PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menutup tahun buku 2025 dengan laba bersih Rp17,8 triliun di tengah tekanan industri telekomunikasi dan perlambatan ekonomi. Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun dengan EBITDA Rp72,2 triliun sepanjang 2025.
Kinerja itu muncul bersamaan dengan percepatan strategi transformasi TLKM 30 yang mulai dijalankan lebih agresif sejak tahun lalu. Pasar merespons positif langkah tersebut. Total Shareholder Return (TSR) Telkom tercatat mencapai 35,7 persen sepanjang 2025.
Di kalangan investor pasar modal, saham Telkom memang sempat dipandang bergerak “aman tapi lambat”. Namun situasinya berubah sejak perusahaan mulai fokus merapikan portofolio bisnis dan memperjelas arah transformasi digital. Seorang analis telekomunikasi bahkan menyebut pasar mulai melihat Telkom lebih disiplin dalam mengelola aset dan belanja modal.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan strategi TLKM 30 menjadi fondasi utama transformasi perusahaan.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” ujar Dian.
Restrukturisasi Bisnis Mulai Diarahkan Lebih Fokus
Melalui TLKM 30, Telkom menjalankan empat pilar transformasi, mulai dari penguatan tata kelola, perampingan bisnis noninti, optimalisasi aset, hingga perubahan model holding menjadi strategic holding.
Langkah streamlining mulai terlihat lewat proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026. Telkom juga mulai merampingkan sejumlah entitas yang dinilai tidak lagi selaras dengan bisnis utama telekomunikasi digital.
Di sisi lain, perusahaan melakukan pemisahan sebagian aset Wholesale Fiber Connectivity ke InfraNexia. Langkah itu ditandai lewat penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025.
Telkom juga mengubah pendekatan bisnis dari operating holding menjadi strategic holding. Nantinya, operasional usaha akan difokuskan ke empat segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Bisnis Data Dan Infrastruktur Masih Jadi Penopang
Segmen B2C melalui Telkomsel masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan capaian Rp109,2 triliun. Trafik data tumbuh 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.
Sementara itu, bisnis infrastruktur digital ikut menopang pertumbuhan. TelkomGroup kini memiliki backbone serat optik lebih dari 210 ribu kilometer, jaringan data center, hingga konektivitas satelit untuk wilayah blank spot.
Anak usaha menara telekomunikasi Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin mencapai 82,2 persen. Adapun bisnis data center dikelola melalui NeutraDC yang mengoperasikan fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura.
Telkom mengalokasikan belanja modal Rp27,5 triliun sepanjang 2025. Mayoritas dana digunakan untuk memperkuat infrastruktur digital dan memperluas konektivitas nasional.
“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi,” kata Dian.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar