Pelayanan Puskesmas Tambora menuai keluhan serius setelah pasien lansia mengaku dipaksa antre berjam-jam, meski tersedia jalur khusus prioritas yang semestinya memudahkan akses layanan kesehatan.
Pelayanan Puskesmas Tambora kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pasien lansia menyampaikan kekecewaan atas proses pendaftaran yang dinilai lambat, tidak ramah, serta mengabaikan hak prioritas kelompok rentan.
Keluhan ini mencuat setelah pasien berinisial LA mengalami penolakan saat mendaftar melalui jalur prioritas, Jum'at (02/01/2026), di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat, meski telah menjelaskan kondisi usia lanjut.
Menurut pengakuan pasien, satpam dan dokter yang bertugas tetap meminta lansia mengikuti antrean umum, memicu rasa kecewa, kelelahan fisik, serta mempertanyakan tujuan keberadaan jalur prioritas pelayanan kesehatan.
“Kalau lansia tetap harus antre umum, untuk apa ada jalur khusus prioritas,” ujar LA dengan nada kecewa, menggambarkan harapan sederhana akan pelayanan manusiawi bagi pasien lanjut usia.
Pengamat sekaligus jurnalis Surat Kabar Duta Nusantara Merdeka menilai kasus ini mencerminkan lemahnya empati layanan publik, serta kurangnya pengawasan terhadap implementasi standar pelayanan puskesmas di wilayah perkotaan padat.
Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan seharusnya mengedepankan sinergi, kepedulian sosial, dan kedekatan aparat medis dengan pasien, terutama lansia dan penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian khusus.
“Banyak pasien lansia merasa dipinggirkan, padahal pelayanan kesehatan adalah hak dasar,” tegasnya, seraya mendorong evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Kasus Puskesmas Tambora menjadi pengingat penting bagi Kementerian Kesehatan untuk segera membenahi sistem layanan, demi memastikan keadilan, empati, dan martabat pasien tetap terjaga.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar