Pasar rumah sekunder di kawasan penyangga Jakarta masih bergerak stabil di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar Rupiah. Tangerang, Jakarta Selatan, hingga Bekasi tetap menjadi wilayah dengan pencarian properti tertinggi sepanjang April 2026.
Di saat penjualan properti primer nasional mengalami kontraksi tajam, konsumen justru mulai memburu rumah siap huni dengan harga yang lebih realistis. Pola ini terlihat dari laporan Flash Report Mei 2026 yang dirilis Rumah123.
Rumah Sekunder Jadi Pilihan Saat Daya Beli Melemah
Nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp17.528 per dolar AS mulai menekan industri properti nasional. Dampaknya terasa pada kenaikan biaya konstruksi, perlambatan proyek baru, hingga penjualan rumah primer yang melemah.
Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial primer pada kuartal I 2026 terkontraksi 25,67 persen secara tahunan. Situasi itu membuat banyak pengembang menahan ekspansi sambil menghitung ulang biaya pembangunan.
Namun pasar rumah sekunder bergerak berbeda. Harga rumah sekunder nasional masih tumbuh 0,1 persen secara bulanan dan 0,8 persen secara tahunan pada April 2026.
Denpasar memimpin pertumbuhan harga tahunan sebesar 2 persen, disusul Bogor 1,8 persen dan Surakarta 1,5 persen.
Fenomena ini memperlihatkan konsumen kini lebih pragmatis. Banyak pembeli mulai meninggalkan gengsi lokasi premium dan beralih ke kawasan yang cicilannya lebih masuk akal. Seorang agen properti di Tangerang bahkan mengaku calon pembeli sekarang lebih sering bertanya soal akses transportasi dibanding desain fasad rumah.
Tangerang dan Bekasi Masih Jadi Magnet Properti
Rumah123 mencatat Tangerang menjadi wilayah dengan proporsi listing enquiries terbesar secara nasional sebesar 15,1 persen. Posisi berikutnya ditempati Jakarta Selatan 11 persen dan Jakarta Barat 9,3 persen.
Menurut Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, kawasan suburban kini berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru pasar hunian end-user.
“Yang berubah saat ini bukan kebutuhan masyarakat untuk memiliki rumah, melainkan cara konsumen mengambil keputusan. Di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan Rupiah, konsumen menjadi jauh lebih rasional,” ujar Marisa Jaya dalam keterangan tertulis, Jumat, 12 Mei 2026.
Marisa menilai Tangerang, Bekasi, dan Bogor tetap diminati karena menawarkan kombinasi harga yang lebih attainable, akses kawasan yang membaik, serta potensi kenaikan nilai jangka panjang.
Di sisi lain, segmen rumah kecil dengan luas bangunan di bawah 60 meter persegi justru mencatat pertumbuhan harga paling tinggi. Surakarta mengalami kenaikan median harga mencapai 23,5 persen pada segmen tersebut.
Situasi ini mengingatkan pada pola pascapandemi beberapa tahun lalu. Ketika ekonomi mulai goyah, rumah sederhana yang siap ditempati kembali menjadi incaran utama keluarga muda.
Pasar Properti Sedang Berubah Arah
Inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat 2,42 persen secara tahunan, sementara BI Rate tetap berada di level 4,75 persen. Stabilnya suku bunga dinilai masih memberi ruang bagi pasar rumah sekunder bertahan.
Rumah123 juga mencatat suplai rumah sekunder nasional turun 8,7 persen secara tahunan. Banyak pemilik properti memilih menahan aset sambil menunggu harga kembali naik.
“Pasar properti saat ini tidak sedang melemah sepenuhnya, tetapi sedang mengalami reposisi perilaku konsumen,” kata Marisa.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar