Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan Peta Jalan Strategis IAPPI di Jakarta, Sabtu (14/2/2026), sebagai arah kolaborasi konkret lintas sektor.
Taruna menyatakan peluncuran Peta Jalan Strategis Akselerasi Indonesia Berdaya Saing Global oleh Ikatan Alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (IAPPI) bukan sekadar seremoni.
Dokumen yang didukung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu, kata dia, adalah arah kolaborasi konkret antar-sektor untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Dalam forum di Jakarta Pusat itu, Taruna menempatkan kesehatan masyarakat sebagai variabel kunci daya saing.
Fondasinya sederhana namun mendasar: manusia yang sehat dan produktif.
Ia menilai Indonesia perlu mengejar ketertinggalan angka harapan hidup hingga setara negara maju.
“Ada selisih sekitar 10 tahun yang harus kita kejar,” ujarnya di hadapan alumni luar negeri.
Target tersebut, lanjutnya, menuntut kebijakan tegas dalam menekan faktor risiko penyakit tidak menular.
Pengendalian rokok, pembatasan gula dan garam berlebih menjadi prioritas.
“Gaya hidup sehat harus menjadi pilihan yang mudah, bukan mahal,” tegasnya.
Selain pencegahan, penguatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan layanan primer menjadi benteng penting.
Tanpa sistem kesehatan yang kokoh, daya saing akan rapuh.
Realitas Indeks Global
Taruna memaparkan posisi Indonesia di sejumlah indeks dunia.
Pada Global Competitiveness Index, Indonesia berada di peringkat 40 dari 69 negara yang diukur.
Global Health Security menempatkan Indonesia di kisaran 45.
Sementara Global Food Security menunjukkan posisi 63 dari 113 negara.
Rata-rata itu menggambarkan Indonesia masih berada di papan tengah.
Padahal, secara demografis Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia.
“Potensi kita besar, tapi posisinya belum seimbang,” ujarnya.
Dalam inovasi, peringkat 55 dari 139 negara menjadi alarm bahwa pendekatan biasa tidak cukup.
Tanpa lompatan strategis, target masuk 10 besar dunia sulit tercapai.
Kampus dan Reformasi
Indonesia memiliki 4.416 perguruan tinggi—jumlah yang melampaui China maupun Amerika Serikat.
Taruna menyebut kampus sebagai “kolam inovasi” yang belum dimaksimalkan.
Ia mencontohkan transformasi di BPOM sebagai bukti lompatan bisa dilakukan.
Dalam setahun, tingkat maturitas lembaga itu naik dari level 3 ke level 4 dan diakui sebagai WHO Listed Authority.
Proses registrasi obat yang dulu 300 hari kerja kini dipangkas maksimal 90 hari.
Sertifikasi pangan dipercepat menjadi satu bulan, kosmetik dua pekan.
“Regulator bukan tukang stempel. Kami terlibat sejak awal riset,” ujarnya.
Peluncuran peta jalan IAPPI ini, menurut Taruna, mengingatkan bahwa kedaulatan farmasi dan keamanan pangan adalah isu strategis.
Tanpa inovasi dan tata kelola bersih, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar