Memasuki Ramadan 1447 H, umat Muslim di Indonesia bersiap menjalankan ibadah puasa dengan menjaga pola makan, cairan, dan kondisi kesehatan.
Bulan suci selalu dimaknai sebagai waktu memperkuat iman sekaligus mempererat kebersamaan keluarga. Namun di balik suasana hangat itu, disiplin menjaga tubuh tetap menjadi kunci agar ibadah berjalan lancar.
Puasa menuntut perubahan ritme harian. Pola sahur, berbuka, hingga waktu tidur ikut bergeser. Jika tidak diatur dengan baik, kondisi ini bisa memicu gangguan kesehatan.
dr. Tengku Raya Sharin, Operations Group Head Astra Life, mengingatkan setiap orang memiliki kondisi medis berbeda. Mereka yang memiliki riwayat penyakit, kata dia, perlu memahami batasan selama berpuasa agar tidak memicu kondisi yang lebih serius.
Ia menekankan pentingnya mengantisipasi risiko sebelum muncul gangguan yang berujung perawatan rumah sakit dan pengeluaran mendadak.
Lima Pemicu Gangguan Kesehatan Saat Puasa
Pertama, melewatkan sahur atau langsung tidur setelah sahur. Sahur berperan menjaga energi dan kestabilan gula darah sepanjang hari.
Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, dan roti gandum dapat dipadukan dengan protein—telur, ayam, tahu, atau tempe—serta sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan serat.
Tidur kembali segera setelah sahur berisiko mengganggu pencernaan. Posisi berbaring mempermudah asam lambung naik, terutama bagi penderita maag atau GERD.
Kedua, kurang minum air. Pola sederhana dua–empat–dua gelas antara berbuka hingga sahur dapat membantu mencegah dehidrasi.
Kekurangan cairan dapat memperberat kerja jantung, memicu kelelahan, bahkan memperburuk kondisi pernapasan pada individu tertentu.
Ketiga, berbuka berlebihan. Disarankan berbuka secara bertahap, diawali air putih dan kurma atau buah sebelum makanan utama.
Lambung membutuhkan waktu beradaptasi setelah kosong seharian. Konsumsi berlebihan secara tiba-tiba berisiko menimbulkan mual, pusing, atau gangguan pencernaan.
Keempat, kurang serat dan protein. Komposisi gizi seimbang dalam satu piring membantu menjaga stamina sepanjang hari.
Mengurangi gorengan, makanan tinggi gula, bersantan, pedas, serta produk ultra-proses juga dianjurkan untuk mencegah gangguan pencernaan dan risiko kesehatan jangka panjang.
Kelima, tidak disiplin mengonsumsi obat rutin. Penyesuaian jadwal minum obat perlu dikonsultasikan dengan dokter agar tetap aman selama berpuasa.
Jaga Kebugaran dan Antisipasi Risiko
Olahraga ringan seperti berjalan kaki setelah berbuka dapat membantu menjaga kebugaran. Aktivitas berat pada siang hari sebaiknya dihindari.
Puasa sebaiknya dibatalkan jika muncul gejala berat seperti pusing hebat, jantung berdebar, muntah terus-menerus, atau tanda dehidrasi serius.
Selain menjaga pola hidup, kesiapan finansial menghadapi risiko kesehatan juga menjadi perhatian. Biaya rawat inap yang tinggi dapat mengganggu stabilitas keuangan keluarga.
Karena itu, perencanaan perlindungan kesehatan sejak awal dinilai penting agar ibadah dan perayaan Idulfitri tetap berlangsung dengan tenang.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar