Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Public Expose. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Public Expose. Tampilkan semua postingan

Target Pendapatan JTPE 2026 Tembus Rp3 T via Keamanan Digital


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) optimistis mengejar target pendapatan JTPE 2026 sebesar Rp3,05 triliun, atau tumbuh 10 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,78 triliun. Emiten penyedia solusi keamanan dokumen dan digital ini juga memproyeksikan laba bersih menembus angka Rp412,57 miliar, kendati sempat mencatatkan kontraksi keuangan pada kuartal pertama tahun ini.

Manajemen mengungkapkan bahwa hingga April 2026, perseroan telah berhasil mengamankan sekitar 60 persen dari total target pendapatan tahun fiskal berjalan. Fakta ini menjadi bantalan operasional yang kuat di tengah perlambatan awal tahun.

"Estimasi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tahun 2026 di atas 10 persen," ujar Lukito Budiman, Direktur JTPE, dalam paparan publik secara virtual, Jumat (29/5/2026).

Kinerja Kuartal I Jasuindo dan Realisasi Laba

JTPE mencatatkan penjualan sebesar Rp265,05 miliar. Angka ini turun 23,9 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan Rp348,32 miliar pada periode yang sama 2025. Perlambatan ini turut berdampak pada laba bersih perseroan yang terkoreksi 47 persen menjadi Rp27 miliar. Sementara itu, posisi EBITDA perusahaan tercatat senilai Rp40 miliar.

Meski demikian, manajemen enggan merevisi target pendapatan JTPE 2026. Penurunan pada kuartal pertama dievaluasi baru mencerminkan 8,68 persen dari total proyeksi tahunan, dan lonjakan kontrak yang diamankan usai kuartal pertama memberikan kepastian arus kas perusahaan ke depan.

Ekspansi Solusi Keamanan Digital dan Biometrik

Untuk merealisasikan target pertumbuhan dua digit tersebut, JTPE agresif memperluas penetrasi pasar melalui ekspansi solusi keamanan digital. Perusahaan memusatkan kompetensi inti pada manajemen sistem biometrik, pembuatan infrastruktur Radio Frequency Identification (RFID), serta produksi kartu telekomunikasi melalui skema usaha patungan (joint venture) yang strategis.

Lebih jauh, perseroan juga melakukan investasi teknologi biometrik tingkat lanjut guna mengokohkan ekosistem layanannya. "Kami akan mempertahankan keunggulan produk lanjutan dengan berinvestasi dalam teknologi dan keamanan paspor canggih, serta transformasi digital berupa solusi tanda tangan digital," tambah Lukito.

Hingga saat ini, perseroan tercatat telah bertransformasi total dari sekadar pabrik percetakan umum menjadi pemain sentral dalam industri produk keamanan digital berskala global. Portofolio JTPE terus berkembang dari produksi paspor, e-KTP, kartu pembayaran EMV, hingga dokumen kendaraan. 

Solusi keamanan ini mendapat kepercayaan penuh dari berbagai klien korporasi raksasa lintas sektor, mulai dari Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI, Telkomsel, hingga ekosistem teknologi global seperti Google Play dan Spotify.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

SINI Rights Issue, Ini Strategi Singaraja Putra Genjot Laba


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Singaraja Putra Tbk (SINI) resmi mengumumkan langkah bisnis agresif untuk merambah sektor pertambangan batubara secara masif di Indonesia.

Keputusan strategis tersebut dipaparkan langsung oleh Amir Antolis, Direktur Utama SINI dalam acara Paparan Publik di Veranda Hotel Pakubuwono, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Melalui rencana aksi korporasi saham SINI tersebut, emiten holding ini optimistis mampu mendongkrak kinerja operasional hulu yang sempat melambat.

Rencana Aksi Korporasi Saham SINI dan Akuisisi Tambang Batubara KMS

SINI bersiap menerbitkan sebanyak-banyaknya 721,5 juta lembar saham baru lewat skema penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu.

Langkah ini diproyeksikan bakal memperkokoh struktur permodalan untuk mendukung rencana jangka panjang korporasi secara terukur dan berkelanjutan.

Perseroan kini menargetkan akuisisi tambang batubara KMS dengan membeli 99,995 persen saham dari raksasa infrastruktur, PT Petrosea Tbk.

Sebelumnya, anak usaha mereka juga telah mengikat kontrak eksklusif operasional dengan kontraktor kakap seperti PT Bukit Makmur Mandiri Utama.

"Langkah korporasi ini menjadi katalis penting untuk mengamankan rantai pasok dan memperluas portofolio konsolidasi kami," kata Amir Antolis.

Evaluasi Kinerja Keuangan PT Singaraja Putra Tbk dan Target 2026

Dari catatan historis kinerja keuangan PT Singaraja Putra Tbk periode 2025, pendapatan perusahaan sebenarnya naik 21,90 persen mencapai Rp534,11 miliar.

Sayangnya, laba bersih tahun berjalan terkoreksi sedalam 46,55 persen menjadi Rp41,36 miIiar akibat pembengkakan biaya investasi awal logistik tambang.

Kendati demikian, SINI meyakini operasional penuh dari entitas anak seperti PT Pasir Bara Prima akan membalikkan keadaan tahun ini.

Perseroan pun menargetkan lonjakan pendapatan ambisius hingga Rp1,31 triliun pada akhir tahun buku 2026 lewat optimalisasi volume penambangan.

Pengawasan internal yang ketat sengaja diterapkan manajemen guna memastikan seluruh proses transisi bisnis baru ini berjalan transparan dan akuntabel.

Transformasi struktural ini dipandang sebagai eksekusi riil dari Strategi PT Singaraja Putra Tbk Genjot Laba di tengah ketatnya pasar global.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
Share:

Bali United Siapkan Ekspansi Sportainment di 2026


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, induk usaha Bali United, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Gedung Bali United, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa, 26 Mei 2026. Agenda utama rapat membahas laporan keuangan, strategi bisnis, hingga arah ekspansi perusahaan pada 2026.

Dalam Public Expose yang digelar bersamaan dengan RUPS, manajemen menegaskan fokus baru perusahaan pada penguatan bisnis sportainment, sport tourism, dan aset digital. Bali United Training Center di Gianyar menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perseroan.

Bali United Training Center Jadi Magnet Sport Tourism

Bali United Training Center di Sukawati, Gianyar, kini berkembang menjadi salah satu pusat sport tourism terbesar di Indonesia. Fasilitas itu sudah memiliki 12 lapangan serta sejumlah sarana latihan berstandar internasional.

Sepanjang 2025, kawasan tersebut menjadi lokasi berbagai agenda olahraga berskala internasional. Maybank Marathon menghadirkan hampir 14 ribu pelari dari 52 negara, sedangkan OPPO Run diikuti sekitar 7 ribu peserta dari 20 negara.

Awal 2026, dua klub Korea Selatan, Pohang Steelers dan Jeonbuk Reserves, juga memilih Bali United Training Center sebagai lokasi pemusatan latihan mereka.

Beberapa pelatih lokal mengaku cukup terkejut melihat perkembangan fasilitas latihan Bali United. Dulu banyak klub Indonesia kesulitan mencari lapangan standar internasional. Kini, fasilitas serupa justru mulai dilirik klub luar negeri.

Turnamen usia muda Bali7s 2026 ikut memperkuat posisi Bali United di sektor sportainment. Ajang itu diikuti sekitar 500 tim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, India, hingga Belanda.

Bali United Bidik Profit dari Ekspansi Bisnis

Direktur Utama Bali United, Yabes Tanuri, mengatakan 2026 menjadi momentum mempercepat pertumbuhan bisnis perusahaan setelah melewati fase konsolidasi tahun lalu.

“Setelah melewati fase konsolidasi di tahun lalu, serta melihat indikator ekonomi 2026 yang bergerak positif, tahun ini adalah momentum bagi kami untuk memanen hasil dari berbagai unit usaha,” ujar Yabes dalam Public Expose.

Perseroan kini mulai memperluas lini usaha melalui ekspansi Bali United Store, pengembangan IPX atau Intellectual Property Exchange, hingga memperkuat kerja sama sponsorship dengan berbagai merek nasional dan internasional.

Selain mengejar profit, Bali United juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia sepak bola Indonesia. Hingga pertengahan 2026, sekitar 300 pelatih berlisensi D PSSI Nasional telah dilahirkan melalui program kolaborasi bersama PSSI.

Komisaris Utama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, Jemi Wiyono Prihadi, menilai kombinasi bisnis olahraga, digital, dan fasilitas fisik akan menjadi fondasi penting pertumbuhan perusahaan ke depan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Citra Tubindo Bukukan Pendapatan Rp4,4 Triliun di 2025


Duta Nusantara Merdeka |  Jakarta 
PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 5,10 persen sepanjang 2025. Meski penjualan meningkat, laba perusahaan justru mengalami tekanan akibat kenaikan beban pokok pendapatan yang cukup tajam.

Direktur Utama CTBN, Xavier Claude Bertin menyampaikan, total pendapatan perseroan mencapai US$266,88 juta atau sekitar Rp4,47 triliun. Pernyataan itu disampaikan dalam Public Expose di Jakarta, Selasa (26/05/2026).

Pendapatan CTBN Naik, Beban Produksi Ikut Membesar

Di tengah kenaikan pendapatan, tekanan mulai terlihat dari sisi operasional. Beban pokok pendapatan CTBN naik menjadi US$208,506 juta, lebih tinggi dibanding periode sebelumnya sebesar US$191,181 juta.

Kenaikan biaya tersebut ikut memangkas laba bruto perusahaan. Sepanjang 2025, laba bruto CTBN tercatat turun menjadi US$58,373 juta dari sebelumnya US$62,736 juta.

Tekanan berlanjut pada laba usaha perseroan. CTBN membukukan laba usaha sebesar US$28,062 juta, turun dibanding periode sebelumnya yang mencapai US$36,115 juta.

Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar US$28,389 juta. Angka tersebut lebih rendah dibanding capaian tahun sebelumnya sebesar US$35,417 juta.

Laba Bersih CTBN Terkoreksi pada 2025

Penurunan juga terjadi pada laba neto tahun berjalan. Sepanjang 2025, laba bersih CTBN tercatat sebesar US$21,77 juta, turun dari sebelumnya US$26,20 juta.

Meski laba mengalami koreksi, kondisi neraca perusahaan masih terjaga. Hingga 31 Desember 2025, total aset CTBN tercatat sebesar US$173,73 juta.

Adapun total ekuitas perseroan mencapai US$124,47 juta. Sementara total liabilitas berada di level US$49,26 juta, terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar US$40,331 juta dan jangka panjang US$8,930 juta.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Kuartal I-2026, SDPC Bukukan Pendapatan Rp1,01 Triliun


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT millennium pharmacon international Tbk (SDPC) mencatat penjualan neto sebesar Rp1,01 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka itu naik 3,86 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp980,19 miliar.

Kinerja tersebut disampaikan President Director SDPC, Dr. Imam Fathorrahman, M.M., dalam Public Expose di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Di tengah pertumbuhan pendapatan, laba bersih perusahaan justru turun tipis menjadi Rp10,10 miliar dari sebelumnya Rp10,33 miliar.

Pendapatan SDPC Naik, Beban Operasional Ikut Membesar

Per 31 Maret 2026, laba bruto SDPC turun menjadi Rp87,63 miliar dari Rp88,56 miliar pada periode sebelumnya.

Di saat yang sama, beban operasional meningkat menjadi Rp59,44 miliar dibanding Rp57,31 miliar pada kuartal I/2025. Kenaikan biaya tersebut membuat laba usaha turun 9,78 persen menjadi Rp28,19 miliar.

Adapun laba periode berjalan tercatat Rp10,10 miliar atau turun 2,22 persen secara tahunan. Meski begitu, posisi keuangan perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan.

Total aset SDPC naik menjadi Rp2,01 triliun dari Rp1,96 triliun. Liabilitas meningkat ke Rp1,68 triliun, sedangkan total ekuitas tumbuh menjadi Rp325,50 miliar.

SDPC Andalkan Digitalisasi dan Ekspansi Wilayah Timur

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, SDPC mulai memperkuat digitalisasi melalui anak usaha PT Digital Pharma Andalan Indonesia (DPAI). Perusahaan ini mengembangkan aplikasi OLIN, sistem manajemen farmasi berbasis digital untuk apotek dan toko obat.

OLIN dirancang membantu pengelolaan pembelian distributor, pemantauan stok otomatis, penjualan daring dan luring, hingga analisis bisnis berbasis data. Model seperti ini makin penting karena pola distribusi farmasi berubah cepat setelah pandemi.

SDPC juga menyiapkan ekspansi distribusi ke kawasan Indonesia Timur. Beberapa kota yang menjadi target pengembangan antara lain Gorontalo, Kendari, Kupang, Ambon, hingga Jayapura.

Selain membuka cabang baru, perusahaan juga berupaya menambah prinsipal baru untuk produk OTC, alat kesehatan, dan consumer goods. Strategi ini disiapkan untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah persaingan distribusi farmasi yang makin ketat.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

SGER Kehilangan Momentum, Laba 2025 Anjlok 67 Persen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) mencatat penurunan laba bersih cukup dalam sepanjang 2025. Emiten batu bara itu hanya membukukan laba Rp213,27 miliar, turun 67,7 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp658,7 miliar.

Penurunan itu dipaparkan Direktur Utama SGER, Welly Thomas, dalam Public Expose di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Pelemahan harga komoditas serta penurunan volume perdagangan batu bara menjadi tekanan utama terhadap pendapatan perusahaan sepanjang tahun lalu.

Pendapatan Batu Bara Turun Tajam

Sepanjang Januari-Desember 2025, pendapatan bersih SGER tercatat Rp6,74 triliun. Angka itu merosot 54,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp14,76 triliun.

Turunnya pendapatan ikut menyeret laba bruto perusahaan. SGER hanya membukukan laba bruto Rp536,94 miliar, turun hampir separuh dari posisi 2024 sebesar Rp1,03 triliun.

Di sektor tambang, kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Seorang pelaku pasar pernah menyebut bisnis batu bara mirip ombak laut; ketika harga tinggi semua tampak mudah, tetapi saat siklus turun, perusahaan harus bertarung menjaga napas kas.

Laba sebelum pajak penghasilan SGER juga turun tajam menjadi Rp238,26 miliar. Setelah dikurangi pajak neto Rp30,47 miliar, laba tahun berjalan perusahaan tercatat Rp207,79 miliar.

Meski laba menyusut, perusahaan masih menjaga pertumbuhan aset. Total aset SGER hingga akhir 2025 mencapai Rp5,64 triliun atau naik 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kas dan bank perusahaan juga meningkat signifikan menjadi Rp361,27 miliar dari sebelumnya Rp150,24 miliar. Namun, kenaikan liabilitas hingga Rp3,28 triliun menunjukkan tekanan pembiayaan masih cukup besar.

SGER Cari Nafas Baru di Luar Batu Bara

Manajemen SGER mulai menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki kinerja pada 2026. Salah satunya dengan memperluas pasar ekspor melalui kerja sama perdagangan dengan Vietnam dan Bangladesh.

Perseroan juga mulai mendorong diversifikasi bisnis non-batu bara, termasuk penjualan manganese ore dan petroleum coke. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.

Welly Thomas mengatakan perusahaan menargetkan volume penjualan 2026 tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan 2025. Target itu akan ditopang perluasan jaringan pemasok dan pembeli di pasar domestik maupun internasional.

Di tengah perlambatan industri, strategi diversifikasi mulai menjadi jalan yang banyak ditempuh emiten energi. Investor kini bukan hanya melihat besar kecilnya laba, tetapi juga kemampuan perusahaan bertahan saat siklus komoditas berubah arah.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Laba Bersih NRCA Melonjak 115 Persen pada 2025


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) membukukan laba bersih Rp175,52 miliar sepanjang 2025. Angka itu melonjak 115,1 persen dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp81,6 miliar. Lonjakan terjadi di tengah kenaikan beban pokok pendapatan dan meningkatnya liabilitas perusahaan konstruksi tersebut.

Direktur Utama NRCA, Hadiwinarto Christanto, menyampaikan capaian itu dalam public expose di Jakarta, Jumat, 21 Mei 2026. Anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk tersebut menilai peningkatan penghasilan lain-lain dan efisiensi beban menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan laba.

Kinerja Operasional Masih Tertekan

Sepanjang 2025, pendapatan NRCA tumbuh 7,1 persen menjadi Rp3,61 triliun, dibandingkan Rp3,37 triliun pada 2024. Namun, kenaikan itu belum sepenuhnya tercermin pada laba bruto karena beban pokok pendapatan ikut naik 7,7 persen menjadi Rp3,21 triliun.

Akibatnya, laba bruto hanya meningkat tipis 2,8 persen menjadi Rp398,99 miliar. Situasi ini menunjukkan margin operasional perseroan masih menghadapi tekanan di tengah ketatnya industri konstruksi.

Meski demikian, laba usaha NRCA justru melonjak 42,5 persen menjadi Rp278,47 miliar. Kenaikan tajam tersebut terutama ditopang penghasilan lainnya yang melesat 142 persen menjadi Rp95,03 miliar. Di sisi lain, beban lainnya turun 32,6 persen menjadi Rp65,55 miliar.

Laba sebelum pajak perusahaan konstruksi yang terafiliasi dengan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk itu mencapai Rp175,64 miliar atau naik 114,1 persen secara tahunan.

Ekspansi dan Risiko Liabilitas

Dari sisi neraca, total aset NRCA naik 22,4 persen menjadi Rp2,9 triliun hingga akhir 2025. Kas dan setara kas juga meningkat 20,5 persen menjadi Rp649,4 miliar.

Namun, kenaikan aset dibarengi lonjakan liabilitas sebesar 31,6 persen menjadi Rp1,54 triliun. Peningkatan terutama berasal dari kewajiban jangka pendek, seiring ekspansi proyek dan kebutuhan modal kerja.

Manajemen menargetkan pendapatan operasional Rp3,8 triliun pada 2026. Hingga Mei 2026, nilai kontrak baru telah mencapai Rp1,11 triliun, termasuk proyek Pou Chen Factory Pekalongan, Lampung City Mall Phase 2, hingga Saint Carolus Hospital Gading Serpong.

NRCA kini menghadapi dua tantangan sekaligus: menjaga pertumbuhan laba dan mengendalikan tekanan liabilitas. Strategi memburu proyek pemerintah, efisiensi operasional, serta ekspansi kemitraan diproyeksikan menjadi penopang utama kinerja perseroan pada 2026.

Reporter Lakalim Adalin 
Editor Arianto 



Share:

RGAS Raup Penjualan Rp272 Miliar di Tengah Tekanan EPC


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) mencatat lonjakan kinerja sepanjang 2025. Emiten jasa penunjang industri gas itu membukukan penjualan Rp272,53 miliar, naik 275,78 persen dibanding tahun sebelumnya Rp72,52 miliar. Kenaikan pendapatan itu turut mengerek laba bersih hingga 497,56 persen menjadi Rp15,95 miliar.

Direktur Utama RGAS, Edy Nurhamid Amin, mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang bisnis perdagangan barang dan jasa konstruksi yang menjadi tulang punggung pendapatan perseroan. Pernyataan itu disampaikan dalam Public Expose di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Bisnis EPC dan Spare Parts Jadi Mesin Pertumbuhan

Segmen perdagangan barang menyumbang pendapatan terbesar mencapai Rp210,10 miliar. Sementara jasa konstruksi berkontribusi Rp42,31 miliar. Sisanya berasal dari segmen lain Rp16,36 miliar dan jasa inspeksi Rp3,75 miliar.

Di tengah perlambatan sejumlah sektor industri, lonjakan RGAS terbilang mencolok. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kontraktor EPC justru menahan ekspansi akibat margin yang makin tipis dan harga material yang sulit diprediksi.

Perseroan mengakui tekanan industri masih besar. Persaingan proyek EPC dan penyediaan spare parts semakin ketat. Kondisi geopolitik Timur Tengah serta penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah ikut menekan biaya material.

“Perseroan harus lebih selektif memilih proyek dan mitra agar tetap kompetitif dari sisi harga, kualitas, dan waktu pengerjaan,” ujar Edy.

Beban pokok pendapatan RGAS naik menjadi Rp229,69 miliar dari sebelumnya Rp47,10 miliar. Namun, beban usaha relatif terkendali di angka Rp19,15 miliar atau hanya naik 4,49 persen dibanding 2024.

Di sisi neraca, aset lancar tercatat Rp127 miliar, turun dibanding tahun sebelumnya Rp144,19 miliar. Sementara total liabilitas hingga akhir 2025 mencapai Rp54,02 miliar.

Jaringan Gas Rumah Tangga Jadi Peluang Baru

RGAS melihat prospek industri gas nasional masih terbuka lebar. Pemerintah tengah mendorong pengurangan impor LPG sekaligus memperluas jaringan gas rumah tangga atau jargas.

Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pembangunan 119.354 sambungan rumah pada 2025-2026. Angka itu diperkirakan melonjak menjadi 959.232 sambungan rumah pada 2026-2027.

Perseroan menilai program itu bakal meningkatkan permintaan gas bumi domestik. Dari sinilah RGAS mencoba mengambil posisi lebih agresif, mulai dari penguatan layanan EPC terintegrasi hingga pengembangan produk berbasis TKDN.

Menariknya, perusahaan mulai mengoptimalkan teknologi Artificial Intelligence untuk mendukung pemasaran, analisis pelanggan, dan pengambilan keputusan berbasis data. Langkah digitalisasi ini dianggap penting agar operasional lebih efisien di tengah persaingan proyek yang makin padat.

Di level industri, cerita seperti ini bukan hal baru. Banyak pelaku sektor energi mulai sadar, perang bisnis kini bukan sekadar soal proyek besar, tetapi juga kecepatan membaca data dan efisiensi rantai pasok.

RGAS juga menyatakan akan memperkuat tata kelola perusahaan dan kualitas sumber daya manusia demi menjaga pertumbuhan berkelanjutan pada 2026.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Kuartal I 2026, CSRA Cetak Laba Rp83,68 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mencatat laba bersih Rp83,68 miliar sepanjang kuartal I 2026. Angka itu tumbuh 6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp78,96 miliar.

Kenaikan laba terjadi di tengah lonjakan pendapatan perusahaan yang hampir dua kali lipat. Perseroan juga mengklaim mampu menjaga efisiensi operasional saat biaya produksi dan aktivitas bisnis meningkat tajam.

Dalam paparan publik usai RUPS Tahunan di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026, Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis PT Cisadane Sawit Raya Tbk, Seman Sendjaja, mengatakan pertumbuhan ditopang peningkatan penjualan dan pengendalian beban usaha.

“Peningkatan laba didorong kenaikan penjualan dan efisiensi beban usaha di tengah peningkatan aktivitas operasional,” ujar Seman Sendjaja dalam paparan publik tersebut.

Pendapatan perusahaan tercatat melonjak menjadi Rp541,32 miliar. Nilai itu naik 96,6 persen dibandingkan Rp275,39 miliar pada kuartal I 2025.

Namun, lonjakan penjualan ikut diiringi kenaikan beban pokok penjualan menjadi Rp427,98 miliar. Angka tersebut meningkat 177,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Beban Produksi Naik, Margin Laba Bruto Tertekan

Kenaikan biaya produksi membuat laba bruto perusahaan turun 6,5 persen menjadi Rp113,34 miliar. Pada periode sama tahun lalu, laba bruto CSRA masih berada di level Rp121,18 miliar.

Situasi ini lazim terjadi di industri sawit ketika volume produksi meningkat bersamaan dengan kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional kebun.

Seorang analis perkebunan di Jakarta pernah menyebut, tantangan perusahaan sawit saat ini bukan hanya menjaga produksi, tetapi mempertahankan margin keuntungan ketika biaya terus bergerak naik.

Meski begitu, arus kas operasional perusahaan justru menguat. CSRA membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp96,07 miliar, naik 57,8 persen dibandingkan Rp60,89 miliar tahun sebelumnya.

CSRA Fokus Mekanisasi dan Ekspansi Lahan

Peningkatan arus kas didorong penerimaan pelanggan yang mencapai Rp567,55 miliar. Nilai itu hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal I 2025.

Di sisi lain, arus kas investasi tercatat negatif Rp69,47 miliar akibat penambahan aset tetap dan tanaman produktif. Perseroan juga mengalokasikan dana untuk pembayaran utang bank dan liabilitas pembiayaan.

Per 31 Maret 2026, total aset perusahaan mencapai Rp2,64 triliun. Ekuitas naik menjadi Rp1,55 triliun, mencerminkan penguatan struktur keuangan perusahaan.

Ke depan, CSRA menargetkan peningkatan produksi tandan buah segar, optimalisasi mekanisasi panen, serta perluasan landbank di Sumatera Selatan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Pendapatan PPGL Susut 17 Persen, DER Tembus 185 Persen


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL) mencatat penurunan pendapatan dan laba sepanjang tahun buku 2025 di tengah tekanan industri logistik nasional. Dalam paparan publik di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026, Direktur Utama PPGL Darmawan Suryadi mengakui kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, terutama akibat perlambatan aktivitas pengiriman dan tingginya biaya operasional.

Pendapatan usaha Perseroan tercatat Rp175,23 miliar atau turun 17,24 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp211,73 miliar. Penurunan itu turut menekan laba sebelum pajak menjadi Rp14,56 miliar dari sebelumnya Rp19,23 miliar.

Tekanan Industri Logistik Mulai Terasa

Di sektor logistik, penurunan volume pengiriman bukan lagi cerita baru. Sejumlah pelaku usaha mengaku biaya distribusi terus bergerak naik, sementara persaingan tarif semakin ketat. Situasi itu ikut membayangi kinerja PPGL sepanjang tahun lalu.

“Pendapatan usaha tercatat sebesar Rp175,23 miliar, mengalami penurunan sebesar 17,24 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp211,73 miliar,” ujar Darmawan Suryadi.

Penurunan juga terjadi pada laba komprehensif tahun berjalan. PPGL membukukan laba Rp9,50 miliar atau turun 25,78 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp12,96 miliar.

Meski demikian, Perseroan masih mencatat kenaikan aset cukup agresif. Total aset meningkat 59,25 persen menjadi Rp411,85 miliar. Namun, kenaikan itu dibarengi lonjakan liabilitas hingga 136,45 persen menjadi Rp267,53 miliar.

Kondisi tersebut tercermin pada rasio utang perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) naik tajam menjadi 185,3 persen, jauh di atas posisi tahun sebelumnya sebesar 77,7 persen. Sementara Debt to Asset Ratio (DAR) naik menjadi 64,96 persen.

PPGL Fokus Cari Pelanggan Baru

Di tengah tekanan itu, PPGL memilih menjaga pelanggan lama sambil memburu pasar baru. Strategi ini dinilai penting karena sektor logistik kini makin sensitif terhadap efisiensi biaya dan kecepatan layanan.

Darmawan mengatakan Perseroan tetap berupaya mempertahankan kualitas pelayanan kepada pelanggan eksisting. Pada saat bersamaan, perusahaan juga membidik pelanggan baru untuk menopang pertumbuhan tahun berjalan.

Dalam industri logistik, mempertahankan klien lama sering kali lebih sulit dibanding mencari pelanggan baru. Apalagi, eksportir dan importir kini semakin selektif memilih jasa pengurusan transportasi yang mampu memberi layanan cepat sekaligus efisien.

PPGL menegaskan komitmennya menjalankan strategi operasional yang lebih optimal demi memperbaiki kinerja pada 2026. Perseroan juga tetap mempertahankan visi sebagai penyedia layanan one-stop service bagi eksportir dan importir.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Ekspansi Agresif JAYA Mulai Tekan Arus Laba Perusahaan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) menghadapi tekanan kinerja sepanjang tahun buku 2025. Emiten transportasi itu membukukan pendapatan Rp 73,90 miliar, turun 26,62 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 100,71 miliar.

Kontraksi pendapatan langsung menggerus laba bersih perusahaan. JAYA hanya mencatat laba tahun berjalan Rp 4,48 miliar atau turun 27,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,15 miliar. Di saat bersamaan, perusahaan justru memperbesar ekspansi aset dan utang secara agresif.

Ekspansi Besar, Margin Keuntungan Menyusut

Direktur Utama JAYA, Darmawan Suryadi, mengatakan penurunan pendapatan berdampak langsung terhadap laba perusahaan.

“Penurunan pendapatan ini berdampak pada laba tahun berjalan yang tercatat sebesar Rp 4,48 miliar,” ujar Darmawan dalam Public Expose di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Namun persoalan JAYA bukan sekadar penjualan yang melemah. Dari laporan kinerja perusahaan, tekanan paling terasa justru datang dari sisi pembiayaan. Beban bunga melonjak 82,96 persen menjadi Rp 5,86 miliar.

Kenaikan biaya bunga sebesar itu biasanya menjadi sinyal klasik bahwa ekspansi perusahaan mulai bertumpu pada leverage yang cukup tinggi. Dalam industri transportasi, pola semacam ini kerap muncul ketika perusahaan buru-buru memperbesar armada saat permintaan pasar belum sepenuhnya pulih.

Laba usaha JAYA tercatat turun 26,80 persen menjadi Rp 8,70 miliar. Sementara laba bruto hanya turun tipis 2,14 persen menjadi Rp 33,29 miliar. Angka ini menunjukkan efisiensi operasional masih relatif terjaga, tetapi tekanan biaya keuangan mulai memakan ruang keuntungan bersih.

Di kalangan pelaku pasar, situasi seperti ini sering dibaca sebagai fase “bertaruh pada pertumbuhan”. Perseroan memperbesar kapasitas sekarang dengan harapan volume bisnis beberapa tahun mendatang mampu menutup beban utang hari ini.

Utang Melonjak, Diversifikasi Bisnis Dipercepat

Sepanjang 2025, total aset JAYA melonjak 71,90 persen menjadi Rp 378,17 miliar. Tetapi kenaikan itu diikuti lonjakan liabilitas yang jauh lebih tinggi, yakni 164 persen menjadi Rp 253,88 miliar.

Sementara ekuitas hanya tumbuh tipis 0,38 persen. Struktur ini memperlihatkan sebagian besar ekspansi perusahaan ditopang pinjaman dan kewajiban baru.

Perseroan memang sedang memperluas lini usaha. Selain menambah armada, JAYA membentuk PT Jaya Bae Nusantara dan PT Prima Bae Nusantara di sektor angkutan.

Perusahaan juga masuk ke bisnis kendaraan bekas melalui PT Maju Bae Makmur dan memperluas sektor properti lewat PT Aman Bae Jaya.

Anak usaha PT Aman Bae Sentosa tercatat memiliki 11 villa dan dua bidang tanah di Bali. Sedangkan PT Aman Bae Perkasa mengembangkan proyek Perumahan Sindang Mulya Cibarusah di Kabupaten Bekasi.

Diversifikasi ini memperlihatkan JAYA tidak lagi hanya mengandalkan bisnis transportasi. Namun tantangan terbesar perseroan ke depan adalah memastikan ekspansi tersebut benar-benar menghasilkan arus kas baru, bukan sekadar memperbesar beban pembiayaan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Laba Bersih NTBK Naik di Tengah Penjualan yang Melemah


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) mencatat laba bersih Rp706,98 juta sepanjang 2025. Angka itu tumbuh 10,36 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp640,58 juta, meski pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan.

Kinerja tersebut dipaparkan Direktur Utama NTBK, Bambang Susilo dalam Public Expose di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026. Emiten berkode saham NTBK itu mulai mengandalkan efisiensi dan ekspansi kendaraan listrik untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan pasar.

Pendapatan NTBK Turun, Laba Justru Menguat

Sepanjang 2025, pendapatan NTBK tercatat Rp96,58 miliar atau turun 8,44 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp105,48 miliar.

Penurunan itu terjadi di tengah perlambatan sejumlah sektor industri yang menjadi pasar utama perusahaan. Namun di saat bersamaan, NTBK berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp77,54 miliar dari sebelumnya Rp89,11 miliar.

Hasilnya, laba kotor justru meningkat menjadi Rp19,04 miliar dari Rp16,37 miliar pada akhir 2024.

Di ruang-ruang publik pasar modal, situasi seperti ini sering dianggap sinyal penting. Beberapa analis melihat perusahaan mulai lebih disiplin menjaga biaya operasional dibanding sekadar mengejar pertumbuhan penjualan agresif.

Beban usaha NTBK tercatat Rp16,88 miliar, naik dari Rp15,12 miliar. Meski demikian, laba usaha perusahaan masih meningkat menjadi Rp2,16 miliar dari sebelumnya Rp1,25 miliar.

Pendapatan lain-lain juga melonjak menjadi Rp1,34 miliar dari Rp926,79 juta. Namun, beban lain-lain ikut membengkak menjadi Rp2,19 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp1,12 miliar.

NTBK Bidik Peluang dari Kendaraan Listrik dan Tambang

Di tengah tekanan pendapatan, NTBK mulai memindahkan fokus pertumbuhan ke tiga sektor utama: manufaktur dan infrastruktur, kendaraan listrik, serta pertambangan.

Perusahaan menilai pembangunan infrastruktur nasional masih membuka peluang permintaan kendaraan dan alat berat.

Selain itu, berkembangnya ekosistem kendaraan listrik nasional ikut menjadi ruang ekspansi baru. Dukungan pemerintah terhadap energi baru membuat bisnis EV dipandang lebih menjanjikan dalam beberapa tahun mendatang.

“Dengan strategi ekspansi dan diversifikasi ini, Perseroan optimistis dapat meningkatkan kinerja usaha secara berkelanjutan,” ujar Bambang Susilo.

Dari sisi neraca, total aset NTBK tercatat Rp158,31 miliar, turun dari Rp168,64 miliar pada akhir 2024. Liabilitas juga turun menjadi Rp63,44 miliar dari Rp73,29 miliar.

Sementara total ekuitas tercatat Rp94,86 miliar, sedikit turun dibanding akhir tahun sebelumnya sebesar Rp95,35 miliar.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Transformasi TLKM 30 Dorong Laba Telkom Tetap Stabil


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menutup tahun buku 2025 dengan laba bersih Rp17,8 triliun di tengah tekanan industri telekomunikasi dan perlambatan ekonomi. Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun dengan EBITDA Rp72,2 triliun sepanjang 2025.

Kinerja itu muncul bersamaan dengan percepatan strategi transformasi TLKM 30 yang mulai dijalankan lebih agresif sejak tahun lalu. Pasar merespons positif langkah tersebut. Total Shareholder Return (TSR) Telkom tercatat mencapai 35,7 persen sepanjang 2025.

Di kalangan investor pasar modal, saham Telkom memang sempat dipandang bergerak “aman tapi lambat”. Namun situasinya berubah sejak perusahaan mulai fokus merapikan portofolio bisnis dan memperjelas arah transformasi digital. Seorang analis telekomunikasi bahkan menyebut pasar mulai melihat Telkom lebih disiplin dalam mengelola aset dan belanja modal.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan strategi TLKM 30 menjadi fondasi utama transformasi perusahaan.

“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” ujar Dian.

Restrukturisasi Bisnis Mulai Diarahkan Lebih Fokus

Melalui TLKM 30, Telkom menjalankan empat pilar transformasi, mulai dari penguatan tata kelola, perampingan bisnis noninti, optimalisasi aset, hingga perubahan model holding menjadi strategic holding.

Langkah streamlining mulai terlihat lewat proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026. Telkom juga mulai merampingkan sejumlah entitas yang dinilai tidak lagi selaras dengan bisnis utama telekomunikasi digital.

Di sisi lain, perusahaan melakukan pemisahan sebagian aset Wholesale Fiber Connectivity ke InfraNexia. Langkah itu ditandai lewat penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025.

Telkom juga mengubah pendekatan bisnis dari operating holding menjadi strategic holding. Nantinya, operasional usaha akan difokuskan ke empat segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Bisnis Data Dan Infrastruktur Masih Jadi Penopang

Segmen B2C melalui Telkomsel masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan capaian Rp109,2 triliun. Trafik data tumbuh 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.

Sementara itu, bisnis infrastruktur digital ikut menopang pertumbuhan. TelkomGroup kini memiliki backbone serat optik lebih dari 210 ribu kilometer, jaringan data center, hingga konektivitas satelit untuk wilayah blank spot.

Anak usaha menara telekomunikasi Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin mencapai 82,2 persen. Adapun bisnis data center dikelola melalui NeutraDC yang mengoperasikan fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura.

Telkom mengalokasikan belanja modal Rp27,5 triliun sepanjang 2025. Mayoritas dana digunakan untuk memperkuat infrastruktur digital dan memperluas konektivitas nasional.

“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi,” kata Dian.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

MIRA Catat Rugi Rp9,1 Miliar di Tengah Tekanan Transportasi


Duta Nusantara Merdeka   Jakarta 
PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) mencatat penurunan pendapatan sepanjang 2025 di tengah tekanan bisnis transportasi darat dan angkutan barang. Dalam Paparan Publik di Jakarta, Rabu, 11 Mei 2026, perusahaan membukukan pendapatan bersih Rp63.279 juta atau turun 4,2 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp66.023 juta.

Direktur MIRA, Darminto, mengatakan penurunan pendapatan belum sepenuhnya menekan operasional perusahaan. Perseroan masih mampu memperbaiki laba bruto secara signifikan menjadi Rp7.361 juta, dari sebelumnya hanya Rp128 juta pada 2024. Namun, rugi tahun berjalan justru meningkat menjadi Rp9.178 juta.

Tekanan Bisnis Transportasi Masih Terasa

Di sektor transportasi darat, kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Pelaku industri kerap menghadapi biaya operasional yang bergerak cepat, mulai dari harga suku cadang hingga beban logistik yang terus naik. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan angkutan juga dipaksa lebih disiplin mengatur arus kas.

MIRA mencatat EBITDA turun menjadi Rp5.149 juta dibandingkan Rp6.096 juta pada tahun sebelumnya. Meski demikian, rugi usaha membaik dari Rp4.644 juta menjadi Rp4.131 juta.

“Perseroan tetap optimis akan keberlangsungan industri transportasi darat mengingat pertumbuhan perekonomian sangat membutuhkan peran transportasi angkutan barang,” ujarnya.

Di sisi neraca, total aset perusahaan mencapai Rp233.564 juta. Nilai tersebut terdiri dari aset lancar Rp35.068 juta dan aset tidak lancar Rp198.496 juta. Adapun total liabilitas tercatat Rp88.227 juta dengan ekuitas sebesar Rp145.337 juta.

Infrastruktur Jadi Andalan Pertumbuhan

Manajemen MIRA menilai peluang industri transportasi truk masih terbuka lebar, terutama untuk distribusi material konstruksi dan semen. Pemerintah yang masih mendorong pembangunan infrastruktur dinilai menjadi ruang tumbuh baru bagi bisnis angkutan barang.

Perseroan juga mulai menata ulang jalur distribusi agar lebih efisien. Strategi itu ditempuh lewat peningkatan utilisasi armada, pembukaan rute baru, hingga pengendalian biaya administrasi dan operasional.

Rasio laba bruto terhadap pendapatan bersih ikut melonjak menjadi 11,63 persen dari sebelumnya 0,19 persen. Namun current ratio perusahaan masih berada di level 0,68, mencerminkan tekanan likuiditas jangka pendek yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi industri transportasi, efisiensi kini bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Banyak operator truk mulai sadar, keuntungan kecil tetap bisa bertahan jika biaya berhasil ditekan secara ketat.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Ace Oldfields Tebar Dividen Rp1,5 per Saham


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Ace Oldfields Tbk (KUAS) memutuskan membagikan dividen tunai Rp1,5 per saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026. Keputusan itu diambil di tengah pertumbuhan penjualan yang masih bergerak positif sepanjang 2025, meski laba bersih perusahaan mulai tertekan kenaikan biaya operasional.

Emiten berkode saham KUAS tersebut membukukan pendapatan Rp187,02 miliar pada 2025, naik tipis dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp184,7 miliar. Namun laba bersih turun menjadi Rp10,5 miliar dari Rp11,3 miliar pada 2024.

Margin PT Ace Oldfields Mulai Menyempit

Direktur KUAS, Albert Kandiawan, mengakui kenaikan penjualan belum sepenuhnya mampu menopang profitabilitas perusahaan. “Namun, di balik kenaikan penjualan, laba bersih justru turun menjadi Rp10,5 miliar dari Rp11,3 miliar pada 2024. Penurunan menandai tekanan biaya yang mulai menggerus profitabilitas Perseroan,” ujar Albert.

Di kalangan pelaku industri manufaktur, situasi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah emiten sektor perlengkapan rumah tangga dan bahan bangunan juga mulai menghadapi kenaikan biaya distribusi serta bahan baku sejak akhir tahun lalu. Seorang analis pasar modal bahkan menyebut kondisi sekarang mirip “jualan ramai, tapi napas makin pendek”.

Meski demikian, secara operasional perusahaan masih mencatat pertumbuhan. Laba kotor naik menjadi Rp58,5 miliar dari Rp54,2 miliar. Kenaikan ini menunjukkan permintaan produk perlengkapan pengecatan masih cukup terjaga di pasar domestik.

Aset perusahaan juga meningkat 7,63 persen menjadi Rp299,37 miliar. Namun perhatian investor tertuju pada kenaikan liabilitas jangka panjang sebesar 25,64 persen yang dinilai berpotensi menekan arus kas apabila pertumbuhan pendapatan melambat.

Strategi KUAS pada 2026: Distribusi dan Digitalisasi

Menghadapi 2026, KUAS menargetkan penjualan Rp192 miliar. Target tersebut tergolong konservatif di tengah kondisi daya beli dan persaingan industri yang belum sepenuhnya stabil.

Perusahaan akan memperluas distribusi, memperkuat loyalitas pelanggan, serta meningkatkan pemasaran digital untuk mendongkrak brand awareness. Kolaborasi dengan pabrik cat juga disiapkan guna memperluas penetrasi pasar.

Selain itu, perusahaan menyiapkan program promosi seperti undian umroh untuk menjaga minat konsumen. Strategi ini memperlihatkan upaya perseroan membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat, bukan sekadar mengandalkan pertumbuhan penjualan tahunan.

Namun tantangan terbesar tetap berada pada efisiensi biaya. Di industri yang kompetitif, kenaikan penjualan tanpa pengendalian beban operasional berisiko membuat pertumbuhan laba berjalan di tempat.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 
 
Share:

Bayu Buana Tebar Dividen Rp100 per Saham


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Bayu Buana Tbk (BAYU) memutuskan membagikan dividen tunai Rp100 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp35,32 miliar.

Keputusan itu diambil di tengah penurunan kinerja keuangan perseroan pada kuartal I-2026. Pendapatan perusahaan tercatat Rp554,72 miliar atau turun Rp89,89 miliar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp644,61 miliar.

Pendapatan dan Laba Bayu Buana Menurun

Direktur Utama BAYU, Hardy Karuniawan mengatakan tekanan industri perjalanan masih memengaruhi performa perusahaan pada awal tahun. Meski begitu, perseroan tetap menjaga stabilitas operasional dan struktur keuangan.

“Kuartal I-2026 Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp554,72 miliar menurun Rp89,89 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp644,61 miliar,” ujar Hardy.

Laba usaha perseroan juga ikut tergerus. Pada kuartal I-2026, Bayu Buana mencatat laba usaha Rp19,58 miliar, turun Rp10,29 miliar dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp29,87 miliar.

Di pasar modal, situasi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak emiten sektor perjalanan masih bergerak hati-hati setelah biaya operasional dan pola perjalanan pelanggan berubah cukup cepat sejak dua tahun terakhir.

Perseroan membukukan laba tahun berjalan setelah pajak sebesar Rp15,60 miliar. Angka itu ikut menekan laba per saham menjadi Rp44,17 per 31 Maret 2026, turun dari Rp65,79 pada periode sama tahun lalu.

Aset dan Ekuitas Masih Bertumbuh

Meski laba mengalami tekanan, Bayu Buana masih mencatat pertumbuhan aset dan ekuitas. Total aset perseroan hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp972,99 miliar atau naik 1,18 persen dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp961,63 miliar.

Sementara itu, total ekuitas perseroan tercatat Rp570,80 miliar. Nilai tersebut naik 2,26 persen atau Rp12,63 miliar dibanding posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp558,17 miliar.

Kenaikan ekuitas terutama ditopang laba periode berjalan Januari hingga Maret 2026. Di tengah perlambatan pendapatan, perusahaan tampaknya masih berupaya menjaga fundamental agar tetap solid di mata investor.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

APTIKNAS Dorong Perusahaan TIK Go Public Lewat Workshop BEI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) dan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO) bersama Bursa Efek Indonesia menggelar workshop go public untuk mendorong perusahaan TIK masuk pasar modal.

Kegiatan bertajuk “Go Big with Go Public: From Technology Excellence to Public Markets” itu berlangsung di Main Hall BEI Jakarta, Rabu (15/04/2026), dan diikuti sekitar 100 anggota APTIKNAS serta APKOMINDO.

Di tengah geliat ekonomi digital, banyak perusahaan teknologi tumbuh cepat, tetapi sering tersendat saat bicara tata kelola. Produk bagus belum tentu siap masuk bursa.

Saya pernah berbincang dengan pelaku startup yang mengaku lebih pusing mengurus audit dibanding mencari pelanggan baru. Di situlah tantangan sebenarnya dimulai.

Ketua Umum APTIKNAS sekaligus APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. atau Hoky, menegaskan bahwa go public bukan sekadar mencari pendanaan.

“Go public adalah lompatan strategis dari keunggulan teknologi menuju kredibilitas global. Ini bukan hanya tentang memperoleh pendanaan, tetapi juga tentang membangun tata kelola yang baik,” ujar Hoky.

Bursa Efek Indonesia Nilai Sektor Teknologi Siap IPO

Wakil Direktur Bursa Efek Indonesia, Listyorini Dian Pratiwi, mengatakan sektor teknologi menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.

Menurut dia, banyak perusahaan TIK lokal sebenarnya sudah layak melantai di bursa, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam proses menuju IPO.

“Perusahaan teknologi memiliki peluang besar untuk berkembang melalui pasar modal. BEI berkomitmen mendampingi perusahaan dalam setiap tahapan,” kata Listyorini.

Yan Hendrick Simorangkir dari Bursa Efek Indonesia menambahkan, tantangan terbesar sering muncul pada aspek administrasi dan pelaporan keuangan.

Banyak perusahaan unggul dari sisi produk, namun belum siap dalam transparansi dan akuntabilitas yang menjadi syarat utama perusahaan terbuka.

Enam Agenda Strategis APTIKNAS 2026 Jadi Penguat

Selain workshop IPO, APTIKNAS juga memaparkan enam agenda strategis nasional 2026 yang sebelumnya telah disampaikan kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.

Agenda itu mencakup National Cybersecurity Connect 2026, ASOCIO Digital AI Summit 2026, Indonesia Game Experience, Warkop Digital, Roadshow Teknologi 10 Kota, dan Mall APTIKNAS.

Hoky menilai transformasi digital Indonesia tidak boleh berjalan setengah-setengah. Talenta, keamanan siber, teknologi, hingga akses pasar harus bergerak bersamaan.

“Digitalisasi membuka peluang ekonomi yang sangat besar, namun juga menghadirkan risiko seperti serangan siber dan kejahatan digital,” ujarnya.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, yang telah membawa perusahaannya go public, mengatakan perubahan budaya organisasi menjadi tantangan terbesar.

Namun manfaatnya jauh lebih besar, mulai dari akses pendanaan yang luas hingga meningkatnya kredibilitas perusahaan di mata investor.

Lewat sinergi APTIKNAS, APKOMINDO, dan Bursa Efek Indonesia, perusahaan TIK Indonesia didorong tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh sebagai pemain global yang kompetitif.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Laba DKFT Lonjak 38%, Fokus Efisiensi dan Margin


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatat lonjakan kinerja sepanjang 2025. Laba bersih naik 38,44% menjadi Rp574,39 miliar. Hal tersebut disampaikan Direktur DKFT, Yohanes Supriady dalam Public Expose Tahunan di Jakarta, Rabu (22/04/2025),

Pendapatan tumbuh moderat 7,87% ke Rp1,576 triliun, namun efisiensi biaya mendorong margin. Perusahaan mulai menggeser strategi dari ekspansi volume ke optimalisasi profitabilitas pada 2026.

Kinerja Keuangan Melonjak, Efisiensi Jadi Kunci

Kombinasi kenaikan pendapatan dan penurunan beban pokok 4,48% membuat laba kotor melesat 24,11% menjadi Rp783,59 miliar. Beban usaha dan pajak ikut ditekan 3,37%.

Dampaknya terasa langsung. Laba per saham naik tajam 56,63% menjadi Rp104,02. Ini sinyal kuat bahwa efisiensi bukan sekadar jargon, melainkan eksekusi nyata di lapangan.

Neraca Menguat, Likuiditas Lebih Longgar

Dari sisi fundamental, kas melonjak 40% menjadi Rp723,90 miliar. Total aset naik 22% ke Rp3,09 triliun, sementara ekuitas tumbuh 45% menjadi Rp1,23 triliun.

Menariknya, liabilitas jangka panjang turun 6%. Ini mengindikasikan upaya deleveraging—langkah yang jarang diambil agresif saat kinerja sedang naik.


Bagi investor ritel, angka-angka ini biasanya jadi “alarm hijau”. Struktur modal yang sehat memberi ruang ekspansi tanpa tekanan utang berlebih.

Operasional: Penjualan Melampaui Produksi

Produksi bijih nikel relatif stagnan di 2,93 juta ton. Namun penjualan melonjak 16,60% menjadi 3,03 juta ton. Artinya, perusahaan agresif mengoptimalkan stok.

Segmen batu kapur bahkan melesat. Produksi naik 165,79% dan penjualan tumbuh 73,96%. Ini mulai terlihat sebagai sumber pertumbuhan baru.

Proyeksi 2026: Volume Turun, Laba Tetap Naik

DKFT memproyeksikan volume penjualan turun 36,4% menjadi 1,93 juta ton pada 2026. Pendapatan relatif stagnan di kisaran Rp1,57 triliun.

Namun laba bersih justru diperkirakan naik 9,49% menjadi Rp628,89 miliar. EBITDA ikut meningkat. Strateginya jelas: margin lebih penting daripada tonase.

Pendekatan ini mengingatkan pada pergeseran industri tambang global—lebih selektif, fokus kualitas, bukan sekadar kuantitas.

Strategi dan ESG: Fondasi Jangka Panjang

Perusahaan menyiapkan tiga fokus utama: peningkatan kapasitas, penambahan cadangan melalui eksplorasi dan akuisisi IUP, serta optimalisasi operasi.

Di sisi ESG, DKFT mulai lebih terstruktur. Penanaman 110.800 pohon, penggunaan alat listrik, hingga proyek PLTS menjadi bagian transisi energi.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Kinerja MINE 2025 Naik, Aset Melonjak


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) mencatat kinerja 2025 tumbuh solid. Direktur Utama PT Sinar Terang Mandiri Tbk, Ivo Wangarry dalam Public Expose Tahunan di Jakarta, Rabu (22/04/2026), mengatakan pendapatan naik 11,8% menjadi Rp2,36 triliun.

Pertumbuhan ini ditopang ekspansi proyek tambang nikel dan penguatan aset. Laba komprehensif mencapai Rp200,83 miliar, mencerminkan aktivitas operasional yang semakin intens sepanjang tahun.

Ekspansi Proyek Dorong Kinerja 2025

Ivo menilai capaian ini bukan kebetulan. Perusahaan, kata dia, konsisten menjaga momentum di tengah tekanan industri tambang.

“Kami bersyukur Perseroan terus menjaga pertumbuhan pendapatan dan memperkuat struktur aset di tengah berbagai tantangan operasional,” ujarnya.

Aset perusahaan naik 28,6% menjadi Rp2,07 triliun. Lonjakan terutama berasal dari aset tidak lancar yang tumbuh 48,5%, seiring investasi alat berat dan infrastruktur tambang.

Mitra Strategis dan Diversifikasi Jadi Penopang

Kontributor utama pendapatan MINE berasal dari jasa penambangan sebesar Rp2,18 triliun. Sementara jasa konstruksi menyumbang Rp180,10 miliar, melonjak lebih dari 12 kali lipat.

Pendapatan terbesar datang dari PT Weda Bay Nickel, diikuti PT Hengjaya Mineralindo dan PT Sulawesi Cahaya Mineral. Ketergantungan pada mitra besar masih terlihat, tapi mulai diimbangi diversifikasi.

Ivo menegaskan, penguatan kemitraan dan ekspansi klien menjadi strategi utama. “Kami optimistis prospek industri nikel nasional masih sangat menjanjikan,” ujarnya.

Langkah ini masuk akal. Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi nikel global diperkirakan naik menjadi 3,824 juta ton pada 2026, didorong kebutuhan stainless steel.

Strategi Produktivitas dan Ketahanan Bisnis

MINE menempatkan produktivitas sebagai inti strategi. Setiap aspek operasional, termasuk downtime, dipantau ketat untuk menjaga efisiensi.

Di sisi lain, perusahaan mulai mendorong diversifikasi proyek lintas komoditas. Tujuannya jelas: mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor.

Dalam beberapa tahun terakhir, pola ini terlihat di banyak perusahaan tambang. Yang bertahan bukan yang terbesar, tapi yang paling adaptif terhadap perubahan pasar.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Kuartal III-2025, LION Cetak Pendapatan Rp243,61 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
PT Lion Metal Works Tbk (LION) menggelar Public Expose Insidentil pada Jumat (13/2/2026) guna menjawab pertanyaan publik terkait volatilitas tajam harga saham perseroan dalam beberapa pekan terakhir.

Langkah ini diambil menyusul keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham LION pada 10 Februari 2026 lalu. 

Dalam paparan virtual tersebut, Direktur LION, Lawer Supendi, menegaskan bahwa lonjakan harga saham murni merupakan dinamika pasar dan bukan dipicu oleh aksi korporasi yang belum terungkap.

Berdasarkan laporan keuangan Kuartal III-2025, perseroan menghadapi tantangan cukup berat. Pendapatan LION tercatat Rp243,61 miliar, menyusut 16,93% dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp293,25 miliar.

Penurunan top line ini berdampak langsung pada profitabilitas. LION membukukan rugi bersih Rp26,10 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan posisi September 2024 yang masih mencatatkan laba bersih Rp2,28 miliar.

Menghadapi situasi tersebut, LION menyiapkan peta jalan transformasi operasional untuk tahun buku 2026. Fokus utama perseroan adalah modernisasi lini produksi guna memangkas biaya dan meningkatkan presisi produk.

Beberapa langkah strategis yang tengah berjalan meliputi:
 • Modernisasi Teknologi: Pengadaan mesin laser cutting dan implementasi sistem pengelasan robotik.
 • Monetisasi Lahan: Melalui anak usaha PT Singa Purwakarta Jaya, perseroan mengoptimalkan aset properti di kawasan industri Purwakarta untuk memperkuat arus kas (cash flow).

"Perseroan berkomitmen penuh pada efisiensi operasional guna memulihkan performa keuangan di tahun ini," tutupnya.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini