Kodam XIX/Tuanku Tambusai menghadiri pembukaan Olimpiade Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) ke-15 di Universitas Riau, Sabtu, 4 Mei 2026. Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Dr. Agus Hadi Waluyo diwakili Kapok Sahli Brigjen TNI M. Yahya.
Kehadiran ini menjadi bagian dari dukungan TNI AD dalam penguatan nilai kebangsaan melalui pendidikan, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa yang menjadi peserta utama Olimpiade PPKN ke-15.
Kodam XIX Dorong Penguatan Nilai Kebangsaan Lewat Pendidikan
Partisipasi Kodam XIX/Tuanku Tambusai menunjukkan pendekatan yang mulai bergeser—tidak hanya pada aspek pertahanan, tetapi juga pembinaan karakter generasi muda.
Dalam laporan panitia, Olimpiade PPKN ke-15 dirancang sebagai ruang pengembangan wawasan kebangsaan sekaligus peningkatan kapasitas akademik peserta.
“Tujuannya membentuk generasi muda yang berintegritas dan memiliki kecintaan kuat terhadap tanah air,” demikian disampaikan dalam laporan pembukaan kegiatan di Universitas Riau.
Acara pembukaan berlangsung cukup hidup. Penampilan seni budaya yang ditampilkan bukan sekadar hiburan, tetapi juga pesan simbolik tentang keberagaman Indonesia.
Saya teringat suasana lomba serupa beberapa tahun lalu di kampus lain. Saat itu, debat konstitusi justru jadi ajang paling panas—bukan karena emosi, tapi karena gagasan yang saling berbenturan.
Olimpiade PPKN ke-15 Jadi Ruang Uji Nasionalisme Generasi Muda
Universitas Riau dalam sambutannya mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk TNI AD, yang dinilai memperkuat ekosistem pendidikan karakter di luar ruang kelas.
Melalui Brigjen TNI M. Yahya, Kodam XIX/Tuanku Tambusai menegaskan perannya sebagai bagian dari komponen bangsa dalam mencetak generasi berwawasan kebangsaan.
Olimpiade PPKN ke-15 akan berlangsung beberapa hari dengan sejumlah cabang lomba, seperti cerdas cermat, debat konstitusi, dan karya tulis ilmiah.
Kegiatan ini tidak hanya menguji pengetahuan, tetapi juga cara berpikir kritis peserta terhadap isu kebangsaan yang kian kompleks.
Saya sempat berbincang dengan seorang mahasiswa peserta lomba. Ia mengatakan, memahami Pancasila hari ini bukan sekadar hafalan, tapi bagaimana menerapkannya di tengah realitas sosial yang berubah cepat.
Di titik ini, Olimpiade PPKN ke-15 bukan sekadar kompetisi. Ia menjadi ruang latihan berpikir—tentang identitas, tentang negara, dan tentang masa depan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar