Di tengah melemahnya harga telur ayam ras di tingkat peternak, kalangan peternak rakyat meminta pemerintah segera melakukan pembenahan tata kelola data produksi dan distribusi unggas nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengidentifikasi penyebab utama penurunan harga sekaligus mencegah kerugian yang terus dialami peternak.
Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio, mengatakan persoalan harga telur tidak bisa dilepaskan dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Namun hingga kini, menurutnya, belum tersedia data yang benar-benar akurat untuk memastikan apakah kondisi pasar saat ini memang mengalami kelebihan pasokan (oversupply) atau justru terjadi persoalan distribusi.
"Kalau memang harga telur jatuh, pemerintah harus mendata dulu. Sebenarnya produksi berapa dan kebutuhan pasar berapa. Jadi semuanya bisa terukur," ujar Alvino saat ditemui dalam Indo Livestock 2026 Expo & Forum di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Program MBG Dinilai Perlu Kembali ke Tujuan Awal
Alvino menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya memiliki konsep yang baik karena dirancang untuk menyerap produk peternak dan pelaku usaha kecil secara langsung. Namun dalam implementasinya, ia melihat masih banyak ruang perbaikan agar manfaat ekonomi program tersebut lebih dirasakan peternak rakyat.
Menurut dia, pemerintah perlu memastikan rantai pasok program berjalan sesuai tujuan awal, yakni memperkuat ekonomi lokal dan memberikan akses pasar yang lebih luas bagi produsen pangan di daerah.
"Kalau konsep awalnya untuk menghidupkan UMKM dan produsen lokal, sebaiknya dikembalikan lagi ke tujuan itu," katanya.
Peran Cadangan Pangan Dinilai Belum Maksimal
Selain pembenahan data, Alvino juga mendorong optimalisasi program Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk komoditas telur dan daging ayam. Ia menilai kehadiran BUMN pangan seperti ID FOOD dan Berdikari seharusnya mampu menjalankan fungsi stabilisasi harga sebagaimana dilakukan Bulog pada komoditas beras.
Menurutnya, ketika harga berada di bawah titik keekonomian peternak, pemerintah perlu melakukan penyerapan produk. Sebaliknya, saat harga melonjak, stok yang tersedia dapat digunakan untuk operasi pasar.
"Ketika harga jatuh harus ada yang menyerap. Saat harga tinggi bisa dilakukan operasi pasar sehingga harga tetap stabil," ujarnya.
Data Menjadi Kunci Kebijakan
Alvino menegaskan bahwa akar persoalan sektor perunggasan saat ini terletak pada lemahnya sinkronisasi data antara pemerintah pusat dan daerah. Tanpa basis data yang akurat mengenai populasi ternak, produksi telur, dan kebutuhan konsumsi nasional, kebijakan pengendalian pasar berpotensi tidak tepat sasaran.
Karena itu, ia berharap pemerintah memperkuat koordinasi dengan daerah untuk membangun sistem data yang terintegrasi. Dengan data yang valid, pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif sebelum gejolak harga semakin merugikan peternak maupun konsumen.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto




























