Ajang IDE Katadata Future Forum 2026 resmi digelar di Djakarta Theatre, Rabu (15/4/2026), menyoroti dua isu krusial: percepatan kecerdasan buatan (AI) dan menyusutnya kelas menengah yang dinilai menentukan arah Indonesia menuju 2045.
Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra, menegaskan forum ini dirancang untuk membaca masa depan, bukan sekadar merespons dinamika jangka pendek, dengan fokus pada dampak teknologi dan perubahan sosial-ekonomi.
AI MELAJU, DAMPAKNYA BELUM MERATA
Metta menyebut AI sebagai teknologi yang “mengejutkan” sekaligus membentuk lanskap baru global. Ia mencontohkan konflik di Timur Tengah, di mana Iran memanfaatkan AI untuk serangan drone presisi dengan biaya rendah.
Fenomena itu menunjukkan efisiensi baru dalam perang modern, sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi bisa menggeser keseimbangan kekuatan secara drastis.
Data World Economic Forum 2024 menguatkan tren ini. Sebanyak 86% pelaku usaha menilai AI sebagai teknologi paling berpengaruh, jauh di atas robotika dan energi.
Namun di level bisnis, realitasnya belum sepenuhnya sejalan. Survei McKinsey terhadap 1.993 responden menunjukkan 61% perusahaan belum merasakan dampak signifikan AI terhadap EBIT.
“Pada akhirnya ini soal timing—kapan perusahaan benar-benar bisa menangkap nilai dari AI,” ujar Associate Partner McKinsey & Company, Antonius Santoso.
Ia teringat obrolan dengan seorang founder startup di Jakarta awal tahun ini. Ia sudah mengadopsi AI untuk operasional, tapi mengaku masih “hemat-hemat ekspektasi”—efisiensi ada, profit belum terasa.
KELAS MENENGAH MENYUSUT, RISIKO MAKIN NYATA
Di sisi lain, forum ini membuka hasil riset Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) terbaru bertajuk Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan.
Data Susenas menunjukkan tren yang tidak nyaman: proporsi kelas menengah turun dari 21,5% pada 2019 menjadi 16,9% di 2024. Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah naik hingga 48,8%.
Padahal, Bappenas pernah memproyeksikan Indonesia bisa menjadi negara maju jika kelas menengah mencapai 70% populasi.
Perannya tidak kecil. Pada 2024, kelas menengah menyumbang 81,5% konsumsi rumah tangga—sementara konsumsi sendiri menjadi tulang punggung PDB sebesar 58,8%.
“Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society,” kata Metta.
Dalam keseharian, tekanan ini terasa nyata. Seorang teman lama yang bekerja di sektor kreatif bercerita, pendapatannya stagnan, sementara biaya hidup naik. Ia masih bertahan, tapi mulai menunda rencana investasi dan pendidikan anak.
Riset KIMCI menawarkan beberapa jalan keluar: memanfaatkan AI untuk produktivitas, belajar keterampilan baru, hingga memperluas peluang kerja profesional.
Forum yang digelar sejak 2019 ini juga menghadirkan pembicara lintas sektor, termasuk Prof. Stella Christie, Sandiaga Uno, Catherine Lian, dan Tami Bhaumik.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar