Arus besar perdamaian global kini mengetuk pintu kampus di Jakarta Timur. Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) resmi menginisiasi gerakan pemberdayaan pemuda yang ambisius.
Bekerja sama dengan International Peace Youth Group (IPYG) dan Universitas Mohammad Husni Thamrin (UMHT), agenda bertajuk The 1st Indonesia Youth Empowerment Peace Class (YEPC) sukses digelar pada Kamis (29/1/2026).
Acara ini bukan sekadar seremoni. Bertempat di Auditorium dr. H. Abdul Rajak, diskusi berlangsung dinamis secara offline dan hybrid, mempertemukan narasi perdamaian dengan realitas keberagaman yang ada di tengah masyarakat Indonesia.
Rektor UMHT, Dr. Ningky Sasanti Munir, dalam pembukaannya menegaskan hal krusial. Baginya, perguruan tinggi harus menjadi ruang aman bagi dialog kritis sekaligus persemaian nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali terlupakan.
Duta Perdamaian IPYG, Ahmad Syamsuddin, turut membakar semangat peserta. Ia mengingatkan bahwa meski keyakinan berbeda, setiap manusia menghirup udara yang sama dan memiliki tanggung jawab moral yang serupa terhadap alam.
"Kita membangun satu titik penting yang diharapkan menjadi garis perdamaian dunia," ujarnya. Baginya, kampus adalah inkubator paling efektif untuk melahirkan pemimpin masa depan yang bervisi harmoni, bukan konflik.
Senada dengan itu, Kifah Gibraltar Bey Fananie dari Gerakan Pemuda Persaudaraan Muslimin Indonesia menyoroti aspek historis. Ia menekankan bahwa inisiatif ini harus melampaui sekat toleransi menuju solidaritas yang konkret.
Momen puncak acara ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). UMHT secara resmi akan mengadopsi Kurikulum Pendidikan Perdamaian HWPL ke dalam sistem pembelajaran mereka, sebuah langkah progresif bagi institusi pendidikan tinggi.
Widian selaku perwakilan HWPL dan Dr. Ningky mengukuhkan kerja sama ini dengan pertukaran plakat. Simbol ini menjadi janji bersama untuk terus memajukan literasi perdamaian secara terstruktur di lingkungan akademis.
Suasana semakin hangat saat tari tradisional Betawi, Ondel-Ondel, ditampilkan. Gerakan ritmis para penari menjadi metafora visual yang kuat mengenai persatuan dalam keberagaman budaya yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.
Memasuki sesi kelas intensif bertajuk “Who Am I Beyond Labels”, Devia sebagai perwakilan pemuda mengajak peserta merenung. Ia menegaskan bahwa perdamaian sejati selalu dimulai dari keberanian untuk mengenali dan mengelola diri sendiri.
"Keputusan yang kita ambil hari ini akan membentuk masa depan," tegas Devia. Pesannya jelas: identitas tidak boleh menjadi tembok, melainkan jembatan untuk memahami eksistensi orang lain tanpa prasangka berlebih.
Pada sesi berikutnya, Cathleen mengupas tuntas tentang kekuatan empati. Baginya, perdamaian hanya bisa tumbuh jika seseorang bersedia menempatkan diri pada posisi orang lain, sebuah keterampilan sosial yang kini semakin langka.
Tak berhenti di sana, Interfaith Youth Talk Show menghadirkan representasi organisasi pemuda nasional. Mulai dari HIKMAHBUDHI, PMKRI, ISNU, hingga KMHDI, semua duduk bersama dalam satu meja diskusi yang setara.
Dipandu oleh Tuty Purwaningsih dari HWPL, para narasumber membedah nilai-nilai karakter dalam kitab suci masing-masing. Mereka menemukan satu benang merah: setiap ajaran mendorong penghormatan mendalam terhadap perbedaan pandangan.
Diskusi juga menyoroti tantangan nyata membangun kerukunan di tengah dinamika masyarakat digital yang rentan polarisasi. Dialog lintas iman dinilai sebagai pilar utama untuk merawat persatuan dan mencegah potensi konflik sosial.
Melalui YEPC, HWPL dan IPYG menegaskan kembali posisi mereka. Mereka tidak hanya menjual wacana, tetapi menyediakan kerangka kerja berkelanjutan yang selaras dengan nilai kemanusiaan universal dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Reporter Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar