Serangan balasan Iran sejak 28 Februari 2026 dilaporkan menimbulkan korban dan kerugian besar di Israel di tengah operasi militer bersama Amerika Serikat.
Israel dilaporkan menghadapi tekanan besar di tengah eskalasi konflik dengan Iran yang melibatkan dukungan militer Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu.
Meski otoritas Israel menyatakan sejumlah target strategis Iran berhasil dihantam, termasuk klaim tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, konflik tersebut juga memicu kerugian signifikan di pihak Israel.
Selain korban jiwa, biaya militer yang terus meningkat menjadi perhatian sejumlah pengamat internasional.
Biaya Perang dan Serangan Drone Iran
Operasi militer yang berlangsung beberapa hari terakhir dilaporkan menimbulkan beban biaya perang yang sangat besar.
Beberapa laporan menyebut biaya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari yang pada akhirnya menjadi beban pembayar pajak di negara tersebut.
Di sisi lain, Iran dinilai menggunakan strategi serangan berbiaya lebih rendah melalui drone Shahed 136.
Drone tersebut dikenal relatif murah dibandingkan sistem senjata konvensional. Laman Scientific American memperkirakan harga satu unit Shahed 136 berada di kisaran US$20.000 hingga US$50.000 atau sekitar Rp338 juta sampai Rp845 juta.
Namun, biaya justru meningkat di pihak pertahanan udara Israel dan sekutunya karena harus mengaktifkan sistem pencegat rudal.
Salah satu sistem yang digunakan adalah rudal pertahanan udara Arrow-3 yang diperkirakan berharga sekitar US$3 juta atau lebih dari Rp50 miliar per unit.
Perbedaan biaya ini membuat serangan drone dan rudal Iran dinilai mampu menguras sumber daya pertahanan Israel dan Amerika Serikat dalam jangka panjang.
Sensor Informasi dan Dampak Serangan
Di tengah konflik yang terus berlangsung, pembatasan informasi juga menjadi sorotan.
Jurnalis asal India, Praj Mohan Singh, yang baru kembali dari Israel menyatakan adanya pembatasan ketat terhadap peliputan media selama perang.
Ia mengatakan otoritas Israel tidak mengizinkan wartawan mengunjungi rumah sakit yang menampung korban maupun merekam lokasi kehancuran akibat serangan.
“Pemerintah tidak akan memberi tahu apa pun kepada Anda. Kami bahkan tidak tahu lokasi insiden yang terjadi,” ujar Singh dalam laporan yang dikutip sejumlah media internasional.
Menurut Singh, beberapa rudal Iran juga dilaporkan menghantam target tanpa didahului sirene peringatan.
Kementerian Kesehatan Israel menyatakan sedikitnya 13 orang tewas dan 1.929 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Iran sejak 28 Februari.
Sementara itu, analisis Unit Open Source Al Jazeera terhadap citra udara mengidentifikasi beberapa lokasi serangan rudal Iran yang menghantam kompleks perumahan dan tempat perlindungan sipil.
Sejumlah warga di kota Beit Shemesh juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai waktu peringatan dini yang dinilai terlalu singkat untuk mencapai tempat perlindungan.
Perdebatan mengenai dampak serangan dan pembatasan informasi tersebut terus berkembang di media sosial serta di kalangan pengamat konflik internasional.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar