Wahana Visi Indonesia (WVI) menegaskan komitmennya dalam memperjuangkan hak anak di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) melalui perhelatan "Festival Desa Inspiratif 2026". Acara yang berlangsung di Jakarta, Kamis (2/7/2026), ini menjadi wadah diseminasi praktik baik program keberlanjutan yang telah dijalankan di berbagai pelosok Indonesia.
Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Tiyadora, menjelaskan bahwa pemilihan wilayah 3T sebagai fokus utama didasari oleh asesmen data statistik mengenai kerentanan anak. Menurutnya, anak-anak di daerah terpencil kerap menghadapi tantangan akses layanan dasar, mulai dari keterbatasan jenjang pendidikan hingga minimnya fasilitas kesehatan.
"Wilayah 3T menjadi prioritas karena banyaknya anak rentan. Sering kali, akses terhadap pendidikan SMP atau SMA saja sulit dijangkau karena jarak ke pusat kota atau kabupaten yang jauh. Begitu pula dengan layanan kesehatan yang terbatas," ujar Angelina kepada awak media.
Kolaborasi Strategis untuk Keberlanjutan Festival ini menyoroti pentingnya kemitraan multipihak dalam menciptakan dampak jangka panjang. Angelina menekankan bahwa keberhasilan program tidak bisa dilakukan sendirian. Sinergi antara organisasi, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta keluarga menjadi kunci utama agar kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan di lapangan.
"Kami bekerja di 53 kabupaten dengan pendampingan di lebih dari 1.000 desa. Tanpa partisipasi aktif komunitas dan dukungan anggaran pemerintah desa, dampak signifikan akan sulit dicapai," tambahnya.
Dalam festival ini, dipaparkan berbagai praktik baik, termasuk inisiatif program "PASTI" yang fokus pada percepatan penurunan stunting di Jawa Timur dan Kalimantan Barat. Melalui kisah inspiratif dari Papua, Nusa Tenggara Timur, hingga Nias, WVI berharap hasil nyata dari program-program ini dapat diadopsi oleh pemerintah sebagai panduan atau petunjuk teknis berskala nasional.
"Harapan kami, kisah inspiratif ini menjadi pembelajaran bersama. Tidak hanya bagi kami, tetapi juga untuk organisasi lain dan pemerintah. Jika sudah terbukti berhasil, praktik ini diharapkan dapat diangkat menjadi kebijakan yang lebih luas demi kesejahteraan anak Indonesia," pungkasnya.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar