PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) menghadapi tekanan kinerja sepanjang tahun buku 2025. Emiten transportasi itu membukukan pendapatan Rp 73,90 miliar, turun 26,62 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 100,71 miliar.
Kontraksi pendapatan langsung menggerus laba bersih perusahaan. JAYA hanya mencatat laba tahun berjalan Rp 4,48 miliar atau turun 27,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,15 miliar. Di saat bersamaan, perusahaan justru memperbesar ekspansi aset dan utang secara agresif.
Ekspansi Besar, Margin Keuntungan Menyusut
Direktur Utama JAYA, Darmawan Suryadi, mengatakan penurunan pendapatan berdampak langsung terhadap laba perusahaan.
“Penurunan pendapatan ini berdampak pada laba tahun berjalan yang tercatat sebesar Rp 4,48 miliar,” ujar Darmawan dalam Public Expose di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Namun persoalan JAYA bukan sekadar penjualan yang melemah. Dari laporan kinerja perusahaan, tekanan paling terasa justru datang dari sisi pembiayaan. Beban bunga melonjak 82,96 persen menjadi Rp 5,86 miliar.
Kenaikan biaya bunga sebesar itu biasanya menjadi sinyal klasik bahwa ekspansi perusahaan mulai bertumpu pada leverage yang cukup tinggi. Dalam industri transportasi, pola semacam ini kerap muncul ketika perusahaan buru-buru memperbesar armada saat permintaan pasar belum sepenuhnya pulih.
Laba usaha JAYA tercatat turun 26,80 persen menjadi Rp 8,70 miliar. Sementara laba bruto hanya turun tipis 2,14 persen menjadi Rp 33,29 miliar. Angka ini menunjukkan efisiensi operasional masih relatif terjaga, tetapi tekanan biaya keuangan mulai memakan ruang keuntungan bersih.
Di kalangan pelaku pasar, situasi seperti ini sering dibaca sebagai fase “bertaruh pada pertumbuhan”. Perseroan memperbesar kapasitas sekarang dengan harapan volume bisnis beberapa tahun mendatang mampu menutup beban utang hari ini.
Utang Melonjak, Diversifikasi Bisnis Dipercepat
Sepanjang 2025, total aset JAYA melonjak 71,90 persen menjadi Rp 378,17 miliar. Tetapi kenaikan itu diikuti lonjakan liabilitas yang jauh lebih tinggi, yakni 164 persen menjadi Rp 253,88 miliar.
Sementara ekuitas hanya tumbuh tipis 0,38 persen. Struktur ini memperlihatkan sebagian besar ekspansi perusahaan ditopang pinjaman dan kewajiban baru.
Perseroan memang sedang memperluas lini usaha. Selain menambah armada, JAYA membentuk PT Jaya Bae Nusantara dan PT Prima Bae Nusantara di sektor angkutan.
Perusahaan juga masuk ke bisnis kendaraan bekas melalui PT Maju Bae Makmur dan memperluas sektor properti lewat PT Aman Bae Jaya.
Anak usaha PT Aman Bae Sentosa tercatat memiliki 11 villa dan dua bidang tanah di Bali. Sedangkan PT Aman Bae Perkasa mengembangkan proyek Perumahan Sindang Mulya Cibarusah di Kabupaten Bekasi.
Diversifikasi ini memperlihatkan JAYA tidak lagi hanya mengandalkan bisnis transportasi. Namun tantangan terbesar perseroan ke depan adalah memastikan ekspansi tersebut benar-benar menghasilkan arus kas baru, bukan sekadar memperbesar beban pembiayaan.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto











Tidak ada komentar:
Posting Komentar