Di tengah polemik keaslian ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM) milik Joko Widodo yang belum reda, Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke mengambil langkah terbaru. Ia membagikan buku karyanya yang bertajuk *Ijazah Jokowi: Pertaruhan Moralitas Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis)* kepada sejumlah tokoh, termasuk menitipkan satu eksemplar khusus untuk mantan Presiden RI tersebut.
Buku itu sebelumnya telah diserahkan kepada dokter Tifauzia Tyassuma, yang tengah berperkara terkait ijazah Jokowi. Kali ini, Wilson memberikannya kepada dua sahabat lamanya, Partono dan Iwan Piliang, yang dinilai turut berperan sentral dalam perjalanan politik Jokowi.
Jejak Dua Sahabat dalam Karier Politik Jokowi
Wilson memandang keduanya memiliki andil strategis yang jarang diketahui publik. Iwan Piliang merupakan salah satu penggerak inti tim sukses yang mengantarkan pasangan Joko Widodo–Basuki Tjahaja Purnama memenangkan Pilgub DKI Jakarta 2012, momentum yang melambungkan nama Jokowi ke pentas nasional. Sementara Partono pernah menjabat anggota KPUD DKI Jakarta periode 2018–2023.
Penyerahan buku berlangsung pada waktu dan tempat yang berbeda. Partono menerima lebih dulu pada Kamis, 25 Juni 2026, di Lantai 6 Gedung Ombudsman RI Jakarta. Sepekan berselang, tepatnya pada Sabtu, 4 Juli 2026, giliran Iwan Piliang menerimanya di sebuah restoran di Jakarta Pusat.
Momentum itu dimanfaatkan Wilson, lulusan pascasarjana Global Ethics Universitas Birmingham Inggris, untuk menitipkan satu eksemplar khusus agar disampaikan langsung ke tangan Jokowi.
Harapan Wilson Lalengke terhadap Jokowi
Melalui perantara Iwan Piliang, Wilson berharap buku itu benar-benar sampai dan direnungkan oleh Jokowi. Ia menegaskan karyanya bukan alat serangan politik, melainkan media kontemplasi diri.
"Buku ini saya harapkan dapat memicu kesadaran moral demi menjaga integritas dan kepentingan besar bangsa," ujar Wilson dalam keterangan resminya.
Wilson menyandarkan gagasannya pada khazanah filsafat klasik. Ia mengutip kisah Diogenes dari Sinope yang mencari "manusia jujur" dengan lentera di siang hari, serta ajaran Marcus Aurelius dalam Meditations tentang kewajiban seorang pemimpin untuk senantiasa memeriksa jiwanya sendiri.
Bagi Wilson, penitipan buku pada pertengahan tahun 2026 ini pada akhirnya menjadi ujian moral praktis: apakah Jokowi bersedia menatap cermin kejujuran demi warisan sejarah yang bersih bagi generasi mendatang.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar