Dewan Pimpinan Daerah Bintang Muda Indonesia (DPD BMI) Provinsi DKI Jakarta resmi mengukuhkan kepengurusan baru periode 2026-2031. Dalam prosesi yang digelar di Jakarta, Minggu (8/2), Mirza Mustaqim terpilih secara aklamasi memimpin organisasi sayap Partai Demokrat tersebut.
Ketua Panitia, Dimas H. Pribadi, dalam laporannya menyebutkan bahwa dinamika Musyawarah Daerah (Musda) berjalan cair dan penuh kekeluargaan. Meski persiapan tergolong singkat, antusiasme kader untuk melakukan regenerasi kepemimpinan di Jakarta sangat tinggi.
"Persiapan ini hanya dua minggu, namun kerja keras teman-teman panitia luar biasa. Hari ini sakral, bukan sekadar pelantikan, tapi awal perjuangan baru bersama Partai Demokrat," ujar Dimas dengan nada bangga.
Namun, sorotan utama justru tertuju pada pesan mendalam Ketua Umum DPN BMI, H. Farkhan Evendi. Dalam pidatonya yang bergaya filosofis, Farkhan mengingatkan bahwa politik di Indonesia sedang mengalami ancaman misosophia—sebuah kondisi di mana politik menjadi musuh bagi kebijaksanaan.
"Kita ingin mencetak aktor politik yang mencintai rakyatnya. Jangan tanggung-tanggung. Jangan hanya menemui rakyat lima tahun sekali saat mau dipotret atau masuk media," tegas Farkhan di hadapan ratusan kader.
Farkhan menekankan pentingnya kader BMI untuk menjadi "nabi-nabi kecil" di lingkungan masing-masing. Baginya, martabat organisasi sangat bergantung pada integritas personal anggotanya. Jika kadernya bersih, maka organisasi akan dipandang mulia oleh masyarakat.
Ia juga memberikan "resep" kepemimpinan yang unik kepada Mirza Mustaqim, yakni dengan melatih rasa melalui puasa dan pengendalian diri. Menurutnya, seorang pemimpin yang tidak bisa mengontrol nafsunya sendiri akan berbahaya ketika memegang kendali organisasi atau jabatan publik.
"Politik hari ini tenggelam oleh tata kata dan tumpukan kertas, tapi praktiknya masih jauh. Kita punya falsafah negara yang baik, tapi kenapa rakyat belum sepenuhnya sejahtera? Karena praktiknya belum sejalan dengan retorika," lanjutnya.
Terkait kontestasi 2029, acara ini juga merangkaikan diskusi bertajuk "Wapres Muda 2029: Simbol Regenerasi atau Strategi Politik?". Farkhan berharap BMI Jakarta di bawah kepemimpinan Mirza mampu menjadi madrasah politik bagi anak muda Jakarta yang kritis dan progresif.
Mirza Mustaqim, dalam sambutan perdananya, menyatakan siap membawa BMI DKI Jakarta menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat di akar rumput. Ia berjanji akan menjaga soliditas dan militansi kader agar tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik ibu kota.
"Tugas besar menanti. Kita harus berinovasi dan tetap rendah hati. Mari kita jadikan BMI Jakarta sebagai sekolah kemanusiaan dan peradaban yang nyata, bukan sekadar formalitas organisasi belaka," pungkas Mirza.
Farkhan berharap, regenerasi ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk bangkit menjadi kekuatan global yang disegani, asalkan didasari oleh politik yang beretika dan berpihak pada kaum yang lemah.
Reporter Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar