita bahwa ayahnya anak petani garam di Pamekasan yang hidup susah, maka merantau ke Kalimantan, cari penghidupan.

“Jen, Kamu ini cerdik dan berwawasan ! Aku memujinya.

Ah, Mas Yud ini ada-ada saja” sambutnya. Waktupun terus berggulir dan matahari perlahan-lahan akan sampai keperaduannya.

“Mas Yud, matahari semakin jauh. Menjelang malam aku akan sholat maghrib, berarti kita harus berpisah! Kata Jeni agak Panjang. Dia menarik nafas seperti ada perasaan yang disembunyikan.

Betul Jen, aku juga mau Sholat. Aku masih lama di sii, kita masih bisa berjumpa Jen !” ujarku meyakinkannya. Jeni Wowore menatapku tajam. Dia seperti tak mau berpisah. Aku meraih dan mencium tangan Jeni Lama-lama. Dia terharu. Hatiku terpagut mungkin Jeni orang yang bisa kucintai dan bisa mencintaiku.

Tiba di perempatan jalan, kulepas Jeni naik taksi menuju kerumah tantenya. Aku menatap wajahnya diantara lambaian tangan dan senyum manisnya.

“Mas Yud, besok kita Jumpa ya?!” Suaranya setengah berteriak.

“Oke Jen !” sambutku.
Langkahku menuju penginapan di sergap senja yang semakin temaram. Suara Mu’azin terdengar mengumandangkan azan Maghrib terpancar dari Menaara Masjid Agung Kota Samarinda. Allahu Akbar.... Allahu Akbar....!!! **








L

Kutipan Cerita Pendek Oleh : Alm.Yudhi Harsoyo 

(Pendiri Surat Kabar Duta Nusantara Merdeka) Mengenang Hari Kelahirannya 


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKLAN MURAH

SUSU KURMA AULIA

SUSU KURMA AULIA
Pesan Silahkan Klik Gambar

BREAKING NEWS

~||~ Wabah Virus Corona (Covid-19) Semakin Meningkat, Warga Diharapkan Untuk Tetap Di Rumah ~||~ Aktifitas Di Luar Rumah Wajib Gunakan Masker Dan Patuhi Protokol Kesehatan ~||~ #DIRUMAHSAJA ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno ~ Karakter Bangsa

KILAS BALIK BUNG KARNO KARAKTER  BANGSA Soekarno ketika pidato kata sambutan setelah menerima ijazah gelar Insinyur dari I...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI

loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Follow by Email

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

About Us

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's.

JSON Variables

Label

#2019GantiPresiden Accounting Aceh Adat Istiadat Advokat Agama Agraria AIDS Aksi Album Anak Artikel Asahan Asian Games Asuransi Asusila Award Bakti Sosial Bandara Banjir BANK Bapenas Bappenas Basarnas Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar Begal Bekraf Belanja Bencana Bencana Alam Berita Bhayangkara Bhayangkari Bisnis BNI BNN BPJS Buka lapak Bukit Asam Buku Bung Karno Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Capital market Cerpen Citilink conference Covid-19 Covid19 Cuaca Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Deklarasi Deli Serdang Desa Dialog Digital Dirgahayu HUT RI Diskusi Duka Cita E-Money Ekonom Ekonomi Electronics Entertainment Es cream event Fashion Festival Film Film Horor Film seri Anak Fintech Forum Furniture G30S/PKI Games Gebyar Kemerdekaan Geng Motor Go Pay Go-Jek Gojek Gotong Royong Grab Gym ham Harbolnas Hewan Hiburan HIV Hoax Hotel Hp Hukum Humbahas HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek Industri Informasi Infrastruktur Internasional Internet Investor IPM Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Jokowi Jurnalis Kaliber Kampanye Kamtibmas Karaoke Karhutla KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kekerasan Keluarga Kemanusiaan Kemendikbud Kemenhub Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Kilas Balik Bung Karno kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi Koperasi Kopi Korupsi Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal Kuliner Kutai Kartanegara Lakalantas Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku Legislatif LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup Listrik lomba lari LPS Mahasiswa Mainan anak Majalengka Makanan Jepang Mall Market Outlook Masjid Masker Mata Uang millenial Minuman Keras Minuman sehat Miras Mobil MOI Motivasi MPR Mudik Muhammadiyah Muharram Munas Musik Narkoba Narkotika Nasional Natal New Normal NKRI NU Office Olah Raga Olahraga Opini Organisasi Otomotif P Pagelaran Pahlawan Pameran Parawisata Pariwisata Partai Politik Pasar Pasar modal Patroli PC pe Pegadaian Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Peluncuran Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencurian Pendataan Pendidikan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengajian Pengamanan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perikanan Peristiwa Perjudian Perkawinan Perpajakan Pers Pertamina Pertanian PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pinjam meminjam uang Polantas Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Pornografi Pra Kerja Pramuka Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik promo Property Prostitusi Public Expose Publik expose Puisi Pusat Perbelanjaan PWI Ragam Ramadhan Reksadana Relawan Jokowi Remisi Renungan resa Restoran Reward Robot Rumah Rumah sakit Rups RUU Saber Pungli Sahabat Anak Salon Samosir Sanitasi air.Lingkungan hidup Satlantas Satwa Sejarah Sekolah Sembako Seminar Senjata Sepak Bola Sepeda sehat Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Silaturahim Silaturrahim Smartphone Soekarno Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Suku bunga Sumatera Barat Sumatera Utara Sumut Superstore Suplemen Surat Terbuka Survei Survey susu Syariah Syawal Talkshow Tawuran Teknologi Terorisme Tiket Tips TNI TNI AU TNI-Polri Tokoh Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Palsu Ujaran Kebencian UKM umkm Undang-Undang UNIMED Universitas Unjuk Rasa UUD 1945 Valentine Day Virus Corona Walikota Wanita Wartawan Wirausaha Workshop

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

VIRUS COVID-19

Wabah Virus Corona (Covid-19) Sudah Menyerang Indonesia, Setiap Hari Korban Semakin Bertambah Sampai ada yang Meninggal, Rakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Bagai Tersambar Petir Mendengar Virus Corona.

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA

PRO KONTRA RUU HIP

~> RUU HIP saat ini sedang Hangat Dipersoalkan, Karena Banyak Pihak yang telah Menolaknya, Baik dari Kalangan Ormas Hingga Partai Politik, Sehingga Terjadi Pro Dan Kontra.

<~ Memang Sebaiknya Persoalan Pancasila Tidak Usah Diganggu Gugat, Karna itu merupakan Landasan Dasar Dalam Berdirinya Negara Indonesia, Sudah Final Masalah Pancasila.

Link Terkait

close
Banner iklan disini