Strategi koperasi desa merah putih berbasis merek kolektif menjadi sorotan dalam peluncuran buku “Penguatan Koperasi Merah Putih Melalui Produk Lokal Berbasis Merek Kolektif” karya Dr. Dewi Tenty di Jakarta, Kamis (30/4/2026). Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP/KDMP) yang digagas Presiden Prabowo Subianto kini telah membentuk 80.081 unit.
Pemerintah menargetkan koperasi menjadi penggerak ekonomi desa di tengah tekanan ekonomi nasional. Namun, tantangan lama seperti lemahnya kontribusi terhadap PDB masih membayangi.
Koperasi Desa Merah Putih dan Masalah Klasik
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai kondisi ekonomi sedang tidak ringan. Rupiah melemah, harga energi naik, dan efisiensi perusahaan berdampak pada daya beli masyarakat.
“Hari ini kita bicara dalam konteks tekanan ekonomi luar biasa. Harga naik, PHK terjadi, daya beli tertekan,” ujar Bambang Soesatyo.
Di sisi lain, Dr. Dewi Tenty mengingatkan realitas yang jarang dibahas. Indonesia memang memiliki jumlah koperasi terbesar di dunia, tetapi kontribusinya terhadap PDB masih sekitar 5,1 persen.
Saya pernah mendatangi koperasi di pinggiran Yogyakarta. Kantornya rapi, papan nama besar, tapi aktivitas minim. Pengurus mengaku kesulitan menggerakkan anggota. Di situ terasa, problem koperasi bukan sekadar struktur, tapi partisipasi.
Merek Kolektif dan Taruhan Reformasi Koperasi
Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menegaskan pemerintah ingin mengubah arah koperasi ke sektor riil. Fokusnya bukan lagi dominasi simpan pinjam, melainkan produksi dan distribusi.
“Kalau swasta dan BUMN maju, koperasi tertinggal jauh. Ini yang diminta Presiden untuk kita kejar,” kata Ferry.
Program ini ditopang anggaran besar, sekitar Rp3 miliar per koperasi. Totalnya bisa mencapai Rp240 triliun untuk 80.000 unit.
Dr. Dewi Tenty menawarkan pendekatan berbeda melalui merek kolektif. Menurutnya, model ini sudah terbukti di negara maju seperti Jepang, Amerika, hingga kawasan Skandinavia.
“Merek kolektif menjadi identitas komunal. Anggota fokus produksi, koperasi mengurus standar dan pasar,” ujar Dewi.
Ia juga menekankan pentingnya militansi anggota. Dalam konsep dual identity, anggota bukan hanya pengguna, tetapi juga pemilik koperasi.
Pengalaman meliput UMKM menunjukkan pola yang sama. Produk lokal sering bagus, tetapi kalah di branding dan konsistensi. Merek kolektif bisa menjembatani, jika tata kelola disiplin.
Pada akhirnya, keberhasilan strategi koperasi desa merah putih berbasis merek kolektif akan bergantung pada kualitas SDM, bukan sekadar jumlah koperasi.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar