PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mencatat laba bersih Rp83,68 miliar sepanjang kuartal I 2026. Angka itu tumbuh 6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp78,96 miliar.
Kenaikan laba terjadi di tengah lonjakan pendapatan perusahaan yang hampir dua kali lipat. Perseroan juga mengklaim mampu menjaga efisiensi operasional saat biaya produksi dan aktivitas bisnis meningkat tajam.
Dalam paparan publik usai RUPS Tahunan di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026, Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis PT Cisadane Sawit Raya Tbk, Seman Sendjaja, mengatakan pertumbuhan ditopang peningkatan penjualan dan pengendalian beban usaha.
“Peningkatan laba didorong kenaikan penjualan dan efisiensi beban usaha di tengah peningkatan aktivitas operasional,” ujar Seman Sendjaja dalam paparan publik tersebut.
Pendapatan perusahaan tercatat melonjak menjadi Rp541,32 miliar. Nilai itu naik 96,6 persen dibandingkan Rp275,39 miliar pada kuartal I 2025.
Namun, lonjakan penjualan ikut diiringi kenaikan beban pokok penjualan menjadi Rp427,98 miliar. Angka tersebut meningkat 177,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Beban Produksi Naik, Margin Laba Bruto Tertekan
Kenaikan biaya produksi membuat laba bruto perusahaan turun 6,5 persen menjadi Rp113,34 miliar. Pada periode sama tahun lalu, laba bruto CSRA masih berada di level Rp121,18 miliar.
Situasi ini lazim terjadi di industri sawit ketika volume produksi meningkat bersamaan dengan kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional kebun.
Seorang analis perkebunan di Jakarta pernah menyebut, tantangan perusahaan sawit saat ini bukan hanya menjaga produksi, tetapi mempertahankan margin keuntungan ketika biaya terus bergerak naik.
Meski begitu, arus kas operasional perusahaan justru menguat. CSRA membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp96,07 miliar, naik 57,8 persen dibandingkan Rp60,89 miliar tahun sebelumnya.
CSRA Fokus Mekanisasi dan Ekspansi Lahan
Peningkatan arus kas didorong penerimaan pelanggan yang mencapai Rp567,55 miliar. Nilai itu hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal I 2025.
Di sisi lain, arus kas investasi tercatat negatif Rp69,47 miliar akibat penambahan aset tetap dan tanaman produktif. Perseroan juga mengalokasikan dana untuk pembayaran utang bank dan liabilitas pembiayaan.
Per 31 Maret 2026, total aset perusahaan mencapai Rp2,64 triliun. Ekuitas naik menjadi Rp1,55 triliun, mencerminkan penguatan struktur keuangan perusahaan.
Ke depan, CSRA menargetkan peningkatan produksi tandan buah segar, optimalisasi mekanisasi panen, serta perluasan landbank di Sumatera Selatan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar