PT Carsurin Tbk (CRSN) mencatat laba bersih Rp3,10 miliar pada kuartal I/2026, tumbuh 16,54 persen dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan itu terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan yang relatif tipis dan ekspansi agresif ke sektor ekonomi hijau.
Direktur Utama CRSN, Erwin Manurung, mengatakan penguatan bisnis ditopang layanan sertifikasi, pengujian kendaraan listrik, hingga verifikasi karbon. Pernyataan itu disampaikan dalam Public Expose di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Inti Peristiwa
Pendapatan Carsurin pada kuartal I/2026 naik 1,96 persen menjadi Rp114,19 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, pendapatan perusahaan berada di level Rp112 miliar.
Kenaikan tersebut ikut mendorong laba bruto menjadi Rp69,07 miliar dari sebelumnya Rp67,15 miliar. Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi Rp45,11 miliar.
Di sisi operasional, laba usaha tumbuh 12,99 persen menjadi Rp8,44 miliar. Perseroan masih mampu menjaga efisiensi meski biaya usaha mulai bergerak naik.
Bagi industri jasa pengujian dan sertifikasi, pertumbuhan moderat seperti ini justru kerap dianggap sinyal positif. Apalagi ketika banyak sektor industri masih menahan ekspansi akibat tekanan ekonomi global dan kenaikan biaya operasional.
Carsurin juga mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp5,22 miliar atau naik 0,97 persen secara tahunan. Hingga Maret 2026, total aset perusahaan tercatat mencapai Rp384,12 miliar.
Fokus Baru ke Kendaraan Listrik dan Karbon
Erwin Manurung mengatakan perusahaan kini memperbesar fokus pada sektor ekonomi hijau dan transisi energi. Langkah itu dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap layanan sertifikasi emisi dan energi bersih.
Carsurin mulai memperluas layanan sertifikasi Gas Rumah Kaca (GRK), penilaian jejak karbon, hingga Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) untuk kebutuhan perdagangan lintas negara.
Perseroan juga mengembangkan layanan pengujian baterai kendaraan listrik roda dua dan verifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Di sektor tambang, layanan pengujian bijih nikel diperluas guna mendukung rantai pasok industri kendaraan listrik.
Selain itu, perusahaan mempercepat digitalisasi melalui penggunaan drone otonom dan analitik berbasis kecerdasan buatan untuk kebutuhan pertambangan dan pemetaan wilayah.
Di tengah tren transisi energi, bisnis jasa laboratorium kini mulai bergeser ke layanan karbon dan kendaraan listrik. Carsurin tampaknya mencoba mengambil posisi lebih awal sebelum persaingan pasar semakin padat.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar