Sejarah baru konservasi laut Indonesia baru saja tertulis. Tim ekspedisi WWF mendokumentasikan fenomena langka di perairan Maluku Barat Daya (MBD) yang mengubah peta biodiversitas nasional.
Survei ekologi di Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Romang dan Damer mengungkap fakta mencengangkan. Peneliti menemukan lebih dari 30 ekor dugong berkumpul dalam satu area terbatas.
Fenomena yang berlangsung pada periode Oktober hingga November 2025 ini mencatat konsentrasi dugong di area seluas 25,7 hektare. Ini adalah agregasi terbesar yang pernah terekam di Indonesia.
Catatan ini bahkan melampaui rekor di Thailand yang hanya mendokumentasikan 23 individu. Kini, MBD resmi menjadi habitat kunci sekaligus jalur migrasi paling vital di Indonesia Timur.
Tak hanya dugong, perairan ini tampak sangat hidup. Tim mencatat kemunculan ratusan lumba-lumba pemintal dan paus kepala melon yang berenang bebas di sekitar Kepulauan Romang.
Kejutan tak berhenti di sana. Empat ekor orca atau paus pembunuh terlihat melintas, mempertegas status wilayah ini sebagai "rest area" raksasa bagi mamalia laut dunia.
Kesehatan ekosistem bawah laut MBD juga berada di atas rata-rata. Tutupan karang di Pulau Damer mencapai 51,4 persen, masuk dalam kategori sangat baik untuk standar nasional.
Analisis teknologi fotogrametri menunjukkan fakta yang lebih dalam. Sebagian koloni karang di sini telah tumbuh secara berkelanjutan selama lebih dari dua abad, bertahan dari krisis iklim.
Ketangguhan alam ini ditopang oleh padang lamun yang luas. Sembilan dari 14 spesies lamun Indonesia tumbuh subur di sini, menjadi sumber pangan utama bagi koloni dugong.
Di garis pantai, ekosistem mangrove di Damer dan Romang menunjukkan regenerasi alami yang sangat aktif. Akar-akarnya menjadi benteng alami yang menjaga stabilitas pesisir dari abrasi.
Namun, ancaman nyata tetap mengintai di balik keindahan ini. Data sosial ekonomi mengungkap tingginya angka tangkapan sampingan atau bycatch yang mengkhawatirkan pada perikanan lokal.
Diperkirakan ratusan hiu dan penyu terjaring secara tidak sengaja setiap tahunnya. Sirip hiu sering kali menjadi komoditas ekonomi yang sulit dibendung karena permintaan pasar luar pulau.
Untungnya, hukum adat Sasi masih menjadi perisai terakhir. Masyarakat adat di Romang secara tegas melarang perburuan dugong, sebuah kearifan lokal yang menjaga populasi tetap stabil.
Temuan masif ini diharapkan menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat proteksi. MBD bukan sekadar titik koordinat, melainkan benteng terakhir ketahanan iklim masa depan Indonesia.
Reporter Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar