Keyakinan jutaan orang tua bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak cukup lewat grup WhatsApp dipatahkan. Prof. Imas Maesaroh menilai pola ini keliru dan berisiko menghambat perkembangan akademik anak.
Peringatan itu disampaikan dalam talkshow EduFun East di Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Kamis (30/4/2026). Forum ini mempertemukan sekolah dan orang tua, membahas kolaborasi konkret demi prestasi siswa di tengah momentum ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi.
WhatsApp Bukan Solusi Komunikasi Pendidikan
“WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan,” ujar Prof. Imas Maesaroh, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ia menilai, penggunaan WhatsApp hanya solusi darurat karena ketiadaan sistem yang lebih tepat. Akibatnya, komunikasi antara sekolah dan orang tua menjadi dangkal dan terlambat.
Saya pernah mendengar keluhan serupa dari seorang orang tua di Jakarta. Ia merasa aktif karena selalu membaca grup kelas, tapi baru tahu anaknya bermasalah saat rapor dibagikan. Terlambat.
Masalah utamanya bukan niat, melainkan sistem. Grup WhatsApp tidak mampu menangkap sinyal awal penurunan nilai, absensi, atau masalah disiplin.
Lima kelemahan utama disorot: informasi bersifat umum, pesan penting tenggelam, isu sensitif tak layak dibuka, tidak terhubung data akademik, dan notifikasi berlebihan justru membebani.
Riset Global: Informasi Rutin Dongkrak Prestasi
Prof. Imas merujuk riset Profesor Peter Bergman (2021). Orang tua yang menerima laporan rutin dua mingguan melihat peningkatan signifikan prestasi anak.
Dari peringkat 30, siswa bisa naik ke 10 atau 15. Sebaliknya, tanpa informasi rutin, tidak ada perubahan berarti.
Penelitian lanjutan di West Virginia mencatat penurunan kegagalan pelajaran hingga 27 persen dan peningkatan kehadiran 12 persen.
Temuan serupa muncul di Chile (2024). Artinya, pola ini relevan juga untuk Indonesia.
“Komunikasi rutin dan akurat langsung berdampak pada karakter dan kompetensi anak,” kata Imas.
Sistem Terintegrasi Jadi Kunci
Menurut Imas, orang tua berhak mendapat empat informasi utama: kehadiran real-time, nilai akademik, aktivitas ekstrakurikuler, dan pengawasan kegiatan luar sekolah.
Namun, beban guru membuat komunikasi personal harian tidak realistis.
Solusinya adalah sistem otomatis berbasis platform terintegrasi. Contohnya, aplikasi akademik yang mengirim notifikasi langsung ke orang tua.
Dalam praktiknya, orang tua bisa langsung tahu anak tidak masuk kelas hari itu, tanpa menunggu laporan akhir semester.
Di titik ini, pertanyaan sederhana menjadi penting: seberapa cepat sekolah memberi informasi kritis? Jawaban itu mencerminkan kualitas sistem pendidikan yang dijalankan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto






























