Pernikahan yang baru seumur jagung antara Duong Gia Minh dan Truong Le justru berujung pahit. Baru tiga hari setelah resmi menikah, sang istri memilih meninggalkan rumah setelah mengetahui penghasilan suaminya hanya 1.800 Yuan atau sekitar Rp3,9 juta per bulan.
Kisah ini menjadi sorotan publik karena pasangan tersebut sebenarnya sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Namun, keduanya ternyata belum benar-benar saling mengenal, bahkan hanya empat kali bertemu sebelum akhirnya memutuskan menikah.
Pernikahan Cepat karena Desakan Keluarga
Duong Gia Minh dan Truong Le sepakat menikah bukan semata karena hubungan yang matang, melainkan karena tekanan keluarga. Truong Le disebut mulai didesak untuk segera memiliki pasangan hidup.
Situasi serupa juga dialami Duong. Ia merasa mereka bisa langsung membangun rumah tangga meski cinta belum sepenuhnya tumbuh. Dalam banyak kasus, keputusan seperti ini memang sering terlihat sederhana di awal, tetapi rumit saat dijalani.
Saya pernah mendengar cerita serupa dari seorang teman lama. Ia bilang, urusan menikah sering kali bukan soal pesta atau foto prewedding, melainkan soal kesiapan menghadapi kenyataan setelah tamu pulang.
Truong Le akhirnya setuju. Pernikahan pun berlangsung, tetapi masalah justru muncul pada malam pertama.
Penghasilan Jadi Titik Balik Rumah Tangga
Pada malam pernikahan, Truong Le baru menanyakan berapa penghasilan suaminya. Pertanyaan yang seharusnya dibicarakan jauh sebelum akad itu justru muncul saat semuanya sudah terlambat.
Duong mengaku sempat ragu menjawab. Namun akhirnya ia berkata jujur.
“Aku adalah pekerja musiman di perusahaan, gajiku 1.800 Yuan (Rp3,9 juta) sebulan,” katanya.
Jawaban itu membuat istrinya terkejut. Ia tidak menyangka penghasilan suaminya jauh di bawah ekspektasi. Malam itu, Truong Le menolak melayani suaminya dengan alasan sedang tidak enak badan.
Tiga hari kemudian, ia mulai mengemas barang-barangnya. Awalnya, ia mengaku hanya ingin pulang menemui orang tuanya. Namun, ia tak pernah kembali.
Rumah Jadi Syarat untuk Bertahan
Duong terus membujuk istrinya agar pulang. Sebulan berlalu, ia meminta agar mereka tidak terus hidup terpisah. Namun jawaban yang diterimanya justru lebih menyakitkan.
“Kamu bahkan tidak bisa membelikanku rumah. Di mana aku akan tinggal?” kata Truong.
Kalimat itu menjadi titik sadar bagi Duong. Ia mulai berpikir untuk memiliki rumah demi mempertahankan pernikahan mereka.
Ia bahkan memutuskan tinggal di rumah keluarga mertuanya. Namun upaya itu tak berhasil. Sang istri kembali pergi dan memilih tinggal di rumah pamannya.
Situasi itu terus berlangsung hingga setahun kemudian. Pernikahan yang dibangun dengan tergesa akhirnya berjalan tanpa arah.
Kadang, masalah rumah tangga bukan datang dari kurangnya cinta, melainkan dari percakapan penting yang terlambat dilakukan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto





























