Kisah pecah kongsi Bunaaca Jogja menjadi sorotan setelah brand donat yang sempat naik pesat itu retak akibat konflik personal dan legal pada 2024. Bisnis yang dirintis pasangan kekasih sejak 2019 ini berakhir dengan perpisahan, menyisakan sengketa kepemilikan merek dan arah usaha.
Konflik mencuat saat isu perselingkuhan muncul, diikuti fakta bahwa merek Bunaaca telah didaftarkan secara legal oleh pihak laki-laki tanpa sepengetahuan pasangannya. Sejak itu, keduanya memilih jalan berbeda dalam mengelola bisnis.
Kronologi Pecah Kongsi Bunaaca Jogja
Bunaaca berawal dari usaha rumahan pada 2019. Pihak perempuan mengembangkan resep donat secara mandiri, sementara pasangannya masuk sebagai pemodal.
Memasuki 2020, brand ini mulai dikenal luas di Yogyakarta. Popularitasnya melonjak, terutama di kalangan pencinta dessert.
Pada 2023, bisnis ini disebut mendapat suntikan investasi penuh dari pihak laki-laki. Ekspansi dilakukan dengan membuka toko offline, meski diakui sempat merugi dalam empat bulan awal operasional.
Namun, justru di puncak pertumbuhan pada 2024, konflik personal muncul. Merek Bunaaca diketahui telah dipatenkan atas nama pihak laki-laki, memicu ketegangan yang berujung perpisahan.
Saya teringat obrolan dengan seorang pelaku UMKM di Jakarta. Ia bilang, konflik bisnis paling sering justru datang dari orang terdekat—karena kepercayaan sering menggantikan sistem.
Dampak dan Pelajaran Bisnis dari Konflik Bunaaca
Setelah berpisah pada September 2024, pihak perempuan memilih keluar dan memulai usaha baru di Bali dengan brand Bibblebake. Sementara pihak laki-laki tetap menjalankan Bunaaca, dengan alasan menjaga operasional dan karyawan.
Kasus ini menyoroti tiga kelemahan klasik bisnis pemula. Pertama, terlalu mengandalkan kepercayaan tanpa sistem kontrol yang jelas.
Kedua, aspek legal yang kerap diabaikan. Kepemilikan merek yang tidak disepakati sejak awal menjadi sumber konflik serius.
Ketiga, ketergantungan pada satu individu, terutama dalam hal resep dan kualitas produk.
Dalam pengalaman pribadi, saya pernah melihat sebuah kafe kecil kehilangan pelanggan hanya dalam dua bulan setelah chef utamanya keluar. Rasa berubah, konsumen pun perlahan hilang.
Fenomena serupa terlihat di Bunaaca. Sejumlah pelanggan mengaku kualitas produk berubah setelah perpisahan terjadi.
Pada akhirnya, kisah pecah kongsi Bunaaca Jogja menegaskan satu hal: pertumbuhan bisnis tidak cukup ditopang oleh omzet dan popularitas. Sistem yang kuat dan transparansi sejak awal justru menjadi fondasi utama keberlanjutan usaha.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar