Perusahaan asuransi jiwa Astra Life mengingatkan masyarakat di Indonesia agar mengelola Tunjangan Hari Raya secara bijak menjelang mudik Lebaran 1447 H.
Menjelang arus mudik Hari Raya Idul Fitri 1447 H, banyak keluarga mulai mengalokasikan dana perjalanan dari Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, tidak sedikit yang kesulitan menyisihkan dana tersebut untuk kebutuhan jangka panjang.
Dalam tradisi umat Muslim, rezeki yang diterima—termasuk THR—tidak sepenuhnya menjadi milik pribadi. Sebagian di antaranya terdapat hak orang lain yang perlu ditunaikan melalui zakat, sedekah, maupun bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Bagi generasi muda Muslim yang sudah memiliki penghasilan, momen menerima THR juga dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal menyiapkan tabungan ibadah. Misalnya untuk rencana menunaikan ibadah haji atau berkurban pada masa mendatang.
Marketing, Corporate Communication, Literacy & Inclusion Department Head Astra Life, Kurniasari S. Pranoto CFP®, mengatakan pengelolaan THR yang tepat dapat membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga setelah Lebaran.
“Sebelum membelanjakan THR, menunaikan kewajiban zakat dan sedekah merupakan bentuk syukur sekaligus kepedulian sosial yang ditekankan selama Ramadan,” ujar Kurniasari dalam keterangan tertulis, Senin (16/3).
Lebih lanjut, Ia menambahkan, THR juga seharusnya menjadi momentum memperbaiki arus kas keluarga, bukan justru memicu pengeluaran berlebihan.
Menurut dia, masyarakat sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan secara matang dan menghindari penambahan utang untuk hal yang tidak mendesak.
Strategi Mengelola THR agar Tidak Habis Saat Lebaran
Astra Life membagikan sejumlah langkah sederhana agar dana THR tidak habis hanya untuk kebutuhan musiman. Langkah pertama adalah membedakan kebutuhan dan keinginan dalam pengeluaran Lebaran.
Kebutuhan merupakan hal mendasar yang harus dipenuhi agar keluarga dapat hidup aman dan sehat. Sebaliknya, keinginan bersifat pelengkap dan tidak wajib dipenuhi meski dapat meningkatkan kenyamanan.
Menjelang Lebaran, masyarakat juga perlu mewaspadai inflasi musiman. Lonjakan permintaan biasanya menyebabkan kenaikan harga bahan pokok seperti daging, telur, cabai, beras, hingga minyak goreng.
Kenaikan harga juga kerap terjadi pada kebutuhan sandang seperti baju muslim, sepatu, sandal, mukena, hingga berbagai aksesori Lebaran.
Selain itu, perilaku konsumtif juga sering meningkat pada masa mudik. Tekanan sosial, diskon belanja, hingga keinginan tampil mengikuti tren sering kali mendorong pengeluaran di luar rencana.
Perencanaan Keuangan Penting untuk Perjalanan Mudik
Perencanaan biaya mudik menjadi bagian penting dalam pengelolaan THR. Harga tiket transportasi biasanya meningkat menjelang Lebaran, sehingga masyarakat disarankan memantau harga sejak lebih awal.
Program diskon transportasi yang disediakan pemerintah juga dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya perjalanan. Jika menggunakan kendaraan pribadi, pemudik disarankan menyiapkan anggaran bahan bakar serta memastikan kondisi kendaraan sebelum berangkat.
Selain pengeluaran mudik, masyarakat juga disarankan tetap menyisihkan dana untuk kebutuhan setelah Lebaran. Terlebih pada bulan berikutnya umat Muslim akan kembali menghadapi pengeluaran untuk perayaan Idul Adha.
Sebagai gambaran, pengelolaan gaji bulanan dapat dialokasikan sekitar 50 persen untuk kebutuhan hidup, 30 persen untuk cicilan, 12,5 persen untuk tabungan atau investasi, 2,5 persen zakat, dan 5 persen untuk perlindungan.
Sementara untuk dana THR, sebagian dapat dialokasikan untuk kebutuhan Ramadan, tabungan ibadah, perlindungan finansial, hingga dana sosial seperti zakat dan sedekah.
Pengelolaan yang terencana diharapkan membantu keluarga menjalani momen Lebaran dengan lebih tenang sekaligus menjaga stabilitas keuangan setelah perayaan usai.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar