Universitas Pelita Harapan (UPH) menjadi ruang dialektika yang mempertemukan nilai spiritualitas, pendidikan, dan visi kebangsaan. Lewat Seminar Nasional bertajuk “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga,” Selasa (03/02/2026), pesan mendalam tentang pemulihan bergema di Karawaci.
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, James T. Riady, membuka sesi dengan refleksi yang menyentuh sisi eksistensial manusia. Mengutip kisah Alkitab tentang penyembuhan orang lumpuh, ia mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada solusi fisik semata.
"Yesus melihat sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia memberikan pengampunan dosa sebelum menyembuhkan tubuh," ujar James. Baginya, pemulihan hubungan manusia dengan Allah adalah mukjizat yang bersifat kekal.
James menegaskan bahwa realitas sejati terletak pada aspek rohani. Sektor kesehatan dan pendidikan yang dikelola yayasannya dipandang sebagai jembatan untuk membawa manusia pada pengharapan yang lebih besar.
Di sisi lain, nuansa kebangsaan hadir lewat paparan Menteri PKP, Maruarar Sirait. Ia membawa pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai urgensi penguatan sains, teknologi, dan hilirisasi sumber daya alam.
"Kita tidak boleh lagi menjual kekayaan alam secara mentah. Hilirisasi harus berjalan agar Indonesia menjadi negara yang super kuat dan tidak didikte pihak asing," tegas Maruarar di hadapan sivitas akademika.
Maruarar meyakini, di bawah nakhoda Menteri Pendidikan Tinggi Prof. Brian Yuliarto, riset nasional akan semakin taji. Ia juga menyinggung pentingnya integritas dan keberanian moral bagi generasi muda lulusan UPH.
Menariknya, Maruarar berbagi testimoni personal sebagai orang tua siswa di Sekolah Pelita Harapan (SPH). Ia menyoroti kuatnya ikatan *brotherhood* dan nilai-nilai karakter yang dibentuk sejak masa sekolah.
"Banyak orang tahu hal benar, tapi sedikit yang berani melakukannya. UPH harus mencetak generasi dengan toleransi nol terhadap kompromi nilai," tambahnya dengan nada persuasif.
Terkait agenda Natal Nasional 2025, Maruarar yang menjabat sebagai Ketua Panitia menekankan konsep kesederhanaan. Mengikuti arahan Presiden, perayaan tahun ini meninggalkan kemewahan demi dampak langsung bagi masyarakat luas.
Aksi nyata tersebut mewujud dalam renovasi 100 gereja, pembangunan dua jembatan di Papua, hingga distribusi 30.000 Alkitab. "Tidak ada artis nasional. Kami melibatkan UMKM dan seniman daerah agar Natal ini benar-benar terasa manfaatnya," jelasnya.
Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, menyambut hangat sinergi ini. Ia merasa terhormat UPH menjadi tuan rumah penutup rangkaian seminar Natal Nasional yang berfokus pada penguatan institusi keluarga.
"Pendidikan harus dimulai dari keluarga. Kami berkomitmen menjadikan UPH sebagai alat untuk memajukan bangsa lewat integrasi iman dan intelektualitas," ungkap Rektor Parapak dengan penuh syukur.
Seminar ini ditutup dengan kehadiran tokoh lintas perspektif, termasuk Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar dan Prof. Brian Yuliarto. Sebuah momentum yang mempertegas bahwa masa depan bangsa berakar pada keluarga yang kuat dan pendidikan yang berintegritas.
Reporter Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar