PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperbarui data korban tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di wilayah Bekasi. Hingga Selasa (28/04/2026), jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi tujuh orang, sementara 81 penumpang lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyampaikan seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dinyatakan selamat. Korban meninggal dan luka berasal dari rangkaian KRL yang mengalami benturan paling parah dalam insiden tersebut.
Kronologi Tabrakan dan Proses Evakuasi
Peristiwa ini terjadi saat KA Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan KRL di lintasan wilayah Bekasi Timur. Benturan keras membuat proses evakuasi berlangsung cukup lama karena sejumlah korban ditemukan masih hidup dalam kondisi terjepit.
Tim Basarnas, petugas medis, aparat kepolisian, TNI, serta tim teknis PT KAI bekerja berjam-jam untuk mengevakuasi korban dari badan kereta.
Korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Distribusi korban ke banyak rumah sakit dilakukan untuk mempercepat penanganan medis dan menghindari penumpukan pasien di satu lokasi.
Posko Informasi dan Evaluasi Sistem Keselamatan
PT KAI membuka Posko Informasi di Stasiun Bekasi Timur untuk membantu keluarga korban mendapatkan kepastian mengenai kondisi penumpang.
Untuk sementara, Stasiun Bekasi Timur tidak melayani naik dan turun penumpang. Perjalanan KRL juga dibatasi dan hanya beroperasi hingga Stasiun Bekasi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan permohonan maaf dan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas kejadian ini serta permohonan maaf kepada seluruh pelanggan. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik,” ujar Anne Purba.
Insiden ini juga memunculkan pertanyaan publik mengenai sistem persinyalan, koordinasi jalur, serta prosedur keselamatan perjalanan kereta. Evaluasi menyeluruh menjadi penting agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar