PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) mencatat penurunan laba bersih cukup dalam sepanjang 2025. Emiten batu bara itu hanya membukukan laba Rp213,27 miliar, turun 67,7 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp658,7 miliar.
Penurunan itu dipaparkan Direktur Utama SGER, Welly Thomas, dalam Public Expose di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Pelemahan harga komoditas serta penurunan volume perdagangan batu bara menjadi tekanan utama terhadap pendapatan perusahaan sepanjang tahun lalu.
Pendapatan Batu Bara Turun Tajam
Sepanjang Januari-Desember 2025, pendapatan bersih SGER tercatat Rp6,74 triliun. Angka itu merosot 54,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp14,76 triliun.
Turunnya pendapatan ikut menyeret laba bruto perusahaan. SGER hanya membukukan laba bruto Rp536,94 miliar, turun hampir separuh dari posisi 2024 sebesar Rp1,03 triliun.
Di sektor tambang, kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Seorang pelaku pasar pernah menyebut bisnis batu bara mirip ombak laut; ketika harga tinggi semua tampak mudah, tetapi saat siklus turun, perusahaan harus bertarung menjaga napas kas.
Laba sebelum pajak penghasilan SGER juga turun tajam menjadi Rp238,26 miliar. Setelah dikurangi pajak neto Rp30,47 miliar, laba tahun berjalan perusahaan tercatat Rp207,79 miliar.
Meski laba menyusut, perusahaan masih menjaga pertumbuhan aset. Total aset SGER hingga akhir 2025 mencapai Rp5,64 triliun atau naik 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kas dan bank perusahaan juga meningkat signifikan menjadi Rp361,27 miliar dari sebelumnya Rp150,24 miliar. Namun, kenaikan liabilitas hingga Rp3,28 triliun menunjukkan tekanan pembiayaan masih cukup besar.
SGER Cari Nafas Baru di Luar Batu Bara
Manajemen SGER mulai menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki kinerja pada 2026. Salah satunya dengan memperluas pasar ekspor melalui kerja sama perdagangan dengan Vietnam dan Bangladesh.
Perseroan juga mulai mendorong diversifikasi bisnis non-batu bara, termasuk penjualan manganese ore dan petroleum coke. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.
Welly Thomas mengatakan perusahaan menargetkan volume penjualan 2026 tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan 2025. Target itu akan ditopang perluasan jaringan pemasok dan pembeli di pasar domestik maupun internasional.
Di tengah perlambatan industri, strategi diversifikasi mulai menjadi jalan yang banyak ditempuh emiten energi. Investor kini bukan hanya melihat besar kecilnya laba, tetapi juga kemampuan perusahaan bertahan saat siklus komoditas berubah arah.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar