Kepemimpinan Ignasius Jonan dalam pembangunan jalur ganda KAI kembali menjadi sorotan sebagai salah satu contoh pendekatan pembangunan infrastruktur yang mengedepankan aspek kemanusiaan.
Saat memimpin PT Kereta Api Indonesia (KAI), Jonan menghadapi tantangan besar berupa penataan lebih dari 20.000 kepala keluarga yang terdampak proyek jalur ganda lintas utara Cirebon–Surabaya–Pasar Turi sepanjang sekitar 500 kilometer.
Proyek berskala besar tersebut berpotensi memunculkan konflik sosial, sebagaimana kerap terjadi dalam berbagai pembangunan infrastruktur yang melibatkan relokasi warga. Namun, proses penataan berlangsung relatif kondusif dan tidak diwarnai gejolak besar yang menghambat pelaksanaan proyek.
Pendekatan Humanis dalam Relokasi Warga
Selain memberikan kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku, Jonan menerapkan pendekatan yang dinilai berbeda. Keluarga yang terdampak proyek diberi kesempatan mengusulkan satu anggota keluarganya untuk mengikuti proses rekrutmen di PT KAI.
Kebijakan tersebut membuka peluang bagi warga yang kehilangan tempat tinggal atau lahannya akibat proyek untuk memperoleh akses pekerjaan formal. Persyaratan yang diterapkan juga relatif sederhana, yakni minimal lulusan sekolah menengah atas, memenuhi batas usia tertentu, serta lolos pemeriksaan kesehatan.
Dalam berbagai kesempatan, Jonan menegaskan bahwa proses rekrutmen harus berlangsung transparan dan bebas praktik suap. Ia bahkan meminta masyarakat melaporkan apabila menemukan indikasi pungutan atau penyimpangan dalam proses penerimaan pegawai.
"Saya tidak mengusir Anda. Anda pergi, tapi akhirnya keluarga Anda jadi pegawai di kami," ujar Ignasius Jonan dalam salah satu penjelasannya mengenai kebijakan tersebut.
Bagian dari Transformasi Besar PT KAI
Pendekatan itu sejalan dengan agenda reformasi yang dijalankan Jonan saat memimpin PT KAI. Ketika mulai menjabat pada 2009, perusahaan pelat merah tersebut menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kinerja keuangan yang lemah, kualitas pelayanan yang rendah, hingga budaya kerja yang membutuhkan pembenahan menyeluruh.
Melalui sejumlah langkah transformasi, PT KAI perlahan mengalami perubahan signifikan, baik dari sisi pelayanan maupun kinerja bisnis. Program pembangunan jalur ganda menjadi salah satu proyek strategis yang mendukung peningkatan kapasitas angkutan kereta api nasional.
Infrastruktur dan Kepentingan Masyarakat
Pengamat tata kelola menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak selalu harus berhadapan dengan kepentingan masyarakat. Dengan perencanaan yang matang, komunikasi yang baik, serta kebijakan yang berpihak pada warga terdampak, pembangunan dan perlindungan sosial dapat berjalan beriringan.
Kisah kepemimpinan Ignasius Jonan dalam pembangunan jalur ganda KAI menjadi contoh bahwa keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari panjang lintasan yang terbangun, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat terdampak memperoleh manfaat yang berkelanjutan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto




























