Pembicaraan soal hidup sehat selama ini lebih sering berhenti pada diet, langkah kaki, atau angka timbangan. Padahal, ada satu faktor yang justru mulai dianggap paling menentukan usia panjang: massa otot.
Sejumlah riset kesehatan menunjukkan kehilangan massa otot berkaitan erat dengan risiko kematian dini. Otot tak lagi dipandang sekadar penunjang kekuatan fisik, melainkan organ hidup yang ikut menjaga metabolisme, hormon, hingga kestabilan gula darah.
Otot Jadi Penyangga Metabolisme Tubuh
Banyak orang baru sadar pentingnya otot ketika usia mulai menua. Lutut mudah nyeri, badan cepat lelah, dan pemulihan tubuh makin lambat. Di pusat kebugaran atau taman kota, pemandangan orang usia 40 tahun mulai rutin latihan beban kini makin lazim terlihat.
Fungsi otot ternyata jauh lebih kompleks dibanding sekadar membentuk tubuh. Jaringan ini membantu mengatur sensitivitas insulin, menjaga keseimbangan hormon, serta menekan peradangan melalui produksi miokin.
Tak sedikit dokter kini menyebut otot sebagai “tabungan kesehatan” jangka panjang. Sebab ketika massa otot turun drastis, metabolisme tubuh ikut melambat. Kondisi itu membuka jalan bagi berbagai penyakit kronis.
Sekitar 80 persen glukosa setelah makan disimpan di jaringan otot. Karena itu, otot menjadi pengatur utama kadar gula darah manusia. Semakin baik kualitas massa otot seseorang, semakin stabil pula sistem metaboliknya.
Risiko Penyakit Kronis Disebut Menurun
Penelitian kesehatan juga menemukan hubungan antara massa otot dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Bahkan, penurunan fungsi kognitif seperti Alzheimer disebut lebih rendah pada individu dengan massa otot terjaga.
Di usia lanjut, manfaat itu terasa lebih nyata. Tubuh yang memiliki otot cukup cenderung lebih stabil, tidak mudah jatuh, dan memiliki kepadatan tulang lebih baik sehingga risiko osteoporosis ikut menurun.
Masalahnya, penurunan massa otot sering terjadi diam-diam. Setelah usia 30 tahun, tubuh mulai kehilangan massa otot secara bertahap bila tidak diimbangi aktivitas fisik dan asupan protein memadai.
Karena itu, menjaga otot kini bukan lagi urusan atlet atau binaragawan. Bagi banyak orang, terutama pekerja urban yang duduk berjam-jam di depan layar, latihan kekuatan perlahan berubah menjadi kebutuhan dasar kesehatan jangka panjang.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar