Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyoroti bahaya konsumsi makanan ultra-proses (UPF) pada anak dan remaja dalam webinar internasional, Kamis (23/4/2026). Forum ini mempertemukan ilmuwan, pemerintah, dan lembaga global untuk merumuskan respons kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Lonjakan konsumsi UPF—tinggi gula, garam, dan lemak—dinilai berkorelasi kuat dengan obesitas anak, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular sejak usia dini. AIPI menilai situasi ini mendesak ditangani lewat reformasi sistem pangan nasional.
Ancaman Nyata UPF pada Anak dan Remaja
Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso, menegaskan perubahan sistem pangan global telah menggeser pola konsumsi masyarakat. Produk ultra-proses kini makin mudah diakses, murah, dan agresif dipasarkan, termasuk ke anak-anak.
“Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas,” ujar Daniel.
Fenomena ini bukan sekadar tren konsumsi. Sejumlah studi global menunjukkan, paparan UPF sejak dini memperbesar risiko malnutrisi ganda—kelebihan kalori tetapi miskin zat gizi.
Saya teringat obrolan ringan dengan seorang orang tua di ruang tunggu klinik beberapa waktu lalu. Ia mengaku anaknya sulit lepas dari camilan kemasan karena dianggap praktis. Cerita seperti ini kini jadi potret umum di kota-kota besar.
Dorongan Kebijakan: Dari Label Gizi hingga Cukai
Pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan dukungan terhadap transformasi kebijakan pangan berbasis riset.
Salah satu momentum penting adalah implementasi PP No. 28/2024. Regulasi ini membuka peluang penguatan label gizi di kemasan depan serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.
Diskusi juga menyoroti perlindungan anak dari pemasaran agresif, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah. Selain itu, kebijakan fiskal seperti cukai minuman berpemanis kembali didorong untuk menekan konsumsi.
Rina Agustina dari AIPI menekankan, kualitas diet kini tak cukup dinilai dari kandungan gizi. Tingkat pemrosesan makanan harus jadi indikator utama.
“Pengetahuan saja tidak cukup. Anak hidup di lingkungan yang justru mempermudah akses ke makanan ultra-proses,” ujarnya.
Arah Baru: Kembali ke Makanan Asli
Forum ini juga mendorong kampanye konsumsi makanan segar berbasis bahan lokal, sejalan dengan panduan “Isi Piringku” dan konsep Planetary Health Diet.
Di tingkat praktis, pendekatan ini bukan hal baru. Banyak keluarga sebenarnya paham pentingnya makanan rumahan, tetapi kalah oleh faktor harga dan kemudahan akses produk kemasan.
Sebagai tindak lanjut, AIPI akan menyusun policy brief dan peta jalan kebijakan jangka pendek hingga panjang. Targetnya jelas: memperbaiki kualitas diet anak Indonesia.
“Jika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, anak-anak akan tumbuh optimal,” ujar Ketua KIK AIPI, Herawati Sudoyo.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar