Pertunjukan stand-up comedy Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono memantik diskusi luas tentang fungsi komedi, kebebasan berekspresi, serta batas etika kritik di ruang publik demokratis.
Ruang publik sejak awal dirancang sebagai arena percakapan kepentingan bersama, tempat isu sosial, politik, dan moral bertemu tanpa sekat, termasuk melalui seni pertunjukan seperti stand-up comedy.
Dalam konteks itu, Mens Rea yang dipentaskan Pandji Pragiwaksono hadir sebagai kritik sosial, disampaikan di ruang publik, memadukan humor, narasi politik, serta refleksi tajam atas realitas kekuasaan.
Program tersebut dipentaskan Pandji pada 2024–2025 di berbagai kota Indonesia, menyoroti isu publik, figur negara, dan dinamika demokrasi, menggunakan pendekatan satir sebagai metode komunikasi kritik.
Sebagian publik menilai Mens Rea bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kegelisahan sosial, memperlihatkan kedekatan komedian dengan isu masyarakat, sekaligus menguji sensitivitas etika di ruang bersama.
“Tawa bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk berpikir kritis,” pandangan ini kerap dilekatkan pada gaya Pandji, yang selama ini dikenal konsisten memadukan humor dan kritik kebijakan publik.
Namun, kontroversi muncul ketika materi komedi menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya pada aspek yang dianggap menyentuh ranah personal, bukan semata kinerja atau kebijakan publik.
Sebagian pihak menegaskan kritik terhadap pejabat adalah keniscayaan demokrasi, tetapi mempertanyakan relevansi membawa urusan privat ke panggung komedi yang dikonsumsi publik luas.
Dalam etika publik, pejabat memang tak kebal kritik, namun ruang privat tetap dipandang sebagai batas normatif, moral, dan sosial yang seharusnya dijaga dalam ekspresi kebebasan.
Diskursus ini memperlihatkan relasi kompleks antara kebebasan berekspresi, tanggung jawab sosial seniman, serta sensitivitas publik terhadap batas kritik di era demokrasi digital.
Mens Rea akhirnya dibaca sebagai ruang refleksi bersama, bukan hanya tentang siapa yang dikritik, tetapi bagaimana kritik disampaikan, dan sejauh mana humor boleh melampaui batas etika.
Dari Mens Rea, publik belajar bahwa kritik adalah energi demokrasi, namun penyampaiannya menuntut kebijaksanaan agar kebebasan tetap sejalan dengan etika ruang publik.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar