Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id

Paguyuban Peniron Kebumen Gelar Halal Bihalal Jakarta


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen di perantauan menggelar Halal Bihalal, gelar seni budaya, dan bazar UMKM di Jakarta, Minggu, 19 April 2025. Kegiatan ini diikuti warga dari Jabodetabek, Bandung, hingga Banten.

Acara tahunan ini bertujuan memperkuat silaturahmi antarperantau sekaligus menggerakkan ekonomi warga melalui sektor UMKM yang ikut meramaikan kegiatan.

Silaturahmi dan Konsolidasi Warga Perantauan

Ketua Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen, Sarwadi, menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan dalam komunitas perantau. “Kegiatan ini rutin kami gelar untuk mempererat hubungan dan menjaga kekompakan warga Peniron di luar daerah,” ujarnya.

Menurut dia, partisipasi warga cukup tinggi meski belum sepenuhnya hadir sejak awal acara. Sekitar 65 persen peserta tercatat sudah datang, sementara lainnya masih dalam perjalanan.

Dalam praktiknya, paguyuban ini terdiri dari sejumlah kelompok wilayah seperti Watu Cagak Franji, Perwaji, hingga Karangduren. Total sekitar 10 kelompok masih aktif dari sebelumnya 14 kelompok.

Saya sempat berbincang dengan salah satu peserta yang datang dari Tangerang. Ia mengaku acara seperti ini bukan sekadar temu kangen, tapi juga ruang membangun jaringan sosial. “Kadang dari sini bisa dapat relasi kerja atau usaha,” katanya.

UMKM dan Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Komunitas

Selain silaturahmi, kegiatan ini juga menampilkan seni budaya dari Sanggar Tri Manunggal Sari serta bazar UMKM yang didukung Geo UMKM.

Stan UMKM terlihat penuh sejak pagi. Produk makanan hingga kerajinan lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang bersama keluarga.

Sarwadi berharap kegiatan ini memberi dampak ekonomi langsung bagi warga. “Kami ingin UMKM yang ikut bisa berkembang dan mendapatkan rezeki yang berkah,” ujarnya.

Di sisi lain, acara ini juga menjadi ruang pelestarian budaya daerah. Pertunjukan seni tradisional dihadirkan untuk menjaga identitas asal di tengah kehidupan kota besar.

Seorang pengunjung lain mengaku datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga mencari produk khas kampung halaman. “Rasanya seperti pulang sebentar,” ujarnya sambil tersenyum.

Paguyuban menilai kegiatan ini akan terus dilanjutkan setiap tahun. Selain menjaga hubungan sosial, forum ini juga menjadi sarana diskusi bersama jika muncul persoalan di antara warga.

Dengan model kolaborasi antar kelompok, paguyuban berharap semakin banyak warga Peniron di perantauan bergabung dan memperkuat solidaritas komunitas.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Dadiyono Hadiri Halal Bihalal Peniron Kebumen Jakarta


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar, Dadiyono, menghadiri Halal Bihalal Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen di Jakarta, Minggu, 19 April 2025. Ia menyoroti pentingnya menjaga solidaritas warga perantauan.

Acara yang diikuti warga dari Jabodetabek, Bandung, hingga Banten ini juga dirangkaikan dengan gelar seni budaya dan bazar UMKM sebagai penggerak ekonomi komunitas.

Dadiyono Tekankan Soliditas dan Peran Politik

Dalam sambutannya, Dadiyono mengapresiasi konsistensi warga Peniron dalam menjaga budaya dan kebersamaan di perantauan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata “nguri-uri” tradisi daerah.

“Ini luar biasa, semangat kebersamaan warga Peniron di perantauan tetap terjaga,” ujar Dadiyono di hadapan peserta.

Ia juga menyinggung pentingnya keterwakilan politik bagi daerah asal. Menurut dia, Peniron membutuhkan figur yang bisa memperjuangkan aspirasi di level legislatif.

“Peniron butuh sosok yang duduk di DPRD. Kalau ada yang siap, partai siap memfasilitasi,” ujarnya, disambut respons peserta yang antusias.

Saya sempat berdiri di barisan tengah saat momen itu. Reaksi audiens terasa spontan—bukan sekadar seremoni, tapi ada harapan nyata soal representasi daerah.

Tantangan Anggaran dan Harapan bagi Desa

Dadiyono juga menyoroti keterbatasan anggaran desa yang diperkirakan semakin ketat ke depan. Ia meminta pemerintah desa aktif membangun komunikasi dengan pemerintah daerah hingga pusat.

“Ruang fiskal makin terbatas. Tapi komunikasi dan ikhtiar harus tetap jalan,” katanya.

Menurut dia, peran DPRD menjadi penting untuk menjembatani aspirasi warga, termasuk masyarakat perantauan yang tinggal di Jakarta.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa Jakarta sebagai kota majemuk harus menjadi ruang bersama bagi semua latar belakang, termasuk warga asal Kebumen.

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh paguyuban seperti Ketua Panitia Suradi, Ketua PKB PK Suwarti, serta sesepuh Sukarjo.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi melalui UMKM dan memperkuat identitas budaya daerah di tengah kehidupan kota besar.

Seorang peserta yang saya temui di area bazar mengaku datang bukan hanya untuk bertemu kerabat. “Ini tempat kami merasa tetap punya akar, walau hidup di Jakarta,” ujarnya.

Paguyuban berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun sebagai ruang konsolidasi sosial dan ekonomi warga Peniron di perantauan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Bank Indonesia Uji CBDC, Apa Risiko Rupiah Digital


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Bank Indonesia mulai menguji coba rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) secara terbatas sejak 2025. Program ini bagian dari Proyek Garuda yang diluncurkan pada 2022 sebagai fondasi sistem pembayaran masa depan.

CBDC berbeda dari dompet digital seperti GoPay atau QRIS. Ini adalah uang resmi yang diterbitkan langsung oleh bank sentral, dengan karakteristik bisa dilacak dan berpotensi diprogram.

Proyek Garuda dan Arah Baru Sistem Pembayaran

Bank Indonesia menempatkan CBDC sebagai prioritas dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025–2030. Uji coba ritel kini mulai diperluas, meski masih dalam tahap awal.

Secara global, tren ini bukan hal baru. Lebih dari 80 persen bank sentral dunia tengah mengkaji atau mengembangkan CBDC. China, Nigeria, dan Bahama sudah lebih dulu melangkah.

Saya sempat berbincang dengan seorang pelaku UMKM di Jakarta. Ia mengira QRIS sudah cukup “canggih”. Begitu dijelaskan soal CBDC, reaksinya sederhana: “Berarti semua transaksi saya nanti kelihatan?”

Di situlah perbedaannya terasa. Uang tunai bersifat anonim. CBDC, sebaliknya, meninggalkan jejak digital yang sistematis.

Antara Efisiensi dan Kontrol Data

CBDC menawarkan efisiensi: transaksi cepat, biaya rendah, dan distribusi bantuan sosial lebih tepat sasaran. Namun ada sisi lain yang mulai diperdebatkan.

Konsep “programmable money” memungkinkan uang diberi batas penggunaan. Misalnya hanya untuk kebutuhan tertentu atau memiliki masa berlaku.

Di sisi kebijakan, ini memberi alat baru bagi bank sentral untuk mengatur ekonomi. Tapi di sisi pengguna, muncul kekhawatiran soal privasi dan kontrol.

Indonesia juga terlibat dalam proyek lintas negara seperti mBridge bersama China, Hong Kong, Thailand, dan Uni Emirat Arab. Tujuannya mempercepat transaksi internasional berbasis CBDC.

Namun integrasi ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: sejauh mana kedaulatan data finansial tetap terjaga?

Pengalaman Nigeria menjadi contoh yang sering disorot. Pembatasan uang tunai untuk mendorong adopsi digital sempat memicu protes publik.

Pilihan yang Mulai Menyempit

Hari ini, masyarakat masih punya opsi menggunakan uang tunai. Transaksi tanpa jejak masih dimungkinkan, terutama di sektor informal.

Namun dengan arah kebijakan menuju digitalisasi penuh, ruang itu perlahan menyempit. Ini bukan sekadar soal teknologi, tapi perubahan struktur ekonomi.

Seorang rekan jurnalis pernah berkelakar, “Dulu kita takut dompet hilang, sekarang takut data bocor.” Kalimat itu terasa makin relevan di era digital.

CBDC hampir pasti akan menjadi bagian dari sistem keuangan Indonesia. Pertanyaannya bukan lagi “apakah”, melainkan “seberapa siap masyarakat memahami risikonya”.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Strategi Karier Anti Diinjak: Cara Bertahan di Kantor


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena pekerja kompeten namun kariernya stagnan kembali jadi sorotan. Banyak karyawan merasa sudah bekerja keras, tetapi tetap sulit naik posisi atau justru tersisih di lingkungan kerja.

Situasi ini bukan semata soal kemampuan teknis. Ada dinamika kekuasaan tak tertulis di kantor yang kerap luput dipahami, padahal menentukan arah karier seseorang.

Dinamika Kekuasaan Tersembunyi di Lingkungan Kerja

Di banyak organisasi, relasi kerja tidak selalu berjalan linier. Hierarki formal sering dibarengi “politik kantor” yang memengaruhi keputusan promosi hingga distribusi proyek strategis.

Salah satu pola yang kerap muncul adalah ketegangan antara atasan dan bawahan yang terlalu menonjol. Karyawan berprestasi justru bisa dianggap ancaman bila tidak dikelola dengan tepat.

Seorang manajer HR di Jakarta pernah bercerita, karyawan terbaik di timnya justru gagal promosi karena dinilai “tidak memberi ruang” bagi atasannya. Penilaian subjektif seperti ini sering tak tertulis, tapi berdampak nyata.

Dalam praktiknya, pekerja yang cerdas membaca situasi cenderung lebih bertahan. Mereka tahu kapan harus tampil dan kapan perlu menahan diri.

Strategi Bertahan: Antara Reputasi dan Kendali Diri

Selain relasi dengan atasan, faktor lain adalah pengelolaan informasi. Tidak semua hal perlu dibagikan, bahkan kepada rekan dekat sekalipun.

Lingkungan kerja kompetitif membuat batas antara kolaborasi dan persaingan menjadi tipis. Keberhasilan satu orang bisa memicu kecemburuan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Saya pernah menemui kasus sederhana. Seorang rekan terlalu terbuka soal rencana pindah divisi. Dalam hitungan minggu, peluang itu justru diambil orang lain yang lebih dulu bergerak diam-diam.

Di titik ini, reputasi menjadi aset utama. Sekali citra profesional terganggu—baik karena ucapan atau sikap—dampaknya bisa panjang dan sulit dipulihkan.

Di sisi lain, ketenangan juga memainkan peran penting. Individu yang tidak terlihat tergesa-gesa cenderung dianggap lebih matang dan memiliki kontrol atas situasi.

Fleksibilitas menjadi kunci berikutnya. Lingkungan kerja terus berubah, dan pendekatan yang kaku justru membuat seseorang mudah tersingkir.

Strategi adaptif—termasuk kemampuan membaca situasi dan, dalam kondisi tertentu, meredam ego—sering kali lebih efektif dibanding sekadar kerja keras.

Pada akhirnya, realitas dunia kerja tidak selalu berpihak pada “yang paling baik”. Pertanyaannya sederhana: apakah ingin tetap idealis tanpa strategi, atau mulai memahami cara bertahan tanpa kehilangan integritas.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 


Share:

BSSN Dorong Blueprint Transformasi Digital Industri


Duta Nusantara Merdeka | Cikarang 
Kolaborasi BSSN RI, APTIKNAS, APKOMINDO, APINDO DPK Kabupaten Bekasi, dan YORINDO Communication menggelar roadshow di Cikarang, Kamis (9/4/2026). Agenda ini fokus mempercepat blueprint transformasi digital industri manufaktur nasional.

Acara bertajuk ““AI Driven Secure & Efficient: Engineering the Digital Transformation Blueprint” ini menjadi kota ketiga dalam rangkaian 10 kota. Cikarang dipilih karena posisinya sebagai pusat manufaktur yang menopang rantai pasok nasional.

Blueprint Transformasi Digital Industri Mulai Diperjelas

Direktur YORINDO Communication, Yolanda Roring, menegaskan roadshow ini dirancang sebagai panduan praktis bagi pelaku industri. “Kami hadirkan ekosistem lengkap, dari keamanan siber hingga AI terapan,” ujarnya.

Dukungan datang dari Ketua APINDO DPK Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono. Ia menilai AI bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan untuk mendorong produktivitas dan daya saing global.

“Transformasi digital harus berdampak pada efisiensi nyata, termasuk sistem pengupahan berbasis produktivitas,” kata Yusuf dalam forum tersebut.

Saya sempat berbincang dengan salah satu peserta, manajer pabrik di kawasan Jababeka. Ia mengaku selama ini digitalisasi hanya sebatas ERP dasar. “Begitu lihat AI bisa otomatisasi workflow, baru terasa gap-nya jauh,” ujarnya.

Keamanan Siber dan Infrastruktur Jadi Sorotan

Dari sisi keamanan, Deputi BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menekankan pentingnya sistem pertahanan siber otonom. Menurut dia, ancaman digital kini bergerak lebih cepat dari respons manual.

“Autonomous defense menjadi kunci melindungi operasional industri kritis,” ujarnya. Pendekatan ini memungkinkan sistem merespons serangan tanpa menunggu intervensi manusia.

Sementara itu, Ketua Umum APTIKNAS sekaligus APKOMINDO, Soegiharto Santoso, menyoroti risiko “black box syndrome”. Ia mengingatkan adopsi AI tanpa fondasi infrastruktur kuat berpotensi menimbulkan ketergantungan.

“Pilihan harus jelas, apakah on-premise atau cloud lokal yang menjamin kedaulatan data,” kata Hoky, sapaan akrabnya.

Solusi konkret juga dipaparkan pelaku industri, mulai dari hingga Smartnetindo. Fokusnya pada integrasi AI, IoT, dan otomatisasi proses bisnis.

Di sesi akhir, peserta mengikuti workshop praktik integrasi sistem berbasis AI. Banyak yang baru menyadari bahwa transformasi digital bukan sekadar beli teknologi, tetapi mengubah cara kerja secara menyeluruh.

Roadshow ini akan berlanjut ke sejumlah kota industri lain hingga Juni 2026. Targetnya jelas: mempercepat kesiapan industri nasional menghadapi era AI dengan sistem yang aman dan terukur.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


 


Share:

Pernikahan Beda Usia Viral, Mahar Fantastis Picu Sorotan


Duta Nusantara Merdeka | Makassar 
Fenomena pernikahan beda usia viral kembali ramai di media sosial setelah video seorang perempuan 22 tahun menikah dengan pria 65 tahun tersebar luas, pekan ini. Peristiwa ini memicu perbincangan soal mahar dan dinamika relasi.

Dalam video tersebut, pernikahan berlangsung meriah. Namun fokus publik tertuju pada perubahan ekspresi pengantin wanita, dari wajah tertunduk menjadi senyum lebar setelah melihat isi mahar yang diberikan.

Mahar Fantastis di Balik Pernikahan Beda Usia Viral

Isi mahar yang beredar dalam narasi warganet disebut tidak biasa. Mulai dari emas puluhan gram, sertifikat tanah, saham, hingga perlengkapan pribadi yang diklaim sebagai kesukaan pengantin perempuan.

Narasi yang menyertai video bahkan menyebut seluruh harta diberikan kepada mempelai wanita. Meski belum terverifikasi, detail ini cepat membentuk persepsi publik.

Perubahan ekspresi sang pengantin menjadi titik dramatis. Dalam hitungan detik, wajah yang semula tampak kaku berubah menjadi lebih rileks dan tersenyum.

Saya teringat satu liputan lama tentang pernikahan di daerah tambang. Mahar bukan sekadar simbol, melainkan “jaminan masa depan” yang dibicarakan terbuka, bahkan sebelum akad dimulai.

Persepsi Publik, Relasi Kuasa, dan Realitas Sosial

Fenomena pernikahan beda usia ekstrem sering dibaca melalui lensa ekonomi. Komentar publik didominasi asumsi tentang motif finansial, bukan relasi personal kedua pihak.

Di sisi lain, muncul juga narasi empati yang lebih kompleks. Kalimat seperti “hidup bukan soal ingin, tapi terpaksa” beredar luas, mencerminkan realitas sosial sebagian masyarakat.

Pengalaman pribadi lain muncul saat berbincang dengan seorang perempuan yang menikah beda usia jauh. Ia bilang, pilihan itu bukan soal cinta semata, melainkan kombinasi kebutuhan, tekanan, dan kesempatan.

Media sosial, dalam kasus ini, bekerja seperti kaca pembesar. Satu momen ekspresi bisa diartikan berlapis-lapis, tanpa konteks utuh dari pelaku utama.

Hingga kini, tidak ada keterangan resmi dari pihak keluarga mengenai detail mahar maupun latar belakang pernikahan tersebut. Informasi yang beredar masih berbasis visual dan interpretasi.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Cara Memahami Aturan Sosial Agar Tidak Diremehkan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena orang mudah diremehkan kembali jadi sorotan dalam dinamika sosial modern, terutama di lingkungan kerja dan pergaulan profesional. Banyak individu dinilai kompeten secara teknis, namun tetap kesulitan mendapat respek karena tidak memahami aturan sosial tak tertulis yang menentukan cara orang lain memperlakukan mereka.

Situasi ini terjadi lintas usia dan profesi. Masalahnya bukan sekadar kemampuan, melainkan sinyal sosial yang dikirim—bagaimana seseorang menetapkan batas, berbicara, dan merespons tekanan dalam interaksi sehari-hari.

Peta Aturan Sosial yang Tak Pernah Diajarkan

Di sekolah, orang dilatih berpikir logis. Di kantor, mereka diasah secara teknis. Namun, satu hal sering terlewat: bagaimana manusia membaca kekuatan dalam interaksi sosial.

Dalam banyak situasi, keputusan dan perlakuan tidak sepenuhnya ditentukan oleh data atau kemampuan. Ada lapisan lain—cara seseorang membawa diri.

Saya pernah menyaksikan seorang rekan dengan analisis tajam justru diabaikan dalam rapat. Ia terlalu sering menjelaskan diri, bahkan sebelum dikritik. Tanpa sadar, itu memberi sinyal keraguan.

Sebaliknya, ada sosok lain yang lebih hemat bicara, tapi setiap kalimatnya diperhitungkan. Bukan karena lebih pintar, melainkan karena tahu kapan harus bicara dan kapan diam.

Ketika Sinyal Lebih Kuat dari Kata-Kata

Orang yang tidak memahami aturan sosial cenderung bereaksi berlebihan. Mereka cepat membela diri, takut dianggap salah, dan berusaha menyenangkan semua pihak.

Polanya berulang: terlalu mudah mengalah, terlalu banyak menjelaskan, dan sulit menetapkan batas. Akibatnya, orang lain membaca celah tersebut sebagai ruang untuk menekan.

Sebaliknya, mereka yang memahami dinamika ini tidak selalu dominan. Mereka justru lebih terukur. Mereka tahu kapan menarik diri, kapan menahan respons, dan kapan bersikap tegas.

Seorang analis muda pernah mengatakan, “Kadang bukan argumen yang menentukan, tapi bagaimana kita berdiri saat menyampaikannya.” Pengamatan itu terasa relevan di banyak situasi.

Dampak: Dari Diremehkan ke Dihormati

Perubahan perlakuan sosial sering kali bukan datang dari peningkatan kemampuan, melainkan dari perubahan sikap.

Saat seseorang berhenti mencari persetujuan semua orang, tidak lagi terburu-buru membela diri, dan mulai menetapkan batas yang jelas, respons lingkungan ikut berubah.

Rasa hormat dalam banyak kasus bukan lahir dari kebaikan semata, melainkan dari konsistensi sikap dan ketegasan batas.

Cara memahami aturan sosial agar tidak diremehkan menjadi kunci dalam membangun posisi yang lebih kuat, baik di tempat kerja maupun dalam relasi sehari-hari.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Membaca Peta Sosial Kantor, Kunci Menang di Dunia Kerja


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena peta sosial kantor yang lebih menentukan dibanding data kembali jadi sorotan dalam dinamika kerja modern. Di banyak organisasi, keputusan penting justru lahir dari relasi, bukan angka, terutama dalam situasi penuh kepentingan.

Dalam praktiknya, kemampuan membaca siapa berpengaruh, kapan bicara, dan bagaimana membangun aliansi sering kali lebih menentukan hasil dibanding analisis data yang presisi sekalipun.

Peta Sosial Kantor Lebih Kuat dari Data

Ada satu pola yang berulang di banyak ruang rapat: data sudah rapi, grafik sudah kuat, tapi keputusan tetap melenceng. Bukan karena datanya salah, melainkan karena “pembacanya” keliru.

Seorang manajer pernah bercerita, proposalnya ditolak mentah meski didukung angka solid. Beberapa minggu kemudian, ide serupa lolos—dibawa oleh orang yang lebih dekat dengan pengambil keputusan.

Di titik ini, peta sosial bekerja. Ia membaca hal yang tak tertulis: ego, kepentingan, dan relasi personal. Data tidak punya emosi. Manusia punya.

Orang yang piawai membaca jaringan sosial tahu kapan harus mendorong ide, dan kapan menahan diri. Bahkan sebelum rapat dimulai, arah keputusan sering sudah terbentuk lewat percakapan informal.

Ketika Pengaruh Mendahului Logika

Dalam banyak kasus, yang menentukan bukan siapa paling benar, melainkan siapa paling mampu membuat argumen terasa masuk akal bagi pihak yang berkuasa.

Di sinilah pengaruh menjadi mata uang utama. Mereka yang memahami struktur informal organisasi tahu siapa yang harus diajak bicara lebih dulu, siapa yang bisa menjadi penghambat diam-diam.

Ada juga strategi halus: memberi ilusi kendali kepada pihak tertentu agar resistensi menurun. Teknik ini sering dipakai tanpa disadari, tapi dampaknya nyata dalam keputusan akhir.

Pengalaman lain datang dari seorang analis muda. Ia mengaku lebih banyak belajar dari “mengamati dinamika rapat” ketimbang membaca laporan. “Kadang yang menentukan bukan isi presentasi, tapi siapa yang duduk di sebelah siapa,” ujarnya.

Dampak dan Pelajaran bagi Profesional

Realitas ini mengubah cara banyak profesional bekerja. Analisis tetap penting, tapi tidak cukup.

Langkah pertama adalah memahami hubungan sebelum mendorong sistem. Kedua, membangun pengaruh sebelum membawa data ke meja diskusi.

Peta sosial kantor bukan soal manipulasi, melainkan kecermatan membaca situasi. Ini tentang memahami lanskap kekuasaan yang sering tersembunyi di balik struktur formal.

Pada akhirnya, mereka yang menguasai jaringan sosial sering unggul lebih dulu. Sementara yang hanya fokus pada angka, kerap tertinggal—bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang membaca manusia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Cara Mengatur Aliran Uang ala Orang Kaya, Ini Faktanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Konsep cara mengatur aliran uang ala orang kaya kembali jadi perhatian di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup konsumtif. Banyak pekerja berpenghasilan tetap mengaku sulit menahan uang, meski pendapatan meningkat.

Fenomena ini terjadi lintas sektor, dari karyawan muda hingga profesional senior. Polanya sama: uang masuk rutin, tetapi cepat keluar tanpa arah yang jelas atau sistem yang terbangun.

Cara Mengatur Aliran Uang, Bukan Sekadar Mencari

Ada satu analogi yang belakangan terasa masuk akal: uang seperti air. Jika alirannya tidak diatur, ia akan habis, bahkan saat volumenya besar.

Seorang rekan di ruang redaksi pernah bercerita, gajinya naik dua kali lipat dalam tiga tahun. Tapi kondisi finansialnya tidak berubah signifikan. “Aneh, uangnya seperti lewat saja,” katanya suatu sore.

Masalahnya bukan pada jumlah pemasukan, melainkan tidak adanya “jalur aliran”. Uang datang, dipakai, lalu hilang tanpa sempat bekerja.

Dalam praktik orang kaya, fokusnya bukan sekadar menambah pemasukan. Mereka membangun sistem: dari mana uang masuk, ke mana dialirkan, dan bagaimana kembali dalam bentuk lain.

Membangun Sistem Aliran, Bukan Kebocoran

Aliran uang yang sehat bersifat terstruktur. Sebagian digunakan untuk kebutuhan hidup, sebagian dialokasikan ke aset, dan sebagian lagi diputar untuk menciptakan arus baru.

Di sinilah perbedaan paling terasa. Banyak orang fokus “menampung air”, tapi lupa membangun pipa. Akibatnya, penghasilan terus habis tanpa jejak pertumbuhan.

Saya pernah melihat langsung pola ini pada seorang pengusaha kecil. Ia tidak mencatat pengeluaran detail, tapi disiplin memisahkan uang usaha dan pribadi. Hasilnya, bisnisnya tumbuh stabil tanpa terasa.

Sebaliknya, mereka yang mencampur semua arus keuangan cenderung mengalami kebocoran. Uang terlihat banyak di awal bulan, tapi menipis tanpa kontrol menjelang akhir.

Dampak dan Cara Mengubah Pola

Pemahaman ini menggeser cara melihat kekayaan. Ukurannya bukan lagi seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa efisien aliran uang dikelola.

Langkah awalnya sederhana: petakan arus kas secara jujur. Lalu tentukan jalur tetap—untuk kebutuhan, investasi, dan pengembangan sumber pendapatan baru.

Cara mengatur aliran uang yang disiplin memungkinkan stabilitas finansial jangka panjang. Tanpa itu, kenaikan gaji hanya memberi ilusi kemajuan.

Pada akhirnya, uang yang diarahkan bisa membangun sistem yang menopang hidup. Sementara uang yang dibiarkan liar hanya mempercepat siklus habis dan mengulang dari nol.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Situasi Panipahan Berangsur Normal, Ini Hasil Peninjauan


Duta Nusantara Merdeka | Panipahan
Upaya memulihkan keamanan pasca konflik di Panipahan, Riau, dipercepat. Danrem 031/WB bersama Kapolda Riau turun langsung ke lapangan, Kamis (16/4/2026), memastikan situasi terkendali dan aktivitas warga kembali berjalan.

Kunjungan ini bukan sekadar simbolik. Keduanya menyisir titik-titik bekas bentrokan dan berdialog dengan warga untuk memastikan kondisi riil di lapangan sudah kondusif.

Peninjauan Lapangan dan Dialog Warga

Di sejumlah titik yang sebelumnya memanas, aparat memastikan tak ada lagi potensi bentrokan lanjutan. Pengamanan tetap berjalan, tapi dengan pendekatan yang lebih persuasif.

Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama, suara warga terdengar jelas: mereka ingin situasi aman bertahan, bukan sekadar reda sesaat.

Ada satu momen yang cukup membekas. Seorang warga, sambil menyeduh kopi di teras rumahnya, bercerita bahwa beberapa hari lalu ia memilih tidak melaut karena khawatir situasi. Kini, ia mulai kembali beraktivitas.

Danrem 031/WB menegaskan kondisi Panipahan sudah aman. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak mudah terpancing isu yang belum jelas.

“Permasalahan yang terjadi hendaknya diselesaikan dengan cara-cara yang baik melalui komunikasi, koordinasi, dan musyawarah. Jangan sampai konflik justru merugikan masyarakat sendiri,” ujarnya.

Komitmen Pengamanan dan Pemulihan Sosial

Kapolda Riau menekankan penanganan konflik dilakukan secara profesional dan proporsional. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan segera melapor jika ada potensi gangguan keamanan.

Pendekatan humanis menjadi kunci. Aparat tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga mediator sosial yang menjaga hubungan antarwarga tetap harmonis.

Sinergi TNI-Polri di Panipahan kali ini menunjukkan pola yang mulai bergeser: tidak hanya reaktif, tapi juga preventif dan komunikatif.

Bagi sebagian warga, kehadiran aparat di tengah kampung memberi rasa aman yang nyata. Seorang pedagang kecil mengaku, pembeli mulai kembali datang setelah situasi mereda.

Langkah cepat dan kolaboratif ini diharapkan mampu memulihkan kepercayaan publik. Targetnya sederhana tapi krusial: aktivitas ekonomi kembali berjalan, dan relasi sosial pulih seperti semula.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Jimly Asshiddiqie Bicara Kritis Soal Independensi Hakim




Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Dalam rangka peringatan HUT ke-70 tahun Jimly Asshiddiqie, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia meluncurkan buku “Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman” di Jakarta, Jumat (17/4/2026). Forum ini menyoroti isu independensi kekuasaan kehakiman di Indonesia yang dinilai belum tuntas.

Dalam sekapur sirih, Jimly menegaskan bahwa kemerdekaan peradilan bukan konsep statis, melainkan problem yang terus bergerak mengikuti dinamika politik dan ekonomi.

Independensi Kekuasaan Kehakiman di Indonesia Belum Final

Jimly menilai, semua sistem politik di dunia—baik presidensial, parlementer, hingga komunis—sepakat pada satu hal: idealnya peradilan harus independen.

“Independence of judiciary ini bukan soal sederhana, ini masalah dinamis,” ujar Jimly.

Ia mengingatkan, kekuasaan kehakiman adalah penjaga demokrasi, terutama saat relasi eksekutif dan legislatif terlalu dominan.

Dalam satu liputan lama yang saya kerjakan, seorang hakim pernah berbisik, tekanan paling berat justru datang saat semua kekuatan politik berada di satu barisan. Tidak ada oposisi, tidak ada penyeimbang.

Apa yang disampaikan Jimly terasa seperti mengonfirmasi realitas itu.

Tarikan Politik dan Ekonomi Menguji Netralitas Hakim

Jimly juga menyinggung realitas yang sering diabaikan: politik dan ekonomi kerap bekerja di balik layar, memengaruhi arah keputusan hukum.

Menurut dia, dalam banyak negara, kekuasaan tidak hanya dipegang aktor politik, tetapi juga pemilik modal.

“Politik dan ekonomi itu punya logikanya sendiri,” kata Jimly.

Situasi ini makin kompleks ketika mekanisme check and balance melemah. Ia mencontohkan kondisi ketika mayoritas politik mendominasi, sementara suara minoritas terpinggirkan.

Dalam pengalaman saya mengikuti diskusi kebijakan publik, istilah “majority rules” sering disalahpahami seolah identik dengan keadilan. Padahal, Jimly menegaskan, demokrasi substansif justru bertumpu pada perlindungan minority rights.

Peran MK dan Tantangan Demokrasi Substansif

Jimly menegaskan, sembilan hakim konstitusi menjadi benteng terakhir menjaga keseimbangan tersebut. Mereka harus berdebat, bukan sekadar menyepakati.

Ia juga mengkritik persepsi keliru soal asal-usul hakim. “Dipilih oleh, bukan dari,” ujarnya, menegaskan bahwa hakim bukan representasi lembaga pengusul.

Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahaya ketika saluran aspirasi formal tidak berjalan. Masyarakat bisa bergerak sendiri, terutama lewat media sosial.

Fenomena ini, menurut dia, sudah terlihat dalam berbagai gelombang aksi non-organik yang sulit dikendalikan.

Menjaga Demokrasi Lewat Peradilan yang Merdeka

Di ujung pidatonya, Jimly menekankan bahwa independensi kekuasaan kehakiman di Indonesia bukan sekadar isu teknis, tetapi fondasi kualitas demokrasi.

Ia mengingatkan, meski Indonesia termasuk demokrasi besar secara jumlah pemilih, kualitasnya justru menurun.

“Kalau tidak ada kemerdekaan, selesai urusan,” ujarnya.

Peluncuran buku ini menjadi pengingat bahwa ide harus terus diwariskan. Bukan soal figur, tetapi menjaga arah negara hukum tetap berada di jalurnya.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Peluncuran Buku Jimly, MK Bahas Arah Kekuasaan Hakim


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia meluncurkan buku “Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman” dalam rangka 70 tahun Jimly Asshiddiqie, di Jakarta, Jumat (17/4/2026). Agenda ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa isu independensi peradilan belum benar-benar selesai.

Di tengah sorotan publik terhadap lembaga hukum, Ketua MK Suhartoyo menegaskan, perdebatan soal kemerdekaan kehakiman masih relevan, bahkan cenderung menguat dalam praktik kekuasaan modern.

Independensi Hakim, Isu Lama yang Tak Pernah Usai

Peluncuran buku ini menjadi ruang refleksi. Suhartoyo mengakui, meski reformasi hukum sudah berjalan puluhan tahun, pertanyaan tentang independensi hakim terus muncul.

“Kenapa kemerdekaan kekuasaan kehakiman masih kita persoalkan?” ujar Suhartoyo dalam sambutannya.

Ia menyinggung, MK tidak hanya menangani sengketa formal antara pemerintah dan DPR, tetapi juga perkara strategis seperti sengketa kewenangan lembaga negara hingga perkara terkait KPU.

Di ruang-ruang itu, tekanan politik sering kali tak kasat mata. Saya pernah mengikuti satu diskusi kecil dengan praktisi hukum, dan satu kalimat yang melekat: independensi bukan soal aturan, tapi keberanian menolak intervensi.

Pernyataan itu terasa relevan dengan kondisi yang digambarkan Suhartoyo.

Menjaga Netralitas di Tengah Tarik Ulur Kekuasaan

Suhartoyo menekankan, hakim konstitusi yang sudah masuk ke MK sejatinya melepaskan afiliasi asalnya. Namun, publik tetap kerap meragukan netralitas tersebut.

“Setelah di MK, mereka betul-betul untuk MK. Tidak lagi ingat lembaga yang mengutusnya,” kata dia.

Di sisi lain, ia mengakui kritik publik adalah bagian dari kontrol demokrasi. Tapi jika berlebihan, justru bisa menggerus kepercayaan terhadap lembaga peradilan.

Dalam pengalaman saya meliput isu hukum, skeptisisme publik memang meningkat beberapa tahun terakhir. Bukan tanpa alasan, tapi juga tidak selalu berbasis fakta utuh.

Karena itu, buku ini diharapkan memperkaya perspektif—bahwa independensi bukan konsep statis, melainkan proses yang terus diuji.

Warisan Intelektual dan Relevansi ke Depan

Bagi MK, sosok Jimly bukan hanya tokoh, tetapi bagian dari fondasi kelembagaan. Suhartoyo bahkan menyebut, dalam kondisi apa pun, MK “tidak bisa dijauhkan” dari figur tersebut.

Momentum ulang tahun ke-70 ini dimaknai sebagai penguatan tradisi intelektual: membaca, menulis, dan berdiskusi.

Namun, tantangan ke depan tetap sama—menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan integritas. Jika gagal, independensi hanya akan jadi jargon. Jika berhasil, ia menjadi benteng terakhir demokrasi.

Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto 


Share:

Strategi Blok Politik NasDem di Era Prabowo, Arah Baru Koalisi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, konfigurasi politik nasional bergerak cair. Di tengah dinamika itu, Partai NasDem mulai memainkan strategi baru lewat pendekatan “blok politik” yang lebih fleksibel.

Langkah ini terlihat dari upaya NasDem membuka komunikasi lintas partai, termasuk dengan Partai Gerindra, sebagai bagian dari membaca arah kekuasaan sekaligus menjaga relevansi politiknya.

Strategi Blok Politik NasDem di Era Prabowo

Dalam beberapa bulan terakhir, manuver NasDem kerap ditafsirkan sebagai upaya merger atau fusi politik. Namun, narasi itu langsung dibantah kader internal partai.

Istilah yang lebih tepat, menurut mereka, adalah “blok politik”—sebuah pendekatan yang tidak kaku seperti koalisi formal, tetapi juga bukan oposisi murni.

Blok politik ini bekerja di ruang abu-abu: komunikasi cair, kepentingan bersama, dan kesamaan visi dalam isu strategis.

Dalam praktiknya, pendekatan ini memberi ruang bagi NasDem untuk tetap terlibat dalam orbit kekuasaan tanpa kehilangan identitas politiknya.

Saya pernah mendengar seorang politisi senior menyebut, “politik itu bukan soal siapa kawan atau lawan, tapi siapa yang bisa diajak bicara.” Pola ini terasa relevan dengan langkah NasDem hari ini.

NasDem tampaknya sadar, polarisasi tajam hanya menguras energi. Karena itu, mereka memilih jalur tengah—tidak sepenuhnya oposisi, tapi juga tidak larut dalam kekuasaan.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Tarik Ulur Kekuasaan

Langkah membuka komunikasi dengan Partai Gerindra menjadi sinyal penting. Ini bukan sekadar manuver jangka pendek, melainkan bagian dari strategi menjaga posisi tawar.

Dengan masuk dalam orbit dialog kekuasaan, NasDem punya peluang memengaruhi arah kebijakan, terutama dalam isu pembangunan dan ekonomi.

Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Terlalu dekat dengan kekuasaan bisa mengaburkan diferensiasi politik. Sebaliknya, terlalu jauh justru membuat pengaruh mengecil.

Di sinilah tantangan utama NasDem: menjaga keseimbangan antara akses kekuasaan dan independensi politik.

Dalam beberapa diskusi politik yang saya ikuti, pola seperti ini sering disebut sebagai “politik adaptif”—bertahan bukan dengan konfrontasi, tapi dengan kelincahan membaca momentum.

NasDem tampaknya sedang memainkan peran itu. Mereka tidak lagi terjebak dalam dikotomi lama: koalisi versus oposisi.

Sebaliknya, partai ini mencoba membangun ekosistem politik yang lebih cair, dengan menempatkan kolaborasi sebagai alat, bukan tujuan akhir.

Arah Politik NasDem ke Depan

Ke depan, arah politik NasDem diperkirakan tetap moderat dan terukur. Partai ini cenderung menghindari konflik terbuka yang berpotensi merusak stabilitas.

Fokusnya bergeser ke isu-isu strategis seperti reformasi birokrasi, ekonomi inklusif, dan penguatan demokrasi.

Namun, ujian sesungguhnya justru ada pada konsistensi. Apakah fleksibilitas ini bisa tetap menjaga garis ideologis, atau justru melebur dalam pragmatisme?

Jika berhasil, NasDem berpotensi menjadi penyeimbang penting dalam lanskap politik nasional. Jika tidak, mereka bisa kehilangan identitas yang selama ini dibangun.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Djamari Chaniago Tinjau Sekolah Rakyat Pontianak, Dorong Pendidikan Gratis Berkualitas


Duta Nusantara Merdeka | Pontianak 
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (purn.) Djamari Chaniago meninjau Sekolah Rakyat Terpadu 53 dan Dapur SPPG Yayasan Lian Asa Borneo di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis, 16 April 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari evaluasi langsung program prioritas Presiden di sektor pendidikan dan pemenuhan gizi.

Dalam tinjauan tersebut, Djamari menekankan pentingnya akses pendidikan setara bagi anak-anak, terutama dari kelompok yang selama ini sulit menjangkau sekolah formal berkualitas.

Djamari Chaniago Tinjau Sekolah Rakyat Pontianak

Di Sekolah Rakyat Terpadu 53, Djamari melihat langsung fasilitas asrama, ruang belajar, hingga dukungan kebutuhan dasar siswa. Model sekolah ini dirancang sebagai sistem terpadu: belajar, tinggal, dan makan dalam satu ekosistem.

Ia menilai pendekatan itu memberi peluang lebih adil bagi anak-anak dari keluarga terbatas. “Mereka punya kesempatan yang sama dengan murid yang lain,” ujar Djamari Chaniago saat peninjauan.

Menurut dia, dukungan seragam, asrama, dan konsumsi harian bukan sekadar bantuan sosial. Itu adalah fondasi agar siswa bisa fokus belajar tanpa terganggu kebutuhan dasar.

Pengalaman di lapangan menunjukkan, hambatan pendidikan sering bukan soal kemampuan, melainkan akses. Saya pernah berbincang dengan seorang siswa program serupa di Jawa—bukan tidak pintar, tapi hampir putus sekolah karena ongkos harian. Pola seperti ini yang coba diputus lewat model Sekolah Rakyat.

Djamari juga menyebut program ini bagian dari strategi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, dengan menyiapkan calon pemimpin dari berbagai latar belakang.

Dapur SPPG dan Standar Layanan Gizi Anak

Usai dari sekolah, Djamari melanjutkan peninjauan ke Dapur SPPG Yayasan Lian Asa Borneo. Ia memeriksa alur produksi makanan, kebersihan ruang cuci, kualitas air, hingga pengelolaan limbah.

Peninjauan ini menunjukkan bahwa program tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga menyasar kualitas gizi siswa. “Ini untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan investor, bukan,” tegasnya.

Ia meminta seluruh pengelola meningkatkan standar layanan. Menurutnya, kualitas gizi akan langsung berdampak pada kemampuan belajar anak dalam jangka panjang.

Dalam banyak kasus, program makan gratis sering berhenti di angka distribusi. Namun, yang jarang disorot adalah kualitas dan konsistensinya. Di titik ini, pengawasan justru jadi faktor penentu.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, serta jajaran Kemenko Polkam dan kementerian terkait.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Baru Dilantik, Hery Susanto Terseret Kasus Nikel dan Harta Disorot


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto ditangkap Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi tata kelola tambang nikel di Sulawesi Utara. Di tengah proses hukum itu, laporan harta kekayaannya senilai Rp4,17 miliar ikut terseret ke ruang publik.

Data tersebut tercatat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan ke KPK pada 17 Maret 2026, saat Hery masih menjabat Wakil Pimpinan Ombudsman.

Rincian Harta Hery Susanto di LHKPN

Total kekayaan Hery tercatat Rp4.170.588.649. Angka ini relatif stabil, bahkan sedikit turun dibanding laporan Februari 2025 yang mencapai Rp4,27 miliar.

Penurunan sekitar Rp101 juta dalam setahun memang tidak signifikan. Namun, dalam praktik pelacakan aset pejabat, perubahan kecil justru sering menjadi titik awal penelusuran lebih jauh.

Aset terbesar berasal dari tanah dan bangunan senilai Rp2,35 miliar. Properti itu berada di Jakarta Timur dan Cirebon, seluruhnya diklaim hasil sendiri.

Selain itu, Hery melaporkan kendaraan senilai Rp595 juta, terdiri dari motor Vespa LX IGET 125 tahun 2022 dan mobil Chery Micro/Minibus tahun 2025.

Ia juga memiliki harta bergerak lain Rp685,9 juta serta kas dan setara kas Rp539,6 juta.

Kaitan Harta dan Kasus Nikel

Kasus yang menjerat Hery bukan perkara kecil. Dugaan korupsi tata kelola tambang nikel di Sulawesi Utara menyangkut sektor strategis bernilai besar.

Di titik ini, profil kekayaan menjadi relevan. Publik mulai membandingkan: apakah struktur aset tersebut sejalan dengan rekam jejak kariernya?

Hingga kini, belum ada indikasi langsung bahwa harta yang dilaporkan berkaitan dengan perkara. Namun, transparansi LHKPN biasanya menjadi pintu awal bagi aparat penegak hukum menelusuri aliran dana.

Situasi ini menempatkan Hery dalam sorotan ganda: sebagai tersangka dan sebagai pejabat publik yang baru dilantik.

Baru Dilantik, Langsung Diuji

Hery baru saja dilantik sebagai Ketua Ombudsman RI periode 2026–2031 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 April 2026.

Pengangkatan itu berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2026. Namun, belum genap sepekan, kasus hukum langsung membayangi.

Kariernya sebelumnya cukup panjang. Ia pernah menjadi Tenaga Ahli DPR RI Komisi IX, Direktur Eksekutif Komunal, hingga Ketua Koordinator Nasional Masyarakat Peduli BPJS.

Transisi dari puncak karier ke pusaran kasus seperti ini bukan hal baru dalam lanskap birokrasi Indonesia. Tapi tetap saja, selalu menyisakan pertanyaan besar soal integritas sistem.

Dampak ke Ombudsman dan Kepercayaan Publik

Kasus ini tidak berhenti pada individu. Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik ikut terdampak secara reputasi.

Publik kini menunggu dua hal: proses hukum yang transparan dan sikap institusi dalam menjaga integritas internal.

Jika tidak ditangani terbuka, kepercayaan bisa terkikis. Bukan hanya pada figur Hery, tetapi juga pada lembaga yang seharusnya menjadi penjaga akuntabilitas negara.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Mitos Metabolisme Lambat Bikin Gemuk, Ini Faktanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Anggapan “metabolisme lambat bikin gampang gemuk” kembali jadi perbincangan. Banyak orang usia 30 tahun ke atas merasa berat badan naik karena metabolisme menurun. Padahal, faktanya tak sesederhana itu.

Penurunan metabolisme memang terjadi seiring usia, tapi skalanya kecil. Rata-rata hanya turun sekitar 2–5 persen per dekade, bukan perubahan drastis yang langsung bikin berat melonjak.

Metabolisme Lambat vs Perubahan Gaya Hidup

Masalah utama sering bukan di metabolisme, tapi di pola hidup yang berubah pelan-pelan. Aktivitas fisik menurun tanpa disadari.

Dulu lebih banyak bergerak—jalan kaki, naik tangga, atau sekadar aktif di luar rumah. Sekarang, banyak waktu habis di depan layar, duduk berjam-jam tanpa jeda.

Penurunan aktivitas kecil ini dikenal sebagai NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis). Dampaknya signifikan terhadap pembakaran kalori harian.

Saya pernah mengalami sendiri fase ini. Saat pekerjaan makin padat di depan laptop, langkah harian turun drastis. Tanpa sadar, berat badan ikut naik, padahal pola makan terasa “biasa saja”.

Selain itu, massa otot juga perlahan berkurang jika tidak dilatih. Padahal otot berperan penting dalam membakar kalori, bahkan saat tubuh sedang istirahat.

Kombinasi Faktor: Gerak Turun, Asupan Naik

Masalah jadi makin kompleks ketika asupan kalori meningkat. Banyak orang makan lebih banyak karena stres, kurang tidur, atau kebiasaan ngemil.

Akhirnya, terjadi kombinasi yang sulit dihindari: aktivitas menurun, otot berkurang, dan kalori masuk bertambah. Dalam kondisi ini, metabolisme sering dijadikan kambing hitam.

Padahal, metabolisme bersifat adaptif. Ia mengikuti kebiasaan tubuh, bukan tiba-tiba “rusak” tanpa sebab.

Saya pernah melihat teman yang rutin latihan beban dan menjaga asupan protein. Dalam beberapa bulan, komposisi tubuhnya berubah—lebih lean, lebih bertenaga, tanpa diet ekstrem.

Metabolisme Bisa Ditingkatkan, Bukan Disalahkan

Ada cara realistis untuk “mengaktifkan” kembali metabolisme. Latihan beban membantu membangun massa otot, sementara aktivitas harian meningkatkan pembakaran kalori.

Asupan protein juga berperan menjaga jaringan otot tetap aktif. Kombinasi ini membuat tubuh lebih efisien menggunakan energi.

Kesimpulannya sederhana: metabolisme bukan musuh. Ia hanya mencerminkan gaya hidup sehari-hari.

Alih-alih menyalahkannya, evaluasi kebiasaan justru memberi hasil lebih nyata. Di situ biasanya jawaban sebenarnya ditemukan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Djamari Chaniago Tekankan Pencegahan Karhutla 2026


Duta Nusantara Merdeka | Pontianak 
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026. 

Penekanan itu disampaikan dalam Apel Kesiapsiagaan Nasional di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Pontianak, Rabu (16/4/2026).

Dalam forum tersebut, pemerintah menargetkan pencegahan sebagai strategi utama, bukan sekadar pemadaman. Langkah ini dianggap krusial mengingat pola karhutla yang berulang setiap musim kemarau.

Pencegahan Jadi Kunci Hadapi Karhutla 2026

Djamari Chaniago menegaskan apel kesiapsiagaan bukan seremoni. “Apel ini wujud kesungguhan kita menyatukan langkah dan meningkatkan kewaspadaan bersama,” ujarnya.

Ia meminta kepala daerah memastikan kesiapan personel, peralatan, logistik, hingga sistem komando lapangan. Tanpa kesiapan itu, respons cepat di lapangan sering kali tersendat.

Instruksi juga diberikan kepada TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga relawan untuk memperkuat patroli terpadu. Titik panas harus diverifikasi cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.

Saya pernah menyaksikan langsung di Sumatera, api kecil yang dibiarkan beberapa jam berubah jadi bencana lintas desa. Pola itu berulang—terlambat satu langkah, biaya membengkak berkali lipat.

Tantangan Lahan Gambut dan Respons Cepat

Karakter lahan gambut di Kalimantan Barat menjadi tantangan utama. Api bisa merambat di bawah permukaan dan sulit dipadamkan secara tuntas.

Faktor lain seperti angin kencang dan keterbatasan sumber air memperumit situasi. “Pencegahan harus jadi prioritas, karena memadamkan api besar jauh lebih sulit dan mahal,” kata Djamari.

Pemerintah juga menekankan perlindungan wilayah strategis: permukiman, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga akses transportasi. Gangguan karhutla bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ekonomi.

Di lapangan, warga sering jadi pihak paling terdampak. Asap tebal bukan cuma mengganggu napas, tapi juga menghentikan aktivitas harian—sekolah tutup, usaha kecil lumpuh.

Dukungan Anggaran dan Penegakan Hukum

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan dukungan anggaran terbuka bagi daerah yang menetapkan status siaga. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan anggaran karhutla tidak terdampak efisiensi.

Pesan Presiden Prabowo Subianto jelas: capaian pengendalian karhutla harus dijaga dan ditingkatkan. Target jangka panjang diarahkan menuju zero karhutla.

Di sisi lain, penegakan hukum menjadi elemen penting. Pembakaran lahan harus ditindak tegas karena dampaknya meluas, dari kesehatan hingga investasi.

“Semangatnya bertindak sebelum api membesar,” kata Djamari. Kalimat itu sederhana, tapi jadi garis batas antara pencegahan efektif dan bencana berulang.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Konflik Agraria Riau Mengemuka di Forum BAM DPR


Duta Nusantara Merdeka | Pekanbaru 
Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI menggelar pertemuan dengan warga Kabupaten Kampar dan Indragiri Hulu di Gedung Daerah Balai Serindit, Pekanbaru, Kamis (16/4/2026). Forum ini membahas konflik agraria dan tata kelola lahan yang tak kunjung tuntas di Riau.

Pertemuan dipimpin Wakil Ketua BAM DPR RI, Adian Napitupulu, dan dihadiri Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto. Sejumlah unsur TNI, pemerintah daerah, masyarakat, hingga pihak perusahaan turut hadir dalam forum tersebut.

Aspirasi Warga: Dari Tumpang Tindih Hingga Ketidakpastian Hukum

Forum ini menjadi ruang bagi warga menyampaikan keluhan lama: tumpang tindih kepemilikan lahan dan legalitas yang tak jelas. Banyak lahan yang sudah dikelola turun-temurun, tapi status hukumnya masih kabur.

Adian Napitupulu menegaskan persoalan agraria di Riau bukan sekadar administrasi. “Konflik ini menyentuh aspek sosial, ekonomi, bahkan rasa keadilan masyarakat,” ujarnya dalam forum tersebut.

Situasi ini bukan hal baru. Seorang warga sempat bercerita, lahan yang digarap keluarganya sejak puluhan tahun tiba-tiba masuk konsesi perusahaan. Cerita seperti ini, kata dia, bukan satu dua kasus.

Pemerintah Dorong Penyelesaian Bertahap

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, melihat pertemuan ini sebagai momentum penting menyamakan persepsi antar pihak. Ia menekankan penyelesaian konflik harus dilakukan bertahap, mulai dari kabupaten hingga provinsi.

Pendekatan berjenjang dinilai lebih realistis, mengingat kompleksitas konflik yang melibatkan banyak pihak. Tanpa koordinasi yang rapi, penyelesaian sering kali berhenti di tengah jalan.

Di sisi lain, kehadiran TNI melalui Irdam XIX/Tuanku Tambusai Brigjen TNI Totok Sutrisno menjadi sinyal kuat dukungan terhadap stabilitas daerah. TNI diharapkan membantu menjaga situasi tetap kondusif.

Menjaga Keseimbangan: Investasi dan Keadilan Sosial

Konflik agraria di Riau tak bisa dilihat hitam-putih. Di satu sisi ada kebutuhan investasi dan pembangunan, di sisi lain ada hak masyarakat yang harus dilindungi.

Pendekatan humanis dan berkeadilan menjadi kunci. Tanpa itu, konflik berpotensi berlarut dan memicu ketegangan sosial.

Pertemuan ini diharapkan tak berhenti sebagai forum seremonial. Warga menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Ombudsman RI Disorot, Kasus Hery Susanto Uji Kepercayaan Publik


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kasus hukum yang menyeret Ketua Ombudsman RI, Hery Susanto, akhirnya direspons resmi oleh pimpinan Ombudsman RI periode 2026–2031. Perkara ini disebut terkait rentang waktu 2021–2026 dan kini tengah diproses aparat penegak hukum.

Dalam keterangan tertulis, Kamis (16/04), Ombudsman RI menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kegaduhan yang muncul. Lembaga ini menegaskan sikap kooperatif dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada otoritas berwenang.

Ujian Terbuka untuk Kepercayaan Publik

Sorotan terhadap kasus Hery Susanto tak bisa dihindari. Ombudsman RI, yang selama ini berdiri sebagai penjaga standar pelayanan publik, kini justru berada di bawah lampu terang.

“... kami menyesalkan peristiwa ini dan berkomitmen menjaga kepercayaan publik ...,” ujar Pimpinan Ombudsman RI.

Pernyataan itu penting, tapi belum cukup. Dalam dinamika kepercayaan publik, respons cepat hanya pembuka. Konsistensi justru penentu.

Beberapa tahun lalu, saya sempat berbincang dengan seorang pelapor layanan publik di Jakarta. Ia tidak peduli siapa pejabatnya, katanya, yang penting laporan ditindak. Kalimat sederhana itu terasa relevan hari ini.

Transparansi Diuji, Bukan Sekadar Dinyatakan

Ombudsman RI menegaskan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Di saat yang sama, mereka juga berjanji menjaga transparansi dan akuntabilitas selama proses berjalan.

Di titik ini, publik biasanya membaca lebih dalam: apakah transparansi itu akan benar-benar dibuka, atau berhenti di level pernyataan.

Pengalaman menunjukkan, krisis seperti ini sering menjadi pembatas tipis antara institusi yang adaptif dan yang defensif.

Operasional Tetap Jalan, Tapi Sorotan Tak Surut

Untuk meredam kekhawatiran, Ombudsman memastikan fungsi pengawasan pelayanan publik tetap berjalan normal. Langkah internal disebut telah disiapkan sesuai mekanisme kelembagaan.

Ini langkah standar, tapi krusial. Sebab, gangguan di pucuk pimpinan kerap merembet ke bawah jika tidak diantisipasi cepat.

Namun realitasnya, publik tidak hanya menilai apakah layanan tetap berjalan. Mereka juga menilai bagaimana lembaga ini menjaga integritas saat diuji.

Pada akhirnya, kasus Hery Susanto bukan sekadar perkara hukum personal. Ia berubah menjadi cermin: seberapa kuat fondasi Ombudsman RI berdiri tanpa bergantung pada satu figur.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 


Share:

FPII Protes Pernyataan JK, Soroti Narasi Agama dan Konflik


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Ketua Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) Muhammad Fathur Rozaq menyatakan keberatan atas pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut ajaran Islam dan Kristen dapat membenarkan aksi saling membunuh musuh. Pernyataan itu dinilai berisiko memicu disinformasi dan ketegangan sosial.

Dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026), Fathur menegaskan narasi tersebut tidak mencerminkan ajaran agama yang sebenarnya dan berpotensi mereduksi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.

FPII NILAI TERJADI DISTORSI MAKNA AJARAN AGAMA

Fathur Rozaq menyatakan Islam tidak pernah membenarkan tindakan membunuh tanpa dasar yang sah. Ia menekankan bahwa prinsip utama ajaran Islam adalah menjaga kehidupan dan menjunjung tinggi perdamaian.

“Islam membawa misi Rahmatan lil ‘Alamin, menjadi rahmat bagi semesta alam, bukan ancaman bagi kehidupan,” ujar Fathur.

Ia menjelaskan, konteks “membunuh” dalam teks keagamaan hanya berlaku dalam situasi konflik bersenjata yang sangat spesifik dan bersifat defensif. Bukan legitimasi untuk kekerasan dalam kondisi damai.

Dalam praktik sosial, kesalahan memahami konteks ini sering terjadi. Saya pernah mendengar perdebatan serupa di forum diskusi kampus; sebagian peserta mengambil potongan ayat tanpa konteks, lalu menarik kesimpulan yang jauh dari maksud awalnya.

Fathur menilai pernyataan tokoh publik seperti Jusuf Kalla seharusnya lebih berhati-hati, terutama karena memiliki pengaruh luas di ruang publik.

LANGKAH HUKUM DAN RISIKO SOSIAL YANG LEBIH LUAS

FPII menyatakan akan menempuh jalur hukum sebagai langkah klarifikasi resmi. Tujuannya, menurut Fathur, untuk mencegah penyebaran narasi yang dianggap menyesatkan dan menjaga ruang publik tetap sehat.

Ia juga mengingatkan bahwa penyederhanaan ajaran agama tanpa konteks bisa memicu sentimen negatif dan memperlemah kohesi sosial.

Mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 32, Fathur menegaskan bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar diibaratkan membunuh seluruh manusia. Ia juga merujuk Hadits Riwayat Bukhari tentang larangan membunuh non-muslim dalam perjanjian damai.

Dalam konteks Indonesia, isu ini sensitif. Seorang rekan jurnalis pernah bercerita bagaimana narasi agama yang dipelintir di media sosial bisa cepat menyebar dan memicu kesalahpahaman di tingkat akar rumput.

“Langkah hukum ini bukan permusuhan, tetapi upaya edukasi agar publik mendapat pemahaman yang utuh,” kata Fathur.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi dan tetap mengedepankan dialog sehat. “Perbedaan penafsiran tidak boleh menggerus persaudaraan,” ujarnya.

Di tengah ruang publik yang makin riuh, pernyataan tokoh memiliki dampak berlapis. Ketika tafsir agama disederhanakan tanpa konteks, risikonya bukan sekadar debat - melainkan potensi retak dalam kehidupan sosial.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini