Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T Koentjoro, membuka Forum Nasional Perempuan Indonesia 2026 yang dihadiri sekitar 200 perwakilan dari berbagai daerah, Rabu (6/5/2026). Forum ini menjadi ruang merumuskan program kerja nasional yang akan dibawa ke Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026.
Kegiatan yang berlangsung dua hari ini tak sekadar seremonial. PIM menargetkan hasil diskusi menjadi rekomendasi konkret yang akan diserahkan kepada pemerintah sebagai bahan kebijakan terkait pemberdayaan perempuan di berbagai sektor.
Perempuan, Pilar Ketahanan Bangsa
Lana menegaskan tema utama forum, yakni Peran Perempuan Menjaga Ketahanan Bangsa, bukan sekadar slogan. Ia menyebut perempuan memiliki posisi strategis, mulai dari lingkup keluarga hingga kebijakan publik.
“Perempuan adalah pilar keluarga dan bangsa. Kita bahas ekonomi keluarga, pendidikan, kehutanan, sampai sosial budaya,” ujar Lana.
Diskusi berlangsung dari pagi hingga sore, dengan pendekatan lintas sektor. Dari pengalaman liputan sebelumnya, pola seperti ini sering jadi titik temu antara idealisme organisasi dan realitas lapangan—terutama soal ekonomi keluarga yang masih jadi isu paling konkret.
Menariknya, forum ini juga membuka ruang bagi isu perlindungan perempuan, baik di ranah kerja maupun domestik. Lana memastikan masukan dari organisasi penguatan perempuan akan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan.
UMKM dan Adaptasi Teknologi Jadi Sorotan
Di luar ruang forum, geliat ekonomi terlihat dari kehadiran pelaku UMKM. Produk-produk lokal dipamerkan, bahkan sebagian sudah menembus pasar internasional. Ini bukan sekadar pelengkap acara, melainkan bagian dari strategi penguatan ekonomi perempuan.
Saya sempat melihat pola serupa di beberapa forum ekonomi sebelumnya: UMKM sering jadi “wajah depan” pemberdayaan, tapi tantangannya tetap di akses pasar dan konsistensi produksi.
Simbol robot yang ditampilkan dalam forum juga menarik perhatian. Lana menjelaskan, itu menjadi pesan bahwa perempuan harus adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Kalau ingin maju, kita harus mengikuti zaman,” katanya.
Pada akhirnya, forum ini tak bicara soal kesetaraan dalam narasi besar saja. PIM mencoba menekankan hal yang lebih praktis: bagaimana perempuan tetap berpikir maju, relevan, dan punya daya saing di tengah perubahan cepat.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar