Pemerintah memastikan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan segera diumumkan. Langkah ini disiapkan untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan akan mulai berlaku setelah Lebaran Idulfitri 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keputusan tersebut telah final dan tinggal menunggu pengumuman resmi oleh pemerintah, kemungkinan melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
WFH untuk Efisiensi Energi Nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui kebijakan WFH dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan.
Skema yang disiapkan adalah satu hari WFH dalam lima hari kerja. Dengan pola ini, pemerintah memproyeksikan penghematan konsumsi BBM nasional bisa mencapai sekitar 20 persen dari kondisi normal.
Airlangga menegaskan kebijakan ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan perkembangan harga energi global serta kondisi ekonomi nasional.
Penerapan awal akan menyasar aparatur sipil negara (ASN), namun tidak menutup kemungkinan diperluas ke sektor swasta dan pemerintah daerah.
Dampak Ekonomi dan Respons Pemerintah
Sejumlah ekonom menilai kebijakan WFH berpotensi menekan aktivitas ekonomi karena berkurangnya mobilitas masyarakat. Hal ini dinilai bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan di beberapa sektor.
Namun, Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran tersebut. Ia menilai pemerintah telah menghitung dampak ekonomi secara menyeluruh sebelum mengambil kebijakan ini.
Menurutnya, WFH justru memberi ruang peningkatan daya beli masyarakat karena pekerja dapat menghemat biaya transportasi harian yang selama ini cukup besar.
“Ekonomi aktifnya naik, bisnis naik cepat, konsumsi naik. Kalau ekonomi yang betul, didorong di sini, yang di sana gerak semua,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).
Ia juga menjelaskan pendekatan yang digunakan pemerintah adalah keseimbangan ekonomi menyeluruh atau general equilibrium, sehingga dampak positif tidak hanya pada efisiensi energi tetapi juga konsumsi rumah tangga.
Jumat Jadi Opsi WFH
Terkait hari pelaksanaan, pemerintah mempertimbangkan Jumat sebagai opsi utama WFH. Hari tersebut dinilai memiliki tingkat produktivitas relatif lebih rendah dibanding hari kerja lainnya.
“Kalau diliburkan, yang dipilih yang dampaknya paling kecil ke produktivitas. Jumat jam kerjanya lebih pendek,” kata Purbaya.
Dengan pertimbangan tersebut, potensi penurunan produktivitas dinilai minimal, sementara efisiensi konsumsi BBM tetap maksimal.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar