Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Afriansyah Noor, menyoroti tantangan besar masyarakat Betawi menghadapi perubahan ekonomi Jakarta menuju kota global. Hal itu disampaikan dalam Halal Bihalal Silaturahmi Kebangsaan dan Rapat Kerja III Dewan Adat Bamus Betawi di Jakarta, Minggu, 10 Mei 2026.
Dalam pidatonya, Afriansyah menegaskan reposisi masyarakat Betawi tidak cukup hanya bertumpu pada identitas budaya. Menurut dia, penguatan sumber daya manusia, vokasi, dan sertifikasi kompetensi menjadi syarat utama agar warga lokal tidak tersisih di tengah ekonomi digital.
SDM Betawi Dinilai Harus Naik Kelas
Afriansyah memaparkan Indonesia memiliki 216,79 juta penduduk usia kerja. Dari jumlah itu, sekitar 145 juta orang sudah bekerja, tetapi mayoritas masih berada di sektor informal dengan perlindungan minim dan penghasilan tidak tetap.
“Transformasi pekerja informal menuju pekerja formal terampil harus dipercepat,” ujar Afriansyah.
Ia menilai kondisi itu juga terjadi di Jakarta. Di tengah gedung pencakar langit dan pertumbuhan industri digital, banyak tenaga kerja lokal justru belum mampu memenuhi kebutuhan pasar modern.
Fenomena itu terlihat nyata di sejumlah kawasan Jakarta. Di satu sisi, kafe dan kantor digital tumbuh cepat. Namun di sisi lain, masih banyak pemuda lokal yang bekerja serabutan tanpa kepastian pendapatan. Situasi itu disebut Afriansyah sebagai alarm serius.
Menurut dia, masyarakat Betawi tidak bisa lagi hanya mengandalkan aset fisik atau warisan tanah. Arsitektur ekonomi Jakarta kini berubah menjadi ekonomi berbasis talenta dan keterampilan digital.
Sertifikasi dan Vokasi Jadi Kunci
Afriansyah mendorong kolaborasi antara Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Badan Nasional Sertifikasi Profesi, dan Dewan Adat Bamus Betawi untuk memperluas sertifikasi kompetensi warga Betawi.
Menurut dia, keahlian tanpa sertifikat sering kali tidak dianggap dalam sistem industri modern. Karena itu, pemerintah menyiapkan lebih dari 9.000 Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia atau SKKNI sebagai acuan resmi tenaga kerja.
Ia juga menyoroti ancaman disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan atau AI yang mulai menggantikan pekerjaan rutin. Karena itu, generasi muda Betawi diminta cepat beradaptasi dengan ekonomi digital.
“Kalau gap ini dibiarkan, posisi strategis di Jakarta akan diisi talenta luar yang lebih siap,” kata Afriansyah.
Kementerian Ketenagakerjaan, lanjut dia, telah menyiapkan program skilling, reskilling, dan upskilling melalui BLK Komunitas serta platform digital SIAPkerja.
Selain tenaga kerja formal, Afriansyah juga menyoroti pentingnya penguatan UMKM Betawi berbasis kuliner dan jasa kreatif. Ia menilai sektor itu bisa berkembang lebih besar jika dipadukan dengan manajemen modern dan pemasaran digital.
Di akhir sambutannya, Afriansyah meminta Bamus Betawi menjadi penghubung aktif antara program pemerintah dan masyarakat. Target akhirnya, kata dia, melahirkan masyarakat Betawi yang kompeten, adaptif, produktif, dan mampu bersaing di kota global.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar