Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Riau kembali digerakkan lewat jalur mahasiswa. Tumbuh Institute menggelar Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau di kawasan Rimbang Baling pada 25–26 April 2026.
Sekitar 150 mahasiswa dari BEM dan organisasi Cipayung Plus se-Provinsi Riau hadir dalam kegiatan bertema “Bersama Wujudkan Green Policing, Green Generation, dan Cegah Karhutla”.
Bagi warga Riau, karhutla bukan sekadar berita musiman. Banyak orang masih ingat pekatnya asap yang membuat sekolah diliburkan dan anak-anak memakai masker bahkan sebelum pandemi datang.
Karena itu, isu karhutla selalu terasa personal. Bukan hanya soal hutan terbakar, tapi juga soal napas, ekonomi, dan masa depan daerah.
Head of Tumbuh Foundation, Azairus Adlu, mengatakan forum ini sengaja dibuat sebagai ruang diskusi yang jujur dan reflektif antara mahasiswa, aparat, dan masyarakat sipil.
“Karhutla bukan hanya soal lingkungan, ini soal kesehatan, ekonomi, dan kepercayaan publik terhadap tata kelola negara. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang di mana semua pihak bisa duduk bersama,” ujar Azairus.
Karhutla dan Narkoba Dinilai Berasal dari Akar yang Sama
Azairus menilai ancaman besar bagi masa depan Riau bukan hanya karhutla, tetapi juga narkoba yang merusak generasi muda dari dalam.
“Narkoba menghancurkan manusia, karhutla menghancurkan ruang hidup manusia. Keduanya lahir dari akar yang sama, yaitu keserakahan dan pembiaran,” katanya.
Menurut dia, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan karena punya daya kritis, pengaruh sosial, dan akses pengetahuan yang luas.
Karena itu, keterlibatan mahasiswa tidak bisa lagi sekadar musiman. Gerakan pencegahan karhutla dan pemberantasan narkoba harus dibangun secara terorganisir dan berkelanjutan.
Kapolda Riau Ingatkan Siklus Karhutla Besar
Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu malam melalui api unggun kebangsaan yang menghadirkan Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, dan aktivis HAM Hurriah.
Kapolda Riau mengingatkan daerah itu berpotensi menghadapi siklus karhutla besar seperti yang pernah terjadi pada 1997. Karena itu, kesiapan semua pihak menjadi hal mendesak.
“Masalah seperti karhutla dan narkoba tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah atau kepolisian. Harus ada kolaborasi, mulai dari hulu melalui edukasi hingga hilir melalui penegakan hukum,” ujarnya.
Ia juga menegaskan tidak ada toleransi bagi anggota kepolisian yang terlibat jaringan narkoba.
Sementara itu, Rocky Gerung menyebut karhutla sebagai bagian dari krisis ekologis global. Menurut dia, persoalan lingkungan tak bisa lagi dilihat secara sempit.
“Kita tidak sedang hanya membicarakan Riau atau Indonesia, tetapi masa depan bumi. Bumi ini satu-satunya kapal yang kita miliki,” ujarnya.
Hurriah menambahkan, karhutla juga merupakan persoalan hak asasi manusia karena berkaitan langsung dengan hak masyarakat atas udara bersih dan lingkungan sehat.
Ia meminta mahasiswa memperkuat gerakan lewat riset dan advokasi kebijakan. “Tanpa data, gerakan akan mudah dipatahkan,” katanya.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar