Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, mengajak media massa mempererat sinergi. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga stabilitas sekaligus memacu kemajuan bangsa di tengah tantangan global.
Dalam Silaturahmi Media Nasional di Jakarta, Rabu (4/2/2026), Djamari menyoroti tajam persebaran fitnah. Berita bohong alias hoaks dianggap sebagai ancaman nyata yang mampu memecah belah soliditas masyarakat saat ini.
"Jika kita bersinergi, membangun bangsa akan jauh lebih mudah," ujar purnawirawan jenderal tersebut. Ia menegaskan, jangan ada ruang bagi pihak mana pun yang berniat melemahkan ketahanan nasional lewat narasi negatif.
Menariknya, di tengah seruan persatuan, Djamari menjamin pemerintah tidak anti-kritik. Baginya, kritik bukan musuh, melainkan instrumen penting untuk mengevaluasi kinerja pemerintah sekaligus menjadi pilar penguat napas demokrasi kita.
Djamari menekankan bahwa tidak ada negara yang runtuh hanya karena menerima kritik. Sebaliknya, bangsa akan tumbuh kuat saat berani mendengar. Kritik adalah bentuk kepedulian publik agar kekuasaan tetap pada koridornya.
Gayung bersambut, sejumlah Pemimpin Redaksi (Pemred) media nasional mengapresiasi dialog ini. Komunikasi dua arah dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga stabilitas politik serta keamanan nasional yang tetap kondusif.
Pertemuan lintas sektor ini pun melahirkan komitmen baru. Kedua belah pihak sepakat menjalin komunikasi rutin demi memastikan ruang publik tetap sehat dan terbebas dari polusi informasi yang menyesatkan.
Hadir dalam agenda ini para pucuk pimpinan media besar mulai dari LKBN Antara, Kompas, hingga Detik.com. Djamari didampingi Wamenko Polkam Lodewijk F. Paulus dan Sesmenko Polkam Mochammad Hasan.
Penulis Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar