Sampul buku Holopis Kuntul Baris Jiwa Persatuan yang Mulai Dilupakan karya Iwenk MJC terbitan Nawasena Mediaksara Utama.
Di tengah masifnya gempuran arus individualisme, karya literatur bertajuk Holopis Kuntul Baris: Jiwa Persatuan yang Mulai Dilupakan hadir sebagai alarm spiritual bagi bangsa Indonesia. Buku garapan Iwenk MJC yang diterbitkan oleh Nawasena Mediaksara Utama pada tahun 2026 ini, secara lugas merevitalisasi esensi gotong royong serta nilai-nilai luhur Pancasila sebagai fondasi krusial menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Secara historis, frasa "Holopis Kuntul Baris" merekam ritme kerja kolektif masyarakat Jawa tempo dulu, terinspirasi dari formasi terbang burung kuntul (bangau putih) yang rapi untuk memecah angin dan meringankan beban sesamanya.
Buku bernomor ISBN 978-623-10-1234-5 ini menegaskan bahwa filosofi tersebut sejalan dengan pemikiran Aristoteles tentang manusia sebagai zoon politikon, pandangan eksistensialisme Jean-Paul Sartre, hingga kristalisasi nilai gotong royong dari Presiden Sukarno.
Karya ini memantik apresiasi luas dari lintas sektoral.
Tokoh pers sekaligus Alumni PPRA-48 Lemhannas RI 2012, Wilson Lalengke, mendorong agar literatur ini dijadikan bacaan wajib (required reading) di lembaga pendidikan.
Ia menilai generasi muda saat ini kian terasing dari akar budayanya. "Karya literatur seperti ini sangat krusial bagi generasi muda yang kian terasing dari akar budayanya sendiri," tegas Wilson.
Dukungan kuat juga mengalir dari kalangan ulama. Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul 'Ulum Cidahu, Abuya Muhtadi, menyebut buku ini menghidupkan kekuatan persatuan.
Sentimen kerukunan dalam keberagaman ini turut disuarakan oleh K.H. Junaedi Al-Baghdadi, KH Ahmad Muwafig dari Yogyakarta, KH. Amin Maulana Budi Harjono dari Semarang, hingga KH Nuril Arifin Husein (Gus Nuril).
Dari kacamata sosiokultural, akademisi Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., menjabarkan bahwa harmoni barisan burung kuntul mencerminkan ketiadaan ego sektoral. Pendapat ini diperkuat oleh M. Izzul Islam An Najmi, S.Ag., M.Ag., dosen UIN Syarif Hidayatullah, yang menekankan pentingnya mengutamakan kepentingan publik.
Di ranah sosial keagamaan dan seni, Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi, Savic Ali, serta maestro legendaris Erros Djarot menyoroti bahwa kekuatan sejati bangsa lahir dari barisan yang rapat.
Pesan untuk menjaga keguyuban ini juga dikumandangkan oleh komedian Gus Memed dan penyanyi religi Aunur Rofiq Lil Firdaus (Opick).
Melalui Holopis Kuntul Baris, Iwenk MJC membuktikan bahwa kemajuan peradaban Indonesia mutlak bergantung pada bangsa yang bergerak bersama secara harmonis.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
#HolopisKuntulBaris #IwenkMJC #GotongRoyong #BukuKebangsaan #LiterasiIndonesia #IndonesiaEmas2045 #FilsafatJawa #PendidikanKarakter #BudayaNusantara #BukuBaru2026










Tidak ada komentar:
Posting Komentar