PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) mencatat penurunan pendapatan sepanjang 2025 di tengah tekanan bisnis transportasi darat dan angkutan barang. Dalam Paparan Publik di Jakarta, Rabu, 11 Mei 2026, perusahaan membukukan pendapatan bersih Rp63.279 juta atau turun 4,2 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp66.023 juta.
Direktur MIRA, Darminto, mengatakan penurunan pendapatan belum sepenuhnya menekan operasional perusahaan. Perseroan masih mampu memperbaiki laba bruto secara signifikan menjadi Rp7.361 juta, dari sebelumnya hanya Rp128 juta pada 2024. Namun, rugi tahun berjalan justru meningkat menjadi Rp9.178 juta.
Tekanan Bisnis Transportasi Masih Terasa
Di sektor transportasi darat, kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Pelaku industri kerap menghadapi biaya operasional yang bergerak cepat, mulai dari harga suku cadang hingga beban logistik yang terus naik. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan angkutan juga dipaksa lebih disiplin mengatur arus kas.
MIRA mencatat EBITDA turun menjadi Rp5.149 juta dibandingkan Rp6.096 juta pada tahun sebelumnya. Meski demikian, rugi usaha membaik dari Rp4.644 juta menjadi Rp4.131 juta.
“Perseroan tetap optimis akan keberlangsungan industri transportasi darat mengingat pertumbuhan perekonomian sangat membutuhkan peran transportasi angkutan barang,” ujarnya.
Di sisi neraca, total aset perusahaan mencapai Rp233.564 juta. Nilai tersebut terdiri dari aset lancar Rp35.068 juta dan aset tidak lancar Rp198.496 juta. Adapun total liabilitas tercatat Rp88.227 juta dengan ekuitas sebesar Rp145.337 juta.
Infrastruktur Jadi Andalan Pertumbuhan
Manajemen MIRA menilai peluang industri transportasi truk masih terbuka lebar, terutama untuk distribusi material konstruksi dan semen. Pemerintah yang masih mendorong pembangunan infrastruktur dinilai menjadi ruang tumbuh baru bagi bisnis angkutan barang.
Perseroan juga mulai menata ulang jalur distribusi agar lebih efisien. Strategi itu ditempuh lewat peningkatan utilisasi armada, pembukaan rute baru, hingga pengendalian biaya administrasi dan operasional.
Rasio laba bruto terhadap pendapatan bersih ikut melonjak menjadi 11,63 persen dari sebelumnya 0,19 persen. Namun current ratio perusahaan masih berada di level 0,68, mencerminkan tekanan likuiditas jangka pendek yang belum sepenuhnya pulih.
Bagi industri transportasi, efisiensi kini bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Banyak operator truk mulai sadar, keuntungan kecil tetap bisa bertahan jika biaya berhasil ditekan secara ketat.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar